"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Permisi... Kang! Kang Wirandu!"
Suara panggilan lantang dari arah halaman bawah seketika membuyarkan kabut gairah Dinda yang tengah memuncak. Kesadaran Dinda langsung ditarik paksa kembali ke realitas.
Dengan napas memburu, Dinda menahan dada bidang Wira yang masih menempel erat. "Wira... dengar, ada orang di luar," bisik Dinda pelan dengan bibir bergetar.
Namun, Wira seolah menulikan telinga. Pria itu masih terbuai, jemari kasarnya masih enggan melepaskan cengkraman pada dua gundukan kenyal nan hangat milik Dinda. Baginya, gangguan dari luar sama sekali tidak penting dibanding gadis di pelukannya.
"Kang Wirandu...! Oh, Kang!" Suara itu kembali memanggil dengan nada lebih keras. Dari rumpun suaranya, bisa dipastikan ada sekitar dua sampai tiga orang pria yang sedang berdiri di bawah tangga.
"Wira, ih... pergilah dulu ke luar, lihat siapa yang datang," ucap Dinda setengah merengek pelan, sembari buru-buru merapikan kembali cup bra dan mengancingkan asal kebaya birunya yang berantakan.
Dengan helaan napas berat dan rasa enggan yang kentara, Wira akhirnya melepaskan kungkungannya. Ia sempat menatap sayu penuh damba pada wajah merona Dinda, sebelum akhirnya bangkit berdiri. Pria itu merapikan kainnya, lalu melangkah lebar menuju teras luar rumah pohon.
"Ada apa?" tanya Wira dengan suara ketus dan wajah datar tanpa ekspresi begitu sampai di balkon luar.
Tiga pemuda yang berdiri di tanah—Parman, Darmanto, dan Sujito—langsung jengah mendengarkan nada bicara sang pemburu yang sedingin es.
"Anu, Kang... Ketua Kampung menyuruh kami kemari untuk memberitahu Kakang Wirandu agar ikut membantu mencari batang bambu di dalam hutan," jawab Parman agak sungkan.
Dahi Wira mengernyit dalam, kelihatan sekali kalau ia sedang terganggu. "Memang untuk apa bambu-bambu itu? Kenapa mendadak sekali?"
"Anu... untuk acara selamatan Lilis, Kang. Gadis itu, baru saja tiba kembali ke desa setelah lama di kota." sahut Darmanto menjelaskan.
Wira mendengus tipis. "Kenapa tidak kalian bertiga saja yang pergi? Kenapa harus repot-repot mengajakku segala?" ketus Wira, jelas-jelas malas bergerak karena urusan pentingnya di dalam kamar baru saja digagalkan.
"Ada apa, Wir?"
Suara lembut Dinda mendadak terdengar dari arah ambang pintu. Wanita cantik itu melangkah pelan mendekati posisi Wira berdiri, lalu melongokkan kepalanya ke bawah untuk melihat siapa tamu yang datang mengganggu siang mereka.
Begitu Dinda muncul dengan kebaya biru bludru yang sedikit kusut dan rambut yang agak berantakan, tiga pemuda di bawah seketika mematung. Pandangan mata Parman, Darmanto, dan Sujito langsung terkunci, terpesona total oleh visual Dinda yang kelewat luar biasa di bawah terik matahari siang.
Menyadari arah tatapan lapar dan takjub dari ketiga pemuda itu tertuju lurus pada wanitanya, rahang Wira seketika mengeras. Rasa cemburu posesifnya langsung membakar dada. Tanpa babibubu, lengan kekar Wira langsung terjulur, menarik pinggang ramping Dinda dalam satu sentakan posesif agar merapat erat ke tubuh tegapnya—seolah mempertegas batasan kepemilikan.
Sontak, tindakan frontal Wira membuat ketiga pemuda di bawah tersentak kaget. Mereka langsung buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani lagi menatap ke atas. Sementara Dinda, jantungnya kembali copot akibat tarikan tiba-tiba itu, wajahnya seketika bersemu merah padam karena malu ditonton orang lain.
"Pergilah dulu. Tunggu aku di perbatasan hutan," perintah Wira dingin, suaranya terdengar sangat mengancam.
Ketiga pemuda itu serempak mengangguk cepat bak pajangan mobil. Tanpa menunggu hitungan ketiga, mereka langsung berbalik badan dan berjalan cepat setengah berlari meninggalkan pekarangan rumah pohon, seolah-olah baru saja melihat hantu yang siap menerkam.
Melihat kepanikan para pemuda itu, Dinda mendongak menatap wajah kaku pria di sebelahnya. "Kamu mau ke mana, Wira?" tanya Dinda pelan, tersirat rasa penasaran.
Wira tidak langsung menjawab. Ia justru menundukkan kepala, menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata bulat milik Dinda. "Berhenti memanggilku dengan sebutan nama, Dinda!" ucap Wira tegas dengan nada rendah.
Dinda mengernyitkan dahi, bingung dengan protes mendadak dari pria kaku ini. "Lho? Lalu aku harus memanggilmu apa kalau bukan nama?"
"Terserah kamu. Yang penting... jangan panggil namaku lagi seperti orang asing," jawab Wira cuek, meskipun daun telinganya tampak sedikit memerah sembari memalingkan wajah ke arah lain.
Melihat tingkah salah tingkah pria garang itu, Dinda tidak bisa menahan diri. Sebuah tawa kecil yang renyah lolos begitu saja dari bibir ranumnya.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Wira kembali menatapnya, kali ini dengan bibir yang sedikit dikerucutkan sebal.
"Enggak ada... cuma lucu aja. Ternyata pria garang,.. bisa cemberut gemas juga ya kalau lagi merajuk," goda Dinda pelan dengan mata berbinar jenaka.
Wira semakin salah tingkah, ia berdeham berat untuk menutupi rasa malunya.
Dinda mengetuk-ngetuk dagunya sejenak, berpikir. "Emm... bagaimana kalau aku panggil Kanda? Jadi pas, ada Dinda dan ada Kanda. Gimana?" tawar Dinda pelan dengan nada manis yang manja.
Mendengar kata 'Kanda' meluncur dari bibir Dinda, pertahanan Wira runtuh seketika. Matanya berbinar cerah. "Bagus. Aku sangat menyukainya," jawab Wira dengan suara yang melunak, menatap dalam ke dalam manik mata cokelat milik Dinda yang jernih.
"Sekarang masuklah ke dalam kamar, rapikan pakaianmu dan tunggu aku kembali. Aku akan menyusul mereka sebentar ke hutan," ucap Wira rendah sembari mengusap lembut pucuk kepala Dinda.
Dinda mengangguk patuh dengan senyuman manis. Ia lantas berbalik badan, melangkah masuk kembali ke dalam rumah dengan hati yang berbunga-bunga, sementara Wira bersiap pergi dengan senyuman yang tak bisa hilang dari wajah tampannya.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