NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Salju gugur lebih lebat saat Mu Jin menjejakkan kakinya di gerbang Kota Karang Es, pusat perdagangan terbesar sekaligus wilayah perbatasan netral yang memisahkan wilayah tengah dari domain kekuasaan utara. Kota ini dibentengi oleh dinding batu cadas hitam setinggi sepuluh tombak, menjadi tempat berkumpulnya para pedagang senjata, buronan, hingga orang-orang buangan dari berbagai penjuru.

Mu Jin melangkah lambat menembus kerumunan. Mantel bulu hitamnya yang robek-robek menutupi sebagian besar bekas luka baru di tubuhnya. Di punggungnya, pedang aneh bersegi empat yang terbungkus sarung kulit serigala es, pemberian terakhir Jiang Xia, terikat kokoh. Wajahnya yang dingin dan matanya yang mati membuat orang-orang di sekitarnya secara refleks memberi jalan, mengendus aroma darah dan kematian yang pekat dari sosoknya.

Di sebuah persimpangan jalan kota yang ramai, berdiri bangunan tiga lantai bergaya kuno: Kedai Arak Sembilan Angin. Tempat ini adalah pusat pertukaran informasi paling liar bagi siapa saja yang ingin mendengar omong kosong Murim tanpa memihak faksi mana pun.

Mu Jin melangkah masuk, memilih duduk di sudut ruangan yang paling gelap di dekat jendela. Dia memesan semangkuk air hangat dan sepotong daging kering, tanpa memedulikan tatapan penuh curiga dari para penjudi dan pemabuk yang memenuhi kedai.

Dari balik keremangan meja sudutnya, telinga Mu Jin menyerap bisikan-bisikan kasar yang bergema di dalam kedai.

“Kau dengar kabar terbaru dari Puncak Awan Putih?” bisik seorang pedagang senjata di meja tengah sambil meneguk araknya. “Pahlawan Suci Lu Chen baru saja membagikan gandum dan obat-obatan gratis ke wilayah perbatasan. Sungguh pria berhati emas!”

“Emas kepala bapakmu!” sergah seorang pendekar bayaran berwajah parut di sebelahnya. “Itu cuma cara halus dia menancapkan pengaruhnya. Di utara, Benteng Serigala Hitam milik Lin Yu sudah menyiagakan pasukannya. Katanya tinggal tunggu waktu sampai kedua pihak itu bentrok total.”

“Tapi yang aneh, kemarin malam utusan Puncak Awan Putih yang berjaga di perbatasan mati mengenaskan,” timpal yang lain. “Siapa lagi kalau bukan kelakuan orang-orangnya Lin Yu?”

“Atau mungkin ada iblis lain yang sedang merayap...”

Mu Jin tidak membalas, tidak pula mengalihkan pandangannya. Nama Lu Chen dan Lin Yu bergema di telinganya tanpa memicu emosi apa pun. Panggung kebaikan palsu Lu Chen dan perang kekuasaan Murim hanyalah omong kosong bagi orang-orang yang haus jabatan.

Tangan kanannya perlahan merayap di bawah meja, mencengkeram erat sobekan kain linen milik Jiang Xia yang dia simpan di dalam saku mantelnya.

Kota Karang Es ini hanyalah tempat transit baginya untuk memulihkan sisa kekuatan, menyusun kembali tulang-tulangnya yang retak, dan mengasah besi bersegi empatnya sebelum melangkah sendirian menuju Puncak Awan Putih.

***

Malam jatuh di Kota Karang Es, membawa serta hembusan angin utara yang menggigit kulit. Namun, tidak seperti biasanya, lorong-lorong batu yang dingin dan muram kini dinyalakan oleh ratusan lampion kertas merah dan kuning yang digantung di sepanjang atap kedai.

Malam ini adalah puncak Festival Musim Dingin, sebuah perayaan tahunan rakyat perbatasan untuk menyambut pergantian musim dan memohon perlindungan dari ganasnya badai es utara.

Suara gelak tawa rakyat biasa, riuh rendah pedagang kembang gula, dan dentang musik petik dari para pemusik jalanan memenuhi udara. Gelombang manusia tumpah ruah ke jalanan utama. Anak-anak kecil berlarian membawa lentera kayu berbentuk kelinci, sementara para orang tua tersenyum hangat, menikmati momen singkat kedamaian di tanah yang biasanya penuh dengan ancaman pertumpahan darah.

Di tengah kehangatan dan keriuhan festival itu, Mu Jin berjalan membisu.

Sosoknya yang tinggi tegap, terbungkus mantel bulu hitam yang koyak dan kusam, tampak bagai bayangan kelam yang membelah lautan warna-warni lampion. Wajahnya yang keras dipenuhi jaringan bekas luka, dan matanya tetap mati, tak tersentuh oleh kehangatan di sekelilingnya. Di punggungnya, pedang aneh bersegi empat yang terbungkus sarung kulit serigala es terasa berat dan dingin, menekan bahunya dengan ingatan yang tak pernah usai.

