Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 – Pelindung yang Tak Pernah Terlambat
Raungan makhluk dari balik retakan langit mengguncang seluruh Akademi Aetherion. Suara itu begitu dalam, seolah berasal dari dasar dunia yang telah lama terkunci. Getarannya merambat hingga ke pondasi Arena Celestia, membuat batu-batu putih di bawah kaki para murid bergetar pelan.
Langit yang semua cerah kini dipenuhi oleh pusaran awan hitam yang berputar mengelilingi retakan raksasa di angkasa. Makhluk itu belum keluar sepenuhnya, namun hanya cengkraman tangannya saja sudah cukup membuat seluruh perisai pelindung akademi dipenuhi retakan cahaya.
CRAAAKK~
Suara pecahan terdengar memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Perisai biru yang selama ratusan tahun melindungi Akademi Aetherion mulai kehilangan kestabilannya. Wajah Aldric pun terlihat semakin serius.
“Seluruh professor, bentuk formasi pertahanan.” Begitulah katanya, dan perintah itu langsung di sambut tanpa ragu. Professor Cedric pun lekas mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi.
“Aegis Lumina.”
Puluhan lingkaran sihir berwarna emas bermunculan di udara, saling bertumpuk membentuk lapisan pelindung baru. Di sisi lain, Profesor Elowen menggerakkan kedua tangannya perlahan, akar-akar pohon raksasa menjulang dari tanah, melilit dinding akademi sebagai penyangga tambahan.
Professor Lyren menghunus pedangnya. Dalam sekali ayunan, ratusan bilah cahaya melesat menuju tangan hitam yang mencengkram retakan. Namun, makhluk itu bahkan tidak bergeming sama sekali. Sebaliknya, ia justru menggenggam retakan langit dengan lebih kuat lagi.
Langit kembali robek beberapa meter, keheningan terus menyelimuti seluruh arena, bahkan murid-murid tingkat akhir yang selama ini terkenal pemberani mulai kehilangan warna di wajah mereka.
“Sebenarnya itu apa?” Bisik salah seorang murid dengan suara yang terdengar bergetar.
Di tengah arena, Aurelia berdiri mematung, tangannya menggenggam tongkat Astralis begitu erat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Jantungnya berdetak semakin cepat, entah kenapa semakin lama ia menatap makhluk itu, semakin kuat pula perasaan bahwa makhluk tersebut sedang mencarinya.
Makhluk itu bukan mengincar akademi maupun professor disana, tapi ia mengincar dirinya. Kristal Astralis di ujung tongkatnya kembali memancarkan cahaya lembut, cahaya itu berdenyut pelan untuk sekali, dua kali, lalu semakin terang lagi.
“Apa yang terjadi?” gumamnya bingung seraya mengalihkan pandangannya pada tongkat yang berada dalam genggamannya. Di sampingnya, Lyra yang menyadari hal itu pun ikut memperhatikan.
“Relia, kristalmu…” belum sempat Lyra menyelesaikan kalimatnya, makhluk itu tiba-tiba menoleh. Sepasang mata merah gelap yang berada jauh dibalik retakan langsung mengarah pada Aurelia.
Seluruh tubuh gadis itu membeku, ia bahkan lupa cara untuk bernapas. Kemudian, makhluk itu mengangkat salah satu tangannya, dan secara perlahan ia menjulurkannya ke arah Arena Celestia seolah ingin meraih sesuatu disana.
“TIDAK.” Teriak Aldric. “Seluruh murid mundur.” Ucapnya lagi dan para professor serempak memperkuat pelindung. Namun tangan raksasa itu terus bergerak turun.
Udara di sekitar berubah menjadi berat. Beberapa murid bahkan sampai berlutut karena tekanan mana yang luar biasa besar. Selene spontan memeluk buku mantranya dengan begitu erat.
“A-aku.. aku tidak bisa bergerak.” Seru Aeron seraya menggertakan giginya. Ia mencoba untuk mengangkat busurnya, tetapi lengannya terasa begitu berat.
