NovelToon NovelToon
Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Setelah Mati karena KDRT, Aku Balas Dendam ke Seluruh Keluarga

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Reinkarnasi / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:198.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.

Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!

Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Di dalam ruang mediasi yang kini mulai kembali tenang, dua orang aparat—polisi setempat dan kepala wanita dari kantor kelurahan—duduk berhadapan dengan Aminah.

Suasana tidak lagi sekacau sebelumnya, tetapi sisa ketegangan masih terasa.

Kepala wanita itu menarik napas pelan, lalu membuka percakapan dengan nada lebih lembut.

“Bagaimanapun,” katanya hati-hati, “Ibu Shinta itu orang yang lebih tua. Sebagai menantu, kamu harus berusaha lebih sabar.”

Polisi di sampingnya mengangguk.

“Betul,” tambahnya. “Walaupun ada kesalahan dari pihak mertua, kekerasan tetap tidak bisa dibenarkan. Itu melanggar hukum.”

Nada mereka tidak lagi menekan, tetapi lebih seperti nasihat.

Aminah duduk tegak.

Wajahnya tenang, tanpa sedikit pun tanda gelisah.

“Saya tidak melakukan kekerasan,” katanya perlahan.

Jawaban itu membuat keduanya saling pandang.

Namun kali ini, Aminah tidak berhenti sampai di situ.

Dia menatap langsung ke arah mereka.

“Saya ingin bertanya,” lanjutnya. “Apakah kalian pernah mendengar tentang istri pertama Andre?”

Kepala wanita itu sedikit terkejut.

“Istri pertama?” ulangnya.

Aminah mengangguk.

“Iya. Dia meninggal tidak lama setelah menikah.”

Ruangan kembali hening.

“Selama hidupnya,” lanjut Aminah, suaranya tetap datar, “dia selalu memiliki luka di tubuhnya. Hampir sepanjang tahun.”

Polisi mengernyit.

Kepala wanita itu menggeleng perlahan.

“Saya… belum pernah mendengar hal itu,” katanya jujur.

Aminah tersenyum tipis.

Senyum yang tidak benar-benar bahagia.

“Tidak aneh,” katanya. “Hal seperti itu biasanya tidak disebarkan keluar.”

Kalimat itu menggantung.

Menyisakan makna yang jelas, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Dia lalu menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya, nada suaranya sedikit berubah.

Lebih lembut.

Lebih… rapuh.

“Saya menikah secara sah,” katanya. “Dan saya benar-benar ingin hidup rukun.”

Kepala wanita itu memperhatikan dengan saksama.

Namun Aminah melanjutkan.

“Tapi sejak hari pertama saya masuk rumah itu…” katanya, matanya sedikit meredup, “keluarga mereka sudah berusaha menyulitkan saya.”

Dia mulai menceritakan semuanya.

Tentang hari pertama ketika Nenek Shinta mendorong anak-anak—Rudi, Budi, dan Siti—untuk menyakitinya.

Tentang bagaimana dia akhirnya kembali ke rumah orang tuanya karena tidak tahan.

Tentang Andre yang menjemputnya kembali.

Dan bagaimana, setelah dia pulang, Nenek Shinta kembali menghasut Andre untuk memukulnya.

“Dia mengejar saya,” lanjutnya pelan. “Lalu dia terjatuh sendiri dan terluka.”

Dia menatap polisi itu.

“Bukan saya yang memukulnya.”

Keduanya terdiam.

Tidak ada yang langsung menyela.

Aminah lalu melanjutkan ke kejadian lain.

“Untuk masalah pintu,” katanya, “saya hanya ingin masuk ke rumah saya sendiri.”

Nada suaranya kembali tegas.

“Saya dikunci di luar. Saya sudah mengetuk lama, tapi tidak ada yang membuka.”

Dia berhenti sejenak.

“Pintunya sudah tua. Jadi ketika saya menendangnya… pintu itu langsung rusak.”

Penjelasannya sederhana.

Masuk akal.

