Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Sisa Abu
Pagi setelah Festival Titik Balik Matahari terasa seperti bangun dari mimpi indah yang terlalu singkat.
Aula Besar, yang semalam bermandikan cahaya emas dan gelak tawa, kini kembali hening.
Para pelayan bergerak dalam diam, menyapu sisa-sisa pinus yang rontok dan mengumpulkan gelas-gelas ale kosong. Namun, keheningan ini tidak lagi terasa kosong atau menekan.
Ada sisa kehangatan yang tertinggal di udara, aroma samar lilin lebah dan kenangan akan kebersamaan yang langka.
Elara berdiri di tengah aula, mengawasi para pelayan menurunkan panji-panji festival. Ia masih merasakan hantu genggaman tangan Kaelen di jari-jarinya. Semalam, di bawah meja itu, suaminya tidak melepaskan tangannya selama satu jam penuh.
Kaelen tidak bicara banyak, tidak mengumbar kata cinta, tapi jempolnya yang kasar mengusap punggung tangan Elara dengan ritme yang menenangkan—sebuah bahasa bisu yang mengatakan: Aku di sini, dan aku tidak lari.
"Nyonya tampak bersinar pagi ini," komentar Silas yang sedang mencatat jumlah lilin yang tersisa di buku kecilnya. Senyum pria tua itu tulus, keriput di sekitar matanya menyipit jenaka.
"Hanya efek tidur nyenyak, Silas," jawab Elara, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. "Di mana Tuan Duke?"
"Di halaman depan, Nyonya. Mengawasi latihan pagi seperti biasa. Tapi..." Silas berhenti sejenak, merendahkan suaranya, "...prajurit bilang beliau tidak berteriak sekeras biasanya hari ini. Suasana hati Sang Jenderal tampaknya sedang baik."
Elara tersenyum lebih lebar. Ia memeluk selendang wolnya lebih erat, bersiap untuk pergi ke halaman depan. Ia ingin melihat Kaelen. Ia ingin melihat apakah kelembutan semalam akan bertahan di bawah sinar matahari pagi yang jujur, atau apakah topeng Iblis Utara itu akan terpasang kembali.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah menuju pintu utama, suara yang asing terdengar dari arah gerbang benteng.
Bukan terompet. Bukan teriakan peringatan.
Itu adalah suara gemerincing lonceng kereta kuda yang halus, diikuti oleh derap langkah kuda yang ringan—bukan kuda perang berat, melainkan kuda perjalanan jarak jauh.
Elara dan Silas saling berpandangan. Tidak ada jadwal kedatangan pedagang hari ini. Utusan kaisar baru saja diusir minggu lalu.
"Siapa yang datang di tengah musim dingin begini tanpa pemberitahuan?" gumam Silas, alis putihnya berkerut khawatir.
Elara merasakan firasat buruk yang dingin merayap di tengkuknya. Firasat yang sama seperti saat ia melihat awan badai berkumpul di ufuk utara.
"Mari kita lihat," kata Elara. Ia menegakkan punggungnya, memasang wajah Duchess-nya, dan berjalan keluar menuju halaman depan.
Di luar, udara pagi terasa tajam dan bersih. Kaelen sedang berdiri di tengah halaman latihan, dikelilingi oleh para perwiranya. Namun, perhatian mereka semua kini teralih ke arah gerbang utama yang sedang dibuka perlahan oleh penjaga.
Sebuah kereta kuda berwarna hitam pekat meluncur masuk. Kereta itu ramping, elegan, dan tertutup debu perjalanan yang tebal. Tidak ada lambang keluarga yang mencolok di pintunya, hanya ukiran mawar hitam kecil yang nyaris tak terlihat di panel kayunya.
Kaelen membeku di tempatnya.
Elara melihat perubahan itu terjadi secara real-time . Bahu Kaelen yang tadi santai tiba-tiba menegang kaku seperti busur yang ditarik maksimal. Wajahnya, yang sedetik lalu masih memancarkan ketenangan sisa semalam, kini memucat drastis. Warna darah seolah terkuras habis dari kulitnya, menyisakan topeng pualam yang dihantui ketakutan murni.
Kereta berhenti tepat di depan tangga masuk kastil, hanya beberapa meter dari tempat Kaelen berdiri.
Pintu kereta terbuka. Seorang pelayan wanita turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu majikannya.
Seorang wanita melangkah turun.
Dunia seolah berhenti berputar.
Wanita itu tinggi dan ramping, mengenakan gaun berkabung hitam legam yang mewah, dengan kerudung renda hitam menutupi sebagian wajahnya. Saat kakinya menyentuh tanah bersalju, ia mengangkat kerudungnya perlahan.
Rambutnya hitam pekat, berkilau seperti sayap gagak, persis seperti warna rambut Kaelen. Kulitnya pucat seperti susu. Dan matanya... mata itu berwarna abu-abu badai.
