NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Napas Hani tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga menciptakan dengung memekakkan di kedua telinganya. Di bawah siraman cahaya bulan yang minim, siluet jangkung yang berdiri di ambang pintu kamar kerja itu perlahan melangkah maju.

Kilat logam dari pisau di tangan kanannya memantulkan cahaya perak yang dingin, seolah-olah siap mencabut nyawa siapa saja dalam keheningan malam.

Sesosok pria itu mengulurkan tangan kirinya, menekan sakelar senter kecil berkekuatan tinggi. Sinar putih yang menyorot tajam seketika membutakan mata Hani, membuatnya terpaksa mengangkat tangan untuk menghalau silau.

Namun, sebelum Hani sempat berteriak, pria itu menurunkan arah senternya, membiarkan bias cahayanya menerangi wajahnya sendiri dari bawah.

Detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-paru Hani menguap runtuh. Rasa ngeri yang merayap di kulitnya mendadak berubah menjadi keterkejutan yang teramat sangat.

Pria itu berwajah tegas, dengan garis kerutan matang yang sangat mirip dengan Narendra Baskara. Setelan jas mahalnya yang rapi tampak kontras dengan pisau tajam yang digenggamnya.

Senyuman tipis yang biasanya terlihat hangat dan kebapakan di depan para pemegang saham perusahaan kini tampak seperti seringai iblis yang haus darah.

"Pak... Hendra?" bisik Hani, suaranya parau dan bergetar hebat.

Hendra Baskara. Adik kandung Narendra Baskara, sekaligus paman dari Reza. Pria yang selama ini dikenal sebagai sosok pelindung di dalam perusahaan, orang yang selalu bersikap ramah dan kerap membela para karyawan kecil, ternyata adalah ular berbisa yang bersembunyi di balik semak-semak keluarga Baskara.

Hendra terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat dingin, menggema di ruang kerja yang sempit dan berdebu itu. "Sungguh disayangkan, Hani. Jika saja kamu tidak mengendus-endus masa lalu ayahmu yang tidak berguna itu, kamu masih bisa hidup tenang sebagai karyawan kecil di perusahaanku."

Hani mencengkeram buku catatan hitam milik ayahnya semakin erat ke dadanya, mencoba mencari kekuatan di tengah keputusasaan yang mendalam. "Jadi... semua ini ulah Anda? Tuduhan korupsi delapan tahun lalu, pembocoran rahasia proyek... Anda yang menjebak ayah saya?!"

"Tentu saja aku," jawab Hendra santai, melangkah setapak demi setapak mendekati meja kerja, menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah wanita di hadapannya.

"Ayahmu itu terlalu jujur, terlalu setia pada kakakku yang bodoh itu. Dia tidak sengaja menemukan aliran dana gelap yang kupindahkan ke rekening luar negeri. Jadi, pilihan apa yang kupunya selain membuangnya seperti sampah? Menuduhnya korupsi adalah cara paling bersih untuk membunuh reputasinya sekaligus menyelamatkan posisiku."

Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Hani. Mengingat bagaimana ayahnya menghabiskan sisa hidupnya dalam depresi, dihujat oleh tetangga, dan meninggal dalam kondisi memprihatinkan dengan memikul fitnah keji, membuat dada Hani bergemuruh hebat.

"Anda kejam!" desis Hani, giginya menggertak menahan amarah.

"Di dunia bisnis, kepercayaan adalah kelemahan terbesar, Hani," potong Hendra dingin.

Tatapannya kemudian beralih pada buku catatan di dekapan Hani, lalu ke arah flashdisk perak yang tergeletak di atas meja. "Aku tidak menyangka pria tua itu menyembunyikan salinan data enkripsi itu di sini. Kupikir aku sudah menghancurkan semua buktinya delapan tahun lalu."

Hani mencoba mengundurkan kursinya, namun punggungnya sudah membentur lemari buku yang rapuh. Jalannya benar-benar buntu. "Lalu... penyerangan Reza semalam...?"

"Ah, keponakanku yang arogan itu," Hendra menghela napas panjang, pura-pura bersimpati.

"Narendra berencana menyerahkan seluruh kendali saham utama Baskara Group kepada Reza bulan depan. Jika itu terjadi, semua usahaku selama puluhan tahun untuk menguasai perusahaan akan sia-sia. Reza harus disingkirkan. Skenarionya sangat sempurna. Reza tewas dalam penyerangan di pemukiman kumuh saat mengunjungi karyawannya. Narendra akan hancur karena duka, dan aku akan maju sebagai satu-satunya penyelamat perusahaan."

Hendra menggelengkan kepalanya kecewa. "Sayang sekali, keponakanku itu memiliki nyawa cadangan tampaknya. Luka tusuk semalam tidak berhasil mengirimnya ke kuburan."

"Anda monster! Pak Narendra dan Reza adalah keluarga Anda sendiri!" teriak Hani, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya.

"Keluarga?" Hendra mendengus jijik. "Keluarga yang selalu menempatkanku di bawah bayang-bayang mereka? Cukup omong kosongnya, Hani. Serahkan buku catatan dan flashdisk itu kepadaku sekarang juga."

