NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:836
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan di Pulau Sunyi

Perjalanan menuju villa pribadi Ardika terasa panjang dan penuh ketegangan yang tersembunyi. Villa itu terletak di sebuah pulau kecil yang hanya bisa dijangkau dengan perahu motor pribadi. Tempat yang sempurna untuk mengisolasi seseorang, pikir Indri, sangkar yang telah dipersiapkan dengan matang. Saat mereka tiba, suasana villa itu mewah namun terasa sunyi, terpencil. Tidak ada staf, hanya mereka berdua.

"Aku sengaja memilih tempat ini, Indri," kata Ardika, suaranya rendah dan serak saat mereka memasuki ruang tamu yang luas. "Tempat di mana hanya ada kita. Di mana kau aman bersamaku." Ia memegang kedua tangan Indri, matanya menatap lekat. "Aku sudah mengurus semuanya. Hisoka, sindikat itu... semuanya sudah lenyap dari hidup kita. Aku mengorbankan banyak hal, Indri, demi menghapus jejak keluargaku, demi membuatmu aman."

Indri hanya mengangguk, menahan diri agar tidak tertawa sinis. Mengorbankan Hisoka? Mengakui kejahatan keluarganya secara langsung? Ardika benar-benar telah terjebak dalam kesombongannya sendiri, berpikir bahwa ia telah berhasil memanipulasi Indri sepenuhnya. Kau tidak tahu apa yang menunggumu, Ardika.

"Terima kasih, Ardika," bisiknya, berusaha membuat suaranya terdengar lembut dan penuh syukur. Ia sengaja membiarkan matanya berkaca-kaca, meniru kelemahan yang ia tahu Ardika dambakan. "Kau selalu melindungiku." Ia membiarkan Ardika menariknya mendekat, memeluknya. Saat bibir Ardika menyentuh bibirnya, Indri merasakan geliat kemarahan yang membara di bawah permukaan. Sentuhan itu terasa seperti racun, menjijikkan, namun ia harus menahannya. Ia harus tetap berakting.

Malam itu, Indri memainkan perannya dengan sempurna. Ia menjadi wanita yang lemah, yang membutuhkan pelukan Ardika, yang ingin melupakan masa lalunya yang kelam. Ia membiarkan Ardika memanjakannya, membelainya, meyakinkannya bahwa di tempat ini, mereka akan memulai hidup baru. Setiap sentuhan Ardika terasa seperti api yang menjilat kulitnya, setiap kata cintanya terdengar seperti bisikan kehancuran.

"Kau tidak perlu takut lagi, Indri," bisik Ardika di telinganya, saat mereka berbaring di ranjang mewah villa itu, cahaya bulan menyinari ruangan. "Aku akan menjagamu. Aku akan memastikan kau bahagia. Aku akan melakukan apa pun untukmu."

Indri hanya tersenyum lemah, memejamkan mata, membiarkan air mata palsunya mengalir. Ia tahu, di balik semua kata-kata manis itu, Ardika telah mengungkapkan kejahatannya. Ia telah mengakui bahwa ia sengaja mengorbankan Hisoka, bahwa ia telah menghilangkan semua jejak keterlibatan keluarganya. Pengakuan itu terekam jelas di benaknya, dan di recorder mini yang tersembunyi di balik kancing gaunnya.

"Kau tahu," Ardika melanjutkan, suaranya kini lebih rendah, lebih penuh rahasia. "Aku selalu tahu kau cerdas. Tapi aku juga tahu kau merindukan tempat di mana kau bisa menjadi dirimu sendiri. Tanpa beban masa lalu." Ia menarik Indri lebih dekat, mencium rambutnya. "Aku akan membawamu ke tempat itu, Indri. Sebuah tempat di mana tidak ada yang tahu siapa kita. Sebuah awal yang baru."

Indri menahan napasnya. Ini adalah momen yang ia tunggu. Kesempatan untuk memancing pengakuan terakhir, untuk mengunci Ardika dalam kesombongannya. "Tempat seperti apa?" tanyanya, suaranya terdengar gemetar.

Ardika tertawa kecil, tawa yang dingin dan penuh kemenangan. "Tempat di mana kita bisa memulai semuanya dari nol. Tanpa campur tangan siapa pun. Tanpa masa lalu yang menghantui." Ia menarik Indri sedikit menjauh, menatap matanya dalam-dalam. "Mulai besok, kita akan pergi ke tempat di mana tak ada orang yang tahu siapa kita."

Indri balas menatapnya, senyum tipis menghiasi bibirnya. Senyum yang sarat dengan kebencian yang tersembunyi, dengan rencana yang telah ia siapkan dengan matang. Ia merasakan gejolak kemarahan yang luar biasa setiap kali Ardika menyentuhnya, namun ia berhasil mengendalikannya, menyimpannya, menjadikannya bahan bakar untuk kehancuran pria itu. Ia adalah pengendali situasi, dingin dan penuh perhitungan. Ardika, sebaliknya, tertipu oleh nafsunya sendiri, terbuai oleh sandiwara Indri.

