NovelToon NovelToon
Reany

Reany

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:58.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aerishh Taher

Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.


Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.

Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.

Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.

Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.


Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.

memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.

Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Jangan Lupa follow penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Hari yang menyebalkan

Reani baru melangkah beberapa meter ketika langkahnya terhenti.

Bukan karena ragu—melainkan karena aura yang terlalu familiar.

Di depan butik perhiasan, Renata berdiri dengan gaun hamil berwarna pastel. Potongannya longgar, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan perut yang mulai membulat. Empat bulan. Tubuhnya dirawat baik, wajahnya dibuat lembut dengan riasan tipis yang sengaja memberi kesan rapuh.

Renata melihat Reani dengan senyum diwajahnya.

“Ah, Reani,” sapanya hangat, melangkah mendekat. Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri. “Kamu apa kabar?”

Reani berhenti, tatapannya turun sesaat ke perut Renata, lalu kembali ke wajahnya.

Reani nampak muak melihat Renata yang tidak bosan menampilkan sosok polos palsunya itu.

“Urus saja hidupmu sendiri,” katanya dengan suara rendah. “Atau… apa kamu masih punya rasa malu?”

Renata berkedip nampak sedikit terusik oleh respon Reani. Ia senyum tipis dari bibirnya berusaha bertahan, meski sudut matanya mengeras.

“Tidak perlu pura-pura baik di depanku,” lanjut Reani. “Aku tahu kamu membenciku.”

Renata menarik napas pelan, seolah menahan perasaan yang berat. Nada suaranya dibuat lembut, nyaris iba.

“Reani, aku tidak pernah membencimu.” Ia menggeleng kecil. “Aku hanya menjalani takdirku. Aku dan Juna… memang ditakdirkan bersama.”

Ia melangkah setengah langkah lebih dekat. “Aku tahu kamu belum bisa melupakan dia. Maaf, ya.”

Tamparan itu datang tanpa aba-aba.

PLAKKk!!!

Suara kulit bertemu telapak tangan memantul di lorong mall. Kepala Renata terhentak ke samping. Pipi kirinya langsung memerah lali membengkak dalam hitungan detik.

“Jalang,” ucap Reani bisiknya dingin. Reani tak bisa lagi menahan rasa muaknya, saat dia mengingat bahwa Renata bagian dari insiden kecelakaan yang menimpa dirinya membuatnya kehilangan kontrol

Renata terdiam sepersekian detik—lalu tangisnya pecah.

Tangisan itu terdengar begitu pilu, seakan Renata adalah seorang korban yang teraniaya oleh wanita jahat yang menampar dirinya.

“A-aku hanya menyapamu…” isaknya nyaring. Tangannya melindungi perut, tubuhnya bergetar. “Kenapa kamu jahat banget ke aku sih… hikss… hikss…”

Beberapa orang berhenti, dan mulai berkumpul. Bisik-bisik mulai terdengar.

"Jahat banget"

"Woi, mbak! Di sapa baik-baik malah nampar!"

"Bertengkar karena apa? Kok aku kayak kenal yah, wanita yang ditampar itu"

Renata mendengar salah satu bisikan yang mengenalnya mulai menundukkan wajahnya.

Sedangkan Reani tidak peduli dan malah mengangkat kepalanya dengan angkuh.

Seolah menunjukkan pada semua orang yang menatapnya bahwa ia tak bersalah.

Riuh masih terdengar saat Reani kembali mengatakan sesuatu yang membuat Renata gagal untuk menciptakan ruang drama baru untuknya.

“Aku tidak tertarik bermain peran denganmu,” ucapnya.

Renata menatap punggung Reani yang menjauh.

Tangisnya masih tersisa di tenggorokan, jemarinya yang tadi melindungi perut kini mengepal. Gigi Renata begemeletuk lalu seketika mata basah itu berubah dingin.

“Kurang ajar…” desisnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah keramaian.

Beberapa orang masih menatapnya dengan simpati. Renata menunduk lagi, memanfaatkan sisa sorotan, lalu berbalik ke arah berlawanan. Sepatu haknya menghentak lantai marmer—lebih keras dari perlu—seolah ingin melumatkan rasa kalah yang baru saja ia telan.

