NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Debat Logika

​​"Ini pasti kesalahan sistem perangkat keras," ucap Ronan dengan suara yang jauh lebih serak dari biasanya.

​Pria itu menarik pergelangan tangannya menjauh secepat kilat. Jarinya menekan tombol samping jam pintar tersebut berkali-kali secara kasar. Layar berkedip mati dan suara peringatan nyaring itu berhenti total dalam hitungan detik.

​Cala melipat kedua lengannya di dada. Senyum kemenangan terukir sangat lebar di wajahnya. Telinga dokter forensik yang biasanya sedingin es itu kini berwarna merah padam. Matanya pun tidak berani membalas tatapan Cala secara langsung.

​"Kesalahan sistem? Atau logikamu baru saja dikalahkan oleh reaksi kimia bernama gugup, Dokter?" goda Cala telak. Ia memiringkan kepalanya sedikit, sangat menikmati momen langka ini.

​"Tingkat kepercayaan dirimu sungguh di luar nalar medis," bantah Ronan cepat. Alasan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat dibuat-buat. "Perangkat medis ini belum diperbarui sistemnya. Sensor optiknya sering keliru membaca denyut nadi saat ada perubahan suhu mendadak di dekatnya."

​"Tentu saja. Suhu tubuhku pasti terlalu panas untuk kulitmu yang beku itu," balas Cala sambil tertawa renyah.

​Ronan tidak mendebat lagi. Ia meraih kunci mobil peraknya dari atas meja konsol dengan gerakan kaku. "Jangan sentuh barang apa pun di sini selama aku pergi. Kunci pintu ganda setelah aku keluar."

​Tanpa menunggu balasan lagi, ahli forensik jenius itu melangkah keluar dari apartemen. Langkah kakinya jauh lebih cepat dari biasanya, seolah pria itu sedang melarikan diri dari medan perang. Pintu baja tebal tertutup rapat. Bunyi kunci otomatis berdenting nyaring menandakan ruangan itu terkunci aman dari luar dan dalam.

​Cala tertawa lepas di tengah ruang tamu yang kosong. Kemenangan ini terasa sangat manis. Pria kaku yang selalu meremehkan cinta dan membanggakan fakta medis itu ternyata bisa salah tingkah hanya karena sentuhan kecil di kerah bajunya.

​Cahaya matahari perlahan bergeser mengubah warna langit di balik kaca jendela besar apartemen menjadi jingga kemerahan. Bayangan perabotan memanjang di atas lantai marmer yang mengkilap.

​Di ruang bawah tanah markas kepolisian pusat, suasana terasa jauh lebih dingin dan kaku. Lampu neon putih menyilaukan mata menerangi setiap sudut laboratorium steril. Ronan duduk bersandar di kursi kerjanya. Layar monitor besar di depannya menampilkan struktur mikroskopis serat karbon hitam yang ia temukan menempel di karpet apartemen Cala.

​Namun, mata tajam Ronan sama sekali tidak fokus pada data visual penting tersebut.

​Ia mengusap tengkuknya perlahan. Bau manis karamel dan parfum mawar yang segar itu seolah menempel permanen di rongga hidungnya. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat tiap kali otaknya memutar ulang wajah Cala yang tersenyum menantang dalam jarak sedekat itu. Kulit wanita itu hangat, sangat kontras dengan suhu ruangan apartemennya.

​"Fokus, Ronan. Ini hanya anomali hormon sesaat. Otakmu merespons invasi ruang personal dengan melepaskan adrenalin berlebih," gumamnya pelan pada diri sendiri, mencoba keras merasionalisasi keadaannya. Pria itu memukul pelan dahinya dengan telapak tangan.

​Pintu kaca otomatis di ruangan itu bergeser terbuka. Komandan kepolisian melangkah masuk membawa sebuah map biru. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat tegang dan lelah. Kasus pembunuhan ini benar-benar menyita seluruh kewarasannya.

​"Bagaimana hasil analisis serat karbonnya?" tanya komandan langsung pada intinya. Pria itu menarik kursi baja dan duduk di sebelah meja kerja Ronan.

​Ronan berdehem pelan, memaksa otaknya membuang bayangan senyum Cala dan kembali bekerja secara rasional. Ia menunjuk layar monitor dengan pena peraknya.

​"Ini buatan pabrik senjata bawah tanah. Serat ini ditenun menyilang berlapis-lapis untuk menahan tebasan pisau tajam dan meminimalkan kerusakan dari proyektil senjata api kecil," jelas Ronan lugas. "Pembunuh ini sangat metodis. Dia tidak bertindak berdasarkan emosi atau impuls. Dia mengenakan perlengkapan yang harganya miliaran rupiah. Dalang di balik pembunuhan CEO Valera jelas bukan orang sembarangan."

​"Artinya kita berhadapan dengan lawan yang punya sumber daya finansial tidak terbatas," balas komandan dengan nada muram. Ia meletakkan map itu ke meja. "Apakah Cala aman di apartemenmu? Kita butuh saksi itu hidup-hidup untuk bersaksi di pengadilan nanti."

