NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~16

Keesokan harinya, Charis bersiap menjalankan perintah Abah untuk menemani Zizan mendaftarkan lomba. Ia segera melangkah menuju kamar Zizan.

Saat Charis tiba, Zizan sedang asyik mengobrol bersama Dafa dan Ares. Perbincangan mereka langsung terhenti begitu melihat sang senior datang menjemput.

"Assalamu'alaikum, Zizan," salam Charis. Siang itu ia tampak berwibawa mengenakan baju koko cokelat yang dipadukan dengan sarung senada bermotif hitam.

"Waalaikumsalam, Mas Charis," jawab ketiganya kompak.

Zizan sendiri sudah rapi dengan koko putih andalannya dan sarung hitam bercorak putih. Pakaian itu membuat wajah tampannya terlihat makin bersih dan segar. Setelah memastikan semuanya siap, mereka berdua segera berjalan keluar sambil membawa berkas pendaftaran di tangan Zizan.

Namun, begitu mereka sudah bersiap di atas motor Vario, Zizan tiba-tiba teringat sesuatu. Ada satu data penting yang tertinggal. "Mas, Mas, punya Zia belum terbawa. Saya ambil sebentar ya, Mas?" pamit Zizan.

Zizan sempat melirik seniornya itu, lalu menawarkan, "Atau... mau Mas Charis saja yang mengambilnya ke Zia?" Zizan sengaja menggoda, mengira Charis ingin mencari kesempatan untuk bertemu Zia. Namun, dugaannya meleset.

"Ah, tidak usah. Kamu saja, saya tunggu di sini," jawab Charis lempeng.

"Oh, baik, Mas. Sebentar." Dengan rasa sedikit heran, Zizan pun turun dari motor dan melangkah cepat menuju asrama putri.

Supaya lebih cepat, Zizan mengambil jalur belakang melewati area dapur yang biasanya menjadi tempat Zia beraktivitas. Suasana dapur siang itu untungnya masih sepi. Hanya ada Sinta dan Sindi yang sedang sibuk, entah ke mana santriwati yang lain.

"Alhamdulillah, sepi," batin Zizan lega sebelum akhirnya mengucap salam.

"Waalaikumsalam," jawab Sinta dan Sindi serempak.

"Maaf, Mbak. Zia-nya ada? Di mana, ya?"

"Sepertinya di kamar. Sebentar, saya panggilkan," sahut Sinta yang langsung beranjak ke dalam.

Beberapa menit kemudian, Zia datang membawa sebuah amplop cokelat tebal berisi berkas yang dari tadi ditunggu. Tanpa berani saling menatap, Zia langsung mengulurkan amplop tersebut. "Ini."

"Sudah lengkap semua?" tanya Zizan memastikan.

"Insya Allah sudah."

"Oke, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam." Zia segera kembali ke kamarnya, sementara Zizan setengah berlari menuju parkiran karena takut kemalaman dan membuat Charis menunggu terlalu lama.

***

Hari sudah beranjak sore ketika urusan pendaftaran yang menguras waktu dan antrean panjang itu akhirnya selesai. Mereka berdua bersiap untuk pulang. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, perjalanan pulang hanya memakan waktu sekitar setengah jam.

Di tengah jalan, Charis yang membonceng Zizan tiba-tiba mengerem motornya tepat di depan sebuah kedai martabak. Zizan yang kebingungan hanya bisa melongo. Ia pun turun dari motor dan menunggu seniornya itu memesan.

"Oh, mau beliin jajan buat calon istri, toh. Oke, deh. Apalah dayaku yang jomblo ini, mending nggak usah ikut jajan," bisik Zizan dalam hati sambil menahan senyum.

Selesai membeli martabak, mereka langsung melanjutkan perjalanan pulang ke pesantren. "Makasih ya, Mas," ucap Zizan begitu mereka sampai.

"Sama-sama," jawab Charis singkat seraya menuntun motornya ke tempat parkir.

***

Sementara itu, Zia baru saja kembali dari pasar bersama Sinta. Setelah meletakkan barang-barang belanjaan di dapur, Zia bergegas menuju kamar. Di tangannya ada sebungkus martabak keju. Ia sengaja membelinya untuk Salsa yang sejak pagi tidak bisa bangun karena tangannya nyeri dan badannya agak demam. Zia berharap martabak kesukaan Salsa ini bisa membangkitkan selera makannya.

"Pasti Mbak Salsa suka sama yang aku bawa ini," gumam Zia senang.

"Ya jelas sukalah, apalagi gratis dari sahabat dekatnya," goda Sindi yang berjalan di sebelahnya.

Zia hanya membalas dengan senyuman. Begitu tiba di depan kamar, mereka membuka pintu pelan-pelan agar tidak mengganggu tidur Salsa. Sialnya, Zia kurang hati-hati. Sebuah buku di dekat meja tidak sengaja tersenggol dan jatuh ke lantai, membuat Salsa yang sedang mendengkur halus langsung terjaga.

"Maaf, Mbak, jadi terbangun gara-gara aku," sesal Zia sambil mendekat ke kasur.

"Tapi lihat, deh, kita bawa apa?"

"Apa?" tanya Salsa dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Martabak ke—"

Ucapan Zia langsung terhenti.

Matanya tertuju pada sebuah kotak martabak dengan merek yang sama persis, tergeletak manis di samping bantal Salsa.

"Eh, kok udah ada, sih, Mbak? Padahal aku sudah usaha beliin jauh-jauh, lho," keluh Zia jadi cemberut.

"Udah, enggak apa-apa. Sini, tetap aku terima, kok. Terima kasih ya," ucap Salsa buru-buru mengambil bingkisan dari Zia tanpa memberikan penjelasan apa pun.

