Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32.
Salindra merasa lebih baik setelah beristirahat sebentar kemudian berjalan beriringan dengan kakaknya dan Hezel calon kakak ipar. Kedatangan mereka disambut seorang perempuan berparas cantik mengenakan gaun berwarna hitam dengan kalung mutiara menambah anggun.
Salindra dan Jayanti saling pandang ketika perempuan itu memeluk Hezel sambil menggoda. Tapi, pandangannya melirik ke arah dua perempuan di samping Hezel.
Hezel merangkul pinggang Jayanti mesra. Jayanti terkesiap dengan sikap Hezel merasa sungkan karena dilihat perempuan di depannya.
"Berlinda, kenalkan dia Salindra adik Jayanti kekasih Kakak." Hezel memperkenalkan Salindra kepada Berlinda adik Hezel.
Salindra terkejut mendengar ucapan Hezel tersenyum sungkan sambil mengulurkan tangan dan di sambut ramah oleh Berlinda.
“Berlinda."
“Salindra."
Keduanya saling melempar senyum, Berlinda mengajak Salindra pergi ke dalam. Sedangkan Hezel mengajak Jayanti menghampiri keluarganya. Pandangan Jayanti tak lepas dari tubuh Salindra sampai menghilang dibalik kerumunan tamu undangan. Hatinya merasa tidak enak tidak melihat adiknya meskipun di acara keluarga calon suaminya.
“Salindra, ayo kita menikmati hidangan daripada duduk bersama orang seperti mereka, bikin pusing," kata Berlinda mengambil hidangan di meja segi panjang dengan aneka hidangan lengkap. Berbagai jenis makanan dan minuman membuat lidah bergoyang.
Salindra tersenyum melihat tingkah Berlinda. Ia pun mengambil hidangan, kemudian duduk bersama Berlinda. Keduanya berbincang ala kadarnya perempuan pada umumnya. Semakin lama pembicaraan mereka mengalir begitu saja tanpa ada kecanggungan.
Jantung Salindra berdegup kencang saat melihat pria paruh baya menggandeng seorang perempuan begitu mesra dan dari arah berlawanan melihat perempuan paruh baya menggandeng seorang pria sama halnya mesra.
Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya datang menghadiri peresmian perusahaan milik kakaknya Hezel. Salindra tidak bergeming melihat mereka dengan tatapan tajam. Hatinya semakin merasa sesak, tubuhnya bergetar, matanya merah menahan beban yang menumpuk di kepalanya.
Berlinda merasakan keanehan pada diri Salindra mengikuti arah pandangnya, tidak paham. Ia pun bertanya kepada Salindra sambil mengerutkan alisnya penasaran.
“Salindra, siapa mereka? Apa kamu mengenal mereka?"
Salindra merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia menahan airmatanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak melihat dua pasangan yang membuatnya sakit hati.
"Mereka bukan siapa-siapaku," jawab Salindra acuh.
Berlinda mengernyitkan dahi melihat sikap Salindra. “Oh, tapi seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Masalah pribadi atau keluarga, misalnya,"
Salindra menatap Berlinda lekat, membuat Berlinda merasa tidak nyaman kemudian menutup mulutnya dengan menggunakan kode jarinya, kalau dia paham maksud tatapan Salindra.
Acara peresmian segera dimulai, MC berdiri di depan mic membacakan serangkaian acara. Sambutan pertama di bacakan oleh pemilik perusahaan bernama Kezio, pria berparas tampan mirip dengan Hezel bedanya ada kumisnya dan rambut jenggot yang lebat di garis rahangnya. Membuat siapapun terkesima dan menatap kagum.
Kezio berdiri di podium membawakan sambutan dengan suara tegas dan berwibawa. Semua orang melihat dan mendengar dengan seksama, hampir semua tanpa berkedip karena parasnya yang rupawan.
Di barisan depan sisi samping Salindra sibuk dengan pikirannya sendiri. Perasaannya semakin tidak menentu, Jayanti melihat perubahan sikap adiknya heran. Ia menyenggol lengan Salindra sedikit keras membuat Salindra terkejut.
"Ada apa, Kak?" tanya Salindra menoleh ke kanan dan ke kiri takutnya ada yang mengenali dan mencelakai dirinya.
"Kamu, kenapa dari tadi diam saja? Memangnya kamu ada masalah sama Berlinda?" tanya Jayanti menelisik wajah adiknya.
"Tidak, kami baik-baik saja," jawab Salindra menetralkan degup jantungnya.
"Minum nih." Jayanti memberikan minuman kepada adiknya.
Salindra meneguknya sampai habis lalu meletakkan gelas di atas meja. Setelah merasa lebih baik ia duduk kembali di samping kakaknya. Kali ini ia fokus dengan jalannya acara.
Tiba saatnya potong pita, Kezio berdiri di depan pintu yang sudah terpasang pita berwarna merah yang membentang panjang. Ia memejamkan mata sejenak, kemudian memotong pita tersebut dengan sekali potong. Semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat kepada Kezio.