Lyra berusaha menciptakan pusaran angin melalui sihir ilusinya, namun angin itu langsung lenyap sebelum terbentuk sempurna, Aurelia ia masih mampu berdiri. Bukan karena ia lebih kuat dari yang lain, itu karena Astralis terus memancarkan cahaya yang melindunginya.
Kael masih berdiri di dekat Aurelia dengan pedang yang telah terhunus. Di sisi kanannya, Rowan mempertahankan puluhan tombak angin yang terus berputar mengelilingi mereka, sementara Lucien mempertahankan beberapa lapis lingkaran sihir pelindung yang mulai dipenuhi retakan.
Tak jauh dari mereka, Orion juga belum bergeser sedikit pun dari tempatnya. Jubah hitamnya berkibar di terpa angin yang semakin kencang, sedangkan tatapan abu-abunya tetap terkunci pada makhluk raksasa yang telah menjulurkan sebelah lengannya ke dalam Arena Celestia.
Makhluk itu terus menekan perisai Aetherion dengan kekuatan yang mengerikan, seolah berusaha memaksa seluruh tubuhnya menembus batas antara dua dunia. Untuk pertama kalinya, ekspresi tenang Orion memudar, dan ia menggenggam tongkat sihirnya makin erat dari sebelumnya.
“Jadi, kau benar-benar datang?” Gumamnya begitu pelan hingga hanya dirinya sendiri yang dapat mendengarnya. Lucien yang berdiri tak jauh darinya sempat melirik sekilas.
“Apa kau mengenal makhluk itu?” Orion tidak langsung menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Lucien. Tatapannya masih tertuju pada sosok raksasa yang terus berusaha menembus penghalang akademi.
"Aku pernah melihat catatan tentang kehancuran yang dibawa makhluk itu."
Belum sempat siapapun bertanya lebih jauh, tekanan mana yang memenuhi arena kembali meningkat berkali-kali lipat. Makhluk dari balik retakan itu terus berusaha untuk masuk, hingga di udara disekelilingnya berputar liar, membentuk pusaran hitam yang membuat langit seakan hendak runtuh.
Kael melangkah setengah langkah lebih maju untuk menutupi tubuh Aurelia sepenuhnya. “Relia,” suaranya terdengar tetap tenang meski situasi semakin mencekam. “Apapun yang terjadi, tetaplah berada dibelakang kami.” Pungkasnya lagi.
Rowan tersenyum kecil meski keringat mulai membasahi pelipisnya. “Sudah lama kita tidak bertarung bersama seperti ini.” Timpal Rowan seraya menepis keringatnya.
“Aku lebih memilih reuni keluarga tanpa monster sebesar itu.” Sahut Lucien. Candaan kecil itu berhasil membuat Aurelia tersenyum tipis ditengah ketakutannya. Namun senyum itu tidak bertahan lama, karena sesaat kemudian, satu tangan lain dari makhluk itu menghantam perisai Aetherion.
DUUUUMMMM~
Seluruh arena kembali berguncang hebat, retakan-retakan cahaya menjalar ke segala arah, beberapa murid semakin kehilangan keseimbangannya. Professor Cedric serta Profesor Elowen langsung memperkuat mantra pertahanan mereka, tetapi tekanan dari makhluk itu terus bertambah, bahkan Orion sendiri mulai mengangkat tongkat sihirnya.
Makhluk itu kembali mengaum, dan kali ini suaranya lebih keras lagi. Gelombang kejutnya menghancurkan beberapa pilar batu di pinggir arena, debu memenuhi udara, dan tangan hitamnya itu kini tinggal beberapa meter lagi akan menyentuh permukaan tanah.
Semua orang menahan napasnya, lalu sebuah cahaya keemasan membelah langit.
Whooosshhh~
Semua orang spontan mendongak memperhatikan cahaya itu. Di atas Arena Celestia, sebuah lingkaran teleportasi raksasa perlahan terbuka. Lingkaran itu jauh lebih besar dibandingkan sihir teleportasi biasa.
Ratusan simbol sihir kuno berputar mengelilinginya, cahayanya bahkan mampu mengusir sebagian awan hitam. Tanpa memberi kesempatan siapapun untuk bereaksi, dua sosok melesat keluar dari dalamnya.
