Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TigaTiga—Dimana Suamimu?
Seluruh orang di aula Kediaman Gu seketika terpana dan terpaku di tempat saat menyaksikan hadiah kunjungan balik dari Kediaman Shen. Seekor daging babi utuh panggang yang kulitnya mengilat sempurna akibat lumuran madu dan kecap gurih, digotong dengan khidmat oleh dua orang pengawal pribadi berbadan tegap. Aroma harumnya yang menguar kuat seolah mendominasi seisi ruangan.
Selir Lin menahan napasnya. Wanita paruh baya itu terdorong untuk maju satu langkah, mencondongkan tubuh demi meneliti hadiah tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
Tanpa celah. Utuh dari kepala hingga ekor. Dan sama sekali tidak ada cacat.
Wajah Selir Lin seketika berubah sedikit pias di balik riasan tebalnya. Sebagai wanita yang mengatur urusan rumah tangga, ia tahu betul hukum adat kekaisaran: babi panggang utuh yang sempurna ini adalah pernyataan resmi dan pujian tertinggi dari Jenderal Agung Shen Mufeng bahwa Gu Mingyue adalah pengantin wanita yang suci, terhormat, dan teramat dihargai di kediaman barunya. Semua skenario buruk yang telah disiapkan Selir Lin untuk mempermalukan Mingyue hancur lebur dalam sekejap mata.
Namun, alih-alih merasa terintimidasi oleh kemewahan hadiah tersebut, Selir Lin justru mengangkat sebelah sudut bibirnya sinis. Matanya dengan sengaja menengok ke arah koridor di belakang tubuh Mingyue yang tampak lengang.
"Di mana suamimu?" tanya Selir Lin dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh seluruh pelayan aula.
Jenderal Gu ikut mengernyitkan dahi samarnya, merasa martabatnya sebagai kepala keluarga terusik. Ia ikut menengok ke arah luar pintu sebelum melemparkan tatapan menuntut pada putri sulungnya. "Mingyue, di mana suamimu?"
Seolah belum puas melihat Mingyue disudutkan, Gu Lian melangkah maju ke tengah aula dengan raut wajah penuh kemenangan yang dibuat-buat. "Ayah, Ibu, suaminya tidak datang mendampingi. Bukankah ini sungguh sebuah penghinaan besar bagi Kediaman Gu?"
Gu Lian kemudian melirik ke arah ayahnya, lalu kembali menatap Mingyue dengan pandangan meremehkan. "Kurasa, Kakak sengaja menghabiskan banyak uang pribadinya untuk berpura-pura, menyewa pengawal demi membawa hadiah Ningqin semewah ini ke rumah, hanya untuk menutupi fakta kalau Jenderal Agung sama sekali tidak memedulikannya."
Gu Mingyue tetap berdiri dengan sangat anggun di tengah aula. Kedua tangannya terlipat rapi di depan perut dengan senyuman manis yang merekah di wajah cantiknya, meskipun sepasang matanya menyorotkan ketajaman yang sanggup menguliti lawan bicaranya.
"Adik, untuk apa aku bersusah payah berpura-pura membawa hadiah semewah ini dan menghamburkan uang pribadi?" tanya Mingyue retoris. Ia menjeda kalimatnya, lalu perlahan mengalihkan lirikannya yang dingin tepat ke arah Zhao Yuchen. "Lagipula, bagiku jauh lebih baik pulang dengan tangan kosong sekalian, daripada harus membuang-buang uang hanya demi berusaha membuat seseorang tampil tampak berwibawa."
Kalimat terakhir Mingyue adalah sebuah tamparan langsung yang sangat telak bagi Zhao Yuchen, yang sejak tadi sengaja mengenakan seragam dinas pejabatnya demi terlihat mentereng dan berkuasa di depan Keluarga Gu. Sindiran Mingyue dengan jelas menegaskan bahwa kewibawaan Zhao Yuchen hanyalah topeng murahan yang dipaksakan.
Mendengar sindiran tajam yang menusuk suaminya, wajah Gu Lian seketika berubah merah padam karena menahan berang, sementara Zhao Yuchen mengepalkan tangannya di sisi tubuh dengan rahang yang mengeras rapat.
