Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Voice Note
Dia tidak menulis bahwa kali ini, dia takut.
Pagi harinya, Keiko memakai seragam seperti biasa.
Bu Tuti sudah menyiapkan bubur lembut, telur kukus, dan air hangat di meja makan. Tidak ada yang terlalu berminyak, tidak ada yang terlalu dingin. Semua hal di rumah itu sudah diatur agar tubuh Keiko tidak punya alasan untuk memberontak.
Tetap saja, sendok pertama membuat perutnya menolak.
"Sedikit lagi, Nduk," kata Bu Tuti.
Keiko mengangguk. Dia menelan pelan, menunggu rasa mual turun sebelum mengambil suapan berikutnya. Di kursi sebelah, tas sekolahnya sudah siap, tetapi di dalam tas itu bukan hanya buku. Ada jaket tipis, obat anti-mual, tisu basah, dan satu map kecil berisi hasil lab terakhir.
Ponselnya bergetar.
**Kelvin**: Hari ini masuk?
Keiko menatap pesan itu beberapa detik.
**Keiko**: Tidak. Ada urusan keluarga.
Balasan Kelvin datang cepat.
**Kelvin**: Kamu sakit?
Keiko menekan bibir. Di seberang meja, Bu Tuti pura-pura tidak melihat, tetapi tangan beliau berhenti di atas termos.
**Keiko**: Bukan. Kamu jangan lupa ganti plester.
Kelvin tidak langsung membalas.
Lalu muncul satu pesan.
**Kelvin**: Jangan mengalihkan.
Keiko hampir tersenyum. Hampir.
**Keiko**: Aku baik-baik saja.
Kalimat itu sudah terlalu sering dipakai sampai terasa seperti pakaian lama. Tipis, tetapi masih bisa menutupi.
Setengah jam kemudian, mobil Bu Tuti berhenti di depan rumah sakit swasta di daerah Pasteur. Gedungnya bersih, kaca depannya memantulkan langit Bandung yang pucat. Keiko turun dengan jaket menutupi seragam, rambut diikat rapi, wajah dibuat setenang mungkin.
Kak Sari sudah menunggu di lobby.
Dia memakai kemeja hitam dan celana jeans, rambutnya diikat asal, wajahnya tajam seperti orang siap berkelahi dengan seluruh sistem rumah sakit jika perlu.
"Kei-kei," katanya begitu melihat Keiko. "Lu pucat banget."
"Kak Sari juga selamat pagi."
"Jangan lucu-lucuan. Gue lagi nggak punya stok sabar."
Bu Tuti menarik napas pelan. "Hasil lab sudah masuk?"
Kak Sari mengangkat map. "Sudah. Dokter bilang hari ini tetap lanjut, tapi obatnya disesuaikan. Efeknya mungkin lebih berat."
Keiko mendengar kalimat itu seperti mendengar pintu lift tertutup.
Di ruang konsultasi, dokter menjelaskan dengan suara tenang. Beberapa angka di hasil lab turun. Berat badan Keiko juga turun lagi, meski Bu Tuti sudah berusaha memasukkan makanan seperti menyelamatkan air dari gelas retak. Regimen obat perlu diubah. Mual, lemas, pusing, dan risiko gula darah turun akan lebih besar.
"Kalau setelah tindakan merasa sangat lemah, jangan langsung berdiri," kata dokter. "Panggil perawat. Jangan dipaksakan."
Keiko mengangguk.
Kak Sari menatapnya dari samping. "Dengar?"
"Dengar."
"Ulangi."
Keiko menoleh. "Kalau lemah, panggil perawat. Jangan dipaksakan."
"Bagus."
Di meja administrasi, petugas mengatakan dokumen persetujuan dari Lilian sudah masuk melalui email. Tidak ada Mama di ruang tunggu. Tidak ada Papa yang bertanya apakah dia takut. Hanya nama Lilian Hartono di layar komputer, rapi sebagai penanggung jawab, hadir dalam bentuk file PDF.
Bu Tuti memegang tangan Keiko lebih erat.
"Nduk, Bu di sini."
Keiko mengangguk. "Iya."
Ruang kemoterapi hari itu lebih dingin dari biasanya.
