NovelToon NovelToon
Sepasang Antagonis

Sepasang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Najmu Laila

Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.

‎"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.

‎"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"

‎"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.

‎Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Robert bolos

...Chapter 27...

...----------------...

Nadia tersenyum senang, Ia bahkan menari-nari di dalam kamarnya. Rasa senangnya bukanlah tanpa alasan. Beberapa menit yang lalu, Gadis itu pergi menuju kamar Axion untuk sekedar memberikan cemilan malam, Ia sudah menggantikan ibunya menjadi salah satu pelayan muda di rumah itu.

"Ku dengar, Tuan muda Axion pergi ke butik untuk membeli sebuah gaun untuk wanita, Benar-benar romantis."

Nadia berbalik menuju rumahnya dengan langkah cepat, Saat tahu bahwa kini Axion sedang tidak berada di kediamannya. Jantungnya berdebar, Apa Axion berniat membelikannya gaun termahal untuk pesta yang akan datang nanti?

"Aku tak sabar, Besok...Pasti dia akan memberikan aku gaun mahal pilihannya."Gumam gadis itu menari-nari di dalam kamar sederhananya.

...--------------------------------...

Sang mentari kembali muncul di ufuk timur, Menyisakan aroma pagi yang khas. Clarissa sudah sampai di sekolahnya. Senyumnya merekah sambil memikirkan sesuatu.

"Selamat pagi, Nona Clarissa!" Sapa Riana ceria, Seperti biasa, Gadis itu datang bersama Nasya. Teman dekatnya.

"Pagi nona Clarissa."Sapa Nasya.

Clarissa mengangguk, Ia menatap Mia yang hanya diam sambil membaca buku. Mia berubah semenjak ia menginap di rumahnya waktu itu, Gadis itu pulang tanpa memberitahunya.

"Mia, Kau sudah menyelesaikan tugas?" Tanya Clarissa, Mia mengangguk tanpa menoleh. Itu membuat Clarissa mengerutkan keningnya.

"Apa kau..."

Belum selesai Clarissa berbicara, Mia lebih dulu keluar dari kelas. Riana dan Nasya yang melihat itu cukup merasa heran. Hubungan kedua gadis itu jelas begitu dekat, Tetapi memang sedikit berjarak beberapa hari ini.

"Nona Mia mungkin sedang ada masalah, Anda cobalah berbicara padanya saat sudah tenang."Ucap Riana mencoba mencairkan suasana yang terasa dingin.

"Tidak, Aku akan menemuinya. Jika Miss Laura datang, Katakan bahwa aku izin ke ruang lain."Ucap Clarissa, Pergi tanpa menunggu jawaban kedua gadis itu.

Clarissa berkeliling beberapa ruangan, Mencari keberadaan Mia. Di dalam cerita, Mia sangat suka bermain alat musik. Ia berjalan menuju ruang musik.

Clarissa berdiri di ambang pintu ruang musik, Menatap Mia yang hanya fokus memainkan biola sambil melihat alunan lirik pada buku, Clarissa mendekat dan tersenyum.

"Aku tau kau sedang marah padaku."Ucap Clarissa, Ia duduk di sebuah bangku kecil tepat di depan alat musik piano.

Mia menoleh, Gadis itu tidak menunjukan wajah sinis, Hanya memalingkan wajah saja saat mata mereka bertemu. Clarissa merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan sebuah permen rasa mint kesukaan Mia.

"Ini untukmu, Saat bosan kau suka makan ini."Ucap Clarissa mengulurkan permen mint itu pada Mia. Gadis itu menghela nafasnya... Menatap Clarissa lekat-lekat.

"Aku kecewa padamu."Ucap Mia, Gadis itu membuka bungkus permen itu dengan wajah kesal, Lalu melahap permen itu.

"Apa yang membuatmu kecewa?" Tanya Clarissa bingung.

"Pagi itu, Aku melihatmu tersenyum pada Robert, Padahal kau sudah bilang akan menjauhinya."Ucap Mia, Clarissa mencoba mengingat apa yang telah terjadi beberapa hari lalu. Saat mengingat, ia tersenyum.

Mia menatap Clarissa yang tertawa nyaring, Bukannya menjelaskan gadis itu justru malah tertawa, Memang apa yang lucu?

"Mia, Tadinya aku ingin menyembunyikan hal ini, Tetapi...karna kau sahabatku. Aku akan menceritakan padamu apa yang sedang terjadi."Ucap Clarissa terkekeh.

Clarissa menceritakan pada Mia tentang rencananya, Tetapi soal ia yang bukan Clarissa dan Axion yang terlahir kembali, Ia tak memberitahu Mia.

"Jadi maksudmu, Kau dan tuan muda Axion hanya bermain-main bersama Nadia dan Robert, Sungguh!" Gadis itu mulai kembali seperti biasanya, Clarissa mengangguk pasti.

"Bahkan jika aku mengulang kehidupan, Aku tetap akan memilihmu Mia, Bukan Robert."Ucap Clarissa, Mia tersenyum lebar dan memeluk Clarissa.