Pria berjubah hitam mendarat tepat dihadapan tangan raksasa tersebut. Benturan pedangnya dengan cakar hitam makhluk itu menciptakan gelombang kejut yang langsung menghentikan laju tangan raksasa tersebut.
Di saat yang bersamaan, wanita berjubah hitam di belakangnya mengayunkan tongkat sihir ke arah arena. “Sanctum Asteria.” Cahaya keemasan pun menyebar bak aliran air untuk membentuk sebuah kubah pelindung baru yang langsung menyelimuti Aurelia, Kael, Lucien, Rowan, Orion, Lyra, Aeron, dan juga Selene.
Tekanan mana yang sejak tadi menyesakkan dada mereka perlahan menghilang. Lyra akhirnya mampu bernapas lega, Aeron kembali mampu mengangkat busurnya, Selene yang hampir roboh itu pun berhasil berdiri tegak. Sementara Aurelia, ia membelalak ketika melihat sosok yang berdiri membelakanginya.
Rambut hitam yang mulai dihiasi sedikit uban dengan punggung yang selalu terasa kokoh, dan pedang perak yang begitu dikenalnya. “Ayah?” Gumamnya. Pria itu tidak menoleh, tatapannya tetap tertuju pada makhluk di hadapannya.
“Relia. Hari ini, ayah yang akan melindungimu.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Aurelia yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan menghangat, dan untuk pertama kalinya sejak tangan raksasa itu menembus retakan langit, ia benar-benar merasa aman.
Di hadapannya, Armand masih berdiri tegak menghadang makhluk tersebut. Dengan satu tangan, ia menahan cakar hitam raksasa yang bahkan mampu merobek lapisan pelindung Aetherion. Bilah pedang perak di tangannya memancarkan cahaya keemasan yang semakin terang. Armand sempat menoleh ke arah Orion dan tatapan mereka bertemu untuk sesaat. Tak ada senyum maupun sapaan, ia hanya menganggukkan kepala, dan anggukan itu mampu dipahami olehnya, hingga ia pun membalasnya dengan hormat.
Setiap benturan antara pedang miliknya dan cakar sang makhluk memercikkan mana ke segala arah, menciptakan gelombang kejut yang membuat tanah di bawah kaki Armand perlahan retak. Namun, ia sama sekali tidak bergeser. Tidak satu langkah pun, hingga makhluk itu kembali meraung.
Raungan itu benar-benar mengguncang langit dan bumi. Aura hitam kembali menyembur dari tubuhnya, lalu seluruh kekuatannya dipusatkan pada cakar yang masih beradu dengan pedang Armand.
Tekanannya meningkat berkali-kali lipat, udara pun terasa semakin berat, namun ekspresi Armand tetap tenang, tatapannya tidak sedikit pun goyah, seolah kekuatan sebesar itu bukan sesuatu yang layak ia takuti. Senyum tipis bahkan sempat terlukis di sudut bibirnya.
“Masih keras kepala seperti dulu rupanya.” Gumamnya pelan.
Kalimat itu membuat Orion yang berdiri beberapa meter dibelakangnya sedikit mendongakkan wajahnya, tatapan abu-abunya ikut berubah. Menurutnya, nada bicara Armand, bukan nada seseorang yang sedang menghadapi musuh yang baru pertama kali ditemui, melainkan nada seorang ksatria yang pernah berdiri di medan perang dengan lawan yang sama.
Detik berikutnya, Armand memutar pergelangan tangannya, mana keemasan memenuhi seluruh bilah pedangnya. Cahayanya semakin terang, hingga nyaris menyaingi sinar matahari pagi.
“Lux Severa.”
DRAAAANNGG~ ledakan cahaya meledak dari titik benturan. Gelombang energi menyapu seluruh Arena Celestia, membuat jubah para professor berkibar hebat dan pepohonan di sekitar akademi berguncang.
Tubuh raksasa itu akhirnya terdorong mundur, cakarnya terlepas dari perisai Aetherion. Sejak pertama kemunculannya, makhluk itu dipaksa mundur hingga membuat seluruh arena berguncang hebat. Namun kali ini bukan karena tekanan mana hitam, melainkan karena benturan dua kekuatan luar biasa yang memenuhi langit.
