Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAJI PERTAMA
Nanti aku traktir. Sebuah pesan dari Kala baru sempat dibaca Pevita usai kelas berakhir. Ia hanya mengerutkan dahi, membaca pesan itu terkesan sang suami sangat antusias buat traktir. Biasanya kalau dapat transferan dari mama mertua, Kala langsung transfer ke rekening Pevita, dengan embel-embel nafkah dari mertua. Tapi kali ini kok gak ada embel-embel begitu.
Dalam rangka? Balas Pevita, namun ia tak kunjung mendapat balasan. Hufh, meski penasaran Pevita langsung pulang, biarlah nanti bertanya saat di rumah.
Begitu sampai di rumah, ternyata sang suami sudah pulang. Tumben jam 3 sudah sampai rumah, biasanya, sejak menjadi tim proyek paling awal pulang selepas maghrib, itupun langsung berkutat dengan laptop. Tapi sore ini, suami brondong Pevita tersebut keluar kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. "Hai Sayang?" sapanya dengan wajah tengil.
"Hai juga Acil," balas Pevita masih menyebalkan dengan panggilan itu. Senyum Kala mendadak hilang berganti dengan decakan sebal.
"Kapan sih bisa panggil Ayang, bukan Acil. Meski aku kecil, tapi bisa banget bikin kamu hamil!" selorohnya sembari mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Ngomong sama tembok sana, hamal hamil, ingat masih kuliah!" sewot sekali istri cantik Kala ini. Pevita tak mau menomor duakan pendidikannya, biarlah kehamilan yang mengalah. Toh, nafkah batin masih jalan juga, meski harus minum pil KB tiap hari.
"Apa ini?" tanya Pevita saat sang suami menyodorkan amplop putih.
"Gaji pertama aku," jawab Kala dengan senyum manis, seakan bangga sekali hasil jerih payahnya pertama kali diberikan pada sang istri. Sedangkan Pevita langsung terpaku, tak kunjung mengambil amplop itu. Hanya memandang saja, sampai Kala menarik tangan Pevita lalu meletakkan amplop itu di atas tangan sang istri.
"Cuma 3 juta sih, lebih kecil dari uang saku yang diberikan papa!" ucap Kala dengan senyum canggung. Sedangkan Pevita masih diam, matanya mulai berkaca-kaca, masih belum percaya gaji pertama Kala langsung diberikan padanya. Sungguh, Pevita tak pernah punya bayangan dinafkahi oleh suami ciliknya ini. Dirinya terlalu baper, sampai tak tahu harus merespon bagaimana.
"Maaf ya kecil," ucap Kala lagi. Mungkin ia berpikir Pevita tak menerima uang kecil itu, kok dari tadi diam saja. "Hei, maaf ya. Nanti aku ambil job lagi, biar bisa kasih kamu lebih banyak lagi!" air mata Pevita tak bisa terbendung. Langsung luruh dengan ucapan tulus sang suami, ia mencengkram amplop itu, lalu memeluk Kala erat.
"Aku baper banget. Kenapa kamu sebaik ini? Kenapa kamu bertanggung jawab banget sama aku, padahal aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu?" Kala sempat bingung, lah kok mewek? Begitu batin cowok muda ini.
"Kamu gimana sih Sayang, aku suamimu loh! Ya wajar lah aku bertanggung jawab sama kamu, kamu juga yang berhak mengatur keuanganku nantinya!" Pevita tak menyangka, Kala yang ia pikir anak bau kencur yang hanya jago memberi nafkah batin, ternyata membuktikan bisa memberinya nafkah lahir juga. Siapa coba yang tidak terharu?
"Padahal kamu bisa aja ambil uang ini buat kamu sendiri, kenapa harus dikasih ke aku semua. Kamu tahu gak sih, di luar sana banyak istri yang menjadi tulang punggung keluarga, karena mendapat suami yang lebih mementingkan rokok ketimbang makan sang istri. Sedangkan kamu? Ah kalau aku jatuh cinta ke kamu gimana?" Pevita makin mengeratkan pelukan pada sang suami, sambil merengek lucu.
Kala ingin tertawa saja, meski usia Pevita 2 tahun di atasnya, tetap saja seorang perempuan akan manja pada pasangannya. Tak perlu berkata, Kala menarik pelukan Pevita, dia memegang pipi sang istri, dan mengecup bibir cerewet itu. "Daripada berisik gak penting, lebih baik berisik yang mengenakkan," bisik Kala menyebalkan. Spontan Pevita menabok lengan sang suami.