Mungkin AC-nya memang terlalu kuat. Mungkin tubuh Keiko yang lebih mudah menggigil. Dia duduk di kursi recliner, lengan kiri diletakkan di atas bantalan, sementara perawat mencari pembuluh darah dengan hati-hati. Bau alkohol swab naik sebentar, tajam dan bersih.
Jarum masuk.
Keiko menatap jendela.
Di luar, ada pohon kecil di halaman rumah sakit. Daunnya bergerak pelan tertiup angin. Dia menghitung gerak daun itu ketika cairan pertama masuk ke tubuhnya. Satu. Dua. Tiga. Setiap angka dipakai untuk menahan rasa dingin yang merambat dari lengan ke bahu.
Bu Tuti duduk di sebelahnya sambil merapikan selimut. Kak Sari duduk di sisi lain, membuka laptop tetapi tidak benar-benar bekerja. Setiap beberapa menit, matanya naik ke wajah Keiko.
"Jangan lihatin aku terus," bisik Keiko.
"Gue bayar pajak buat bisa lihatin orang sakit bandel."
"Itu bukan fungsi pajak."
"Hari ini fungsinya itu."
Keiko ingin tertawa, tetapi mual naik lebih dulu. Dia menutup mulut dengan tisu. Bu Tuti langsung menegakkan tubuh.
"Mau muntah?"
Keiko menggeleng, lalu mengangguk sedikit.
Perawat datang membawa kantong kecil. Keiko membungkuk, tubuhnya berkontraksi, tetapi yang keluar hanya cairan pahit dan sedikit air. Tenggorokannya terasa terbakar. Matanya berair, bukan karena menangis, hanya karena tubuhnya dipaksa melakukan hal yang sudah tidak punya tenaga.
Ponselnya bergetar di pangkuan.
Kelvin mengirim voice note.
Keiko melihat gelombang suara kecil di layar. Durasi tiga puluh dua detik.
Dia tidak memutarnya.
Kalau dia mendengar suara Kelvin sekarang, mungkin semua yang dia tahan sejak pagi akan pecah.
Dia hanya membalik ponsel, layar menghadap selimut.
Kemoterapi selesai menjelang sore. Kepala Keiko terasa ringan, tetapi bukan ringan yang menyenangkan. Tubuhnya seperti tidak sepenuhnya menempel pada kursi. Ketika perawat melepas jarum dan menempelkan plester, Keiko mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.
"Tunggu dulu sebelum berdiri," kata perawat.
Keiko mengangguk.
Dia menunggu. Satu menit. Dua menit. Kak Sari sedang keluar menerima telepon dari klien yang tidak bisa ditunda. Bu Tuti pergi sebentar ke meja perawat untuk mengambil jadwal kontrol berikutnya.
Keiko melihat pintu toilet hanya beberapa langkah dari kursinya.
Dia merasa bisa.
Tiga langkah pertama masih baik-baik saja.
Langkah keempat, lantai seperti miring.
Keiko mengulurkan tangan ke dinding, tetapi jaraknya tiba-tiba terlalu jauh. Suara seseorang memanggil namanya terdengar terendam air. Pandangannya menyempit, menyisakan lampu putih di langit-langit yang pecah menjadi beberapa lingkaran.
Lalu semuanya gelap.
Ketika membuka mata, Keiko sudah berbaring di ranjang observasi.
Ada infus di tangannya lagi. Bu Tuti duduk di kursi samping ranjang, wajahnya basah. Kak Sari berdiri dekat jendela, satu tangan menutup mulut, mata merah oleh marah yang tidak punya tempat keluar.
"Gula darah turun," kata Bu Tuti begitu melihat Keiko sadar. Suaranya bergetar. "Dokter bilang kamu dehidrasi dan terlalu lemah."
Dokter datang beberapa menit kemudian, memeriksa tekanan darah, menyorot mata Keiko dengan senter kecil, lalu berbicara kepada Bu Tuti dan Kak Sari dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
"Malam ini sebaiknya observasi dulu. Kalau mualnya tidak membaik atau gula darah turun lagi, jangan pulang."
Keiko langsung menoleh. "Tapi besok sekolah."
Kak Sari tertawa sekali, pendek dan tidak lucu. "Sekolah bisa hidup tanpa kamu satu hari."
"Aku sudah izin hari ini."
"Kei-kei."
