NovelToon NovelToon
PORTER: System Override

PORTER: System Override

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: VANDEMIC

Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?

Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.

Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.

Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.

Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Limbah Berbahaya

Lampu-lampu Depot yang tadinya berpendar dingin kini berkedip menjadi warna merah darah yang berdenyut. Suara sirine Decommissioning melolong panjang, sebuah frekuensi melengking yang merobek gendang telinga. Itu bukan alarm bahaya bagi manusia; itu adalah alarm bagi sistem untuk memusnahkan konten di dalam ruangan.

Arka terkapar di lantai beton yang dingin. Tangannya mencengkeram kepalanya sekuat tenaga, seolah sedang dibelah oleh pisau panas. Setiap kali ia mencoba memikirkan rute pelarian atau akses logistik, gelombang Neural Feedback menghantamnya dengan intensitas yang brutal. Denyut itu bukan lagi sekadar rasa sakit, melainkan sebuah siksaan sistemik yang memaksa otaknya untuk shutdown.

"Bos! Mereka datang!" teriak Hasan.

Di ujung lorong, pintu gerbang utama terbuka. Tidak ada ledakan, tidak ada dentuman. Hanya suara gesekan logam yang mekanis, presisi, dan mengerikan. Unit Sanitasi Asosiasi melangkah masuk. Mereka bukan Hunter tempur. Mereka adalah teknisi berseragam putih bersih tanpa noda, membawa peralatan defragmentasi—sebuah alat yang dirancang untuk memecah materi ilegal menjadi partikel dasar.

Mereka tidak mempedulikan teriakan Hasan. Bagi mereka, Hasan, Bram, dan Arka hanyalah "objek" yang tidak terdaftar dalam basis data legal.

"Bram! Lindungi Hasan!" teriak Arka. Suaranya serak, tenggelam dalam deru alarm yang memekakkan telinga.

Bram berdiri, menghunus pedang Frostbite-nya. Namun, begitu ia melangkah, teknisi di barisan depan menekan tombol di pergelangan tangannya. Gelombang kejut frekuensi rendah memancar, membuat Bram ambruk seketika. Bukan karena luka, tapi karena saraf motoriknya diputus paksa oleh teknologi pengendalian massa.

"Jangan melawan!" perintah salah satu teknisi dengan nada bosan, seolah sedang membuang tumpukan sampah yang tak berharga. "Kalian adalah properti sitaan. Melawan hanya akan menambah hukuman di kamp kerja paksa nanti."

Arka mencoba berdiri. Ia mencoba memetakan posisi para teknisi itu, mencari titik buta dalam formasi mereka. Jika aku mengalihkan daya ke generator utama... pikir Arka.

Zzzzt!

Kepalanya terasa seolah dihantam palu godam. Pandangannya menghitam seketika. Ia tersungkur kembali, darah segar mengucur dari hidungnya, menetes ke lantai beton. Ghost code di otaknya menolak logika. Sistem sarafnya memberontak. Dia tidak bisa berpikir. Dia tidak bisa merencanakan.

"Bos, lari!" teriak Hasan saat dua teknisi mencengkeram lengannya.

"Lepaskan dia, sialan!" Bram mencoba bangkit, tapi teknisi ketiga menyuntikkan sesuatu ke lehernya. Tubuh Bram lemas seketika, matanya memutar ke atas, kesadarannya hilang dalam hitungan detik.

Arka melihat mereka diseret seperti karung beras. Mereka tidak dibunuh. Mereka akan dibawa ke kamp kerja paksa Asosiasi, tempat di mana identitas mereka akan dihapus selamanya dan tenaga mereka diperas hingga titik penghabisan. Arka ingin berteriak, ingin memaki, ingin menyerang. Tapi tubuhnya hanya bisa gemetar. Ia merangkak di lantai, menatap teman-temannya dibawa pergi ke dalam kegelapan.

"Jangan... jangan bawa mereka," bisik Arka, suaranya nyaris tak terdengar.