​Ronan mendengus pelan mendengar nama wanita itu disebut. "Wanita itu sangat berisik, ceroboh, dan banyak tingkah. Tapi dia aman. Keamanan gedung milikku tidak bisa diretas dari jarak jauh. Kaca jendelanya kebal peluru dan pintu utamanya memakai baja padat setebal lima sentimeter."

​"Bagus. Tetap waspada, Dokter. Kita tidak tahu siapa saja yang sudah dibeli oleh sindikat ini di dalam kepolisian," pesan komandan dengan raut wajah keras.

​Sementara itu, di lantai delapan Apartemen Zenith, Cala berdiri mematung di dekat kaca jendela ruang tamu. Ketinggian lantai ini memungkinkannya melihat aktivitas jalanan kota di bawah sana dengan sangat jelas tanpa takut terlihat dari jalan raya.

​Jalanan mulai padat merayap. Mobil-mobil berlalu-lalang, motor menyalip cepat di antara kemacetan orang-orang yang pulang bekerja. Namun, mata Cala tertuju pada satu titik ganjil yang sama sekali tidak berubah posisinya.

​Sebuah mobil van hitam berukuran cukup besar terparkir tepat di seberang jalan. Mobil itu memakan separuh area larangan parkir di depan kedai Kopi Senja dengan sangat berani. Kaca jendelanya berlapis film yang seratus persen pekat, sehingga Cala tidak bisa melihat bayangan pengemudi di dalamnya sama sekali.

​Awalnya Cala mencoba berpikir logis. Mungkin itu hanya mobil teknisi kabel yang sedang memperbaiki jaringan, atau mobil kurir yang menunggu klien. Namun sudah hampir satu jam berlalu, tidak ada satu orang pun yang keluar masuk dari pintu van tersebut.

​Lebih aneh lagi, Cala bisa melihat kepulan asap putih keluar secara konstan dari pipa knalpotnya. Mesin mobil hitam itu terus menyala tanpa henti, menandakan pengemudinya bersiap melesat kapan saja.

​Perasaan tidak enak mulai merayapi tengkuk Cala. Bulu kuduknya berdiri. Insting bertahannya yang sempat mereda kini kembali siaga penuh. Ucapan komandan polisi tentang nyawanya menjadi target utama kembali terngiang berulang kali di telinganya.

​"Mereka tidak mungkin tahu aku ada di sini, kan?" bisik Cala pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar pelan menahan takut. "Gedung ini punya ratusan unit apartemen. Mustahil mereka bisa melacak unit Ronan secepat ini."

​Cala memeluk kedua lengannya kuat-kuat. Matanya terus mengawasi van hitam tersebut tanpa berkedip.

​Tiba-tiba, lampu sein kanan mobil van itu menyala. Berkedip dua kali dengan sangat terang, lalu mati lagi. Sebuah sinyal yang terlihat sangat disengaja.

​Lutut Cala mendadak lemas. Ia memundurkan langkahnya cepat menjauhi kaca jendela. Ia lari-lari kecil menuju sofa ruang tamu, meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca dengan tangan gemetar. Jari-jarinya dengan cepat mencari nama Ronan di kontak panggilan darurat.

​Panggilan tersambung. Nada tunggu pertama berbunyi panjang memecah kesunyian ruangan steril itu.

​Tepat saat nada tunggu kedua terdengar berbunyi, sebuah suara nyaring menggema membelah keheningan apartemen.

​Ting-tong!

​Bel pintu utama berbunyi nyaring.

​Cala terkesiap hebat. Ponselnya nyaris tergelincir jatuh dari genggaman tangannya. Jantungnya berpacu secepat kilat menabrak tulang rusuk. Ia menoleh patah-patah, menatap lurus ke arah pintu tebal dari baja itu dengan mata membelalak lebar.

​Ting-tong!

​Bel itu berbunyi lagi. Kali ini durasinya lebih panjang dan sangat memaksa.

​Ronan sudah memperingatkan dengan tegas bahwa keamanan tempat tinggalnya tidak main-main. Tidak ada kurir paket, pengantar makanan, atau tamu asing yang bisa naik ke lantai delapan tanpa persetujuan langsung dari penghuni melalui resepsionis lobi utama. Cala juga tahu pasti dia tidak memesan barang apapun hari ini.

​Cala memutus sambungan teleponnya. Ia berjalan mengendap-endap mendekati pintu masuk. Napasnya tertahan kuat di tenggorokan. Di dinding sebelah kiri pintu, terdapat layar interkom digital canggih yang terhubung langsung dengan kamera luar. Layar itu adalah satu-satunya cara aman melihat siapa orang yang berdiri di lorong apartemennya tanpa harus membuka celah pintu.

​Jari telunjuk Cala terulur perlahan, menyentuh layar interkom itu dengan ragu. Ia berdoa dalam hati agar itu hanya petugas kebersihan gedung yang salah lantai.

​Namun harapannya hancur berkeping-keping detik itu juga. Layar interkom itu tetap hitam pekat. Tidak ada gambar lorong yang muncul. Tidak ada cahaya yang menyala. Benda canggih pelindung terakhirnya itu mati total.

1
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
Fariedha Rahman Khan
suka bngett
berasa nonton adegan action
Savana Liora: makasih y
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai lg dramanya 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!