"Kenapa sih, suasana serius ujung-ujungnya ke sana," protes Pevita. Harusnya kalau istrinya baper tuh, dibalas dengan pelukan, dipuk-puk biar makin baper, nah ini malah ditarik ke kamar mandi, padahal dia juga mandi. Menyebalkan bukan.
Setelah pertarungan hebat, kedua anak muda itu kencan selepas maghrib. Naik motor, dan Pevita merasakan layaknya muda-mudi yang dimabuk asmara. "Kamu mau makan di mana?" tanya Kala.
"Di area taman raya!" teriak Pevita.
"Oke!" Kala mengiyakan saja, suka-suka sang istri. Semakin hari Kala semakin tahu karakter baik dari seorang Pevita. Meski lahir dari keluarga kaya, tapi ia juga mau makan di pinggir jalan. Kala beberapa kali diajak makan sama Tante Lily dan juga Pevita di pinggir jalan sebelum mereka menikah dulu. Menu sederhana seperti pecel lele, bebek bumbu hitam menjadi makanan favorit sang istri.
Kali ini malah Kala diajak kulineran di taman raya, penuh dengan outlet makanan dan minuman. "Jagung bakar dan sate jamurnya dua porsi ya, Bang!" ucap Pevita. Ia memilih jajanan saja daripada makanan berat. Bayangan Pevita malam ini, ngobrol dengan Kala sambil makan camilan.
Keduanya memilih duduk lesehan, di depannya sudah ada jagung bakar dan sate jamur tak lupa es coffe latte siap menemani kencan versi Pevita. "Kamu dan Refan dulu pernah kencan begini?" tanya Kala, bukan bermaksud mengulik masa lalu, hanya saja cara Pevita mengajak kencan seperti sudah terbiasa.
Namun siapa sangka, Pevita menggeleng. "Dia mana mau jajan di pinggir jalan, katanya kotor. Ya elah, papa dokter juga gak segitunya sama jajanan pinggir jalan. Emang dia sombong aja!"
"Sombong-sombong juga kamu cinta dulu," ledek Kala layaknya teman seumuran. Beneran deh, nikah di usia muda layaknya orang pacaran, kalau di luar lebih banyak meledek ketimbang mesranya. Prit, mesra hanya di kamar dong. Privasi.
"Khilaf!" jawab Pevita cepat.
"Kalau nikah sama aku? Khilaf juga?" tanya Kala dengan menatap lekat sang istri, bahkan sate jamurnya ia letakkan begitu saja.
"Awalnya kan gitu, gengsi aku gede banget. Apaan nikah sama brondong, malu juga, tapi setelah itu aku sayang sama kamu kok," curhat Pevita sambil makan jagung, dan tak berani menatap wajah sang suami. Jahilnya Kala, mencolek lengan sang istri.
"Setelah itu apa? Hayo?"
"Rese' pulang!" ancam Pevita tak mau lah urusan ranjang cerita di tempat umum.
"Dih, pundungan!"
"Yang, habis ini beli emas yuk!" ajak Kala, Pevita menoleh dengan mengerutkan dahi.
"Buat?"
"Investasi. Pakai uang gaji tadi. Katanya urusan makan dan kuliah sesuai aja dengan kesepakatan orang tua kita, gaji dari aku disimpan, biar terlihat hasil jerih payah aku sendiri," sebelum kencan tadi memang Pevita memberi saran agar gaji Kala disimpan saja, setidaknya ada kebanggaan tersendiri.
"Boleh," jawab Pevita.
"Kalau wujud uang, nanti kena inflasi." Pevita heran, umur Kala masih terlalu muda untuk memikirkan perekonomian.
"Tiba-tiba banget bahas inflasi?" tanya Pevita.
"Dikasih saran sama Pak Toriq (dosen proyek), saat pembagian fee proyek tadi. Ingat 50 30 20."
"Apa itu?" tanya Pevita yang mana pernah berpikir menabung dan investasi, karena masa depannya sudah terjamin oleh asuransi dan tabungan dari sang papa.
"50% untuk kebutuhan hidup sehari-hari, 30% investasi, dan 20% untuk hiburan dan sedekah!" jelas Kala yang tertarik dengan nasihat pak dosen tentang bijak dalam mengolah keuangan.
Pevita tersenyum, membelai rambut sang suami, "Kamu benar-benar memikirkan masa depan kita yah, sedewasa itu kamu menjalani peran sebagai suami!" ini Pevita mulai terharu dan merasa tersanjung. Ekspresi Kala tersenyum lalu berbisik.
"Tapi imbalannya mendesah sampai pagi," detik itu juga Pevita ingin menabok wajah imut sang suami. Mecum kebangetan.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh