"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
"Mengada-ada." Lulu memutar matanya malas, berbalik pergi dengan mie instan di tangan. Tidak mau lagi meladeni sang kakak ipar yang berubah jadi super aneh ini.
Sementara Ailin tidak terima ditinggal. Wanita itu ikut beranjak, tidak lupa dengan tangan yang masih menahan celananya. "Tadi kamu bilang suamiku itu kakakmu. Istrinya kakak disebut apa selain kakak ipar?"
"Diam! Berisik banget, sih!"
"Baiklah, Adik Iparku. Sebagai kakak ipar yang baik, aku akan memasakkan sesuatu untukmu." Ailin memegang bahu Lulu, berusaha membuatnya minggir dari depan kompor.
"Enggak usah!" Lulu menepis tangan Ailin, kesal. Jika saja tidak takut sang kakak akan marah, dia pasti akan mencakar-cakar wajah sok polos itu.
"Haish, baiklah kalau begitu. Hanya saja aku pernah membaca berita, orang yang malam-malam makan mie instan. Setelah tidur, enggak bangun lagi."
"Tapi mie instannya kedaluwarsa, udah lama pula." Ailin melanjutkan perkataannya di dalam hati dan mulai melangkah menjauh dengan senyuman tersungging. Masih dengan celana yang ia tahan.
Sementara Lulu mendelik mengiringi kepergian wanita itu. "Pembohong! Aku belum pernah dengar ada yang makan mie sampai tewas."
Gadis itu berniat membuka bungkus, namun perkataan Ailin jadi terngiang-ngiang. Akhirnya ia menaruh mie dengan gusar.
"Sialan! Masa aku harus kelaparan malam ini? Malas beli keluar lagi ... tapi takut mati juga kalau makan mie." Gadis itu bergerutu seorang diri.
Ia yang hanya menumpang dengan sang kakak juga tidak berani seenaknya meminta bibi Yu memasak. Sekarang ia jadi menyesal sendiri karena pulang setelah jam makan malam berlalu.
"Haish. Astaga!" Lulu berbalik ingin pergi, namun terperanjat saat langsung berhadapan dengan Ailin yang kedua tangannya di pinggang.
"Kau jangan-jangan, setan ya?"
Ailin sendiri menghela napas, ia berdecak beberapa kali. "Ckckck, tadi bilang aku kerasukan. Sekarang bilang aku setannya. Tapi ... kalau bilang kerasukan, sepertinya iya deh."
Ailin mengulum bibirnya, menunjukkan wajah malu-malu yang membuat Lulu merinding. "Aku makin yakin kalau kau bukan hilang ingatan, tapi dirasuki makhluk lain. Katakan! Kau siapa? Apa maksudmu mengambil tubuhnya?"
Ailin mengerutkan kening. "Aku masih Ailin Shen, loh. Aku memang kerasukan, tapi bukan makhluk lain. Melainkan ... kerasukan cinta kakakmu."
Lagi-lagi Ailin mesem-mesem sendiri. Sementara Lulu justru memasang wajah takut.
"Kau... kau roh penasaran yang jatuh cinta pada kakakku? Jangan-jangan kau yang membunuh Ailin dan mengambil alih tubuhnya?"
Seperti sebelumnya, Ailin kembali mengerutkan kening. Entah kenapa Lulu sangat berbeda dengan Juan. Jika Juan, setiap teringat pria itu, ia jadi senyum-senyum bahagia. Sementara Lulu, mendengarnya bicara saja ingin ia geplak. Ia jadi ragu, apakah benar Lulu adik kandung Juan? Tapi dilihat-lihat, wajah mereka ada sedikit kemiripan.
"Haish, sudahlah. Kalau terus bicara denganmu, aku yang tadinya manusia bisa jadi setan beneran. Minggir saja kamu!" Lulu segera menghindar saat Ailin lewat.
Namun Ailin berhenti, menatapnya dengan seram. Hingga membuat Lulu menahan napas. "Ka-kau lihat apa?"
"Pinjam jepitan rambutmu!"
"Hah?"
"Pinjam jepitan." Ailin mengambil langsung jepitan hingga membuat rambut gadis itu tergerai.
"Heh, untuk apa?"
"Jepit celana." Ailin menjawab sembari menjepit karet celananya, membuat Lulu melongo.
"Kau saking cinta sampai memakai celana dan baju kakakku?" Gadis itu bertanya dengan tatapan tidak percaya. Ia mengenali pakaian Ailin karena sang kakak sering memakainya.
"Pakaianku aneh semua. Jadi aku pinjam pakaian kakakmu dulu. Oh ya, kalau enggak aku pinjam punyamu saja besok."
"Nggak boleh!"
"Ayolah, besok aku baru berencana membeli pakaian. Gini, aku masakin kamu sekarang, besok kamu pinjamin aku pakaian."
"Enggak! Siapa juga yang mau kamu masakin." Lulu hendak pergi, namun baru selangkah, suara perutnya memecah keheningan.
Krukkk.
"Cacing-cacing di perutmu berkhianat loh itu." Ailin tertawa kecil sembari mengejek. Sementara Lulu merutuk diri sendiri di dalam hati.
"Baiklah. Tapi kalau enggak enak, aku enggak akan pinjamkan." Gadis itu duduk dengan malas, seolah-olah terpaksa menunggu di sana. Ia lalu mengeluarkan ponsel, menunduk dan memainkannya.
"Tenang, meski seorang nona muda kaya yang dimanja sejak kecil, aku enggak terlena sampai apa pun enggak bisa. Memasak hanya salah satu keahlianku."
"Cih, selama ini enggak pernah tuh, kau memasak."
"Beneran? Masa aku enggak pernah masak?" tanya Ailin penasaran. Namun tangannya mulai sibuk membuka penanak yang ternyata masih ada sisa nasi.
Dengan terlatih, ia lalu menyalakan kompor. Menaruh wajan yang memanas dengan cepat, dan mengeluarkan suara tik-tik halus saat minyak mulai berdesis.
Sementara Lulu sudah mau membuka mulut untuk julid, namun teringat jika ia membeberkan semua maka sang kakak akan marah, ia jadi urung.
"Ya pokoknya sejak menikah dengan kakakku, kau malas sekali. Melangkah ke dapur saja enggak pernah."
Gadis itu yang mendengar suara spatula terus berbunyi akhirnya mengangkat wajahnya. Ia sampai berpikir Ailin mengerahkan tenaga sampai bisa menembus wajan.
Namun yang ia lihat justru kebalikannya. Ailin bergerak begitu lincah di depan kompor, seolah sudah terbiasa melakukan semua ini.
Lulu sampai mengerjap beberapa kali.
Jangan-jangan... wanita ini benar-benar kerasukan?
.
.
.