Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan dari Tepi Hutan dan Penantian di Gerbang Kota
Sinar matahari pagi kembali menghangatkan tanah Desa Beringin Sakti, menembus celah-celah rimbun pohon beringin tua dan dahan pohon jambu air yang tegak berdiri di samping pondok bambu Anisa. Kabut tipis Hutan Sangker yang sempat merayap semalam kini menguap, digantikan oleh aroma tanah basah dan kesibukan pagi pedesaan yang bersahaja.
Anisa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Curhatannya dengan roh jelita Seruni semalam benar-benar mengikis habis keraguan yang sempat menggelayuti hatinya. Setelah menyelesaikan salat subuh dan tadarus yang khusyuk, ia segera bersiap untuk memulai aktivitas hariannya.
Pagi ini, Anisa mengenakan gamis kain katun berwarna biru dongker yang dipadukan dengan jilbab instan putih bersih. Sebelum melangkah keluar pagar bunga kuningnya, ia memastikan satu hal paling penting tidak tertinggal selembar amplop cokelat kecil berisi surat balasan untuk Zenix yang ia tulis semalam dengan tetesan tinta penuh ketulusan. Surat itu ia simpan rapat-rapat di dalam saku gamisnya, tepat di dekat detak jantungnya yang kembali berdesir halus setiap kali mengingat nama pemuda kota itu.
Sambil berjalan menyusuri jalanan batu makadam, Anisa membawa sebuah baskom plastik kosong yang diletakkan di pinggangnya. Aktivitas paginya berjalan seperti biasa ia berjalan dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya untuk mengambil pakaian-pakaian kotor milik penduduk desa yang menggunakan jasanya sebagai buruh cuci. Senyum ramah senantiasa ia tebarkan setiap kali berpapasan dengan ibu-ibu desa yang sedang menyapu halaman rumah mereka.
Tepat di dekat persimpangan jalan utama desa menuju arah kota, langkah Anisa terhenti ketika melihat mobil angkutan bak terbuka berwarna merah pudar milik Kang Maman sudah bersiap-siap di pinggir jalan. Kang Maman tampaknya sedang memeriksa tali pengikat terpal hitam yang menutupi muatan hasil panen baru pagi ini.
"Kang Maman!" panggil Anisa dengan suara lembutnya yang khas, setengah berlari kecil menghampiri.
Kang Maman menoleh, lalu membetulkan letak topi capingnya sambil tersenyum lebar. "Eh, Neng Anisa! Pas pisan, Kang Maman baru saja mau berangkat narik barang ke kota lagi ini. Ada apa, Neng? Mau nitip baju cucian?" selorohnya ramah.
Anisa tersenyum simpul, rona merah muda tipis kembali menghiasi kedua pipinya yang bersih. Ia merogoh saku gamisnya, mengeluarkan amplop cokelat kecil yang terlipat rapi, lalu mengulurkannya kepada Kang Maman dengan kedua tangannya yang santun. "Bukan, Kang. Ini... Anisa mau menitipkan surat balasan untuk Mas Zenix di kota. Apakah kira-kira merepotkan Kang Maman?"
Melihat amplop cokelat tersebut, mata Kang Maman langsung berbinar jenaka. Ia tertawa kecil penuh pengertian. "Walah, walah! Surat balasan toh! Tidak merepotkan sama sekali, Neng Anisa. Malah Kang Maman senang sekali jadi merpati pos buat kalian berdua. Tenang saja, surat dari Neng Anisa ini akan Kang Maman simpan di tempat paling aman di dalam dasbor mobil, tidak akan kena debu jalanan!"
Kang Maman menerima surat itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam dompet kulitnya yang disimpan di saku bagian dalam jaket untuk memastikan keamanannya. "Nanti sore begitu Kang Maman sampai di pasar grosir kota, Kang Maman langsung tunggu Mas Zenix di sana."
"Terima kasih banyak ya, Kang. Semoga perjalanan Akang ke kota diberikan kelancaran dan keselamatan oleh Allah," ucap Anisa dengan tulus, menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Amin, amin, ya rabbal alamin. Kang Maman berangkat dulu ya, Neng!" pamit Kang Maman seraya melompat naik ke kursi kemudi.
Mesin mobil tua itu kembali menderu kasar, meninggalkan kepulan asap tipis saat mulai melaju membelah jalanan makadam, membawa secarik harapan dan doa suci Anisa menuju peradaban kota metropolitan yang bising. Anisa menatap kepergian mobil itu dengan helaan napas lega, sebelum kembali melanjutkan langkahnya memanggul baskom pakaian kotor warga dengan semangat baru.