"Aku tidak sabar," jawab Indri, suaranya pelan namun tegas. Di dalam hatinya, ia tahu, ini bukanlah awal yang baru. Ini adalah akhir dari Ardika. Dan ia akan memastikan itu terjadi.

Ardika memeluknya erat, seolah tidak ingin melepaskannya. Indri merasakan sebuah benda keras menyentuh punggungnya di balik gaun. Itu adalah recorder yang ia sembunyikan. Ia berhasil mendapatkan pengakuan Ardika. Kunci kehancuran pria itu kini ada di tangannya.

Saat fajar mulai menyingsing, Indri merasakan Ardika bergerak di sampingnya. Ia berpura-pura masih terlelap, merasakan napas Ardika yang teratur di lehernya. Ardika bangun, beranjak dari ranjang, dan berjalan menuju lemari pakaian. Indri membuka matanya perlahan, mengawasinya dari balik selimut.

Ardika membuka pintu kaca besar yang mengarah ke balkon. Ia berdiri di sana, membelakangi Indri, menatap laut lepas. Angin laut menerpa rambutnya.

"Mulai besok," gumam Ardika, suaranya nyaris tak terdengar, "kita akan pergi ke tempat di mana tak ada orang yang tahu siapa kita."

Indri menahan napasnya. Ini adalah saatnya. Ia bangkit perlahan, bergerak tanpa suara di lantai kayu villa yang dingin. Ia mendekati Ardika dari belakang, tangannya meraih sesuatu yang tersembunyi di balik pinggang Ardika. Sebuah pistol.

Ardika menoleh, terkejut melihat Indri berdiri di belakangnya, dengan pistol teracung ke arahnya. Matanya melebar.

"Apa... apa yang kau lakukan, Indri?" tanyanya, suaranya tercekat.

Indri hanya tersenyum, senyum dingin yang mematikan. "Aku hanya memastikan kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Ardika."

"Kau..." Ardika tergagap, ketakutan mulai terlihat di matanya. "Kau tidak mungkin..."

Indri membiarkan senyumnya melebar. "Aku akan pergi ke tempat itu bersamamu, Ardika. Tapi bukan sebagai kekasihmu. Tapi sebagai hakimmu."

Ardika melangkah mundur, matanya menyapu sekeliling. Ia melihat lampu perekam kecil yang tersembunyi di sudut ruangan, terpantul samar di kaca balkon. Wajahnya pucat pasi. "Kau... kau merekamku?"

"Semua pengakuanmu," Indri membalas, suaranya tenang namun penuh ancaman. "Terutama tentang orang tuaku."

Ardika menyadari jebakannya telah berbalik padanya. "Tidak... tidak mungkin..."

Indri maju selangkah, pistol di tangannya tak bergeming. "Selamat tinggal, Ardika."

"Tunggu!" Ardika berteriak panik. "Jangan lakukan ini! Kita bisa bicara!"

Indri hanya menggelengkan kepalanya perlahan. "Kita sudah selesai bicara, Ardika. Sekarang, waktunya membayar."

Tepat saat Indri hendak menarik pelatuk, sebuah mobil mewah berhenti mendadak di depan villa, diikuti suara beberapa mobil lain yang menyusul. Lampu sorot menyilaukan mata mereka.

"Siapa itu?" tanya Ardika, panik.

Indri menoleh ke arah mobil-mobil itu, sebuah seringai dingin tersungging di bibirnya. Ia tahu siapa yang datang. Bermain api dengan Indri Izanami punya konsekuensi, Ardika. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai, membiarkannya berguling menjauh.

Ardika menatap Indri, lalu ke arah mobil-mobil yang mendekat. Ia sadar ia telah kalah. "Kau..."

Sebelum Ardika sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu villa terbuka paksa. Beberapa pria berseragam hitam, bukan pengawal Ardika, masuk dengan sigap. Mereka segera mengepung Ardika, mengarahakan senjata padanya.

"Ardika Prawira, Anda ditangkap atas tuduhan pencucian uang, konspirasi, dan pembunuhan," ujar salah seorang petugas, suaranya tegas dan dingin.

Ardika tampak terpukul. Matanya beralih ke Indri, penuh dengan ketidakpercayaan dan kebencian. "Kau... kau mengkhianatiku..."

Indri menatapnya tanpa emosi. "Aku hanya memastikan keadilan ditegakkan, Ardika."

Saat Ardika digelandang keluar, ia menoleh ke arah Indri sekali lagi, matanya berkilat penuh dendam. "Ini belum berakhir, Indri. Kau akan menyesalinya."

Indri hanya membalas tatapannya dengan keheningan yang dingin. Ia tahu, ini baru permulaan. Ardika telah jatuh, tetapi permainan yang lebih besar baru saja dimulai.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!