Panggilan itu membuat Keiko berhenti. Kak Sari jarang terdengar benar-benar takut. Biasanya dia marah lebih dulu, menggertak lebih dulu, melawan lebih dulu. Kali ini, suaranya seperti benang yang ditarik terlalu kencang.
"Jangan bikin gue harus milih antara nurutin kamu dan jagain kamu tetap hidup."
Keiko memejamkan mata.
Bu Tuti mengusap punggung tangannya pelan. "Nduk, istirahat. Sekolah nanti Bu yang pikirkan."
Keiko ingin bertanya bagaimana Bu Tuti akan menjelaskan, tetapi tubuhnya tidak memberi tenaga untuk berdebat.
"Kelvin..." katanya pelan.
Kak Sari langsung menatap ponsel di meja. "Dia nggak tahu. Ponsel kamu gue silent dari tadi. Dia cuma kirim pesan."
Keiko menghela napas, entah lega atau makin sakit. "Jangan bilang."
"Gue tahu."
"Kak Sari."
"Gue tahu," ulang Kak Sari, kali ini lebih tajam. "Tapi suatu hari nanti, kebiasaan kamu menyembunyikan semua hal ini bakal nyakitin dia juga."
Kalimat itu menggantung di atas ranjang bersama bau infus dan alkohol swab.
Keiko mencoba menelan. Tenggorokannya kering.
"Maaf."
"Jangan minta maaf," kata Kak Sari cepat. "Minta bantuan. Itu yang harus kamu lakukan."
Keiko menatap langit-langit. "Aku kira bisa."
"Nah, itu masalahnya." Kak Sari menarik napas kasar, lalu menurunkan suara. "Lu selalu kira bisa."
Bu Tuti menyeka sudut mata dengan ujung kerudung. "Istirahat dulu, Nduk."
Malam turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Lampu kota menyala satu per satu, kecil dan jauh. Keiko berbaring dengan tubuh yang terasa seperti bukan miliknya. Setiap tulang lelah. Setiap tarikan napas perlu usaha.
Ponselnya diletakkan Bu Tuti di meja samping ranjang.
Ada beberapa pesan dari Kelvin.
**Kelvin**: Sudah selesai urusan keluarga?
**Kelvin**: Bagas hari ini bilang wajahnya rusak permanen. Dimas bilang dari dulu juga begitu.
**Kelvin**: Aku ganti plester.
Lalu voice note yang belum diputar sejak siang.
Keiko menyentuh kotak balasan. Dia ingin menulis `aku juga sudah makan`, atau `aku juga sudah ganti plester`, sesuatu yang ringan agar jarak di antara mereka tetap seperti jarak kelas dan rumah, bukan jarak antara bangku sekolah dan ranjang rumah sakit.
Namun jarinya hanya diam di atas keyboard.
Kak Sari benar. Suatu hari, semua yang disembunyikan ini akan punya harga.
Keiko belum siap membayarnya malam ini.
Keiko menatapnya lama. Bu Tuti sudah tertidur sebentar di kursi, kepala miring karena kelelahan. Kak Sari keluar membeli bubur hangat. Ruangan akhirnya cukup sunyi untuk membuat suara apa pun terasa besar.
Keiko menekan tombol play.
Suara Kelvin keluar pelan dari speaker, sedikit serak, mungkin karena luka di bibirnya.
"Nona Guru, laporan hari ini. Bagas berhasil membuat Pak Arif menyesal memberi tugas refleksi karena dia nulis tiga halaman tentang penderitaan pipi kirinya. Dimas masih hidup, tapi kayaknya nyesal punya teman. Yuan Yuan tadi nyuri ikan asin dari piring tetangga kos, jadi sekarang gue punya masalah diplomatik. Aku sudah makan. Sudah ganti plester. Kamu juga makan."
Ada jeda pendek.
Lalu suara Kelvin turun, lebih pelan.
"Jangan bikin orang nunggu dalam gelap juga."
Keiko menutup mata.
Rasa sakit masih ada. Mual masih ada. Infus masih masuk tetes demi tetes. Tubuhnya masih lemah, dan besok dia mungkin harus pura-pura baik lagi.
Namun di ranjang rumah sakit itu, dengan ponsel hangat di telapak tangan dan suara Kelvin baru saja selesai memenuhi ruangan, Keiko tersenyum melewati rasa sakit.