Orang-orang yang bersimpangan jalan dengannya secara refleks menyibak ke samping. Mereka merasakan aura kematian dan darah yang begitu pekat memancar dari tubuh pria itu, sebuah aura yang tak sanggup disembunyikan bahkan oleh wangi dupa dan asap makanan panggang yang memenuhi jalanan.

Mu Jin berhenti di depan sebuah kedai kecil di tepi jalan. Seorang pria tua dengan panggangan bambu sedang sibuk membalik tusukan daging asap dan kue jagung hangat.

Asap manis gurih merebak ke udara, memicu ingatan yang mendadak menghantam kepala Mu Jin bagai pukulan besi.

Tiga tahun lalu, di Lembah Nian, dia juga pernah berdiri di tengah festival seperti ini. Dia ingat betapa riangnya para tetangganya, betapa lucunya anak-anak yang berlarian, dan betapa sederhananya kebahagiaan yang dia miliki saat itu sebagai seorang tukang kayu. Lalu, ingatan itu bergeser ke dua bulan lalu di Desa Lemah Salju, saat Jiang Xia berdiri canggung di dekat tungku, menyajikan sup daging hangat dengan rasa malu yang mengutak-atik keheningan malamnya.

Dua tempat yang berbeda, dua kehidupan yang berbeda, namun berakhir pada abu dan tanah hitam yang sama.

Mu Jin merogoh saku mantelnya. Jari-jarinya yang kasar menyentuh sobekan kain linen milik Jiang Xia yang mulai menipis karena sering diusap. Kehangatan yang dihadirkan oleh festival ini bukannya menghibur, melainkan justru mempertegas kehampaan di dalam rongga dadanya. Kebahagiaan orang-orang di sekitarnya terasa asing, seolah-olah dia adalah sosok hantu yang terlempar ke dunia manusia hidup.

“Paman, mau beli lentera?”

Sebuah suara halus memecah lamunannya.

Mu Jin menunduk. Di samping kakinya, seorang anak gadis kecil berusia sekitar delapan tahun berdiri sambil memegang sekeranjang lentera kertas berbentuk bunga mekar. Anak itu mengenakan pakaian linen tebal bertambal, sangat mirip dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh Jiang Xia.

Anak gadis itu menatap Mu Jin tanpa rasa takut yang berlebihan, hanya ada binar kepolosan dan harapan sederhana agar lenteranya terjual malam ini.

Mu Jin membisu sejenak. Tatapan matanya yang kaku tertuju pada tangan mungil anak itu yang memerah akibat hawa dingin.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Mu Jin merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa koin perunggu hasil sisa simpanannya, lalu meletakkannya di atas telapak tangan anak kecil itu. Dia tidak mengambil lentera bunga tersebut.

Anak gadis itu tertegun menatap koin perunggu di tangannya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari harga satu lentera. Saat dia mendongak untuk mengucapkan terima kasih, sosok pria berselimutkan mantel bulu hitam itu telah melangkah pergi, melenyap di antara kerumunan warga yang memadati jalanan.

Mu Jin terus berjalan hingga tiba di bagian utara kota, dekat dengan gerbang tebing cadas yang mengarah lurus ke wilayah pegunungan liar. Di sini, keriuhan festival perlahan meredup, digantikan oleh deru angin malam yang meraung melewati celah batu.

Mu Jin melompat ringan naik ke atas atap menara pengawas tua yang terbengkalai di tepi tembok kota. Dia duduk bersila di sana, membiarkan angin dingin utara mengibaskan rambutnya yang panjang dan kotor.

Dari ketinggian menara, dia menatap ke bawah. Kota Karang Es tampak seperti hamparan lautan api kecil di tengah kegelapan malam bersalju. Orang-orang masih menari, tertawa, dan minum arak, tidak pernah tahu bahwa di luar dinding kota yang kokoh ini, Murim sedang membusuk. Mereka tidak tahu bahwa Lu Chen sedang tersenyum anggun di atas takhtanya sambil menginjak-injak nyawa orang kecil, atau bahwa perang besar antara utara dan tengah tinggal menunggu pemicu kecil.

Mu Jin menarik pedang bersegi empat dari punggungnya, meletakkannya melintang di atas paha.

Dia mencabut besi tebal itu separuh dari sarung kulit serigalanya. Cahaya lampion merah dari bawah kota memantul tipis di atas permukaan baja kaku yang bersudut empat tersebut. Tidak ada kilauan keindahan ilmu beladiri elit, hanya besi mentah yang diciptakan murni untuk meremukkan.

Mu Jin memejamkan matanya perlahan. Suara tawa anak-anak di festival di bawah sana perlahan memudar dari pendengarannya, digantikan oleh bisikan deru angin es yang seolah membawa suara jeritan dari Lembah Nian dan raungan api dari Desa Lemah Salju.

“Nikmatilah malam ini...” desis Mu Jin serak pada angin malam, suaranya dingin dan kaku tanpa getaran emosi. “...sebelum aku meratakan Puncak Awan Putih menjadi abu.”

Malam festival terus bergulir dalam keriuhan, namun di atas menara hitam yang sunyi, sang tukang kayu terus menajamkan niat membunuhnya, menunggu fajar tiba untuk melanjutkan perjalanannya menuju istana sang Pahlawan Suci.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!