Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Selembar foto usang
Revan dibantu dengan Eza dan Abel mulai membersihkan paviliun di belakang rumah Amel.
Abel yang notabene adalah sepupu Amel itu merasa bersyukur karena pada akhirnya Revan setuju untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Amel tersebut.
"Gue masih inget banget sama kebaikan Tante Tami!" ucap Abel sambil tangannya bekerja mengepel lantai yang tampak kotor itu.
"Tante Tami?" Eza membeo.
"Tante Tami itu mamanya Amel, orangnya cantik banget mirip Amel gitu, dia tuh sayang banget ama gue sama Sasi juga!" jawab Abel
"Sayang dia meninggal akibat kecelakaan waktu Amel masih muda banget!" lanjut Abel.
"Tapi kata orang-orang tua, orang baik itu meninggalnya cepet!" ucap Eza.
"Makanya gue nggak mau jadi orang baik biar gue nggak cepet-cepet mati!" balas Abel membuat Revan melempar lap kotor ke kepala Abel.
"Ashu!" maki Abek kesal.
"Malaikat tuh males cabut nyawa lo, karena di sana lo bakalan bikin rusuh!" Revan akhirnya menimpali obrolan kedua sahabatnya itu.
"Gue tuh bunglon, kalau di sana orang-orangnya baik gue bakalan baik tapi kalau di sana orang-orangnya jahat gue bakalan tambah jahat!" .
"Mana ada kayak gitu! Di sana tuh yang baik bakalan dikumpulin sama yang baik, yang jahat dikumpulin sama yang jahat!" Amel menyahuti sambil membawa nampan berisi tiga gelas es jeruk.
"Dan aku tahu kamu tuh bakalan dikumpulin sama orang jahat!" lanjut Amel meletakkan nampan itu di meja.
"Sialan! Lo ngedoain gue masuk neraka, Mel?" Abel menatap kesal kepada Amel.
"Enggak, aku nggak ngedoain kamu masuk neraka, aku cuman bilang kamu dikumpulin sama orang jahat!" jawab Amel
"Sama aja, Oon!" omel Abel membuat Revan melempar buku yang baru saja dipegangnya ke arah Abel.
Pluk! Tepat sasaran dan kena ke kepala Abel. Abel mendengus kesal lalu mengomel panjang pendek.
"Lo ngatain bini gue oon, Shu!" maki Revan sambil memunguti isi buku yang berserakan itu.
Amel terkekeh bahagia melihat Abel dianiaya sama Revan karena Revan membela dirinya.
"Romannya bahagia banget sih ngeliat gue dianiaya ama laki lo!" Abel mendengus.
"Bahagia dong, itu artinya suami gue sayang ama gue, wlek!" ledek Amel sambil melet.
Revan terkekeh pelan lalu merapikan kertas-kertas yang berhamburan karena ulahnya.
Revan mengambil selembar foto yang tergeletak dengan posisi terbalik itu.
Revan membersihkan foto itu lalu matanya memicing memperhatikan lebih seksama orang yang ada di dalam foto itu.
"Ney, kamu kenal sama orang di dalam foto ini?" Revan menyerahkan foto itu kepada Amel.
"Ini papa mamaku, Be!" jawab Amel.
"Bukan foto mama papamu, tapi foto perempuan ini!" Revan menunjuk foto perempuan muda yang berdiri di samping mamanya Amel dan mereka saling bergandengan.
"Oh itu, itu bukannya tante Dewi temennya mama kan?" jawab Amel santai.
Revan menegang saat melihat foto almarhum kedua mertuanya dan foto mama tirinya yang tampak akrab itu.
"Kenapa sih, Van?" tanya Eza memilih meletakkan kain lapnya dan mendekati Revan yang tampak mematung.
Abel pun ikut mendekat, dia melihat ada sesuatu yang tak beres dengan perubahan mimik wajah Revan.
"Kenapa sih, Van?" tanya Abel.pula.
"Kenapa istrinya si Bangsad bisa foto sama orang tuanya Amel?" Suara pertanyaan yang lirih di ruangan yang hening itu tak ayal membuat ketiganya terpaku.