Sinta yang merasa ada yang aneh tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dengan nada menyelidiki, ia langsung bertanya, "Dikasih siapa, Mbak? Kok bisa pas begitu?"

"Oh, e-itu..." Salsa mendadak gugup. Otaknya berputar cepat mencari alasan yang aman. "Oh, Zizan! Iya, tadi Zizan yang titip ini buat aku."

"Zizan? Tumben banget dia peka," sahut Sindi sambil mengernyitkan dahi, merasa tidak percaya.

"Iya, aku juga heran," timpal Salsa, mencoba bersikap sewajar mungkin.

"Yah, aku keduluan Zizan, deh. Dasar Zizan!" gerutu Zia sebal.

Zia dan Salsa akhirnya tertawa bersama. Sementara itu, Sinta hanya terdiam. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan jawaban Salsa barusan.

***

Malam semakin larut. Zizan sudah bersiap dengan tumpukan kitab, buku, dan alat tulis di tangannya. Sesuai janji, malam ini dia dan Zia akan membedah materi berdasarkan kisi-kisi yang dibagikan panitia tadi siang.

Dengan langkah mantap dan tentu saja, lengkap dengan gaya sok keren andalannya Zizan berjalan menuju aula. Di sana, Zia sudah menunggu sambil membolak-balik halaman kitab yang dibawanya.

Begitu duduk, Zizan langsung menjabarkan arahan dari panitia mengenai tata tertib dan cakupan materi. Diskusi mereka berjalan serius. Setiap argumen yang terlontar langsung dicocokkan dengan dalil dan hadis agar tidak keliru. Suasana di sekitar mereka terasa tegang, namun entah mengapa, ada kedamaian yang menyelinap di antara adu argumen tersebut. Keduanya benar-benar larut dalam petualangan literatur malam itu.

Tak terasa, jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan malam. Zizan, yang biasanya bersikap sedingin es, tiba-tiba memberanikan diri membuka obrolan santai agar suasana tidak terlalu kaku.

"Eh, Zi. Cie, yang tadi dapat kiriman dari calon suami," goda Zizan, teringat momen saat Charis membeli martabak sore tadi.

Zia mengernyit bingung. "Kamu kali. Cie, yang beliin martabak buat calon istri," balas Zia tak mau kalah. Kini bahasa formal Zia ke Zizan pun sudah mulai pudar.

"Hah? Calon istri siapa?" Zizan melongo.

"Halah, mengaku saja kali, Zan. Umur cuma angka kok. Tenang, aku enggak bakal bilang ke siapa-siapa," kekeh Zia.

Zizan makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Serius, ini maksudnya apa, Zia? Aku enggak ada beliin apa-apa buat siapa pun," elaknya.

"Sudahlah, Zan, orangnya udah mengaku juga. Percuma kamu mengelak," goda Zia makin menjadi-jadi.

"Kamu beliin martabak keju kesukaan Mbak Salsa, kan? Enggak menyangka ya, cowok sedingin es kayak kamu bisa jatuh cinta juga."

Zizan menepuk jidatnya sendiri lalu mengacak rambutnya frustrasi.

"Aku enggak beliin apa-apa ke siapa pun, Zia. Apalagi buat Mbak Salsa, sama sekali enggak!" Zizan menghela napas.

"Tadinya aku mau cengin kamu karena dibeliin martabak itu sama Mas Charis. Kenapa malah aku yang kena fitnah?"

Gantian Zia yang kebingungan.

"Hah? Aku enggak dikasih apa-apa sama Mas Charis."

"Serius, Zi? Tadi pas pulang mengisi formulir, dia beli martabak keju. Aku kira itu buat kamu, kan kamu calon istrinya. Kalau bukan buat kamu, terus buat siapa?" tanya Zizan beruntun penuh selidik.

Zia terdiam sebentar, mencoba mencerna teka-teki itu. Hingga akhirnya, sebuah kesimpulan mendadak melintas di kepalanya.

"Zan, aku nggak suka martabak keju, dan Mas Charis pun tau itu. Kalau kamu enggak kasih martabak keju itu ke Mbak Salsa, berarti..." Kalimat Zia menggantung.

Seketika itu juga, air matanya luruh.

Zizan tidak melihat air mata itu jatuh karena posisi duduk mereka yang tidak saling berhadapan, keduanya sama-sama menatap dinding di depan mereka. Namun, suara sesenggukan yang tiba-tiba terdengar membuat Zizan menoleh.

"Berarti... martabak itu buat Mbak Salsa dari Mas Charis. Soalnya aku benar-benar enggak dikasih," ucap Zia lirih di sela tangisnya.

Zizan langsung panik melihat Zia menangis sesenggukan. Dia mendadak bodoh dan bingung harus berbuat apa. Sepanjang hidupnya, Zizan tidak pernah dekat dengan perempuan, apalagi menenangkan yang sedang menangis. Dia merutuki mulutnya sendiri karena sudah telanjur menceritakan hal itu.

"Aduh... Mas Charis ini ada-ada saja sih," gumam Zizan panik, mencoba menenangkan Zia yang tangisnya makin pecah.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Zia langsung berdiri dan mengemas barang-barangnya dengan terburu-buru.

"Assalamualaikum, Zan. Aku pergi dulu," pamit Zia dengan suara parau.

"Waalaikumsalam," balas Zizan lemas.

Begitu bayangan Zia menghilang di kegelapan, Zizan kembali mengacak rambutnya dengan frustrasi.

"Waduh, salah aku nih. Kacau, kacau!" batinnya menyesal setengah mati.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!