NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa terkutuk itu!

"Assalamualaikum." Ucap Sri yang baru saja melangkah masuk melintasi pintu depan rumah setelah seharian penuh menghabiskan waktu di kampus.

Seperti kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan, Sri segera menghampiri ibunya yang sedang merapikan ruang tengah, lalu meraih tangan wanita paruh baya itu dan menyalaminya.

"Waalaikumsalam." Sahut ibunya dengan senyum hangat yang selalu menenangkan. Matanya yang kini mulai dihiasi guratan halus menatap lekat-lekat wajah sang putri tercinta.

Lela menyadari ada yang berbeda dari raut wajah anak gadisnya sore ini.

"Tumben sekali pulang-pulang wajahnya terlihat ceria begitu? Kenapa, ada kabar baik ya dari kampus?" tanya ibunya lembut sembari mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil tas ransel berat yang disandang Sri.

"Iya, Bu! Akhirnya minggu depan kalau tidak ada halangan, kelompok Sri akan resmi mulai syuting!" kata Sri dengan nada suara yang teramat antusias. Matanya berbinar-binar penuh kelegaan yang luar biasa.

"Oh ya? Syukur Alhamdulillah kalau begitu. Ibu turut senang mendengarnya," kata ibunya dengan senyum yang kian mengembang lebar.

Dia benar-benar ikut merasa bahagia dan bersyukur. Dia tahu betul bagaimana perjuangan anak perempuannya itu selama beberapa hari terakhir. Sri sampai susah tidur, terus-menerus pusing memikirkan tempat atau lokasi yang pas untuk melaksanakan proses syuting film horor tugas Semesternya itu.

Melihat beban itu akhirnya terangkat dari pundak Sri tentu membuat hatinya sebagai seorang ibu menjadi sangat lega.

Sambil melangkah beriringan menuju ke arah dapur, Lela yang masih menentang tas ransel Sri kemudian bertanya lagi dengan nada santai.

"Memangnya jadi syuting di mana?"

"Di Desa Selogiri, Bu. Desanya salah satu anak teater yang ikut main di film kami."

Deg!

Jantung Lela serasa berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh aliran darahnya mendadak berdesir mendingin, mengirimkan rasa kebas dan lemas yang luar biasa ke seluruh ujung-ujung jarinya.

Wajahnya yang semula merona bahagia seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warnanya.

Pluk.

Tas ransel milik Sri yang baru saja dipegangnya erat-erat langsung terlepas dari genggamannya dan jatuh begitu saja tergeletak di atas lantai.

Nama desa yang baru saja meluncur dengan begitu renyah dan tanpa beban dari bibir Sri seketika meruntuhkan seluruh kedamaian yang telah diperjuangkan dan dibangunnya dengan air mata selama dua puluh tahun ini.

Selogiri. Nama itu bukan sekadar nama sebuah tempat bagibya. Selogiri adalah nama dari sebuah mimpi buruk masa lalu yang teramat kelam.

"Bu... Ibu kenapa?" tanya Sri, ekspresi cerianya langsung berubah menjadi kebingungan yang teramat sangat melihat perubahan drastis pada raut wajah ibunya.

Sri melangkah mendekat, memperhatikan napas ibunya yang mendadak memburu.

"Ibu tidak sehat ya?" tanyanya lagi, menyentuh pelan pundak ibunya yang terasa tegang.

"Tidak, Ibu tidak apa-apa. Mungkin... Ibu hanya masuk angin," kata ibunya, terpaksa berbohong demi menutupi badai ketakutan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.

Suaranya terdengar bergetar, meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk meredamnya.

"Kalau begitu, ayo Sri kerok, Bu." Tawar Sri, merasa khawatir melihat wajah ibunya yang mendadak pucat pasi.

"Tidak usah, kamu pasti capek seharian ini mengurus tugas kuliah. Ibu hanya perlu sapu obat angin saja nanti, setelah itu pasti membaik," ujarnya menolak dengan halus.

Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai dirinya yang terguncang. Dia lalu membungkuk untuk memungut kembali tas ransel Sri yang sempat dijatuhkannya ke lantai. Sambil menyerahkan tas itu kembali, dia memaksakan sebuah senyuman tipis.

"Sebaiknya Sri mandi dulu sekarang, setelah itu baru kita makan malam bersama."

Sri menatap ibunya selama beberapa detik dengan ragu. Namun, melihat ibunya yang bersikeras bahwa ia baik-baik saja, Sri akhirnya mengangguk mengiyakan dengan berat hati.

Langkah kakinya terdengar menjauh, lalu suara pintu kamar Sri yang tertutup memecah keheningan rumah.

Begitu memastikan Sri sudah aman di dalam kamarnya, pertahanan Lela runtuh. Tubuhnya bergetar hebat. Dengan langkah yang terasa teramat berat, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung mengunci pintu dari dalam.

Lela terduduk di tepi ranjangnya. Wajahnya kian memucat, matanya menatap kosong ke arah lantai seiring dengan memori-memori jahanam dua puluh tahun lalu yang mendadak berputar kembali di kepalanya seperti film horor nyata. Nama Selogiri telah membangkitkan semua monster masa lalu yang selama ini dia kubur dalam-dalam.

Setelah terdiam dan berpikir keras untuk beberapa saat, Lela bangkit berdiri dengan kaki yang lemas. Dia menghampiri meja rias tua di sudut kamar, satu-satunya perabot yang selalu terkunci rapat dan tidak pernah boleh disentuh oleh Sri.

Lela merogoh bagian dalam lemari pakaiannya, mencari di balik lipatan kain-kain jarik lamanya untuk mengambil sebuah kunci kecil yang tersembunyi di sana. Dengan tangan yang gemetar, dia memasukkan kunci itu ke lubang laci meja rias dan memutarnya hingga terdengar terbuka.

Dari dalam laci yang gelap itu, Lela mengeluarkan sebuah buku harian tua yang sudah usang dan berdebu.

Perlahan, dia membuka lembaran-lembaran kertas yang sudah menguning di dalam buku tersebut. Di salah satu halamannya, terselip sebuah lembaran foto cetak yang sudah mulai pudar warnanya.

Lela menatap foto itu lekat-lekat. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh, membasahi pipinya yang berkerut. Ibu jarinya yang gemetar mengusap pelan permukaan foto tersebut, membelai wajah-wajah yang ada di sana dengan rasa rindu dan duka yang teramat dalam..

"Nyonya... Pak... Apa yang harus saya lakukan?" Ucap Lela dengan suara terisak, memecah kesunyian di dalam kamarnya.

"Selama ini saya sudah pergi sangat jauh untuk bersembunyi. Tapi kenapa tempat terkutuk itu sekarang harus dituju oleh Sri?" katanya lagi, menatap nanar ke arah selembar foto lama di tangannya.

Foto itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari kehidupan masa lalunya yang hancur dalam semalam.

Di dalam foto itu, tampak Pak Gunawan sedang merangkul mesra pinggang Bu Sri yang sedang tersenyum anggun. Di sebelah mereka, Mbok Warsih, Aji, Sumi, dan juga dirinya sendiri, Lela saat masih muda, tengah berdiri berdampingan, tersenyum begitu bahagia menatap ke arah kamera.

Sebuah potret keluarga dan pelayan yang begitu harmonis, sebelum malam berdarah di Desa Selogiri merenggut dan menghabisi nyawa mereka semua tanpa sisa.

Ya, perempuan paruh baya itu adalah Lela. Lela, si pelayan setia yang dua puluh tahun lalu terpaksa melakukan tindakan paling nekat sekaligus memilukan dalam hidupnya, mengiris perut majikannya hidup-hidup di atas tanah hutan yang dingin.

Tindakan ekstrem itu terpaksa ia lakukan demi menopang bayi merah itu agar bisa lahir ke dunia, sebuah permintaan terakhir yang penuh darah dan air mata dari sang majikan, Bu Sri, yang bertaruh nyawa di ambang maut.

Demi menyelamatkan anak itu, Lela membuang seluruh masa lalunya.

Selama dua puluh tahun penuh, ia merawat, menjaga, dan menyayangi anak itu dengan segenap jiwa raganya hingga kini tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan cerdas. Anak perempuan itu dia beri nama Sri Ayu Gunawa, sebuah nama indah yang dia rangkai dari nama kedua mendiang majikannya, sebagai bentuk penghormatan dan janji suci yang tertanam di dalam sanubarinya.

Dan di dalam kamar yang sunyi itu, Lela kembali ditarik masuk ke dalam pusaran mimpi buruk yang nyata.

Sebuah trauma hebat yang bahkan sampai detik ini masih tergambar sangat jelas di ingatan kepalanya. Bau anyir darah, suara napas yang terputus-putus, dinginnya malam di hutan Selogiri, dan jeritan tertahan dua puluh tahun silam mendadak bergaung kembali dengan begitu nyaring.

Lela mendekap foto tua itu erat-erat di dadanya, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi kenyataan.

Tempat terkutuk yang telah merenggut segalanya dari hidupnya, kini bersiap untuk memanggil pulang darah daging dari Pak Gunawan dan Bu Sri.

Tempat itu adalah tempat terkutuk, tempat di mana darah, air mata, jeritan keputusasaan, dia kubur dalam tragedi pembantaian berdarah dua dekade silam. Dan kini, takdir seolah sedang mempermainkan hidup mereka, karena tempat terkutuk itu justru memanggil pulang bayi merah yang dulu mati-matian diselamatkannya dari altar kematian.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!