Hendra mengangkat pisau komandonya tinggi-tinggi, ujung bilahnya yang tajam mengarah tepat ke leher Hani. "Serahkan, atau aku akan memastikan kamu menyusul ayahmu malam ini juga. Polisi akan berpikir bahwa perampok semalam kembali untuk menghabisi saksi mata."

Hani menatap bilah pisau yang berkilat di depan matanya. Ketakutan luar biasa sempat melumpuhkan akal sehatnya, namun bayangan wajah ayahnya dan wajah Reza yang terluka semalam mendadak membakar keberanian yang tersisa di dalam dirinya.

Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Jika ia mati malam ini, maka kebenaran akan terkubur selamanya, dan Reza akan tetap berada dalam bahaya maut.

Sambil berpura-pura gemetar dan mengulurkan tangan kirinya untuk menyerahkan flashdisk di atas meja, tangan kanan Hani diam-diam meraba ke bawah meja kerja, meraih sebuah vas bunga keramik kecil yang berdebu.

"I-ini... ambil saja semuanya, tolong jangan bunuh saya," ratap Hani, memasang wajah sepasrah mungkin untuk mengecoh perhatian Hendra.

Melihat Hani yang tampak menyerah, Hendra tersenyum penuh kemenangan. Ia menurunkan sedikit pisaunya dan mengulurkan tangan untuk meraih flashdisk tersebut.

Dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya, Hani mengayunkan tangan kanannya, menghantamkan vas keramik itu sekuat tenaga ke arah wajah Hendra.

PRANG!

Vas itu hancur berkeping-keping tepat di pelipis Hendra. Pria paruh baya itu mengerang kesakitan, terhuyung mundur beberapa langkah sambil memegangi wajahnya yang mulai mengucurkan darah segar. Senter di tangannya terjatuh ke lantai, berguling dan menerangi ruangan dengan sudut yang acak.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, Hani langsung bangkit dari kursi, menyambar buku catatan hitam dan flashdisk perak dari meja, lalu berlari sekencang mungkin keluar dari kamar kerja.

"Kurang ajar! J*lang sialan!" kutuk Hendra dari dalam kamar, suaranya menggelegar penuh amarah yang mengerikan. Langkah kakinya yang berat terdengar mengejar dengan cepat.

Hani berlari membelah kegelapan ruang tamu, jantungnya berpacu seperti dikejar setan. Ia mencapai pintu depan, jemarinya yang gemetar berusaha keras memutar kunci gembok yang terasa sangat keras.

"Buka... kumohon, buka!" tangis Hani panik.

Klik!

Pintu berhasil terbuka. Hani langsung menghambur keluar ke halaman rumah, berniat menuju ke jalan raya untuk mencari pertolongan.

Namun, nasib sial tampaknya belum beranjak dari sisinya. Begitu ia menginjak gerbang pagar, kakinya tersandung akar pohon yang mencuat dalam kegelapan, membuatnya tersungkur keras ke atas aspal jalanan yang dingin.

"Aaakh!" Hani menjerit kesakitan saat lutut dan telapak tangannya tergores tajam. Buku catatan di tangannya terlempar beberapa meter ke depan.

Sebelum Hani sempat bangkit berdiri, sebuah tangan kekar mencengkeram kerah blus bagian belakangnya dengan kasar, menyentakkannya hingga ia terduduk paksa. Hendra sudah berdiri di atasnya, dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, membuat wajah pria itu tampak seperti iblis dari neraka.

"Kamu pikir kamu bisa lari dariku, Hani?!" desis Hendra, matanya menyala penuh dendam. Ia menjambak rambut Hani, memaksa wanita itu menengadah, sementara tangan kanannya kembali mengayunkan pisau komando bersiap untuk menghujamkannya ke dada Hani.

Hani memejamkan matanya rapat-rapat, memasrahkan diri pada takdir yang tampaknya akan berakhir tragis di tangan paman bosnya sendiri.

CIIIIIITTTT!!!

Suara derit ban mobil yang bergesekan kasar dengan aspal mendadak memecah kesunyian malam, bergema dengan sangat memekakkan telinga.

Sorot lampu yang teramat terang dari sebuah mobil hitam mendadak menerangi seluruh area gang tersebut, membutakan penglihatan Hendra secara instan.

Belum sempat Hendra menyadari apa yang terjadi, pintu mobil terbuka kasar. Sesosok pria jangkung dengan kemeja rumah sakit yang dilapisi jaket hitam tebal melompat turun dari kursi kemudi.

Meskipun langkah kakinya sedikit pincang dan perban di punggungnya mulai merembeskan darah akibat gerakan ekstrem, pria itu bergerak laksana kilat.

"JANGAN SENTUH DIA!"

Suara raungan penuh amarah itu milik Reza. Pria itu datang seperti malaikat maut, menerjang tubuh pamannya sendiri dengan hantaman bahu yang sangat keras hingga keduanya terguling di atas aspal. Pisau di tangan Hendra terlempar jauh ke dalam semak-semak.

Hani terbelalak, menatap tidak percaya pada sosok Reza yang kini sedang bergulat hebat di atas tanah dengan Hendra, mengabaikan jahitan di punggungnya yang mungkin sudah robek total. Di tengah kegelapan malam yang dingin, kebenaran telah terungkap, namun pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!