Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUAN YANG DATANG MENAGIH
Author ikut merinding sekarang. 😅
Kalau menurut kalian cerita horor selesai setelah dukunnya mati... selamat. Berarti kalian belum pernah dengar pepatah orang tua dulu.
"Kalau peliharaan kehilangan tuannya... jangan senang dulu. Kadang justru saat itulah dia mulai mencari tuan yang baru."
Semoga kita semua tidak pernah membuktikannya.
---
Jimat kain mori di dadaku mendadak terasa membara.
Bukan hangat.
Bukan sekadar panas.
Rasanya seperti ada bara merah yang ditempelkan tepat di kulit dada hingga membuat napasku tercekat.
Aku spontan mencengkeram kain itu sambil meringis.
"Akh...!"
Lukman yang masih terduduk di lantai langsung menoleh.
Wajahnya berubah pucat.
"Kang..."
Dia bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tatapannya sudah lebih dulu terpaku ke arah pintu aula yang sebagian dindingnya telah runtuh akibat ledakan tadi.
Kabut.
Kabut hitam yang sejak tadi beterbangan kini justru bergerak perlahan.
Membelah sendiri.
Seolah ada sesuatu yang sedang berjalan dari baliknya.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah kaki.
Pelan.
Teratur.
Namun anehnya, setiap satu langkah terdengar, jantungku seperti ikut berhenti berdetak sesaat.
Aku menggenggam parang lebih erat.
Telapak tanganku basah oleh keringat.
Di hadapan kami, puluhan sosok yang tadi hanya berdiri mematung mulai terlihat semakin jelas.
Mereka bukan bayangan.
Bukan ilusi.
Mereka benar-benar ada.
Kulit mereka pucat kebiruan.
Sebagian tubuhnya penuh lumpur hitam.
Ada yang memakai sarung lusuh.
Ada yang masih mengenakan seragam sekolah.
Seorang perempuan tua berdiri sambil menggendong bayi yang tinggal menyisakan tengkorak kecil.
Di sisi lain, seorang nelayan membawa jaring yang masih dipenuhi rumput rawa.
Mata mereka kosong.
Tidak berkedip.
Tidak bernapas.
Tidak bergerak.
Mereka hanya...
menatap kami.
Aku menelan ludah.
"Man..."
"Sekarang kita gimana?"
Lukman tidak menjawab.
Bibirnya komat-kamit membaca ayat demi ayat.
Tangannya gemetar hebat.
Baru kali ini aku melihat Lukman benar-benar ketakutan.
Lalu...
dari balik barisan mayat itu...
muncul seseorang.
Tubuhnya tinggi.
Jauh lebih tinggi daripada manusia biasa.
Jubah hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya hingga menyentuh tanah.
Wajahnya tidak terlihat.
Hanya kegelapan.
Namun entah kenapa aku yakin...
dia sedang menatap lurus ke arahku.
Angin laut yang tadi berembus pelan mendadak berhenti total.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Bahkan suara ombak pun lenyap.
Sosok itu melangkah sekali.
Seluruh mayat di depannya langsung menundukkan kepala bersamaan.
Aku merasakan tengkukku dingin.
Instingku berteriak hanya satu.
Lari.
Namun kedua kakiku justru seperti dipaku ke lantai.
Lukman tiba-tiba berbisik lirih.
"Kang..."
"Itu bukan jin biasa."
Aku masih menatap sosok berjubah itu.
"Lalu?"
Suara Lukman nyaris tak terdengar.
"Itu yang dipanggil Sagim sebagai Tuan."
Dadaku langsung sesak.
Jadi...
selama ini yang kami lawan bahkan bukan musuh sebenarnya?
Sosok berjubah itu berhenti tepat beberapa meter di depan jasad Sagim.
Perlahan...
dia menundukkan kepalanya.
Bukan untuk menghormati.
Melainkan seperti seseorang yang sedang memeriksa bangkai binatang.
Beberapa detik kemudian terdengar suara.
Suara berat.
Dalam.
Tidak berasal dari mulut.
Seolah keluar dari seluruh ruangan.
"Kau..."
"...gagal."
Hanya satu kalimat.
Namun tubuh mayat Sagim yang sudah mengering mendadak retak.
KRAAK...
Retakan menjalar di seluruh tubuhnya.
Lalu...
BRUK!
Tubuh itu hancur menjadi debu hitam yang langsung beterbangan diterpa angin.
Aku membeku.
Lukman sampai mundur selangkah.
"Astaghfirullah..."
Sosok berjubah itu lalu mengangkat kepalanya.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Meskipun wajahnya tetap tertutup bayangan, aku bisa merasakan tatapannya kini berpindah kepadaku.
Jimat mori di dadaku semakin panas.
Asap tipis bahkan mulai keluar dari balik bajuku.
Aku menahan sakit sambil menggertakkan gigi.
Lalu suara itu kembali terdengar.
"Keturunan..."
Aku mengernyit.
Apa maksudnya?
"Kau..."
"...membawa darahnya."
Aku tidak mengerti.
"Darah siapa?" teriakku.
Tak ada jawaban.
Sosok itu justru mengangkat tangan kanannya.
Seketika seluruh mayat di belakangnya bergerak serempak.
KRAK...
KRAK...
Leher mereka berputar perlahan.
Tulang-tulang berbunyi.
Mulut mereka terbuka lebar.
Lalu...
mereka mulai berjalan.
Pelan.
Selangkah demi selangkah.
Menuju kami.
"Lari, Kang!" bentak Lukman.
Kesadaranku kembali.
Aku langsung menarik lengan Lukman.
Kami berdua berlari menerobos sisi aula yang runtuh.
Di belakang kami terdengar puluhan langkah kaki mulai berubah menjadi derap yang semakin cepat.
Aku sempat menoleh.
Mayat-mayat itu kini mengejar.
Namun cara mereka berlari benar-benar tidak wajar.
Kakinya tetap lurus.
Tubuhnya kaku.
Seperti boneka kayu yang dipaksa bergerak.
Tetapi...
cepat.
Sangat cepat.
Kami baru mencapai halaman ketika terdengar suara yang membuat bulu kudukku berdiri.
Bukan dari belakang.
Melainkan...
tepat di samping telingaku.
"Pulanglah..."
Suara itu berbisik lembut.
"...aku akan menyusul."
Aku spontan menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun jimat mori di dadaku mendadak robek sendiri.
SREET!
Aku terpaku.
Wajah Lukman langsung kehilangan warna.
"Kang..."
"Celaka..."
"Apa lagi, Man?"
Lukman menatap sisa jimat yang menggantung di leherku.
Suaranya bergetar.
"Pelindung Mbok Diyah..."
"...baru saja putus."
Aku menoleh ke belakang.
Di ambang aula yang runtuh, sosok berjubah hitam itu masih berdiri diam.
Tidak mengejar.
Tidak bergerak.
Namun aku tahu...
dia sedang tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya sejak semua teror ini dimulai...
aku benar-benar merasa...
kami belum memenangkan apa pun.
Justru...
mimpi buruk yang sesungguhnya...
baru saja dimulai.
(Bersambung)