Elara menahan napas. Kemiripan itu mencolok. Wanita ini memiliki fitur wajah yang sama dengan lukisan-lukisan di galeri Blackwood yang hancur, namun dengan sentuhan kedewasaan yang lebih tajam dan dingin.
"Vespera," bisik Kaelen. Suaranya bukan sapaan. Itu adalah suara orang yang sedang tercekik.
Wanita itu, Vespera, menatap Kaelen. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum tipis yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. Senyum itu penuh dengan luka, tuduhan, dan kepahitan yang telah difermentasi selama bertahun-tahun.
"Halo, Kaelen," sapa Vespera. Suaranya halus, merdu, namun tajam seperti irisan kertas. "Sudah lama sekali. Lima tahun? Atau lebih?"
Kaelen tidak bergerak. Tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar. Ia tampak seperti ingin lari, tapi kakinya dipaku ke tanah oleh rasa bersalah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaelen serak. "Aku pikir kau di Selatan. Di biara."
"Aku memang di sana," Vespera melangkah maju, gaun hitamnya menyapu salju putih, meninggalkan jejak kontras yang menyakitkan mata. "Berdoa untuk jiwa kakakku. Berdoa untuk orang-orang yang kau biarkan mati terbakar."
Kata-kata itu mendarat seperti cambuk. Para perwira di sekitar Kaelen menunduk, tidak berani menatap drama ini. Mereka tahu sejarah itu.
"Tapi kemudian aku mendengar kabar menarik," lanjut Vespera, matanya kini beralih dari Kaelen, menyapu halaman kastil, dan akhirnya mendarat tepat pada sosok Elara yang berdiri di tangga atas.
Tatapannya menilai. Dingin. Menghina.
"Aku mendengar sang Iblis Utara akhirnya menikah," kata Vespera pelan. "Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus melihat wanita macam apa yang cukup berani—atau cukup bodoh—untuk menggantikan posisi Lyra."
Elara merasakan darahnya mendidih. Rasa cemburu dan protektif bercampur menjadi satu. Wanita ini datang ke rumahnya, menyerang suaminya dengan senjata masa lalu, dan merendahkannya di depan seluruh kastil.
Elara melangkah turun dari tangga. Satu per satu anak tangga ia turuni dengan anggun, dagunya terangkat tinggi. Ia tidak akan membiarkan dirinya diintimidasi.
"Selamat datang di Blackiron," suara Elara jernih dan tegas, memotong ketegangan udara. Ia berhenti di samping Kaelen, secara fisik menempatkan dirinya di antara suaminya dan wanita asing ini. "Saya Elara Draxos. Duchess tempat ini. Dan Anda adalah?"
Vespera menatap Elara, alisnya terangkat sedikit, terkejut dengan keberanian itu. "Draxos," ulangnya dengan nada mencemooh. "Nama itu terdengar asing di lidahmu, Gadis Kecil. Aku Lady Vespera Blackwood. Adik kandung dari wanita yang seharusnya berdiri di tempatmu sekarang, jika saja suamimu tidak gagal melindunginya."
Elara merasakan Kaelen tersentak di sampingnya. Pria itu mundur selangkah, sebuah gerakan mundur fisik yang menunjukkan betapa hancurnya pertahanannya. Vespera memegang kunci menuju rasa bersalah terdalam Kaelen, dan dia memutarnya tanpa ampun.
"Kematian Lady Lyra adalah tragedi," kata Elara, menahan suaranya agar tetap stabil meski lututnya gemetar. "Tapi itu masa lalu. Dan menyalahkan orang yang selamat atas kejahatan perang adalah tindakan yang kejam, Lady Vespera."
Mata Vespera menyipit. "Kejam? Kau bicara tentang kekejaman padaku? Keluargaku hangus menjadi abu sementara dia..." Vespera menunjuk Kaelen dengan jari telunjuk yang gemetar, "...dia selamat. Dia hidup. Dia menjadi Duke. Dan sekarang dia bermain rumah-rumahan dengan istri baru seolah-olah janjinya pada Lyra tidak pernah ada."
Vespera kembali menatap Kaelen, mengabaikan Elara sepenuhnya.
"Kau berjanji, Kaelen," bisik Vespera, suaranya pecah, berubah dari marah menjadi putus asa yang menyakitkan. "Di altar itu, sebelum kau berangkat perang. Kau bersumpah akan kembali untuknya. Kau bersumpah akan melindunginya. Kenapa kau masih hidup sementara dia mati? Kenapa kau berhak bahagia?"
Pertanyaan itu adalah gema dari suara-suara di dalam kepala Kaelen sendiri. Mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam kini berdiri di hadapannya dalam wujud nyata, meneriakkan tuduhan yang sama.
Kaelen tidak bisa menjawab. Wajahnya hancur. Dia tampak seperti anak kecil yang tersesat, bukan Jenderal perang.