“Dan soal Ibu Shinta,” lanjutnya, “saya tidak pernah menyentuhnya.”

Dia menatap lurus.

“Darah di wajahnya… saya juga tidak tahu dari mana asalnya.”

Polisi itu menghela napas pelan.

Kepala wanita dari kelurahan terlihat berpikir.

Namun Aminah belum selesai.

“Ibu Shinta setiap hari menyebarkan cerita bahwa saya menyiksa orang,” katanya. “Tetangga jadi salah paham pada saya.”

Nada suaranya tidak meninggi.

Namun jelas ada kepahitan di dalamnya.

Lalu, ketika ditanya lebih lanjut—

“Kenapa menurutmu Ibu Shinta begitu memusuhimu?” tanya kepala wanita itu.

Aminah tidak langsung menjawab.

Dia menunduk sedikit.

Seolah ragu.

Namun kemudian dia berkata pelan—

“Mungkin… karena dia takut.”

“Takut?” ulang polisi.

Aminah mengangguk.

“Takut ada orang yang akan mengambil cucu-cucunya.”

Dia tidak menyebutkan lebih jauh.

Namun maksudnya jelas.

Ruangan kembali hening.

Setelah semua penjelasan itu—

Bahkan dua orang yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai kasus itu pun mulai merasa simpati.

Cerita Aminah terdengar masuk akal.

Lebih konsisten.

Lebih tenang.

Namun pada akhirnya—

Mereka tetap menjalankan prosedur.

“Kami mengerti situasimu,” kata kepala wanita itu pelan. “Tapi sebaiknya tetap mengutamakan kedamaian dalam keluarga.”

Polisi itu mengangguk.

“Coba selesaikan dengan baik. Jangan sampai berujung konflik yang lebih besar.”

Aminah hanya mengangguk.

Dia tidak berdebat.

Dia tahu—

Akhirnya memang akan seperti ini.

Setelah itu, mereka mengisi formulir mediasi.

Beberapa tanda tangan dibubuhkan.

Proses resmi selesai.

Aminah berdiri.

“Terima kasih,” katanya sopan.

Lalu dia berjalan keluar dengan langkah tenang.

Di ruangan sebelah—

Nenek Shinta baru saja selesai mengeluh.

Wajahnya masih penuh emosi, tetapi matanya bersinar penuh harap.

Dia yakin—

Setelah semua yang dia katakan, polisi pasti akan menghukum Aminah.

Namun saat dia melihat—

Aminah berjalan keluar dengan santai, bahkan sempat bercanda ringan dengan salah satu petugas—

Ekspresinya langsung berubah.

“Apa ini?!” teriaknya.

Dia langsung berdiri.

“Kenapa dia tidak ditahan?!”

Amarahnya kembali meledak.

Dia bahkan berguling di lantai, menjerit seperti anak kecil.

“Ini tidak adil! Tangkap dia! Tangkap dia!”

Polisi dan kepala wanita itu hanya bisa saling pandang.

Wajah mereka lelah.

Akhirnya, mereka hanya bisa menenangkan dan mengantarkan Nenek Shinta pulang.

Di sepanjang jalan—

Mereka mencoba mengkritik Aminah secara lisan, demi meredakan amarah wanita tua itu.

Namun Aminah hanya menjawab dengan manis.

“Iya, saya akan berusaha lebih sabar.”

“Iya, saya akan memperbaiki sikap.”

Jawaban-jawabannya halus.

Tidak memberi celah.

Justru membuat Nenek Shinta semakin tidak punya tempat untuk meluapkan amarah.

Keesokan harinya—

Andre akhirnya pulang dari rumah sakit.

Tangannya masih dibalut.

Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam.

Begitu masuk rumah—

Hal pertama yang dia lihat adalah barang-barangnya.

Semua—

Dibuang ke ruang barang bekas.

“Ini apa?” suaranya langsung meninggi.

Aminah yang sedang duduk santai di ruang tengah hanya melirik sekilas.

“Aku tidak suka barang yang berantakan di kamar,” jawabnya ringan.