Reani melangkah cepat keluar dari kerumunan. Begitu jarak aman tercipta, ia merogoh tasnya dan mengangkat ponsel. Wajahnya kembali datar. Nafasnya stabil.

Nama Zen muncul di layar.

“Zen,” ucap Reani tanpa pembuka, “aku akan ke kantor.”

Di seberang, Zen menangkap nada itu. “Hari ini? ”

“Ya, aku dalam perjalanan.” Reani menatap lurus ke depan. “Aku ingin lihat sendiri apa yang berubah sejak aku pergi.”

Zen terdiam sesaat. Bukan ragu—mengatur langkah.

“Baik, aku akan siapakan akses dan data pemasaran, laporan vendor, dan evaluasi tim Juna.”

“Jangan beri tahu siapa pun,” kata Reani. “Aku sekalian ingin melihat karyawan karyawan baru.”

“Hmm baiklah Nona.”

Panggilan ditutup.

Reani memasukkan ponsel ke tas, melangkah menuju parkiran. Mesin mobil menyala. Ia menyetir keluar mall tanpa menoleh lagi.

Di kaca spion, keramaian mengecil. Wajah-wajah asing larut kembali ke urusan mereka masing-masing.

Mobil melaju mulus meninggalkan area mall. Lampu lalu lintas berpindah teratur, jalanan tidak padat. Reani menyetir dengan satu tangan, yang lain bertumpu ringan di setir. Wajahnya tenang. Tidak ada sisa emosi dari pertemuan barusan—seolah itu hanya gangguan kecil di rutenya.

Gedung Tekno Air menjulang dengan fasad kaca biru. Reani memarkir mobil, melangkah masuk. Pendingin udara menyambut, bau logam dan kebersihan khas kantor korporat terasa tajam.

Di meja resepsionis, seorang gadis muda mendongak.

Wajah Reani tertangkap utuh di hadapannya—postur tegap, riasan tipis, pakaian sederhana yang jatuh sempurna. Alis gadis itu mengernyit tanpa sadar. Tatapannya menimbang, lalu mengeras.

Name tag di dadanya: Mary Casia.

Mary menarik sudut bibirnya, senyum profesional terpasang rapi. “Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?”

“Aku ingin bertemu Pak Zen,” jawab Reani singkat.

Mary menoleh ke layar komputernya. “Sudah ada janji?”

“Hm.” Reani mengangguk kecil. “Sudah. Aku menghubunginya beberapa menit lalu.”

Mary menatap Reani lagi, cepat, lalu kembali ke layar. Jemarinya mengetuk ringan meja—sepersekian detik lebih keras dari perlu. “Baik. Mohon tunggu sebentar. Saya konfirmasi ke sekretaris Pak Zen.”

“Silakan.”

Mary meraih telepon. Nada sambung terdengar sekali sebelum terangkat.

“Bu Kania?” suaranya dibuat lembut. “Ini Mary dari resepsionis.”

Di seberang, suara perempuan menjawab singkat. “Ya, Mary.”

“Ada tamu yang ingin bertemu Pak Zen,” lanjut Mary, melirik Reani sekilas. “Katanya sudah ada janji. Namanya… Reani.”

Hening setengah detik.

“Reani?” ulang Kania, lebih rendah. “Tolong pastikan.”

Mary menahan napas kecil. “Ya. Dia mengaku sudah menghubungi Pak Zen langsung beberapa menit lalu.”

Kania tidak menjawab segera. Bunyi ketikan terdengar samar. Lalu, “Beri Bu Reani Akses , antar ke ruang rapat kecil lantai atas. Pak Zen sedang menunggu.”

Mary mengangguk, meski tak terlihat. “Baik.”

Telepon ditutup.

Mary menoleh kembali ke Reani, raut wajahnya masih terlihat tak suka pada Reani. “Silakan ikuti saya, akan saya antar.”

Reani mengangguk tanpa komentar.

Saat mereka berjalan, Mary mengambil kartu akses. Pintu kaca terbuka. Di pantulan dinding, Mary melihat bayangan mereka berdua—dirinya yang terlihat biasa, dan Reani yang terlihat seperti seorang Dewi yang turun ke bumi.

Iri itu tidak terucap, tapi terlihat begitu jelas bahwa ia sangat tidak suka rasa rendah diribyang merayap dihati Mary.