"Cukup," Elara maju selangkah lagi, memotong kontak mata antara Kaelen dan Vespera. "Silas! Siapkan kamar tamu di Sayap Barat untuk Lady Vespera. Dia lelah karena perjalanan dan berbicara di luar batas sopan santun."
"Aku tidak butuh kamar tamu!" sergah Vespera. "Aku datang untuk mengambil barang-barang kakakku. Kalungnya. Bukunya. Dan..." matanya berkilat, "...tanaman mawarnya."
Elara membeku. Mawar.
"Dan setelah itu," Vespera tersenyum miring, "aku akan pergi. Aku tidak sudi bernapas di udara yang sama dengan pengkhianat."
"Bawa dia masuk," perintah Elara pada Silas, nadanya tidak mentolerir bantahan.
Setelah Vespera dibawa masuk dengan enggan oleh Silas dan beberapa pelayan, keheningan di halaman itu terasa mencekik. Para perwira membubarkan diri dengan cepat, tahu bahwa mereka tidak boleh menyaksikan kehancuran komandan mereka.
Tinggallah Elara dan Kaelen.
Kaelen berdiri mematung, menatap titik di mana kereta Vespera tadi berhenti. Napasnya pendek-pendek.
"Kaelen," panggil Elara lembut, mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan suaminya.
"Jangan," desis Kaelen.
Ia menepis tangan Elara. Kasar.
Kaelen mundur, menatap Elara dengan mata yang asing. Mata itu penuh dengan ketakutan dan rasa jijik pada dirinya sendiri. Cahaya kehangatan dari festival semalam telah padam total, digantikan oleh kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.
"Dia benar," bisik Kaelen, suaranya hampa. "Aku tidak berhak. Aku tidak berhak atas ini. Atas kau. Atas kehangatan ini."
"Itu tidak benar," bantah Elara, hatinya retak melihat prianya hancur kembali. "Kau tidak membunuhnya, Kaelen. Itu perang."
"Aku berjanji padanya, Elara!" teriak Kaelen tiba-tiba, suaranya pecah menjadi raungan frustrasi. "Dan aku melanggarnya! Setiap kali aku tersenyum, setiap kali aku merasa nyaman di tempat tidur bersamamu, aku mengkhianati abunya!"
Kaelen mencengkeram rambutnya sendiri, menariknya kasar. "Vespera adalah hukumanku. Dia datang untuk mengingatkanku siapa aku sebenarnya."
"Kau bukan pembunuh," Elara mencoba mendekat lagi.
"Mundur!" bentak Kaelen. "Jauhi aku, Elara. Demi Tuhan, jauhi aku. Jika kau dekat denganku, kau akan terbakar juga. Semua orang yang kudekati mati atau hancur."
Tanpa menunggu jawaban, Kaelen berbalik. Ia tidak masuk ke dalam kastil. Ia berjalan cepat menuju kandang kuda, menyambar tali kekang Obsidian yang belum sempat dilepas pelananya, melompat naik, dan memacu kudanya keluar gerbang dengan kecepatan gila.
Ia melarikan diri lagi. Tapi kali ini, ia tidak lari ke hutan untuk berburu. Ia lari untuk menghukum dirinya sendiri.
Elara berdiri sendirian di halaman yang luas itu. Angin dingin menerpa wajahnya, mengeringkan air mata yang mulai jatuh.
Vespera Blackwood telah datang. Dan hanya dalam sepuluh menit, dia berhasil meruntuhkan semua yang telah dibangun Elara selama berminggu-minggu. Pipa uap mungkin masih menghangatkan lantai, tapi hati Kaelen baru saja membeku kembali menjadi es yang lebih keras dari sebelumnya.
Elara menatap jejak kuda Kaelen di salju. Lalu ia berbalik menatap pintu kastil tempat Vespera menghilang.
"Kau ingin perang, Lady Vespera?" bisik Elara, tangannya mengepal di sisi gaunnya hingga buku jarinya memutih. "Kau ingin mengambil mawar itu? Kau ingin mengambil suamiku dan menenggelamkannya dalam rasa bersalah selamanya?"
Elara menarik napas panjang, menghirup udara dingin yang menyakitkan paru-paru.
"Langangkahi dulu mayatku," desisnya.
Elara tidak mengejar Kaelen kali ini. Kaelen butuh waktu untuk berdarah.
Elara punya tugas lain. Dia harus menghadapi hantu yang hidup di dalam rumahnya. Dia harus memastikan Vespera tidak menemukan mawar yang sedang tumbuh kembali di Sayap Selatan.
Karena jika Vespera tahu mawar itu hidup karena dirawat oleh Elara, wanita itu akan menghancurkannya hanya untuk membuktikan poinnya.
Elara berjalan masuk ke dalam kastil. Langkahnya berat, tapi matanya menyala dengan api yang tidak dimiliki oleh gadis manja dari ibu kota. Ini adalah wilayahnya. Dan tidak ada hantu—hidup atau mati—yang akan mengusirnya.