Andre langsung meledak.

“Itu barangku!”

“Sekarang bukan,” balas Aminah tenang.

Pertengkaran pun tidak terelakkan.

Suara mereka terdengar sampai ke dapur.

Malam harinya—

Andre mencoba masuk ke kamar Aminah.

Pintu tidak dikunci.

Dia mendorongnya pelan.

Namun baru satu langkah masuk—

“Keluar.”

Suara dingin itu langsung menghentikannya.

Andre mengangkat kepala.

“Aminah—”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya—

Aminah bangkit.

Dan—

“Buk!”

Tendangan keras langsung mengenai tubuhnya.

Andre terpental keluar kamar.

Tangannya yang masih belum pulih hampir kembali cedera.

“Gila kamu!” teriaknya.

Namun pintu sudah tertutup.

Tidak ada jawaban.

Nenek Shinta yang melihat kejadian itu langsung panik.

Dia berlari menghampiri Andre.

“Aduh… anakku…” katanya cemas.

Namun kemudian—

Ekspresinya berubah.

Menjadi penuh penyesalan.

“Ibu salah…” gumamnya. “Seharusnya ibu tidak menyetujui pernikahan ini…”

Dia menatap ke arah kamar Aminah dengan marah.

“Lebih baik kita cari perempuan lain saja,” katanya. “Yang lebih patuh.”

Andre menghela napas kasar.

“Istri seperti ini…” katanya dingin, “tidak bisa dibawa keluar.”

Dia menggeleng.

“Aku kira dia tidak punya pendukung. Mudah diatur.”

Matanya menyipit.

“Ternyata… sangat sulit dikendalikan.”

Nenek Shinta mengomel.

“Istri yang didapat malah bikin ibu mertua marah! Bahkan tidak mengizinkan suami masuk kamar!”

Dia mendengus kesal.

“Lebih baik diperlakukan seperti dewa saja sekalian!” katanya sinis. “Disembah tiga kali sehari!”

Andre terdiam.

Namun perlahan—

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Senyum yang tidak menyenangkan.

“Perempuan sekeras apa pun…” katanya pelan, “pasti bisa dijinakkan.”

Matanya berkilat.

Dia menoleh ke arah ibunya.

“Ibu,” katanya rendah, “cari orang tua di desa. Yang punya… obat itu.”

Nenek Shinta tertegun sejenak.

Namun kemudian—

Dia mengerti.

Wajahnya perlahan berubah.

Senyum tipis muncul.

Senyum yang sama gelapnya.

“Baik,” katanya.

1
syska
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ sᴇʀɪᴜs... ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴋᴇʀᴇɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
syska
😭😭😭
syska
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ.... ɢᴏᴏᴅ ᴊᴏʙ ᴀᴍɪɴᴀʜ...👍👍
WHATEA SALA
Beli rumah pake ngomong sih...
Fitrian
yang ini dina yang ono siti🤔🤔🤔
Fitrian
loh 3 anak🤔
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔
Rangiku Gin
kerenn 🔥🤭
Rangiku Gin
🔥😈
Rangiku Gin
mantapp 🔥🥰
Rangiku Gin
astagaaa 🔥😈
Rangiku Gin
terharuuuu 😩😩
Rangiku Gin
😩😢
Rangiku Gin
omo 🔥😈
Rangiku Gin
🔥😈
Anifa
kenapa seperti di ulang2 ceritanya, bisa nggak sih bikin cerita 🙄
Anifa
aku skip skip ceritanya kek di ulang2 🙄
Yuyun Zampiet
mohon maaf thor, aku baca nya skip aja, karena sdh bbrp BAB kok ceritanya mutar2 naik turun seperti tidak nyambung, bingung aku 🙏
Yuyun Zampiet
knp gak langsung urus surat cerai aj
Yuyun Zampiet
murah sekali harga rumah, aku juga pengen dpt rumah murah🤣
Yuyun Zampiet
ya ampun, ajaran sesat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!