Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
"Vani," suara Kiana tertahan, antara malu dan panik, "sepupu kamu... badannya terlalu bagus."
Voice note itu baru terkirim dua detik ketika Vani menelepon balik.
"Kia, jelasin. Bagus yang gimana? Kenapa lo bisa lihat? Lo naik ke unit dia? Kalian ngapain?"
Kiana menutup mata. "Aku cuma komplain suara."
"Suara apa?"
"Samsak. Mungkin."
"Mungkin?"
Kiana menatap langit-langit apartemennya, masih teringat Hans di ambang pintu, keringat di dada, dan kalimat "mau coba bareng" yang seharusnya terdengar biasa jika otaknya tidak dipenuhi prasangka sejak Catatan Sipil.
"Lupakan," katanya cepat. "Aku mau tidur."
"Lo nggak bisa lempar bom terus tidur!"
Kiana memutus telepon.
Namun tidur ternyata tidak semudah itu. Suara dari lantai atas memang berhenti, tetapi pikirannya tidak. Kartu ATM Hans masih ada di laci meja. Saldo Rp 500.000 itu berkali-kali muncul di kepala Kiana, disusul bayangan pria sebesar itu makan seadanya setelah shift panjang di pos damkar.
Keesokan sore, saat turun ke minimarket di lantai dasar apartemen, Kiana melihat Hans di lorong rak makanan instan.
Ia mengenakan kaos abu-abu dan celana training. Di tangannya ada tiga bungkus Indomie, dua telur, dan sebotol air mineral besar.
Kiana berhenti tanpa sadar.
Hans menoleh. "Kaki sudah lebih baik?"
"Lumayan." Mata Kiana jatuh pada belanjaannya. "Itu makan malam?"
"Iya."
"Setiap hari?"
"Kalau tidak sempat masak."
Jawaban itu terlalu datar. Justru karena datar, Kiana merasa tidak enak. Pria itu menyerahkan seluruh saldo gajinya, bekerja di tengah api, lalu pulang makan mi instan sendirian.
Ia tidak mengatakan apa-apa di minimarket.
Begitu kembali ke unitnya, Kiana mengirim pesan singkat pada Vani.
Kia: Vani, ternyata Hans tinggal satu gedung denganku. Unitnya tepat di atas.
Balasan Vani tidak berupa teks, melainkan panggilan video.
Kiana menolak.
Vani langsung mengirim voice note berdurasi hampir satu menit, isinya campuran tawa, jeritan, dan kalimat, "Ini bukan kebetulan biasa, Kia! Alam semesta lagi kerja lembur!"
Kiana hanya membalas satu stiker datar. Namun saat melihat tiga bungkus Indomie di meja dapurnya, ia tidak bisa menertawakan keadaan Hans terlalu lama.
Satu jam kemudian, Kiana berdiri di dapur apartemennya dengan celemek tipis, memasak sup ayam sederhana dan iga saus asam manis. Gerakannya belum selincah dulu karena kaki masih nyeri, tetapi tangan Kiana hafal bumbu rumahan yang Mama ajarkan sejak kecil.
Ketika dua kotak makan siap, ia menatapnya beberapa detik.
Ini bukan perhatian berlebihan.
Ini balas budi.
Ya, balas budi.
Kiana membawa kotak itu naik ke lantai atas.
Kali ini, sebelum menekan bel, ia menarik napas dulu. Tidak boleh berpikir macam-macam. Tidak ada urusan pribadi. Hanya antar makanan.
Pintu terbuka.
Hans kembali tanpa kaos.
Kiana hampir menumpahkan sup.
"Aku mengganggu latihanmu?" tanyanya kaku.
Hans melirik kotak makan di tangannya. "Kamu mau komplain lagi?"
"Tidak. Aku masak terlalu banyak." Kiana mengangkat kotak itu. "Kamu dan... temanmu bisa makan."
Alis Hans naik sedikit. "Temanku?"
Kiana menyesal begitu kata itu keluar.
"Yang kemarin malam," katanya lebih pelan. "Aku lihat ada dua pasang sarung tinju."
Hans menatapnya selama dua detik. Lalu ia membuka pintu lebih lebar.
"Masuk."
"Tidak perlu. Aku cuma antar."
Tangannya tiba-tiba ditarik pelan, tidak kasar, tetapi cukup tegas. Kiana masuk satu langkah dan langsung melihat isi apartemen Hans.
Tidak ada pria lain.
Tidak ada tanda-tanda "aktivitas pribadi" seperti yang otaknya bayangkan semalam.
Ruang tengahnya hampir kosong. Satu sofa abu-abu. Meja kecil. Dinding dengan rak sepatu bot. Di sisi lain, samsak besar tergantung dari rangka besi. Dua pasang sarung tinju ada di sofa karena satu pasang jelas sudah tua, kulitnya retak di beberapa bagian.
"Pasangan lama," kata Hans, seolah membaca pikirannya. "Cadangan."
Wajah Kiana panas sampai telinga.
Hans menutup pintu. "Yang kamu pikirkan semalam, biasanya tidak menghasilkan suara seperti itu."
"Aku tidak memikirkan apa pun."
"Hmm."
Satu bunyi pendek itu terdengar lebih menghukum daripada ceramah.
Kiana meletakkan kotak makan di meja. "Aku turun."
"Duduk."
"Hans..."
"Kamu naik dengan kaki sakit. Duduk dulu."
Kiana akhirnya duduk di ujung sofa, menjaga jarak dari sarung tinju seolah benda itu bisa membongkar isi kepalanya. Hans mengambil kaos dari sandaran kursi dan memakainya. Aneh, setelah ia berpakaian, Kiana justru lebih sadar bahwa tadi ia tidak.
Hans membuka kotak makan.
Aroma sup ayam langsung memenuhi ruangan. Ia mengambil sendok, mencicipi tanpa komentar panjang.
Kiana menunggu.
"Wangi," katanya.
Hanya satu kata, tetapi cara ia menunduk dan makan suapan kedua membuat Kiana tahu itu bukan basa-basi.
Ia mencoba iga saus asam manis, lalu berhenti sejenak.
"Enak."
Kiana mengangkat alis. "Kamu yakin? Kamu cuma bilang dua kata."
"Kalau tidak enak, aku diam."
Kiana hampir tertawa.
Hans makan dengan rapi, cepat, seperti orang yang terbiasa menghabiskan makanan sebelum alarm berbunyi. Setelah beberapa menit, ia berkata, "Lain kali garamnya sedikit lebih banyak."
"Lain kali?"
Hans mengangkat mata. "Kamu bilang masak terlalu banyak."
Kiana tidak tahu harus menyebut itu permintaan atau jebakan.
Setelah makan, ia mengeluarkan amplop kecil dan kunci mobil dari tas. Kunci itu milik Bentley putih yang dikirim Lily sore tadi, agar Kiana tidak perlu naik Grab selama kaki belum pulih.
"Ini untukmu."
Hans menatap kunci dan amplop itu. "Apa?"
"Kunci mobil. Pakai kalau perlu. Kamu kerja jauh ke Tanjung Priok, kan? Di amplop ada Rp 10 juta untuk kebutuhan bulan ini."
Wajah Hans langsung berubah datar.
"Aku tidak butuh."
"Aku tahu kamu sudah menyerahkan kartu gaji. Aku tidak mau kamu makan mi instan terus."
"Kiana."
Ia memakai nama lengkap itu dengan nada lebih rendah. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Kiana merasakan tekanan yang tidak kasar tetapi tegas.
"Aku tidak kekurangan uang sampai harus menerima uang makan darimu."
Kiana terdiam.
Rp 500.000 di ATM. Indomie di minimarket. Apartemen kosong. Semua itu tidak terlihat seperti orang yang "tidak kekurangan". Namun cara Hans mengatakannya tidak seperti pria gengsi yang terluka. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang menyembunyikan batas.
"Kalau begitu anggap saja pinjaman."
"Tidak."
"Untuk mobil?"
"Tidak."
Kiana menghela napas dan meletakkan kunci di meja. "Aku tetap tinggal di bawah. Kalau kamu berubah pikiran, ambil saja."
Ia baru berdiri ketika Hans menangkap pergelangan tangannya.
Jari-jarinya hangat, kuat, menahan tanpa menyakiti.
Kiana menunduk pada tangan itu. Cara Hans menahannya tidak seperti Jovian yang dulu menariknya untuk memaksa. Pegangan ini tegas, tapi masih memberi ruang untuk menolak. Justru itu membuatnya semakin sulit menjawab.
"Kiana Lim," katanya pelan, "kamu sebenarnya mau apa?"