Beberapa jam kemudian, di belahan bumi yang lain, atmosfer bising kota metropolitan menyambut kedatangan Kang Maman. Setelah melewati kemacetan yang menguras tenaga dan menyelesaikan urusan bongkar muat hasil panen di gudang logistik utama, Kang Maman memarkirkan mobil bak terbuka merah pudarnya di sudut area parkir yang agak teduh, persis seperti tempat ia bertemu dengan Zenix kemarin.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Sesuai janjinya pada Anisa, Kang Maman berniat menunggu kedatangan Zenix sebelum ia kembali bertolak pulang ke desa.
Namun, menit demi menit berlalu, sosok pemuda jangkung berambut cokelat keperakan itu belum juga memunculkan batang hidungnya. Setengah jam berlalu, satu jam pun terlampaui. Kang Maman yang duduk di emperan toko grosir berkali-kali menyeka keringat di lehernya menggunakan handuk kecil, sesekali melirik ke arah jam tangan digitalnya yang murah.
"Duh, ke mana ya Mas Zenix? Apa jalannya macet total, atau kelasnya belum selesai?" gumam Kang Maman dalam hati dengan rasa cemas yang mulai merayap, takut dirinya kemalaman di jalan jika harus menunggu terlalu lama.
Sebenarnya, di tempat lain, Zenix sedang terjebak di dalam ruang laboratorium kampus. Hari ini ada ujian praktikum mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Pikiran Zenix sepanjang praktikum benar-benar terbagi; fokusnya terkoyak antara rumus-rumus kimia di papan tulis dan bayangan Kang Maman yang mungkin sudah menunggunya di pinggiran kota. Begitu asisten dosen meneriakkan kata "selesai", Zenix langsung mengemasi tasnya dengan gerakan secepat kilat, bahkan mengabaikan panggilan Deandra dan Jovanka yang mengajaknya nongkrong di kafe kampus. Zenix berlari menuju parkiran dan memacu taksi dengan kecepatan penuh, mendesak sang sopir untuk membelah kemacetan sore kota Jakarta.
Hingga akhirnya, hampir satu setengah jam Kang Maman menunggu, sebuah taksi berhenti mendadak di depan area parkir gudang dengan ban yang sedikit mencicit.
Pintu taksi terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Zenix keluar dari mobil dengan napas yang sedikit memburu. Penampilannya hari ini masih mempertahankan gaya bad boy kesukaannya kaus hitam yang dilapisi jaket denim biru pudar, jins robek di bagian lutut, dan anting hitam di telinga kiri yang memantulkan cahaya sore. Tatapan matanya yang tajam tampak dipenuhi rasa bersalah sekaligus tidak sabar yang amat sangat saat melihat Kang Maman yang masih setia duduk menunggunya.
Zenix melangkah lebar, setengah berlari menghampiri sang sopir desa. "Kang Maman! Maaf... maaf sekali saya terlambat lama," ucap Zenix dengan suara beratnya yang tersengal, menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Tadi ada ujian praktikum mendadak di kampus yang tidak bisa saya tinggal. Saya takut Akang sudah pulang duluan ke desa."
Melihat kedatangan Zenix yang tampak begitu panik dan terengah-engah hanya demi menemuinya, rasa lelah Kang Maman seketika sirna. Pria paruh baya itu bangkit berdiri sambil terkekeh geli, menepuk pundak tegap Zenix. "Oalah, tidak apa-apa, Mas Zenix! Kang Maman paham orang kota pasti sibuk kuliahnya. Yang penting Mas Dylan sudah sampai di sini dengan selamat."
Tanpa basa-basi lagi, karena tahu betul apa yang paling diinginkan oleh pemuda di hadapannya ini, Kang Maman langsung merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan amplop cokelat kecil yang masih terawat rapi tanpa lecet sedikit pun.
"Ini, Mas. Titipan langsung dari Neng Anisa. Tadi pagi-pagi sekali sebelum saya berangkat, beliau nyamperin saya di persimpangan jalan desa khusus untuk ngasih surat balasan ini buat Mas Zenix," ujar Kang Maman dengan senyuman penuh arti.
