Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Transmigrasi & Sistem?
Masih di waktu yang sama.
Rubah itu menggeram pelan, telinganya terlipat ke belakang karena tersinggung. "Aku rubah ekor sembilan! Spesies legendaris, asal kau tahu! Namaku Vix, dan aku adalah Sistem Pemandu Eksekutif yang baru saja menyelamatkan nyawa menyedihkan mu lima menit yang lalu!"
Vix mendengus kesal, terbang sedikit lebih dekat hingga ujung hidung merah mudanya hampir menyentuh dahi Stella.
"Dengar, Nona Banyak-Tanya. Kau sekarang berada di dalam tubuh Stella Odette Rosewood. Dan asal kau tahu, nyawamu saat ini sedang berada di ujung tanduk."
"Tunggu, tunggu, tunggu... tubuh siapa? Rosewood?"
Tepat saat nama itu disebut, rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang kepala Stella. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Rentetan ingatan asing mulai memaksa masuk, menabrak dinding pikirannya seperti kereta barang yang lepas kendali.
Kilasan cahaya lampu kelab malam elit. Suara musik dentuman bass yang memekakkan telinga. Wajah seorang gadis muda yang tersenyum manis... tidak, itu senyum licik.
Adik tirinya. Air mata buaya yang menetes membasahi pipi gadis itu. Sebuah gelas champagne kristal yang disodorkan padanya. Rasa pahit yang aneh di kerongkongannya saat ia menenggak minuman itu karena kesal.
Stella asli dikenal sebagai Nona Pembuat Onar dari keluarga Rosewood. Reputasinya selalu buruk, sikapnya selalu gegabah. Dan semalam, ia dengan bodohnya masuk ke dalam perangkap yang disiapkan dengan sangat sempurna.
"Ah... kepalaku sakit..." Stella memejamkan mata, mencoba menahan pusing yang mendera.
"Fokus, Host!" Vix menjentikkan salah satu ekor berbulunya dengan keras ke dahi Stella, membuat wanita itu terkesiap dan mengaduh pelan.
"Ini bukan waktunya untuk melamun! Kau baru saja diracun oleh saudari tirimu sendiri dengan dosis rendah yang mematikan. Sistem telah membersihkannya, tapi masalahmu belum selesai. Saat ini, reputasi mu sedang dalam proses dihancurkan habis-habisan di bawah sana."
Cahaya biru berkedip di depan mata Stella, dan sebuah layar tipis transparan melayang di udara, menampilkan teks yang menyala.
[ MISI HARIAN TERBUKA ]
MISI: Keluar dari kamar hotel ini tanpa tertangkap kamera wartawan.
Hadiah: 10 Poin Bertahan Hidup & 1 Botol Parfum Eksklusif White Tea & Peony.
Hukuman Gagal: Wajahmu akan terpampang di halaman utama seluruh portal berita London dengan judul besar 'Skandal Abad Ini: Pewaris Utama Rosewood Tertangkap Basah Menjual Diri di Hotel'. Reputasi akan turun sebanyak -50 Poin.
"Wartawan? Menjual diri?! Apa maksudmu?!" Stella berseru panik, matanya membesar membaca layar di depannya.
Ia mengabaikan Vix yang melayang, langsung berlari keluar dari kamar mandi menuju ke arah jendela besar di kamar.
Dengan tangan gemetar, ia menyibak gorden burgundy itu sedikit lebih lebar.
Di pelataran lobi hotel jauh di bawah sana, pemandangan yang terlihat sukses membuat darah Stella berdesir dingin.
Meski hujan gerimis masih membasahi kota London, sebuah kerumunan besar orang-orang yang memegang payung, microphone, dan kamera dengan lensa panjang sudah bersiaga. Mereka berdesakan di depan pintu masuk yang dijaga ketat oleh pihak keamanan hotel.
Mereka tampak persis seperti sekumpulan hyena yang kelaparan menunggu mangsanya dilempar ke luar.
Belum sempat Stella memproses semua kegilaan ini -fakta bahwa ia bertransmigrasi, berurusan dengan rubah ajaib super bawel, dan menjadi target pembunuhan- sebuah suara gedoran kasar tiba-tiba menghantam pintu utama kamar Presidential Suite-nya.
BAM! BAM! BAM!
Suara itu bergema ke seluruh penjuru ruangan, membuat Stella terlompat mundur dari jendela.
"Nona Rosewood! Kami tahu Anda di dalam! Tolong buka pintunya!"
Suara riuh sekumpulan orang yang berteriak dalam bahasa Inggris terdengar menembus kayu oak yang tebal. Mereka rupanya berhasil menyusup naik ke lantai VIP.
Kilatan cahaya flash kamera mulai terlihat berkedip-kedip dari celah bawah pintu utama, menerangi karpet koridor.
Jantung Stella berpacu gila-gilaan. Napasnya memburu. Pikirannya buntu. Ia benar-benar terjebak.
Di kamar hotel yang berantakan, di negeri orang yang dingin, hanya berbalut selembar jubah mandi, dengan reputasi yang tinggal menghitung detik menuju kehancuran total.
"Vix! Apa yang harus aku lakukan?! Kalau mereka masuk, habislah aku!" Stella menoleh ke arah si rubah, suaranya bergetar.
Vix melayang santai, seolah tidak terpengaruh oleh kekacauan itu. Ia malah menjilat cakar depannya dengan tenang. "Gunakan otakmu yang punya skor kecerdasan di atas rata-rata itu, Host. Sembunyi, lari, atau hadapi. Waktumu sepuluh detik sebelum pintu itu jebol."
Di tengah kepanikan Stella dan hiruk-pikuk suara para wartawan yang berlomba memanggil namanya, sebuah suara berat tiba-tiba membelah keributan di lorong luar.
Suara itu tidak berteriak, volumenya bahkan cukup rendah. Namun, nada dingin, datar, dan penuh otoritas mutlak di dalamnya langsung membuat setiap mulut di koridor itu tertutup rapat seketika. Hening merayap bagai mantra.
"Minggir."
Stella menahan napas. Bahkan dari dalam kamar yang terkunci, tanpa perlu melihat siapa pemilik suara itu, aura mendominasi yang gelap dan mengintimidasi terasa menembus pori-pori dinding tebal kamar ini. Bulu kuduk Stella meremang.
Vix yang masih melayang di udara mendecakkan lidahnya pelan, ekornya berhenti bergoyang.
"Oh, luar biasa. Hari pertamamu sungguh penuh kejutan. Selamat, Host. Pria yang baru saja bicara di luar sana itu adalah Neo Hayes Blake."
Mata Stella membelalak. Ingatan Nona Rosewood yang asli kembali berkelebat. Neo Hayes Blake. CEO Blake Group. Pria dingin, kejam, dan memiliki aura segelap malam.
Pria yang sudah berulang kali diganggu oleh Stella yang asli dengan cara-cara yang memalukan.
"Pria yang luar biasa membencimu, tepatnya," lanjut Vix dengan nada mengejek.
Dari luar, suara berat itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.
"Hancurkan pintunya."
Stella mundur selangkah. Tangannya mencengkeram erat kerah jubah mandinya.
BRAK!
Pintu utama yang terbuat dari kayu oak solid itu didobrak paksa dari luar dengan sekali hantaman kuat. Bunyi engsel yang patah dan nyaris terlepas dari bingkainya menggema memekakkan telinga.
Pintu terbuka lebar, dan sepasang kaki panjang yang dibalut setelan jas hitam bespoke melangkah masuk ke dalam kamar yang remang-remang, membawa serta hawa dingin kota London yang mematikan.
To be Continued