Di saat yang bersamaan, Selena tetap berdiri beberapa langkah di belakang Armand. Tongkat sihirnya tertancap kokoh di permukaan arena. Cahaya keemasan mengalir tanpa henti dari kristal di ujung tongkatnya, dan menyebar ke seluruh penjuru akademi bagaikan aliran sungai yang membawa kehidupan.
Lapisan demi lapisan perisai Aetherion yang sebelumnya dipenuhi retakan mulai menyatu kembali. Mana hitam yang memenuhi udara perlahan terusir sedikit demi sedikit. Professor Elowen menatap pemandangan itu dengan takjub.
“Dia sedang memulihkan seluruh lapisan akademi.”
“Bukan hanya memperkuat, tetapi mengembalikan struktur sihirnya seperti semula.” Sahut Cedric.
Aldric yang sejak tadi terus mempertahankan ketenangannya akhirnya menghembuskan napas panjang penuh kelegaan. Meski begitu, sorot matanya tetap dipenuhi kewaspadaan. Ia tahu betul, kedatangan Armand dan Selena bukan berarti ancaman telah berakhir, karena jika makhluk itu berhasil keluar sepenuhnya dari retakan langit, maka perang yang sesungguhnya akan dimulai.
Di bawah kubah cahaya itu, Aurelia masih berdiri mematung. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok ayahnya, dadanya dipenuhi begitu banyak perasaan yang saling bertabrakan. Rasa takut, lega dan rindu menjadi satu.
Ada rasanya ingin berlari untuk memeluk Armand seperti ketika masih kecil setiap kali ia pulang dari menjalankan tugas. Namun langkahnya tak sanggup bergerak, karena ia menyadari, pria yang berdiri dihadapannya bukan hanya seorang ayah, tetapi seorang penjaga yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi melindungi seluruh akademi.
Di sisi lain, Selena tetap mempertahankan mantranya, meski tidak menoleh sedikit pun, ia dapat merasakan tatapan putrinya. Senyum lembut perlahan terlukis di bibirnya. “Relia.. ibu ada disini.” Gumamnya lirih.
Suaranya begitu pelan, dan hampir tenggelam di antara dentuman benturan pedang dan raungan sang makhluk. Namun entah bagaimana, Aurelia tetap mendengarnya dengan jelas, seakan suara itu langsung mencapai hatinya.
Kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca, rasa takut yang sejak tadi menguasai dirinya perlahan memudar, terganti oleh kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Kehadiran orang tuanya bukan hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga mengembalikan harapan seluruh Akademi Aetherion.
Para murid yang semula dipenuhi kepanikan mulai bangkit kembali, para professor kembali menegakkan tubuh mereka, bahkan mana yang memenuhi udara terasa jauh lebih stabil dibanding beberapa saat sebelumnya. Namun, jauh dibalik retakan langit yang belum sepenuhnya tertutup, sesuatu bergerak.
Di balik kegelapan yang nyaris tak berujung, sepasang mata merah perlahan terbuka. Sosok itu menyeringai, senyumnya begitu tipis, namun cukup untuk membuat udara kembali terasa dingin. Untuk pertama kalinya ia berbicara dengan suara yang terdengar begitu berat dan menggema ke seluruh penjuru langit.
“.. Astralis..” Hanya satu kata. Namun kata itu membuat seluruh dunia seolah berhenti sesaat.
Mata Armand langsung menyipit, Selena menghentikan napasnya sejenak, Orion perlahan mengangkat wajahnya, bahkan Aldric tampak membeku di tempatnya, dan pada saat yang sama kristal di ujung tongkat Astralis milik Aurelia mendadak bersinar jauh lebih terang dari sebelumnya.
Cahaya putih keperakan itu memancar ke langit, seolah menembus awan dan menjawab panggilan yang telah lama bergema. Bukan sekedar bereaksi, melainkan menyambut, seolah sebuah takdir yang telah tertidur selama ratusan tahun akhirnya mulai terbangun kembali.