Melihat amplop cokelat kecil itu berada di tangan Kang Maman, sepasang mata tajam Zenix seketika melebar. Jantungnya berdegup kencang secara maraton, menghasilkan sensasi debaran yang luar biasa di dalam dadanya. Rasa tidak sabar yang membuncah membuatnya ingin segera merebut surat itu sekarang juga.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena emosi yang meluap, Zenix menerima amplop cokelat tersebut. Sentuhan jemarinya pada kertas kasar itu seolah menyalurkan energi kedamaian dari tepi Hutan Sangker langsung ke dalam jiwanya yang penat setelah seharian belajar.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Kang Maman. Akang tidak tahu seberapa berartinya kertas ini buat saya," ucap Zenix dengan nada suara yang penuh rasa syukur yang mendalam. Seperti kemarin, Zenix kembali merogoh dompetnya dan memberikan uang upah bensin tambahan yang cukup tebal ke dalam genggaman Kang Maman sebagai bentuk apresiasi atas kesabaran pria itu menunggunya.
Setelah berpamitan dengan Kang Maman yang langsung bersiap menyalakan mesin mobil untuk pulang, Zenix tidak membuang waktu lagi. Ia kembali naik ke dalam taksi yang sengaja ia minta untuk menunggu, dengan satu tujuan tunggal pulang ke mansionnya secepat mungkin.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, Zenix terus menggenggam amplop cokelat itu dengan tangan kanannya yang mengenakan cincin perak. Ia berulang kali membolak-balikkan amplop tersebut, menghirup aroma kertasnya yang samar-samar menyiratkan bau harum alami pedesaan yang menenangkan, sangat kontras dengan bau asap knalpot kota di luar jendela. Zenix menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membuka surat itu di dalam taksi ia ingin membacanya di tempat yang paling privat, di mana tidak ada satu pun orang yang bisa mengganggu momen sucinya dengan Anisa.
Begitu taksi berhenti di depan gerbang raksasa mansion utama keluarga Wang di Blok Utara, Zenix langsung turun setelah membayar ongkos. Dua security safari hitam yang berjaga di pos depan sempat terkejut melihat Tuan Muda mereka berjalan setengah berlari melewati halaman paving block, mengabaikan sapaan hormat mereka dengan wajah yang dipenuhi ketegangan yang aneh.
Zenix menerobos masuk melalui pintu jati besar mansion, mengabaikan panggilan lembut dari ibunya, Mama Sofia, yang sedang duduk di ruang tengah. Laki-laki itu menaiki anak tangga melingkar menuju lantai dua dengan langkah-langkah besar yang terburu-buru.
CEKLEK... BAM!
Zenix menutup pintu kamar pribadinya yang luas dan mewah, lalu mengunci slop pintunya dari dalam. Ia melempar tas ransel kampusnya ke atas sofa kulit secara sembarangan, lalu berjalan menuju tepi tempat tidur besarnya yang menghadap langsung ke arah jendela kaca besar dengan pemandangan langit senja kota Jakarta yang mulai memerah.
Zenix duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya yang kian liar. Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian seolah-olah benda di tangannya adalah kaca tipis yang mudah pecah Zenix merobek segel amplop cokelat itu. Ia mengeluarkan selembar kertas bergaris yang terlipat rapi di dalamnya.
Goresan tinta hitam dari tulisan tangan Anisa yang rapi, miring, dan sangat anggun langsung menyapa pandangan matanya.
Zenix mulai membaca bait demi bait tulisan tersebut dengan saksama. Setiap kata yang ditulis Anisa, mulai dari salam pembuka yang santun hingga kabarnya yang menceritakan bahwa keadaannya di pondok saat ini aman dan baik-baik saja, terserap dengan sempurna ke dalam sanubari Zenix. Ketika matanya membaca kalimat, "Keteguhan Mas Zenix dalam menjaga diri dan menghormati komitmen kita di tengah ramainya kota adalah bukti nyata dari ketulusan hati Mas yang sesungguhnya... doa subuh saya tidak akan pernah putus untukmu..." pertahanan batin sang Pangeran Es runtuh seketika.
Sepasang mata tajam Zenix yang biasanya memancarkan aura dingin dan ketakutan bagi musuh-musuhnya di kampus, kini tampak berkaca-kaca menahan haru yang luar biasa. Sebuah senyuman paling tulus, tampan, dan penuh kebahagiaan terukir lebar di wajah tegap pemuda itu. Rasa lelah akibat tugas kuliah dan ujian praktikum yang menjemukan sepanjang hari lenyap tak berbekas, digantikan oleh gelombang energi baru yang memenuhi dadanya dengan determinasi yang kian membaja.
Zenix mendekap surat kertas bergaris dari Anisa itu erat-erat di depan dadanya, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil menatap langit senja di luar jendela. "Tunggulah aku, Anisa... aku tidak akan pernah mengecewakan doa subuhmu," bisik Zenix lirih pada keheningan kamarnya, memantapkan langkah hidupnya untuk menjadi pria sejati yang siap bersanding dengan sang takdir di tepi Hutan Sangker.