"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Tumpahan Wine dan Tatapan yang Membeku
BAB 32: Tumpahan Wine dan Tatapan yang Membeku
Udara siang di pinggiran kota yang biasanya terasa sejuk dengan embusan angin sawah, mendadak berubah menjadi sangat pekat dan berat. Suara gemercik air kolam dan deru dedaunan bambu seolah teredam oleh ketegangan tidak kasat mata yang dibawa oleh iring-iringan mobil mewah hitam legam itu. Pengunjung rumah makan lesehan yang sebagian besar orang lokal dan pelancong udik, seketika senyap. Mereka menatap sungkan pada barisan pria berjas hitam yang berdiri tegap dengan saku dada menonjol—menjaga setiap sudut tempat itu dengan proteksi yang luar biasa berlebihan.
Di tengah-tengah pondok bambu utama yang sengaja dikosongkan oleh pemilik rumah makan, duduk sang raja korporat, Adrian Alkatiri.
Empat tahun waktu berlalu, dan pria itu telah bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih matang, perkasa, namun juga berkali-kali lipat lebih dingin dan kejam. Setelan jas tiga bagian sewarna abu-abu arang melekat sempurna di tubuh tegapnya yang atletis. Rambut hitam tebalnya disisir rapi ke belakang, mengekspos garis rahangnya yang sekeras batuan granit. Kacamata baca yang dulu sering ia gunakan saat menjadi dosen keren di kampus kini telah lenyap, menyisakan sepasang mata elang yang menatap kosong ke arah hamparan sawah. Tatapannya begitu datar, mati rasa, dan memancarkan aura birahi yang terbelenggu rapat oleh dendam masa lalu.
Sejak malam kelam di mana Kiara merobek kontrak dan pergi membawa miliaran rupiah dari ibunya, Adrian menutup rapat hatinya. Ia mengubur dirinya dalam kerja gila-gilaan hingga berhasil mendepak pengaruh ibunya dari Alkatiri Group. Baginya, wanita hanyalah makhluk oportunis. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling kelam, bayangan desah napas Kiara di atas seprai sutra hitam malam itu masih terus menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata.
"Kiara, cepat! Tolong antarkan minuman ini ke pondok utama. Ingat, jaga sikapmu, dia itu CEO besar dari Jakarta yang mau beli lahan di seberang!" bisik pemilik rumah makan dengan wajah panik sekaligus antusias, menyodorkan sebuah nampan kayu besar ke tangan Kiara.
Kiara, yang sejak tadi berdiri mematung di balik pilar dapur dengan jantung yang berdegup ekstrem, merasa seluruh persendiannya meloloskan diri. Lemas. Napasnya tercekat di tenggorokan. Mengapa dari seluruh tempat di dunia ini, takdir harus membawanya kembali berhadapan dengan Adrian di tempat pelariannya yang terpencil?
Kiara menatap penampilannya sendiri lewat pantulan nampan perak di atas nampan kayu. Kebaya lurik cokelat tanah yang sudah sedikit pudar warnanya, kain batik murahan sewarna semak kering, dan rambut yang digelung asal dengan tusuk konde bambu. Ia bukan lagi mahasiswi cantik pujaan sang profesor. Ia hanyalah seorang pelayan, seorang waitress udik yang berjuang mati-matian demi sekeping koin untuk membeli susu Arka. Sifat tangguhnya berbisik, 'Bertahanlah, Kiara. Demi anakmu. Tundukkan kepalamu, dia tidak akan mengenali pelayan miskin seperti ini.'
Dengan tangan yang sedingin es, Kiara melangkah keluar. Setiap derap langkah kakinya di atas jembatan bambu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi mati.
Saat tiba di pondok utama, aroma maskulin mint yang sangat familiar langsung menyergap indra penciumannya, memicu linu hebat di dadanya. Adrian tidak menoleh. Pria itu masih fokus menatap layar tablet di tangannya dengan kening berkerut dalam, memancarkan aura ketidaksabaran yang kental.
"Si... silakan, Pak. Ini minumannya," ucap Kiara. Ia sengaja mengubah intonasi suaranya menjadi lebih serak, berat, dan dalam, sementara kepalanya menunduk begitu dalam hingga dagunya hampir menyentuh kerah kebaya luriknya.
Kiara meletakkan gelas kristal dengan sangat hati-hati. Namun, saat tangannya yang gemetar hebat mencoba menuangkan wine dingin dari botol kaca, matanya tanpa sengaja menangkap lipatan urat-urat seksi di punggung tangan Adrian—tangan yang dulu pernah mengunci jemarinya di atas ranjang dengan begitu posesif.
Deg.
Gumpalan rasa sesak dan panik yang luar biasa mendadak menghantam ulu hati Kiara. Fokusnya buyar seketika. Tangannya kehilangan kendali, dan ujung botol kaca itu menyenggol bibir gelas.
BYUR!
Cairan merah pekat itu tumpah, membanjiri permukaan meja bambu dan memercik dengan sangat sukses, mengotori pergelangan tangan hingga lengan kemeja sutra putih mahal yang dikenakan Adrian.
