Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas yang Kian Samar
### **Bab 24: Garis Batas yang Kian Samar**
Dengung lembut mesin jet pribadi menjadi satu-satunya suara yang mengisi kabin malam itu. Pesawat melaju tenang menembus langit gelap menuju Jakarta, sementara lampu-lampu kota yang sesekali terlihat dari kejauhan tampak seperti gugusan bintang di bawah awan.
Jevandra telah berganti dengan kemeja hitam bersih yang disiapkan awak pesawat. Meski penampilannya kembali rapi, sorot matanya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan dari peristiwa di Tanjung Perak. Di seberangnya, Alana duduk santai di kursi kulit, menyandarkan kepala sambil memandang keluar jendela. Pantulan cahaya bulan menari di permukaan kaca, seolah ikut mengiringi keheningan yang menggantung di antara mereka.
Namun malam ini, diam mereka terasa berbeda.
Tak ada lagi laporan keuangan yang harus dibahas, tak ada strategi penyelamatan perusahaan, ataupun nama Baskoro yang terus menghantui setiap percakapan. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari, mereka benar-benar memiliki ruang untuk bernapas.
Jevandra menghela napas panjang. Jemarinya memutar perlahan gelas wiski di atas meja kecil tanpa berniat menyesapnya.
"Baskoro sebenarnya benar tentang satu hal," katanya akhirnya.
Alana menoleh pelan.
"Apa maksudmu?"
"Aku memang memanfaatkan jaringan keluarga Wijaya untuk menyelesaikan semua ini." Tatapan Jevandra tertuju pada cairan berwarna keemasan di dalam gelasnya. "Ayah pasti sudah mengetahuinya. Besok, dewan komisaris kemungkinan besar akan mempertanyakan apakah aku masih bisa memimpin Pratama Group secara objektif."
Alana mengamatinya beberapa saat sebelum bertanya dengan tenang,
"Jadi... kamu menyesal?"
Jevandra mengangkat wajahnya dan menatap Alana tanpa ragu.
"Tidak sedikit pun."
Jawabannya keluar begitu cepat.
"Aku hanya baru sadar kalau semua ini sudah berkembang jauh dari rencana awal. Pernikahan kontrak kita bukan lagi sekadar kesepakatan untuk saling melindungi. Di Surabaya tadi, dua keluarga besar ikut bergerak demi tujuan yang sama. Artinya... batas antara kerja sama bisnis dan kehidupan pribadi kita mulai menghilang."
Alana menyandarkan siku di meja, lalu menopang dagunya dengan telapak tangan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh godaan.
"Memangnya sejak awal bukan itu isi kontraknya?" ujarnya ringan. "Kamu mendapatkan kembali posisi yang menjadi hakmu, sedangkan aku terbebas dari perjodohan yang dipaksakan keluargaku. Sama-sama untung."
"Itu hanya isi kontrak."
Jevandra sedikit memajukan tubuhnya hingga jarak mereka terasa lebih dekat. Suaranya berubah lebih pelan, tetapi justru terdengar jauh lebih dalam.
"Di atas kapal tadi... saat semuanya nyaris berantakan, aku tidak lagi memikirkan kursi CEO atau harga saham perusahaan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Yang terus ada di pikiranku adalah... bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku mengecewakan perempuan yang sudah mempertaruhkan nama baik keluarganya demi berdiri di sisiku?"
Ucapan itu membuat Alana membisu.
Selama ini ia selalu memandang Jevandra sebagai rekan yang harus ia arahkan, seseorang yang perlahan ia bentuk agar mampu bertahan di kerasnya dunia korporasi. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat sosok lain di hadapannya.
Bukan sekadar CEO.
Bukan sekadar pasangan dalam kontrak.
Melainkan seorang pria yang mulai berbicara dengan ketulusan yang sulit disembunyikan.
Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.
Akhirnya Alana mengembuskan napas pelan.
"Jevandra..." suaranya nyaris seperti bisikan. "Kita sudah berjanji sejak awal untuk tidak membawa perasaan ke dalam hubungan ini."
"Aku masih ingat."
Jevandra tersenyum kecil.
"Tapi ada satu hal yang terus membuatku penasaran."
Alana mengernyit.
"Apa?"
"Sandi laptopmu."
Alana spontan menatapnya.
"Itu memakai tanggal pernikahan kita."
Jevandra tersenyum semakin lebar.
"Kalau semua ini benar-benar hanya urusan bisnis, kamu pasti memilih tanggal lain. Bukan hari yang mengikat kita berdua."
Ucapan itu membuat Alana kehilangan kata-kata.
Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, berusaha menyembunyikan pipi yang mulai menghangat. Senyum kecil yang tak mampu ia tahan perlahan muncul di bibirnya.
Skakmat.
Tanpa ia sadari, Jevandra telah berkembang jauh dari pria yang dulu selalu ragu mengambil keputusan. Kini ia mampu membaca strategi lawan, bahkan memahami isi hati perempuan yang selama ini mengaku tak bisa ditebak.
...****************...
Jet pribadi itu akhirnya mendarat di Jakarta menjelang tengah malam.
Begitu keluar dari hanggar privat, hawa malam langsung menyambut mereka. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Sebuah sedan hitam mewah dengan lambang keluarga Wijaya telah menunggu di tepi landasan. Di sampingnya berdiri seorang ajudan berpakaian rapi yang segera membungkukkan badan begitu Jevandra dan Alana mendekat.
"Selamat malam, Ibu Alana. Pak Jevandra."
Pria itu berbicara dengan nada formal.
"Kakek Besar meminta Anda berdua untuk segera datang ke kediaman utama keluarga Wijaya. Beliau menunggu malam ini juga."
Jevandra dan Alana saling bertukar pandang.
Nama itu saja sudah cukup membuat suasana berubah.
Haryo Wijaya.
Patriark keluarga Wijaya. Sosok yang dihormati sekaligus disegani oleh seluruh anggota keluarga. Bahkan ayah Alana pun tidak pernah berani membantah keputusan pria tua tersebut.
Jelas sudah.
Kabar mengenai operasi intelijen keluarga Wijaya di Surabaya ternyata telah sampai ke telinga sang patriark jauh lebih cepat daripada yang mereka duga.
Sesaat sebelum melangkah menuju mobil, Jevandra meraih tangan Alana.
Jemarinya menggenggam tangan wanita itu dengan mantap.
"Siap menghadapi babak berikutnya... Istriku?"
Alana menunduk sejenak, merasakan hangatnya genggaman itu. Entah sejak kapan, rasa aman yang muncul setiap kali Jevandra berada di sisinya mulai terasa begitu nyata.
Tanpa ragu, ia membalas genggaman tersebut.
Tatapannya kembali tajam, penuh keyakinan.
"Ayo."
Senyumnya perlahan mengembang.
"Sudah saatnya mereka tahu... yang berdiri di hadapan mereka bukan lagi dua orang asing yang terikat kontrak. Melainkan dua partner yang memilih berjalan di jalur yang sama—dan siap memenangkan permainan sampai akhir."
Bersambung......