Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Celsi hanya diam terpaku. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Matanya berkaca-kaca menatap pemandangan indah di depan mata, namun pikirannya kacau balau.
"Ko..." suaranya bergetar. "Jangan bercanda dong. Mahar seharga satu miliar? Itu terlalu berlebihan. Aku nggak bisa terima sebesar itu."
"Kenapa nggak bisa?" tanya Aska lembut, langkah kakinya mendekat perlahan ke arah punggung Celsi.
"Aku... aku masih ragu, Ko. Banyak hal yang harus aku pikirin. Masa lalu aku, kondisi aku... aku nggak mau kamu rugi cuma karena nafsu sesaat," jawab Celsi pelan, menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tiba-tiba ia merasakan sentuhan hangat di punggungnya. Hembusan napas Aska terasa begitu dekat di lehernya. Tubuh pria itu menempel erat, membuat detak jantung mereka seakan menyatu dan berpacu sama cepatnya.
"Aku nggak main-main, Cel. Aku serius," bisik Aska di telinga Celsi.
Tangan kekar itu perlahan memutar tubuh Celsi hingga berhadapan. Tanpa menunggu jawaban, Aska langsung melingkarkan tangannya erat di pinggang ramping wanita itu, menariknya semakin dekat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.
"Aska..."
"Shhh..."
Aska menunduk, menyambar bibir itu dengan dahaga yang tak terbendung. Awalnya hanya sekadar menempel lembut, namun seiring berjalannya waktu, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh gairah. Aska menyesap bibir itu dengan lembut namun agresif, membuat Celsi terpaku sejenak sebelum akhirnya perlahan membalas dengan perasaan yang sama.
Ciuman mereka beradu panas. Aska semakin berani, tangannya mengangkat tubuh mungil Celsi hingga kaki wanita itu melayang dan melingkar di pinggangnya. Celsi memeluk leher Aska erat, membiarkan dirinya hanyut dalam rasa yang selama ini ia pendam. Mereka sama-sama agresif, sama-sama ingin memiliki.
Tanpa sadar, langkah kaki Aska membawa mereka masuk ke dalam kamar utama yang luas dan mewah itu. Dengan hati-hati namun pasti, ia membaringkan tubuh Celsi di atas kasur empuk itu. Aska langsung menyusul, menindih tubuh wanita itu dengan berat badan yang terkendali.
Ciuman mereka makin dalam, tangan Aska mulai berkelana menjelajahi punggung dan pinggang Celsi. Nafas mereka memburu, suasana di kamar itu berubah menjadi sangat panas dan intim. Gairah itu memuncak, Aska benar-benar ingin memiliki wanita itu seutuhnya saat itu juga. Ia ingin melewati batas, ingin membuat Celsi benar-benar miliknya.
Namun tepat saat hasrat itu memuncak, akal sehat Aska kembali bekerja. Ia mengingat janjinya pada diri sendiri untuk menghormati Celsi. Ia tidak mau melakukan hal yang bisa membuat Celsi menyesal atau merasa dipermainkan sebelum ada ikatan yang sah.
"Argh..." Aska mengerang tertahan.
Dengan paksaan luar biasa, ia melepaskan ciuman itu. Wajahnya memerah, napasnya memburu berat. Ia langsung bangkit dan berbalik badan, berjalan cepat menuju kamar mandi dalam dan membanting pintu sedikit keras.
Duar!
Celsi terbaring lemas di kasur, dadanya naik turun, bibirnya terasa bengkak dan panas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, jantungnya masih berdegup kencang campur aduk antara malu dan deg-degan.
Di dalam kamar mandi, suara air keran mengalir deras. Aska membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk meredakan gejolak yang masih menguasai dirinya. Ia menyelesaikan rasa ingin tahunya di sana sendiri, membiarkan air mengalir membasahi tubuh hingga perasaannya sedikit lebih tenang dan kembali normal.
Beberapa saat kemudian, Aska keluar dengan handuk melilit di pinggang dan wajah yang masih terlihat kusam serta perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Celsi masih duduk diam di tepi kasur, menata pakaiannya dengan tangan gemetar, tak berani menatap Aska.
"Ayo... kita pulang," ucap Aska datar, suaranya terdengar serak.
Celsi hanya mengangguk kecil, lalu berjalan cepat keluar dari rumah itu meninggalkan suasana yang masih terasa hangat dan canggung.
Di dalam mobil, perjalanan menuju gerai Geprek Cinta terasa hening. Sesampainya di sana, Celsi bersiap turun. Tangannya sudah memegang pintu, tapi tiba-tiba ditahan oleh Aska.
"Cel..."
"Iya Ko?" Celsi menoleh ragu.
"Minggu depan aku sama Mama akan datang ke rumah orang tua kamu," ucap Aska tegas, menatap lurus ke depan. "Kamu pikirin baik-baik apa yang kamu mau. Jawaban kamu apa. Aku harap kamu sudah siap."
Celsi diam. Ia tidak menjawab. Hatinya masih kacau. Ia hanya membuka pintu dan turun dengan langkah cepat.
"Dan minggu ini aku bakal sibuk banget urusin banyak hal," tambah Aska sebelum Celsi menutup pintu. "Jadi aku jarang bisa mampir ke sini atau ketemu kamu. Sabar ya."
Pintu mobil tertutup. Kendaraan itu pun melaju pergi meninggalkan Celsi yang berdiri mematung di pinggir jalan.
Tujuh hari berlalu.
Satu minggu terasa seperti setahun bagi Celsi. Ia benar-benar tidak bertemu Aska sama sekali. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada kunjungan. Celsi jadi bimbang. Apakah pria itu benar-benar serius akan datang melamar? Atau ucapan minggu lalu itu hanya angin lalu saja?
Hari Minggu pagi, Celsi memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Ia hanya duduk diam di ruang tamu, pikirannya melayang entah ke mana. Pak Rahman dan Bu Dewi melihat tingkah anaknya yang murung tapi tidak banyak bertanya.
Tiba-tiba...
"Ting... Tong... Ting..."
Bel rumah berbunyi nyaring.
"Siapa tuh pagi-pagi banget?" gumam Bu Dewi sambil berjalan membuka pintu pagar.
Namun begitu pagar terbuka, Bu Dewi terbelalak kaget. Di depan rumah sederhana itu, terparkir dua mobil mewah. Dan di sana, berdiri rombongan orang yang membawa bingkisan besar, nampan berisi buah-buahan, kue, dan seserahan yang sangat lengkap dan mewah.
Di barisan paling depan, terlihat Bu Ayu tersenyum lebar penuh kemenangan, dan di sampingnya berdiri Aska dengan setelan jas rapi yang sangat tampan dan gagah.
"Assalamualaikum!" sapa Bu Ayu lantang. "Maaf ya kami datang tiba-tiba. Kami mau melamar anak Ibu, Celsi!"
Bu Dewi dan Pak Rahman yang baru keluar terlihat syok setengah mati. Mereka sama sekali tidak siap. Rumah belum dibersihkan secara khusus, tidak ada hidangan khusus yang disiapkan.
Celsi yang mendengar suara itu langsung berlari keluar. Matanya membelalak melihat pemandangan di depan mata.
"Koh... Aska?"