"Bodoh! Apa kamu tidak punya mata?!"
Bentakan bariton yang teramat dingin, tajam, dan sarat akan otoritas mutlak itu menggelegar, memotong seluruh suara gemercik air kolam. Adrian berdiri dengan gerakan yang teramat cepat, membuat kursi bambu di belakangnya tergeser kasar. Wajah tampannya menegang hebat, dipenuhi oleh kilat kemarahan yang membara karena rutinitas sempurnanya diganggu oleh kecerobohan seorang pelayan udik.
Tanpa belas kasihan, tangan kekar Adrian bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Kiara dengan sangat kasar dan kuat, bermaksud untuk memaki pelayan tidak tahu diri ini. Kuatnya cengkeraman Adrian membuat nampan kayu di tangan Kiara terlepas, jatuh menghantam lantai dengan bunyi dentuman yang keras.
"Lihat apa yang kamu lakukan pada kemejaku, pelayan m—"
Kalimat Adrian mendadak terputus di udara. Suaranya tercekat di kerongkongan.
Karena sentakan kasar itu, Kiara terpaksa mendongak, menatap langsung ke arah pria yang mencengkeramnya. Di bawah pendar sinar matahari siang yang menembus celah atap rumbia, sepasang mata elang Adrian langsung mengunci manik mata cokelat Kiara yang kini berkaca-kaca, memancarkan kombinasi rasa sakit fisik dan kepedihan batin yang teramat pekat.
Waktu seolah berhenti berputar. Seluruh dunia di sekeliling mereka mendadak lenyap, menyisakan kesunyian yang mencekam sekaligus menyakitkan.
Adrian membeku total. Genggamannya pada pergelangan tangan Kiara tidak mengendur, namun tubuh tegapnya menegang kaku bak patung batu. Sepasang matanya memindai setiap jengkal wajah di hadapannya. Empat tahun ia membangun dinding kebencian, mengutuk nama wanita yang mengkhianati cintanya demi uang. Namun siang ini, di sebuah warung makan udik di pinggiran kota, wanita itu berdiri di depannya dengan seragam kebaya lurik murahan dan wajah yang tampak lebih kurus namun tetap menyajikan kecantikan yang selalu memicu birahi gilanya.
"Kiara...?" geram Adrian rendah, suara baritonnya bergetar hebat antara rasa tidak percaya, dendam yang mendidih, dan letupan kerinduan terlarang yang selama empat tahun ini ia pasung mati-matian.
Cengkeraman tangan Adrian beralih naik, mencengkeram kedua bahu mungil Kiara dengan sangat posesif, menarik tubuh wanita itu hingga dada mereka berbenturan tanpa jarak. Adrian menatap kebaya lurik cokelat yang melekat di tubuh Kiara dengan pandangan mata yang berkilat pedas, meremehkan, sekaligus sarat akan rasa terluka yang mendalam.
"Jadi... di sini tempat pelarian sang wanita tangguh?" desis Adrian tepat di depan wajah Kiara, napasnya yang memburu panas menerpa permukaan kulit wajah mantan istrinya. "Menjadi pelayan murahan di tempat udik seperti ini? Katakan padaku, Kiara... ke mana perginya uang miliaran rupiah yang kamu peras dari ibuku empat tahun lalu, hm? Apa sudah habis kamu gunakan untuk membiayai hidupmu yang menyedihkan ini?!"
Air mata yang sejak tadi ditahan Kiara akhirnya lolos, mengalir membasahi pipinya yang pucat. Tuduhan Adrian begitu kejam, menusuk tepat di jantungnya. Ia ingin berteriak bahwa ia melakukan semua ini demi menyelamatkan anak mereka, namun topeng ketangguhannya harus tetap ia pasang demi keselamatan Arka yang saat ini sedang berada di pondok belakang.
"Lepaskan saya, Pak," lirih Kiara, mencoba menatap Adrian dengan pandangan sedingin mungkin meski hatinya hancur berdarah-darah. "Anda salah orang. Saya bukan Kiara yang Anda maksud. Saya hanya pelayan miskin di tempat ini."
Adrian terkekeh sangat tipis—sebuah kekehan dingin, kejam, dan dipenuhi oleh binar kepemilikan yang berbahaya. Pria itu semakin merapatkan tubuhnya, memenjarakan Kiara dalam kuasanya.
"Salah orang?" bisik Adrian seksi namun mematikan di telinga Kiara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat saat aroma tubuh Kiara yang bercampur keringat tipis justru membakar kembali gairah purba di dalam darah sang CEO. "Aku bisa salah mengenali seluruh wanita di dunia ini, Mahasiswaku. Tapi aku tidak akan pernah bisa salah mengenali aroma tubuhmu, kelembutan kulitmu, dan cara matamu menatapku seperti ini. Kamu berutang penjelasan padaku, Kiara. Dan kupastikan, kamu tidak akan bisa lari lagi dariku malam ini."