Satu per satu klien dan tamu undangan berjabat tangan memberi selamat kepada Kezio. Saat Salindra akan berjalan ke arah Kezio, melihat kedua orang tuanya sedang memberi ucapan kepada Kezio. Ia mengurungkan niatnya dan berbalik ke arah lain.
Brukk
Salindra terkejut dan hampir saja jatuh, ia tidak melihat orang di depannya saat berbalik dan secara tidak sadar menabraknya dengan keras hampir terjatuh. Sebuah tangan menangkap pinggangnya, dua pasang mata saling beradu pandang sama terkejut.
Kejadian itu membuat keduanya terdiam sesaat, Salindra dengan gerakan cepat membetulkan posisinya dan berdiri dengan degup jantung berpacu cepat. Di depannya Haikal dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maaf, saya tidak sengaja menabrak anda, Pak Haikal," ucap Salindra menundukkan pandangannya dan memberi jarak.
"Makanya kalau jalan tidak usah terburu-buru, seperti di kejar deadline saja," sewot Haikal berjalan menghampiri Kezio.
Salindra melebarkan mata mendengar perkataan bosnya sambil menatap kepergiannya dengan heran. Ia mengumpat kesal menjauh dari kerumunan.
Sebuah tangan menarik Salindra ke dalam sebuah ruangan dan membekap mulutnya. Salindra terkejut matanya melebar sempurna, ia teringat sewaktu datang ke mari dan sekarang tahu jawaban atas perasaannya. Salindra berpikir berusaha melepaskan diri dari orang di hadapannya.
Salindra pingsan tubuhnya merosot ke lantai sementara orang yang membekapnya menghubungi orang suruhan membawa Salindra keluar dari tempat acara. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria langsung membawa Salindra ke dalam mobil.
Di dalam ruangan Jayanti masih sibuk dengan kekasihnya ikut bergabung dengan para klien, ia belum menyadari kalau Salindra tidak ada. Semua tamu sedang membicarakan masalah bisnis mereka.
Kezio menghampiri Hezel dan kekasihnya, tersenyum senang. “Kalian cuma berdua saja?" tanya Kezio mengerutkan dahi.
Jayanti baru menyadari kalau adiknya tidak berada di sampingnya tiba-tiba merasa tidak tenang. Ia mencari ke seluruh ruangan.
"Tidak, kami bertiga bersama Salindra adik Jayanti," jawab Hezel.
"Lalu, dimana dia?" tanya Kezio mencari keberadaan Salindra.
"Tadi bersama Berlinda mungkin mereka sedang berbincang-bincang," jawab Jayanti dengan pandangan mencari sosok adiknya.
Di luar nampak seorang pria berjalan masuk tidak sengaja melihat Salindra di bawa masuk paksa ke dalam mobil merasa curiga. Lalu, melihat seorang perempuan berjalan dengan tergesa-gesa mengikuti mereka masuk ke dalam mobil yang sama dan duduk di depan.
Pria itu Arya, mengikuti mobil mereka menggunakan mobil miliknya. Kedua mobil itu dengan jarak cukup jauh, sementara mobil pria itu hampir mendekati mobil di depannya agar lebih tahu kemana mobil tersebut membawa Salindra.
Di depan sebuah bangunan lama berpintu pagar menjulang tinggi. Salindra di gendong seorang pria turun dari mobil dengan keadaan pingsan dan terikat tak sadarkan diri. Sedangkan perempuan itu mengikuti sambil melangkah dengan anggun masuk ke dalam bangunan tersebut.
Di balik bangunan itu Arya berjalan mengendap-endap mencari jalan masuk ke dalam bangunan tersebut. Pandangannya tertuju pada pintu samping yang terbuka lebar entah seperti ada yang mendorongnya masuk, ia melangkahkan kakinya dengan perlahan agar tidak diketahui orang.
Di kursi kayu Salindra diikat sangat kuat agar tidak bisa melepaskan diri. Perempuan itu tersenyum puas melihat usahanya berhasil.
“Kalian jaga dia, kalau dia berontak beri saja obat biar tidak lagi berontak dan melawan," perintahnya lalu, keluar dengan langkah lebar.
“Baik, Nyonya," jawabnya sambil menunduk hormat.
Arya menyusuri koridor panjang, saat akan masuk ke dalam melihat perempuan tadi sedang duduk bersama seorang pria sambil menyulut rokok dan menyesapnya dengan halus lalu mengeluarkan asap dengan lancar.
Di balik pagar besar Arya bersembunyi sambil menempelkan telinganya ke dinding untuk mendengarkan pembicaraan mereka tapi, sayangnya suaranya sangat jauh dan mengecil. Ia sedikit mendengar suara tawa menggema di dalam sana. Mereka merasa sangat senang dan puas, mereka sedang menikmati keberhasilan mereka membawa Salindra ke markas mereka jauh dari keramaian.
"Mau di apain tuh perempuan?" tanya pria yang duduk bersama perempuan itu.
“Aku mau buat dia cacat seumur hidup agar tidak ada orang yang mengenalnya," jawab perempuan itu.
"Memangnya bisa?“ Pria itu seakan menyepelekan kemampuan perempuan itu.
“Bisalah, kita lihat saja nanti," sahutnya tersenyum licik sambil berlalu pergi.