"Maksud kamu ini mama tiri kamu?" tanya Amel ikutan shock.
"Aku nggak punya mama lain selain Mama Vero!" jawab Revan agak ketus.
"Kalau yang ini wewe gombel, Mel!" celetuk Abel santai.
Amel memilih mengatupkan bibirnya, Amel tahu sesensitif apa Revan kalau menyangkut papa dan mama tirinya.
"Aku hampir nggak mengenali dia lho, sekarang kok dia bisa berubah kayak gitu? Padahal seinget aku dia dulu jelek dan dekil!" gumam Amel.
"Uang bisa merubah segalanya, Mel! Apalagi si em em itu sekarang pengusaha!" celetuk Abel sambil mengganti papanya Revan dengan panggilan si em em. Abel tak tega harus mengotori telinga Amel dengan kata-kata makian kayak tadi.
"Si Bang..." Amel hampir saja ikut memanggil papanya Revan dengan sebutan bangsad juga tapi bibirnya buru-buru dibekap oleh Revan.
"Kamu cewek baik, jangan kotori bibirmu dengan kata sampah kayak gitu!" tegur Revan membuat Amel tersenyum manis.
"Kalian sih! Ya udah aku tinggalin dulu, rusak aku kelamaan ngumpul sama kalian, terutama yang ono!" Amel menuding Abel dengan kesal.
"Kok gue sih? Mel, Amel!" panggil Abel ingin mengejar Amel yang telah keluar dari paviliun itu.
Langkah Abel dicegat oleh Revan. "Aelah masih cemburu aja, gue itu mahramnya dia woyyyy!" teriak Abel frustasi.
"Pokoknya gue nggak rela lo deket-deket bini gue!" ucap Revan ketus.
"Woy woy berantem mulu lo pada! Kalian nggak penasaran gitu dengan hubungan ketiganya?" tantang Eza kesal juga melihat kedua sahabatnya berantem mulu.
"Tapi mereka bertemen udah lama banget, kita mau nyari apa lagi coba? Nggak penting juga kan dengan status pertemanan itu!" ucap Abel.
"Lo tahu nggak gimana kedua orang tuanya Amel bisa kecelakaan gitu? Coba lo tanya ke orang tua lo, Bel! Perasaan gue jadi nggak enak nih!" Revan akhirnya ikut penasaran tentang hubungan antara orang tua Amel dan Dewi.
"Kalau gue malah kepikiran kalau orang tua Amel tahu perihal mama lo, ya kali aja Dewi cerita tentang hubungan terlarangnya dengan papa lo, siapa tahu dari sini kita bisa tahu kenyataan yang sebenarnya!" ucap Eza membuat Revan jadi berfikir dengan keras.
"Karena kita tahulah selicik apa si Dewi itu! Lo aja didepak dari rumah lo dan papamu nurut-nurut aja waktu si setan itu mengadukan sesuatu yang lo nggak ngelakuin!" Abel jadi ikut memberikan komentarnya.
"Gue sih sebenernya nggak peduli mereka mau ngangkangin harta yang seharusnya ada hak gue dan mama gue di sana. Yang gue nggak respek tuh kenapa si bangsad itu percaya begitu saja sama si setan Dewi itu!"
"Nah itu mesti kita selidiki!" Eza mengangguk setuju.
"Jiwa detektif gue jadi meronta-ronta nih!" Abel berbinar dan tersenyum kesenangan karena ada kasus yang bisa dia tangani lagi.
"Lo jangan kesenengan dulu, kasus ini sudah lama berlalu, agak susah untuk membuktikan sesuatu!" ucap Revan kesal.
"Susah bukan berarti nggak bisa!" sahut Abel.
"Tugas lo mengorek informasi dari bokap nyokap lo!"
"Gue pasti amanah menjalankan tugas ini!" Abel mengangguk.
Revan pun tersenyum. Sesuatu yang mungkin bisa dia lakukan untuk membela mamanya yang mungkin saja tak bersalah dalam kasus itu.
Revan tahu sesayang, setulus dan sebaik apa mamanya itu. Dan Revan ingin membuktikan bahwa mamanya memang tak bersalah.