PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTUNJUKAN YANG SALAH SASARAN
Atmosfer di dalam Restoran Sky Garden bergeser secara dramatis. Denting piano dan langkah kaki para pelayan masih terdengar di latar belakang, namun semua itu seolah teredam oleh ketegangan yang memusat pada satu titik: meja sudut tempat Primus, Vanessa, dan Kevin berada.
Kevin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi beludru dengan gestur yang teramat rileks. Seringai kemenangan tercetak jelas di wajahnya, menikmati setiap detik dari panggung yang sengaja ia ciptakan. Baginya, tidak ada yang lebih memuaskan daripada menginjak harga diri seorang Aristokrat di depan publik, membuat sang pewaris pertama kehilangan muka tanpa bisa berkutik.
Namun, semakin lama keheningan itu membentang, semakin Kevin merasa ada mata rantai yang salah dalam rencananya.
Primus terlalu tenang. Tidak ada kilat amarah, tidak ada urat leher yang menegang, bahkan napasnya pun tetap teratur. Alih-alih Primus yang terpojok, justru Vanessa yang duduk di samping Kevin tampak semakin gelisah, meremas jemarinya sendiri hingga memucat.
"Kenapa diam, Primus?" Kevin memiringkan kepalanya, menyeringai provokatif. "Apa otak jeniusmu itu butuh waktu lebih lama hanya untuk mencerna bahwa kau baru saja kehilangan wanitamu?"
Primus tidak langsung menanggapi. Dengan gerakan yang teramat anggun, ia meraih gelas kristal berisi air putih, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali tanpa menimbulkan bunyi sekecil pun. Baru setelah itu, sepasang manik mata abu-abunya bergerak, mengunci tatapan Kevin.
"Aku hanya sedang memberikanmu panggung untuk menyelesaikan sandiwaramu, Kevin," ucap Primus, nadanya teramat santai, seolah sedang berbicara dengan seorang pelayan.
Seringai di bibir Kevin langsung menegang. "Sandiwara?"
"Ya," Primus menopang dagunya, menatap Kevin dengan pandangan menilai yang dingin. "Jika kau datang ke sini hanya untuk memamerkan sesuatu yang kau sebut kemenangan, setidaknya lakukanlah dengan cara yang sedikit lebih mahal. Caramu ini... terlalu murah."
Bisikan-bisikan tertahan kembali menjalar di antara meja-meja pengunjung lain. Kevin bisa merasakan sensasi panas yang mendadak membakar telinganya. Skenario awal yang ia rancang bersama Adrian adalah membuat Primus terlihat seperti pecundang, namun entah bagaimana, justru dirinya yang perlahan mulai tampak bodoh di mata publik.
Vanessa menggenggam erat pinggiran gaun hitamnya, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Primus penuh penyesalan. "Primus... ini tidak seperti yang—"
Sebelum kata-kata itu selesai, Primus mengangkat satu tangannya dengan gerakan perlahan namun mutlak. "Bukan sekarang, Vanessa."
Satu kalimat pendek itu sukses mengunci bibir Vanessa. Ada gurat kekecewaan dan keputusasaan yang mendalam di wajah wanita itu, namun Primus memilih untuk memalingkan wajah. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada pria congkah di hadapannya.
"Aku sebenarnya agak penasaran," ujar Primus memecah jeda.
Kevin mengangkat dagunya, mencoba mengembalikan dominasi yang mulai goyah. "Penasaran tentang apa? Rasa sakitnya dikhianati?"
Primus tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Sejak melangkah masuk ke tempat ini, kau terus berbicara seolah-olah kau baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar dariku."
"Lalu? Faktanya memang begitu, bukan?"
"Masalahnya adalah..." Primus memajukan sedikit tubuhnya, mereduksi jarak di antara mereka hingga tekanan auranya terasa mengintimidasi. "...aku bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai seorang lawan."
Plak. Kalimat itu tidak diucapkan dengan bentakan, namun efeknya jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.
Suara tawa kecil yang tertahan terdengar dari salah satu meja VIP di sudut lain. Hanya satu orang yang tertawa, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat wajah Kevin berubah merah padam. Ego tingginya tercoreng hebat. Sebagai pewaris tunggal Hartwell Group yang muda, kaya, dan selalu diagung-agungkan, belum pernah ada satu orang pun di Kota Aurelia yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar udara kosong.
"Kau terlalu sombong untuk ukuran seseorang yang bahkan belum tentu dipilih menjadi penerus utama Aristokrat!" desis Kevin, suaranya mulai meninggi akibat amarah yang mulai membakar logikanya.
"Benarkah?" Primus mengangguk-angguk kecil, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan tersebut. "Lalu bagaimana denganmu? Apa prestasimu?"
"Aku adalah pewaris sah Hartwell Group!"
"Oh." Primus melemparkan pandangan meremehkan yang sangat halus. "Jadi, sampai detik ini, pencapaian tertinggi dalam hidupmu hanyalah beruntung karena lahir dari rahim keluarga yang tepat?"
Beberapa pelanggan di sekitar mereka spontan menutup mulut, menahan tawa yang hampir meledak. Kevin membeku di tempatnya, napasnya memburu. Serangan verbal Primus terlalu telak dan presisi, langsung menghantam akar dari seluruh kesombongannya. Yang membuat Kevin semakin frustrasi adalah bagaimana Primus bisa menyampaikan hinaan sekejam itu tanpa perlu menaikkan intonasi suaranya sedikit pun. Setiap kalimat mengalir santai, namun menghujam sangat dalam.
Vanessa hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu betul bagaimana watak tunangannya. Semakin tenang dan santai pembawaan Primus, maka setiap kata yang keluar dari bibirnya akan berubah menjadi belati yang mematikan.
Tepat saat tensi di meja itu berada di titik didih, pintu restoran kembali terbuka secara paksa. Seorang pria paruh baya berpakaian formal berlari masuk dengan napas memburu dan wajah yang pucat pasi.
"Tuan Muda Kevin!" seru pria itu, mengabaikan tatapan heran dari para pelayan restoran.
Kevin menoleh dengan tatapan membunuh, meluapkan kekesalannya yang memuncak. "Apa lagi?! Tidak bisakah kau melihat aku sedang sibuk?!"
Pria paruh baya yang merupakan manajer operasional Hartwell Group itu menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya gemetar hebat. "Saya... saya sudah mencoba menghubungi ponsel Anda puluhan kali, Tuan."
"Katakan saja ada apa!" bentak Kevin kasar.
"Kita... kita menghadapi bencana besar di distrik selatan, Tuan Muda." Pria itu menjeda kalimatnya, mencoba meredam getaran suaranya, namun volume suaranya justru terdengar cukup jelas oleh meja-meja di sekitar mereka. "Konsorsium investor utama dari ibu kota baru saja menarik seluruh likuiditas dana mereka secara sepihak, satu jam yang lalu."
Wajah Kevin yang tadinya merah karena amarah, seketika berubah kehilangan warna. "Apa?! Bajingan mana yang berani melakukan itu?! Proyek itu sudah berjalan delapan puluh persen!"
"Bukan hanya itu, Tuan Muda..." Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata bosnya. "Berita penarikan dana ini sudah bocor ke lantai bursa. Saham Hartwell Development baru saja anjlok sebelas persen dalam waktu empat puluh menit terakhir, dan perdagangan kita terancam dibekukan besok pagi."
Deg.
Kevin merasa seolah-olah seluruh pasokan darah di tubuhnya berhenti mengalir. Dunianya mendadak berputar. "Itu... itu mustahil. Skema investasinya tertutup! Bagaimana bisa bocor?!"
"Saya juga berharap ini salah, Tuan. Tapi divisi keuangan pusat sudah mengonfirmasinya."
Untuk pertama kalinya dalam sisa malam itu, topeng arogansi di wajah Kevin runtuh tanpa sisa. Rasa percaya diri yang ia bawa sejak melangkah masuk ke restoran ini menguap, digantikan oleh kepanikan yang nyata.
Sementara itu, Primus hanya menyaksikan kehancuran pria di hadapannya dengan tatapan datar yang dingin. Tidak ada senyum mengejek, tidak ada tawa kemenangan. Namun, justru keheningan dan sikap acuh tak acuh Primus itulah yang membuat Kevin merasa kerdil.
Kontras di antara keduanya kini terpampang nyata di depan seluruh pasang mata yang menyaksikan. Satu orang datang dengan penuh drama untuk mempermalukan, sementara satu orang lagi tetap berdiri kokoh bak karang di tengah samudera, bahkan ketika badai finansial meruntuhkan lawannya dalam sekejap. Tanpa perlu diucapkan, semua orang tahu siapa yang memegang kelas tertinggi di ruangan ini.
Kevin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap Primus dengan kilat kebencian yang mendalam. Ia tahu, kejatuhan proyek distrik selatannya malam ini bukan sebuah kebetulan.
Malam ini, Kevin Hartwell tidak hanya kehilangan reputasinya, melainkan sadar bahwa ia baru saja membangunkan monster yang salah. Dan di balik kaca lantai dua, senyuman Adrian Aristokrat telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh tatapan ngeri saat melihat bagaimana Primus menghancurkan pionnya tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.
"BERSAMBUNG"