Salah satu teknisi berhenti, menatap Arka dengan tatapan kasihan yang dingin—tatapan yang diberikan manusia kepada serangga yang akan mati. "Kau buronan teroris administratif, Nak. Kami tidak membawa sampah ke tempat yang sama dengan kuli. Kau akan 'dibersihkan' di sini."

Teknisi itu menekan tombol di pintu ventilasi. Gas korosif mulai keluar, mendesis tajam saat menyentuh permukaan logam, mengubahnya menjadi cairan beracun dalam hitungan detik.

Arka tidak punya pilihan. Dia tidak punya rencana. Dia tidak punya kemampuan untuk menang.

Ia berbalik, menyeret tubuhnya yang mati rasa menuju lubang drainase air limbah yang sempat ia lihat di cetak biru depot. Ia tidak sempat menyelamatkan teman-temannya. Ia tidak sempat menyelamatkan markasnya.

Dia harus memilih: bertahan hidup sebagai pecundang, atau berakhir menjadi cairan beracun di lantai ini.

Arka terjun ke dalam lubang drainase tepat sebelum gas korosif memenuhi ruangan. Ia jatuh ke dalam sungai limbah yang dingin, pekat, dan bau. Tubuhnya tenggelam dalam kotoran yang menjijikkan.

Di bawah kegelapan saluran pembuangan, Arka terisak. Bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena kekalahan mutlak. Ia kalah bukan oleh Vanguard, bukan oleh kekuatan tempur, tapi oleh sistem yang bahkan tidak menganggapnya sebagai lawan yang setara.

Dia hanyalah kotoran. Dan sekarang, dia harus hidup di antara kotoran.

***

**[AUTHOR NOTE]**Kehancuran total. Vanguard bahkan tidak perlu turun tangan, Asosiasi dengan "kebersihan" birokrasi mereka telah menghancurkan Grey Underground dalam sekejap. Arka kehilangan segalanya, bahkan Kala yang terpaksa hibernasi. Tidak ada rencana jenius kali ini, hanya insting bertahan hidup yang memalukan di dalam selokan.

Bagaimana menurut kalian, apakah Arka bisa bangkit kembali dari titik terendahnya ini? Atau ini adalah akhir dari "Sistem" milik Arka? Tulis pendapat kalian di kolom komentar dan jangan lupa bookmark untuk bab selanjutnya!

1
Hunter S
keren bangetttt aku bakal baca terus
Hunter S
Berat sekali untuk arka, mungkin banyak kejutan setelah nya
Hunter S
Sebagai penyuka genre system dan MC pintar, ini novel sangat keren di plot dan karakter yang lokal, please mangatoon jadikan ini karya ekslusif, karena di platform yang genre boys tab sangat sedikit
VANDEMIC: Dukung terus novel ini dengan membaca dan masukan kedalam rak buku
total 1 replies
Hunter S
aku pengen skuad elit ngerasain akibat nya❌
Hunter S
lanjut 😍
Roses
sumpah ini cerita nya bikin deg degan banget, keren.
Roses
kejam banget sih ini 😭
VANDEMIC: 😈
Terimakasih atas dukungannya nanti kan setiap perjalanan arka yang lebih berdarah-darah.

vandemic-
total 1 replies
Roses
Arka😭
Roses
kalau aku jadi arka aku bakalan hopeless banget😭
Roses
kasian arka 🙂‍↕️
Roses
Ditunggu lanjutannya abangku
Roses
Paraah kece
Roses
Lanjutkan thoorr kereen💪
Roses
Ketika scroll tidak sengaja lihat cover yang mengintimidasi 😱 langsung aja gasskeen karena jarang banget novel yang dari segi plot cerita nya bagus gini jadi makin penasaran.
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼
VANDEMIC: Terimakasih atas dukungannya kak, pastikan masuk rak buku dan jadi novel favoritmu!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!