NovelToon NovelToon
JUST KILL ME

JUST KILL ME

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Kriminal / Horor / Militer / Misteri / Cintapertama / Tunangan Sejak Bayi / Cinta Seiring Waktu / Mata-mata/Agen / Tamat
Popularitas:933.6k
Nilai: 5
Nama Author: Seul Ye

Aku sudah menggilainya sejak tingginya baru sepinggangku. Bahkan setelah lima belas tahun berlalu pun, aku masih tergila-gila padanya, pada gadis kecil berisik itu, Miya.

Tapi tiba-tiba Miya menghilang, tanpa jejak, tanpa alasan, dan tanpa pamit. Aku yang tak sudi hidup tanpanya, bertekad untuk mencarinya meski harus memorak-porandakan surga dan neraka.

Dan ketika akhirnya aku menemukannya, ia berbisik lirih padaku. "Apa yang akan kau lakukan jika Ibuku dan Ayahmu saling mencintai, Kingston?"

.
.
.

HALO, INI SEUL YE.
MOHON DUKUNGANNYA YA UNTUK KARYA RESMI PERDANA SAYA.
MOHON DIMAKLUMI JUGA JIKA BANYAK KESALAHAN PENULISAN DALAM KARYA INI.
SAYA MASIH BELAJAR DAN AKAN TERUS BELAJAR.
TERIMA KASIH. SELAMAT MEMBACA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seul Ye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 30

Bunyi sirine mobil polisi memecahkan suasana kalut di antara Aldrich dan Feriha. Ternyata Sam kembali dengan membawa serta dua orang polisi yang sedang berpatroli. Para pengawal Aldrich yang beberapa menit lalu hampir bergulat barbar dengan Sam, langsung menyambut kedatangan polisi-polisi tersebut dengan gaya hormat khas kemiliteran.

Sam lalu menghampiri Feriha yang masih mematung di depan pintu rumah sederhana itu, dia berniat membantu Feriha untuk masuk ke dalam rumah. Namun Feriha menepis tangan Sam yang berniat baik menuntunnya, dan malah merogoh ponsel dari saku roknya. Dengan wajah merah padam, Feriha pun menelepon sang putri, Miya.

"Miya, pulang ke rumah sekarang juga," teriak Feriha.

Suara Miya terdengar dari seberang telepon. "Ibu, kenapa tiba-tiba? Apa yang terjadi? Kenapa Ibu ber--"

Feriha menyela Miya sambil terus berteriak murka. "Ibu bilang pulang ke rumah sekarang juga! Tinggalkan anak itu dan pulang sekarang juga! Kau dengar, Eremiya?"

" Ibu, tapi ini masih ja--"

Feriha sama sekali tak menggubris jawaban Miya, ia hanya terus menyela dan melanjutkan teriakan murkanya. "Baiklah, jika kau tidak mau pulang dan memilih tetap bersama anak itu, mulai malam ini dan seterusnya selama aku masih hidup, jangan pernah memanggilku ibu!"

Aldrich kembali tertawa. "Kau membuang anak kandungmu yang lain? Lagi? Wah, Feriha, kau benar-benar lahir tanpa hati nurani."

...***...

Aku duduk bersimpuh di depan Miya yang kini sedang asyik mamainkan jari jemari kakinya. Kami sama-sama tidak bisa kembali tidur sejak Ibunya, Feriha, mengakhiri panggilan teleponnya. Aku mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan Miya di dalam kepala kecil itu. Kugenggam kedua kaki Miya yang sedari tadi sibuk bergerak. Miya masih menunduk, namun perlahan menatapku, tatapan yang membuat perasaan tidak nyaman dalam diri ini semakin menggeliat hebat.

"Ayo pikirkan masalah ini bersama," ujarku lembut.

Miya menggeleng, lalu menaikkan kakinya ke ranjang dan menarik selimut. "Tidur lagi saja."

"Hei, ayo kita belajar untuk lebih saling terbuka satu sama la--"

Miya menoleh sembari menatap sinis padaku. "Apa kau memberitahuku saat kau bergabung dengan FBI?"

"Ah, soal itu ak--"

"Apa kau juga memberitahuku saat kau melukai gurumu, Ayahmu, dan bahkan Hideyoshi? Lebih saling terbuka apa yang kau maksud?"

Aku tak kuasa membantah. Memang, jika sudah berdebat dengan Miya aku pasti akan kalah telak. Perlahan aku beranjak dan duduk di sebelah Miya yang kini sedang berbaring memunggungiku. Aku terus memaki otakku yang tak lekas menemukan bantahan halus demi membuat kami kembali berbicara tanpa canggung. Namun sial, otakku benar-benar enggan memikirkan apapun saat ini.

Aku berdeham, "aku bersalah."

Miya tak merespon, namun helaan napas jengkelnya yang terdengar begitu jelas cukup untuk dijadikan jawaban. Aku kehilangan akal untuk membujuk Miya, tidak, sejujurnya aku tak lagi memiliki akal ketika sudah berurusan dengan Miya. Kuberanikan diri untuk membelai rambut Miya, rambut cokelat yang tidak lagi beraroma melon itu. Miya masih tak merespon, namun juga tak menolak belaian dariku.

"Kau mau mengajakku memikirkan masalah ini bersama atau mau membuatku tertidur?"

Spontan aku terbahak. "Baiklah. Apa rencanamu?"

Miya menghela napasnya. "Aku akan bicara pada Ibu. Aku ingin Ibu mengatakan semuanya padaku tanpa ada yang terlewat, tentang masa lalunya dengan Ayahmu, dan tentang apa yang akan dilakukannya kepada Ayahmu saat ini dan nanti. Jika bisa, aku ingin mereka berdua yang mengatakannya."

"Bukan, bukan kau saja yang akan bicara dengan Ibumu, tapi kita. Ayo kita bersama-sama bicara pada mereka berdua."

Miya kembali menghela napas. "Tapi kurasa akan sulit untuk mendudukkan mereka di tempat yang sama. Mereka benar-benar seperti musuh bebuyutan."

"Kita bahkan belum mencobanya. Ayo kita coba semua cara tanpa mengenal kata menyerah," balasku pada Miya.

Miya mengangguk dengan bersemangat, membuatku seketika ikut bersemangat. Aku lalu berbaring di samping Miya, memeluknya sepanjang malam. Walau tak mengatakan apapun lagi setelah kami bersepakat menjalankan rencana itu esok hari, aku tahu betul jika saat ini perasaan Miya masih tidak karuan. Sejujurnya aku takut, namun mustahil akan ada yang memercayaiku jika aku mengatakan itu. Tapi sungguh, aku takut, takut jika pelukan ini tak lagi bisa kurasakan sesuka hati.

...***...

Akhirnya aku dan Miya tiba di Jepang. Sejak terbangun pagi tadi, kami terus bergandengan tangan dan saling memeluk erat. Tak terhitung sudah berapa kali kami saling menatap dalam, tak terhitung pula sudah berapa kali aku mengusap tetesan bening yang tiba-tiba keluar dari mata abu-abunya yang indah itu.

Kami pikir rencana yang sudah kami buat semalam bisa berjalan dengan mulus, tapi ternyata sangat jauh dari harapan. Baik Ibunya maupun Ayahku, tak memberikan kami celah untuk mendekati mereka. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara empat mata, aku dengan Ayahku dan Miya dengan Ibunya.

"Hubungi aku jika sudah selesai bicara dengan Ibumu. Jangan memikirkan apapun tanpa aku, mengerti?"

Miya mengangguk, lalu tersenyum paksa. "Aku masuk dulu."

Aku menautkan kelingkingku dengan kelingking Miya. "Ingat, kau sudah berjanji untuk menghubungiku secepatnya."

Miya kembali tersenyum paksa, sambil mengeratkan kelingkingnya. "Sana pergi, lakukan bagianmu juga."

Aku memandangi Miya yang sedang berjalan dengan langkah berat memasuki rumahnya. Ingin rasanya aku menculik sosok kecil itu, yang kini sudah berdiri tepat di depan pintu masuk. Rasa takut yang kembali menggelayutiku, spontan membuat langkah kaki ini menjadi berat. Miya yang seolah sadar aku enggan untuk pergi, menoleh padaku dari kejauhan sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Ini terakhir kalinya kau melihatku jika kau berniat untuk menghilang lagi. Aku akan mati. Kau dengar?" teriakku pada Miya.

...***...

KLEK!

Miya sudah masuk ke dalam rumahnya, namun tak ia dapati seorang pun. Miya lalu duduk di sofa untuk melepas lelahnya sesaat, hingga tanpa sadar tertidur di sana hingga malam datang. Saat Miya bangun, selimut kesayangannya sudah menutupi sebagian tubuhnya, dan aroma lezat sudah menyeruak memenuhi seisi rumah. Miya menoleh ke dapur, tampak sang ibu sedang menyendok nasi ke dalam mangkuk.

"Makanlah dulu, baru kita bicara," tutur Feriha.

Miya beranjak menuju meja makan. "Selamat makan."

"Ibu minta maaf karena sudah membentakmu dan mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih. Ibu terbawa emosi lagi."

"Aku tahu, jadi aku baik-baik saja. Daripada itu, aku sudah tahu jika Paman Aldrich adalah mantan kekasih Ibu."

"Ibu juga sudah tahu jika kau diam-diam mencari tahu soal itu sampai masuk ke kamar Ibu."

Keduanya saling menatap, dan menghela napas bersamaan. Suasana hening muncul sesaat, namun segera terpecahkan ketika perlahan Feriha mulai menceritakan semuanya pada Miya. Miya hanya mendengarkan cerita sang ibu sambil terus menikmati seporsi nasi karinya. Namun kunyahan nikmat itu terhenti ketika Feriha mengatakan jika dirinya dan Aldrich mempunyai seorang anak meski tidak pernah menikah.

"Apa yang dikatakan dokter saat itu, Ibu masih mengingatnya dengan jelas, jika Ibu melahirkan seorang bayi perempuan."

DEG! DEG!

"Jadi, aku dan Kingston benar bersaudara?" tanya Miya dengan suara bergetar.

DEG! DEG! DEG!

Feriha mengangguk. "Kingston lahir dari wanita simpanan Aldrich, ketika Ibu sedang mengandung kakak perempuanmu."

DEG! DEG! DEG! DEG!

1
Era Simatupang
kali ini AQ akan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bunga cinta
jgn jgn sodara sedarah
bunga cinta
dar der dor
bunga cinta
bagus
Era Simatupang
🤣🤣🤣🤣🤣keren Kingston
Era Simatupang
entah yg ke brapa kali ini ku baca
Else Widiawati
kereeenn kata2nya thor....love it...🥰🥰
Else Widiawati
buussyyeettt dahhh.....edan bener2 nih kingston...aduhh jangan ditiru ahh...masa ayahnya sendiri di dorrr😒😒😴
Else Widiawati
aku penasaran berapa umur kingston sekarang?? beda brp tahun dengan miya?
Else Widiawati
beneran ga sih tuh ramalannya??? sampe merinding
Else Widiawati
meleleh aku.....😇😇😇😇
Else Widiawati
kingston emang bener2 gila segitunya sampe rela ditembak....
Else Widiawati
aku baru tau kali bunga lily artinya kebencian.... padahal banyak yg suka bunga lily ketika memberi kado bunga waktu baca novel2🤔🤔
Else Widiawati
dari miya umur 5 tahun sampe miya umur 20 tahun....sedangkan miya sejak umur berapa mulai menyukai kingston?? duuhhhh apa mereka akan bertemu thor....
Else Widiawati
aku masih nyimak ceritanya thor....
Else Widiawati
mampir thor baca cerita pertamamu....kayaknya lebih suka dengan cerita ini yah.... wahh bakalan otw marathon ini
Else Widiawati: bukan , aku masih blm nyimak ceritanya... dan blm sempet buka lagi... pas baca yang ini ko lebih semangat bacanya...ceritanya tentang cinta kan lebih gimana gitu😆😆😅
total 2 replies
USWA ,
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
di platform ini aq ingin cari hiburan..bukan untuk ujaran kebencian.apapun bentuk karya2 author semua adalah hasil karya yg patut utk diapresiasi.sudah berani mencoba itu sudah lebih dari sekedar baik.semangat..semangat..jangan kasih kendor.tetap srmangat dlm berkarya semoga menjadi famous ya..
$uRa
salam .baca ahh ..
Ayoung Lely
mampir kk...😁😁
ay
>•<
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!