"Aku sangat bahagia, Kau tidak termakan rayuan Robert, Dan tetap percaya padaku. Jika memang rencanamu dengan tuan muda Axion memang hanya main-main saja. Aku tidak marah Clarissa."Ucap Mia tersenyum.

Clarissa begitu penasaran, Mengapa Mia begitu tidak menyukai Robert, Gadis itu seakan mengetahui sesuatu.

"Clarissa, Akan ada pesta di gedung Destin, Daddy-ku mengundang beberapa rekan bisnisnya termasuk Daddy-mu"Ucap Mia merasa bersalah.

"Tadinya kau berharap aku tidak datang bukan?"

"TIDAK! Aku hanya takut kau pergi bersama Robert, Itu saja...makanya aku tidak mengundangmu secara langsung, Hanya secara keluarga saja."Ucap Mia memelas.

"Baiklah Mia, Aku mengerti. Sebenarnya apa yang membuatmu begitu tidak menyukai Robert, Kau begitu sangat membencinya?" Tanya Clarissa penasaran.

"Aku pernah bermimpi, Bahwa aku melihat mayat-mu di depan kedua mata-ku. Aku sangat takut Clarissa. Di mimpiku Robert lah yang membunuhmu."Ucap Mia, Kedua mata gadis itu berkaca-kaca.

"Itu hanya mimpi Mia."

"TIDAK!"

Mia terlihat sedikit pucat, Gadis itu juga mengeratkan kedua kepalan tangannya. Clarissa menarik Mia ke dalam pelukannya. Nyatanya Hal yang gadis itu bilang adalah mimpi, Itu adalah kenyataannya.

"Kau benar, Clarissa sudah mati Mia."Batin Velica.

...--------------------------------...

"Ketus OSIS!"

Luzkay menoleh menatap salah satu teman sekelasnya,Sekaligus sekretarisnya. Bernama Lucifer.

"Ada apa?" Kesal Luzkay, Ia masih sibuk mengisi daftar nama untuk pengurangan poin keterlambatan dan ketidak disiplin-an.

"Di angkatan 2 ada siswa yang bolos."Ucap Lucifer, Sekretarisnya.

Luzkay memutar bola matanya malas, Mencubit pangkal hidung mancungnya sampai memerah. Dengan terpaksa ia bangkit dan mengikuti kemana Lucifer membawanya.

"Sebenarnya siapa yang bolos pelajaran hari ini?" Tanya Luzkay dengan datar, Pemuda itu bertanya sambil berjalan.

"Robert, Kelas IPS 2."Ucap Lucifer, Mendengar nama itu membuat kedua mata pemuda itu menjadi sangat tajam.

"Dari jam berapa dia bolos?" Tanya Luzkay, Lucifer berpikir dan menjawab.

"Jam 7."Ucapnya,

Kedua pemuda itu berkeliling menaiki lantai bawah hingga atas, Setiap ruangan dan beberapa sudut yang memang biasa tidak terlihat.

Sreettt!

Lucifer menyibak hordeng yang berada di dalam UKS, Robert berada di sana dalam keadaan tidur pulas,

"Hey...bangun!"

Lucifer menepuk pelan wajah Robert, Sedangkan Luzkay hanya menonton dengan wajah dingin. Ia keluar dan mengambil salah satu minuman dingin milik siswa lain yang kebetulan berada di luar UKS.

"Beli lagi." Ucapnya memberikan uang.

Tanpa aba-aba, Pemuda itu menyiram wajah Robert dengan sebuah kopi latte. Robert terbangun dengan kaget, Pemuda itu menatap kesal Lucifer dan Luzkay.

"Bangun, Dan bersihin lapangan sekarang, Pokoknya harus udah bersih sebelum jam istirahat berakhir."Ucap Luzkay tak terbantahkan.

"Poin lu gw kurang 10, Jangan melanggar lagi."Ucapnya kesal, Luzkay pergi bersama Lucifer dengan wajah datar.

"Ck...Ga sopan!" Kesal Robert, Ia mengusap rambutnya yang basah. Ia bingung, Sebenarnya ada apa dengannya. Sejak pagi ia merasa sangat mengantuk. Saat di antar Clarissa juga, Ia merasa begitu mengantuk.

"Mengapa aku sangat mengantuk, Rasanya mataku sangat berat."Gumam Robert, Pemuda itu berjalan turun untuk menyelesaikan hukuman.

Axion yang kebetulan berada di luar kelasnya, Berdiri tepat di depan penyanggah besi sekolah, Ia tertawa sinis menatap Robert yang sedang menyapu lapangan.

"Benar-benar Kasihan." Batinnya terkekeh.

TBC

like dan komen.

1
Laura Xaviera 💕
yuhuuuu/Determined/
Iruma-chan
semangat nulisnya, aku suka cerita transmigrasi.
Anissa Rahma
ceritanya menarik kak
Putri Amalia
halo kak, aku dah liat novelnya menarik bgt. rajin up yah jg smpe Hiatus 👀
Author hidup: Wah terima kasih, Aku akan berusaha up tepat waktu. Bantu like dan komen ya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!