Mereka berhenti di depan ruang rapat berdinding kaca buram.

“Silakan menunggu di sini,” kata Mary. Tangannya menunjuk gagang pintu, senyumnya kembali dipasang—kaku, tipis.

“Terima kasih,” jawab Reani.

Mary berbalik. Langkahnya cepat saat menjauh, seolah ingin segera keluar dari radius itu.

Pintu terbuka dari dalam.

“Masuk,” suara Zen terdengar.

Reani melangkah ke ruang rapat. Zen sudah berdiri di sisi meja, setelan abu-abu gelapnya rapi, map tipis di tangan. Ia menutup pintu, lalu tersenyum kecil—senyum profesional yang lebih dekat pada rasa hormat.

“Kamu tepat waktu,” katanya.

“Aku tidak suka menunda,” balas Reani.

Zen mempersilakan duduk. Reani memilih kursi di dekat jendela. Cahaya jatuh miring di wajahnya, menegaskan ketenangan yang tidak dibuat-buat.

“Ada yang ingin kamu sampaikan sebelum kita mulai?” tanya Zen.

Reani menatap meja, lalu mengangkat pandangannya. “Ada.”

Zen menunggu.

“Tolong,” kata Reani pelan, “kalau kamu memilih resepsionis, pastikan yang lebih ramah. Dan—” ia berhenti sepersekian detik, memilih kata, “—tidak menatap sinis pada tamu.”

Zen mengangkat alis tipis, lalu tertawa pendek. Bukan mengejek—lebih seperti memahami.

“Hahaha,” katanya, duduk bersandar. “Kamu terlalu mencolok untuk tempat yang penuh orang biasa.”

Reani tidak bereaksi.

“Itu bukan pembenaran,” lanjut Zen, suaranya kembali datar. “Aku akan menindaklanjuti.”

Reani mengangguk. “Baiklah, itu cukup.”

Zen memutar map di meja, menutup topik. “Sekarang,” katanya, “kita bicara Tekno Air.”

Reani menyilangkan kaki. “Mulai dari pemasaran.”

Zen tersenyum tipis. “Seperti yang kuduga.”

bersambung.....

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
keren thor ceritanya 👍👍💐
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
permisi aku iseng pengen mampir aja.
Noor hidayati
ini masih ada kelanjutanya tidak,kalau memang sudah tidak dilanjut mau saya hapus dari daftar riwayat
drpiupou
nggak tamat kak, lagi nggak enak badan🙏
fitri
cerita yang cukup menarik tapi sayang tamat tanpa tahu macam mana pengakhirannya😔😔😔😔😔😔😔😔😮‍💨😮‍💨😮‍💨😮‍💨😮‍💨
fitri
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪😘😘😘😘
Kayla Callista
🤣🤣semangat rea
murni l.toruan
Duuuhhh semakin seru saja kakak Author apa dan siapa musuh Lady Rose..
Juna umpan dan untuk mati duluan
murni l.toruan
Keren banget Rose Cavali
cinta semu
wow itu live kan ...heboh di hujat netizen 😂😂
drpiupou: jelas🤣
total 1 replies
Saidah Sappa
Alur yang bagus ♥️♥️♥️♥️
Soraya
mampir thor
Hagia Sophia
kuraaaangggg klo cuma 1 kakaaaaa
drpiupou: berapa jadinya kakak🤣
total 1 replies
Sri chandri Yani
Sangat bagus dan menarJalan ceritanya seru dan menegangkan tapi penuh misteri 🙏🏻
drpiupou: Terima kasih kakak sudah membaca 'REANY' tetap nantikan kelanjutan nya ya☺️
total 1 replies
murni l.toruan
Aku suka karyamu kakak Author...penasaran tingkat tinggi
drpiupou: Reani bakalan mulai membuka lembaran lama, secara perlahan. dan kuharap kamu masih ada bersama Reany.
total 1 replies
murni l.toruan
Rea mengamuk dengan tenang mengalahkan 10 orang pecundang
murni l.toruan
Keren banget...cewek yang tidak menye2
drpiupou
🤣takut dia sama roberto
Diyah Saja
wkkwwk kaburr mereka 🤣
Himna Mohamad
lanjut thoor,,,waww semakin kereen
drpiupou: Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang banyak, telah membaca REANY 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!