"Jenderal, kurasa Mingyue sudah keterlaluan. Dia dengan sengaja menghina adik iparnya sendiri hanya karena merasa frustrasi dan marah lantaran suaminya tidak datang mendampingi," ucap Selir Lin dengan nada manja yang dibuat-buat, sembari menyentuh lengan Jenderal Gu untuk memprovokasi.
"Di mana suamimu, Mingyue?" tanya ayahnya sekali lagi. Suara baritonnya yang rendah kini terdengar berat dan menusuk, menuntut jawaban mutlak tanpa bantahan.
"Ayah, suamiku sama sekali tidak bermaksud menghina keluarga ini dengan tidak hadir di jam sekarang," jawab Gu Mingyue tenang. Ia menyapu pandangannya ke seisi ruangan selama sesaat, menikmati kepongahan di wajah Selir Lin dan Gu Lian sebelum melanjutkan, "Hanya saja, beliau diminta untuk segera menghadap Yang Mulia Kaisar di aula sidang istana pagi ini."
"Untuk urusan apa?" tuntut Jenderal Gu, sorot matanya menajam.
Gu Mingyue tersenyum tipis, seolah tanpa beban. "Aku tidak tahu pasti mengenai detailnya. Namun, tentu saja hal itu sangat mendesak, Ayah. Aku hanya sempat mendengar sekilas bahwa masalah ini berkaitan erat dengan pergerakan kaum barbar di wilayah barat."
Jenderal Gu seketika mengeraskan rahangnya begitu mendengar kata 'wilayah barat' dan 'kaum barbar' disebut secara bersamaan. Hawa dingin mendadak menguar dari tubuh sang jenderal tua. "Bukankah aku sudah melaporkan kemenangan besarku ke istana beberapa waktu lalu?" desisnya dengan nada tak terima.
"Ayah, bukankah lebih baik kita tidak membicarakan urusan politik militer yang sensitif ini di aula luar?" Gu Mingyue menjeda kalimatnya, lalu mengalihkan tatapannya yang sarat akan cemoohan ke arah Zhao Yuchen.
"Bagaimanapun juga... ada seorang pejabat sipil di sini," sindirnya dengan nada dingin sembari mendikte penampilan luar Zhao Yuchen dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
Sindiran tajam itu seolah menegaskan dengan gamblang bahwa status Zhao Yuchen masih berada jauh di bawah kasta para jenderal agung kekaisaran. Pria itu mengetatkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia mengepalkan jemarinya erat di balik lengan baju dinasnya, mulai dirayapi rasa kesal dan dengki yang teramat dalam terhadap sosok Shen Mufeng.
Jika bukan karena pergerakan mematikan dari Gubernur Ibukota—yang merupakan paman kandungnya sendiri—tentu jalur bagi Zhao Yuchen untuk naik kelas dan mendapat promosi jabatan di istana akan jauh lebih mudah. Namun sekarang, posisi sang paman yang tersandung kasus hukum keluarga yang disinyalir sebagai pengkhianat negara, justru berbalik menyulitkan setiap langkah politiknya. Ia terikat pada nama keluarga yang tercoreng.
"Gu Mingyue..." desis Zhao Yuchen pelan dengan nada penuh ancaman, menatap mantan tunangannya dengan kilat mata yang dipenuhi kebencian.
Tak berselang lama setelah desisan penuh dendam dari Zhao Yuchen, suara derap langkah kaki yang tegas terdengar menggema secara bersamaan dari arah koridor luar. Seluruh orang di dalam aula seketika menoleh ke belakang, dan perhatian mereka langsung tersedot sepenuhnya pada sosok pria yang baru saja melangkah masuk.
Shen Mufeng berjalan dengan langkah tegap, dingin, dan ritmis. Pria itu kini mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi—bukan lagi zirah perang hitamnya yang menakutkan dari istana, melainkan sebuah jubah megah yang warnanya sengaja senada dengan hanfu putih bersih milik Gu Mingyue. Penampilan serasi mereka seketika memancarkan aura pasangan agung yang tak tergoyahkan.
"Itu suamiku sudah datang," ucap Gu Mingyue dengan senyuman manis yang merekah. Sepasang matanya mengerling jenaka, menatap bangga ke arah sang suami yang kini berjalan mantap menuju ke sisinya.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya