Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29# Menguping Di Rumah Sendiri
"Aku kan memang sudah sembuh," jawab Valen sambil menatap Ayla dengan tatapan polos.
"Jadi apa kau akan langsung berdiri di hadapannya?" ungkap Ayla lagi.
Ia duduk di sofa tempat di samping Valen yang saat itu masih nyaman di kursi roda nya.
"Pasti, tapi bukan sekarang," ucap Valen lagi.
"Aku mengerti," Ayla mengangguk kecil.
"Lalu, apa kau benar-benar akan menyetujui permintaan nya untuk mengambil kendali urusan pesta ulang tahun Gavin?" Valen balik bertanya.
"Ya, aku akan mengurus nya," jawab Ayla.
"Kau bisa?" Lagi-lagi Valen mengajukan pertanyaan.
"Tentu saja," ucap Ayla.
Valen terdiam, dia sebenarnya menyimpan rasa penasaran yang mendalam akan jawaban sang istri barusan.
"Sebenarnya wanita seperti apa kau ini? Kenapa semakin lama aku semakin penasaran dengan mu?" batin Valen.
Sore harinya.
"Mama mau kemana?" Tanya Gavin yang saat ini melihat sang mama buru-buru keluar dari kamar sambil membawa tas dan juga kunci mobil.
"Keluar," ucap sang mama singkat tanpa menghentikan langkahnya.
"Ma, bukan kah mama baru pulang, kenapa mau pergi lagi," ucap Gavin sambil memegangi lengan sang mama.
Maya menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Gavin dengan tatapan dingin.
"Anak kecil jangan ikut campur urusan orang tua," ungkap Maya sambil menepis tangan Gavin.
"Ma! Mama pasti mau bertemu kak Danu kan? Katakan padaku apa lagi yang sedang kalian rencanakan! Jangan sentuh kak Valen lagi ma, dia sudah menderita karena kalian," ucap Gavin sambil kembali menahan sang mama.
Plak ...
Sebuah tamparan keras dari Maya kini mendarat keras di pipi Gavin.
"Berani-beraninya kau ikut campur urusan ku! Ingat Gavin, kau itu tidak lebih berguna dari Danu, jangan ikut campur atau aku akan sangat membencimu, oke lah kalau kau tidak mau membantuku tapi jangan pernah ikut campur urusan ku," ucap Maya sambil menuding Gavin.
Dia sama sekali tidak tau kalau saat itu Ayla dan Valen melihat semua apa yang dia lakukan kepada sang anak.
"Bukan kah dia sangat di manja? Kenapa mama menampar nya?" ucap Ayla kaget.
"Gavin berbeda, dia tidak pernah berada di pihak Maya, dia memang di manja di rumah ini tapi Maya sangat membencinya, karena Gavin tidak pernah menuruti keinginan Maya," jelas Valen.
Mereka terlihat sangat fokus jadi pengintip di rumah sendiri ternyata seseru itu apalagi suami istri sepertinya terlihat serfekuensi.
"Gitu ya, dia terlihat kasihan, sepertinya dia kurang mendapatkan kasih sayang dari mamanya, tapi tunggu, kalau mama nya tidak terlalu menyukai Gavin, kenapa dia mau mengadakan pesta ulang tahun?" tanya Ayla kebingungan.
"Bodoh, bukan kah aku sebelumnya sudah menjelaskan kalau dia akan mengadakan pesta ulang tahun itu untuk memperluas koneksinya," jelas Valen.
"Oh ya, aku lupa," jawab Ayla.
Sementara itu melihat Maya yang hendak lewat Valen segera memberi kode agar mereka berdua sembunyikan terlebih dahulu.
"Ma! Mama tunggu! Bagaimana dengan ulang tahun ku," ucap Gavin kembali menahan langkah sang mama dengan wajah sedih dan penuh harapan.
"Kakak ipar barumu itu, dia yang akan mengatur semuanya, sudahlah jangan halangi aku," ucap Maya yang kemudian mendorong Gavin ke samping dan kemudian meninggalkan nya.
"Ayla? Mana mungkin si kecil itu bisa melakukan semuanya," lirih Gavin, sesekali tangannya masih memegang pipinya yang sakit.
Melihat sang mama yang tidak bisa lagi dia halangi, Gavin pun memutuskan untuk kembali ke kamar nya, dari raut wajahnya dia terlihat sangat sedih dengan respon sang mama kepada dirinya.
"Valen, eh anu maksudnya apa, bagaimana ya, aku mengatakan nya," ucap Ayla seketika ngeblank.
"Aku jauh lebih tua darimu dan aku adalah suamimu, aku memang belum sempat memperhatikan cara mu memanggil ku tapi kau semakin lama semakin menjadi-jadi," ucap Valen kini semakin jengkel dengan sang istri yang mulai sudah berani padanya hingga panggilan pun tak beraturan.
"Itu dia pertanyaan nya, bagaimana? Anu, bukan, maksud ku aku harus menentukan panggilan ku untuk mu," jelas Ayla sambil menatap Valen dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Menurut mu kau pantas memanggil ku dengan sebutan apa?" tanya Valen.
"Hm, apa ya, aku juga tidak tau, bagaimana kalau mas Valen? Kak Valen?" tanya Ayla sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah sang suami.
Deg ...
Jantung Valen berdegup kencang, sangking kencang nya ia sendiri bisa mendengar degup itu setelah mendengar panggilan mas dari Ayla.
"Mas Valen, cocok tidak?" ucap Ayla sambil tersenyum.
Kuping Valen seketika memerah seperti udang yang baru saja di rebus, ini pertama kalinya dia menerima panggilan mas dari seseorang dan juga pertama kalinya Ayla tersenyum setelah seminggu di rumah mereka.
"Ternyata anak ini juga bisa tersenyum semanis itu? Heh, tidak Valen apa yang sedang kau pikirkan," batin Valen menggebu-gebu.
"Bagaimana? Cocok tidak?" ujar Ayla menunggu keputusan Valen.
"Terserah kau saja," jawab Valen canggung.
"Baiklah, sudah di tentukan ya, mas Valen," jawab Ayla sambil kembali tersenyum manis.
Sepertinya adaptasi Ayla sangat cepat dengan keluarga sang suami.
Namun yang tidak dia ketahui adalah perasaan canggung Valen ketika mendengar panggilan mas dari nya.
"Oh ya, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Ayla kepada sang suami.
"Ke kamar Gavin," jawab Valen singkat.
Ayla mengerti, ia juga melihat kalau Valen sangat menyayangi sang adik meskipun selalu mendidik nya dengan cara keras.
"Baiklah," jawab Ayla segera mendorong kursi roda Valen menuju kamar Gavin.
Setibanya di sana.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ayla mengetuk pintu kamar Gavin secara perlahan sebanyak tiga kali.
"Apa dia akan membuka pintu dengan kondisi yang sekarang ini?" tanya Ayla.
"Dia akan membuka," ucap Valen.
Benar saja, tak lama kemudian pintu tersebut terbuka, terlihat Gavin yang berdiri di hadapan Ayla dan Valen, matanya terlihat sedikit sembab sepertinya dia menangis.
"Kak, Ayla, kenapa kalian ke kamar ku?" tanya Gavin.
"Ayo ke mall," ucap Valen dengan wajah datar.
"Hah?" ucap Ayla dan Gavin kompak.
Ayla sendiri mengira kalau Valen ke kamar sang adik untuk bicara dengan nya, siapa sangka tebakan nya sama sekali tidak benar.
"Kok tiba-tiba ke mall," ungkap Gavin lagi.
"Ayla akan mengambil alih urusan pesta ulang tahun mu, apa kau tidak ingin mencari pakaian baru dan berbelanja?" ucap Valen.
Ya, membujuk Gavin bukan lah dengan melemparkan kata-kata manis, bagi Valen membujuk seseorang itu dengan barang-barang mewah bukan dengan kata-kata manis.
"Apa Ayla juga akan ikut?" tanya Gavin lagi.
Valen mengangguk, ia tau Gavin sangat mendambakan adik perempuan karena kehidupan nya yang terlalu kesepian jadi Valen mengerti banyak soal adik nya itu.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya