Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi-lagi di cercah!
Rindu meraba tasnya, merogoh bagian dalam kantong kain itu, lalu mengeluarkan ponselnya. Layar benda digital itu langsung menyala, menampilkan rentetan baris merah di pusat notifikasi.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mertuanya, lengkap dengan beberapa pesan singkat yang belum terbaca.
"Aduh, Nia. Aku harus pulang. Ibu sudah menelepon berulang kali," kata Rindu pada Nia, wajahnya yang semula cerah seketika berubah agak panik.
Nia melirik layar ponsel sahabatnya, lalu menghela napas maklum sembari menepuk pundak Rindu.
"Ya sudah. Cepat pulang, sebelum mertuamu itu berubah menjadi singa yang akan melahapmu," canda Nia, yang langsung dibalas tawa kecil oleh Rindu untuk mengurangi rasa tegangnya.
"Aku duluan ya, Ni! Makasih buat hari ini," seru Rindu terburu-buru sembari merapikan barang bawaannya.
Rindu pun bergegas keluar dari mal dan langsung menaiki taksi yang kebetulan sedang mengantre di lobby.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk. Ia menebak-nebak hal apa lagi yang membuat Ibu Ratna mencarinya dengan begitu intensitas tinggi seperti ini. Apakah ada kesalahan lagi yang ia perbuat sebelum pergi tadi?
Sesampainya di rumah, Rindu menarik napas dalam-dalam sebelum memutar knop pintu utama. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa begitu sunyi. Namun, langkah kakinya mendadak kaku saat tatapannya tertuju pada area ruang tamu.
Di sana, sudah ada Bu Ratna yang duduk tegak di sofa tunggal, sengaja menunggunya pulang. Saat melihat Rindu melangkah masuk, wanita paruh baya itu menatapnya dengan tatapan tajam, mengintimasi setiap jengkel dari pergerakan menantunya.
"Baru pulang, Rindu?" Suara Bu Ratna terdengar begitu dingin, memotong keheningan ruangan yang luas itu. Beliau berdiri, melipat kedua tangannya di dada sambil melirik kantong-kantong belanjaan yang ditenteng Rindu.
Rindu menelan ludah, berusaha menata detak jantungnya agar tetap tenang. Ia melangkah mendekat, lalu mengulas senyum sesopan mungkin.
"Iya, Ma. Maaf sekali Rindu baru lihat ponsel tadi, ternyata modenya getar sejak siang. Ada apa ya, Ma? Mama telepon Rindu sampai berkali-kali?"
Bu Ratna menghela napas panjang, kentara sekali sedang menahan kejengkelan yang sudah menumpuk sejak satu jam lalu.
Bu Ratna menghela napas panjang, kentara sekali sedang menahan kejengkelan yang sudah menumpuk.
Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka, sementara tatapannya tertuju lurus pada deretan logo toko kosmetik dan pakaian di kantong belanjaan yang dipegang Rindu.
"Getar atau sengaja kamu abaikan?" sindir Bu Ratna, nadanya meninggi, sarat akan tuduhan.
"Mama ini telepon berkali-kali bukan mau mengajak mengobrol kosong, Rindu. Mama pusing di dapur, mau masak. Sementara kamu? Sengaja kan tidak mau mengangkat telepon Mama karena sedang asyik bersenang-senang di luar?"
Rindu tertegun, senyum sopan yang sejak tadi dipertahankannya perlahan memudar.
"Bukan begitu, Ma. Rindu benar-benar tidak tahu..."
"Sudahlah, tidak usah cari alasan!" potong Bu Ratna cepat, mengibaskan tangannya dengan gerakan meremehkan.
"Kamu itu egois. Heran Mama, sudah tiga tahun menikah dan belum bisa memberikan cucu untuk keluarga ini, kerjaanmu malah cuma bersenang-senang dan belanja menghabiskan uang suami. Bukannya fokus urus rumah, urus program hamil, atau prihatin dengan kondisi diri suami, ini malah keluyuran tidak jelas sampai sore."
Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang langsung menghujam tepat di ulu hati Rindu. Jantungnya berdenyut ngilu, jauh lebih menyakitkan daripada sindiran malam sebelumnya.
Kalimat belum bisa memberikan cucu dan menghabiskan uang suami terasa begitu kejam.
Rindu memejamkan mata sejenak, menahan badai emosi yang bergemuruh di dadanya, berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di hadapan wanita tua ini.
Dia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa kelapangan hati yang baru saja ia isi bersama Nia beberapa jam lalu.
Ketika ia membuka mata kembali, sorot matanya tampak tulus, meski ada binar luka yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
"Ma, maafkan Rindu," ucap Rindu, suaranya bergetar pelan namun terdengar sangat santun. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk rasa hormat.
"Rindu akui Rindu salah karena kurang teliti mengecek ponsel hari ini. Rindu minta maaf sudah membuat Mama pusing dan menunggu lama di rumah."
Bu Ratna hanya mendengus, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan enggan, masih melipat tangan di dada dengan angkuh.
Rindu melangkah satu tapak lebih dekat, meletakkan kantong-kantong belanjaannya dengan pelan di atas meja sudut ruang tamu agar tidak menimbulkan suara berisik. Ia memandangi wajah mertuanya yang tampak lelah karena emosi dan hawa panas dari dapur.
"Mama pasti lelah sekali sejak tadi. Sekarang, Mama istirahat saja di kamar, ya? Biar Rindu yang melanjutkan semuanya di dapur. Mama tidak usah khawatir, Rindu akan selesaikan masakan malam ini secepatnya sebelum Papa dan Mas Arsen pulang," lanjut Rindu lembut, berusaha menawarkan solusi terbaik demi meredam ketegangan.
"Ya sudah! Untung kamu sadar diri," cetus Bu Ratna akhirnya, mencoba mempertahankan gengsinya yang tinggi.
"Bereskan semua kekacauan di dapur. Jangan sampai Papa pulang dan mendapati meja makan masih kosong!"
"Iya, Ma. Baik," jawab Rindu pelan.
Setelah kalimat ketus itu terlontar, Bu Ratna membalikkan badannya.
Dengan langkah kaki yang dihentakkan pelan, beliau berjalan menuju kamarnya, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam di ruang tamu.
Begitu sosok mertuanya menghilang, pertahanan Rindu yang sejak tadi dibangunnya seketika runtuh. Ia berdiri mematung sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi.
Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis. Rindu memejamkan mata erat-erat, menghela napas berat berkali-kali untuk menahan bendungan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya.
Dia menolak untuk menangis lebih lama, hatinya boleh saja terluka, namun kewajibannya sore ini tidak bisa menunggu.
Rindu membuka matanya kembali, lalu melangkah mendekati meja. Ia mengambil kembali kantong-kantong belanjaan yang dia letakkan.
Dengan langkah yang pelan, Rindu membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar yang sepi itu, ia menaruh kantong belanjaannya di sudut lemari tanpa gairah.
Dia segera melepas pakaian perginya, meraih daster rumahan yang longgar dan nyaman dari gantungan baju, lalu mengenakannya.
Setelah mengikat rambut panjangnya menjadi cepolan rapi di atas kepala, Rindu mematut diri sejenak di depan cermin meja rias. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel kamar mandi, memastikan tidak ada jejak kesedihan yang tersisa di sana.
Setelah penampilannya kembali seperti biasa, Rindu melangkah keluar kamar menuju dapur.
Begitu menginjakkan kaki di area dapur, pemandangan berantakan langsung menyambutnya. Beberapa wadah bumbu terbuka begitu saja, potongan daging sapi yang belum diolah tergeletak di atas talenan, dan di atas kompor, terdapat wajan berisi kuah santan yang permukaannya sudah mulai memisah dan pecah akibat ditinggal terlalu lama.
Rindu menarik napas panjang, mengusir sisa-sisa rasa perih di hatinya, lalu mulai bergerak dengan cekatan. Ia menyalakan kompor dengan api kecil, mengambil sudit, dan mulai mengaduk kuah santan tersebut dengan gerakan memutar yang stabil.
Tangannya yang terampil kemudian bergerak meraih santan kental instan dari lemari penyimpanan, menuangkannya sedikit demi sedikit untuk menyelamatkan tekstur masakan.
Di tengah kepulan asap dapur yang mulai menghangat, Rindu kembali fokus memasak seperti biasa, mengubur dalam-dalam luka hatinya demi menyajikan makan malam terbaik untuk keluarga itu.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