Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Richard tiba di Sentul dengan tiga mobil dan wajah yang membuat seluruh paddock berhenti bernapas.
Keira sedang duduk di ruang medis kecil ketika pintu terbuka. Dokter sirkuit baru selesai memeriksa denyut nadinya. Mira berdiri di sampingnya, masih marah, masih takut, dan masih memegang botol air mineral yang belum dibuka.
"Om," kata Keira.
Richard tidak menjawab. Ia melihat wajah Keira, pergelangan tangannya, lututnya, lalu hasil pemeriksaan di meja.
"Ada luka?"
"Tidak serius."
"Itu bukan jawaban."
Dokter sirkuit cepat berkata, "Tidak ada cedera besar, Pak. Hanya memar ringan dan shock."
Richard menatap Keira. "Shock?"
Keira menunduk. "Sedikit."
Mira mendengus. "Sedikit katanya. Mobil orang masuk danau, dia masih sempat telepon pakai suara manis."
Keira menatap Mira.
"Apa? Gue trauma."
Richard mengirim Jason untuk mengurus rekaman CCTV, data kendaraan, dan identitas Charles Navarro. Charles sendiri sudah pergi dengan alasan dibawa timnya ke rumah sakit swasta. Terlalu cepat. Terlalu bersih. Keira tahu pria itu sengaja meninggalkan panggung sebelum Richard datang.
Di mobil pulang, Richard tidak bicara selama hampir setengah jam.
Keira duduk di kursi belakang, masih memakai jaket tipis yang diberikan Mira. Tangannya memegang botol air. Setiap kali mobil melewati tikungan, tubuhnya menegang sedikit. Richard melihat semuanya dari pantulan kaca, tetapi tetap diam.
Akhirnya ia berkata, "Mulai besok, kamu tidak kembali ke Rumah Tan."
Keira mengangkat wajah. "Apa?"
"Kamu tinggal di Villa Awan."
"Om, itu terlalu..."
"Engkong berangkat ke Singapura besok pagi untuk pengobatan. Pak Hasan ikut mendampingi dua minggu pertama. Rumah Tan tidak punya cukup orang untuk menjagamu."
Keira terdiam.
Ia tahu Engkong akan berangkat ke Singapura. Dokter dari sana sudah dijadwalkan sejak bulan lalu untuk memeriksa memori Engkong yang kadang hilang. Keira sendiri yang mendorong agar pengobatan tidak ditunda.
Namun ia tidak menyangka Richard akan memakai celah itu.
"Saya bisa tinggal sendiri."
"Tidak."
"Saya sudah dewasa."
"Orang dewasa tidak menjawab tantangan pria asing di sirkuit."
Keira ingin membalas, tetapi tidak punya argumen yang terdengar baik.
Richard menoleh sedikit. "Kamu hampir celaka."
Suaranya tidak keras. Justru karena itu, Keira berhenti melawan.
Ada amarah di sana, tetapi bukan hanya pada Charles. Pada dirinya sendiri. Pada jarak yang membuat ia datang terlambat. Pada kenyataan bahwa Keira bisa berada dalam bahaya ketika ia tidak melihat.
"Baik, Om," kata Keira pelan.
Keesokan paginya, Engkong berangkat ke Singapura.
Di bandara private lounge, Engkong memegang tangan Keira lama sekali. "Kei jangan lupa makan. Jangan kerja terlalu malam. Kalau ada apa-apa, telepon Engkong."
Keira tersenyum. "Engkong yang harus telepon saya setiap hari."
"Iya, iya."
Pak Hasan berdiri di samping kursi roda ringan yang disiapkan untuk Engkong, wajahnya berat. "Non Kei yakin tidak apa-apa tinggal di Villa Awan?"
"Saya tidak apa-apa, Pak."
"Pak Lim sudah bilang akan ada staf perempuan dan sopir khusus."
Keira melirik Richard yang berdiri beberapa meter jauhnya bersama Jason. Tentu saja pria itu sudah mengatur semuanya sebelum bertanya.
Setelah pesawat Engkong berangkat, Keira pulang ke Rumah Tan untuk mengambil koper.
Ia hanya membawa satu koper besar, satu tas dokumen, dan amplop DNA yang ia pindahkan ke kompartemen tersembunyi. Kamar masa kecilnya terlihat sama. Foto Papa di meja. Rak buku. Aroma lemari kayu. Keira berdiri di tengah ruangan beberapa detik lebih lama dari perlu.
Pak Hasan tidak ada di pintu seperti biasanya. Rumah Tan terasa ganjil tanpa suara langkahnya dan tanpa panggilan "Non Kei" dari dapur. Staf lain membantu membawa koper, tetapi tidak ada yang berani bertanya mengapa Keira pindah begitu mendadak.
Keira membuka laci meja, mengambil satu pita rambut lama pemberian Papa, lalu memasukkannya ke tas dokumen. Benda kecil itu tidak berguna untuk rencana apa pun. Justru karena itu ia membawanya.
Rumah ini miliknya.
Belum tentu selamanya.
Villa Awan menyambutnya dengan keheningan mahal.
Kamar Keira berada di lantai tiga, menghadap taman tropis. Ada lift pribadi dari lantai dasar. Kamar Richard berada di lantai dua. Jason menjelaskan jadwal staf, dapur, keamanan, dan rute ke kantor seolah sedang membacakan perjanjian.
"Staf perempuan berjaga sampai pukul sepuluh malam. Setelah itu keamanan di lantai dasar. Kalau Nona Tan butuh apa pun, tekan tombol ini," kata Jason sambil menunjuk panel di dekat ranjang.
Keira menatap panel itu. "Seperti hotel."
"Boss bilang jangan seperti hotel. Harus seperti rumah."
Kalimat Jason membuat Keira menoleh.
Jason pura-pura tidak sadar sudah membocorkan sesuatu. "Saya lanjutkan penjelasan dapur."
Di dapur, kepala koki villa sudah menyiapkan daftar makanan yang tidak boleh terlalu pedas karena Keira baru sembuh. Di kamar mandi, tersedia sandal anti-slip. Di meja kerja kecil, ada adaptor, printer mini, dan kotak obat flu.
Semua terlalu rinci.
Keira menyentuh kotak obat itu. "Om menyusun ini semua?"
Jason memilih jawaban paling aman. "Boss meminta semuanya siap sebelum Nona Tan datang."
Itu bukan jawaban tidak.
Di lemari, Keira menemukan beberapa pakaian tidur baru dengan tag masih menempel. Ukurannya tepat. Warna-warnanya lembut, tidak terlalu mencolok, seperti dipilih oleh orang yang tidak paham mode perempuan tetapi sangat paham bahwa Keira tidak suka warna terlalu ramai.
"Ini juga?"
Jason kali ini benar-benar batuk kecil. "Staf perempuan yang memilih."
"Atas perintah Boss?"
"Atas kebutuhan operasional."
Keira menahan senyum. "Operasional tidur?"
Jason memilih diam. Diamnya jauh lebih jujur daripada jawaban.
Keira berjalan ke balkon kecil di kamar itu. Dari sana, ia bisa melihat taman, kolam, dan lampu jalan pribadi yang mengarah ke gerbang. Villa Awan seperti dunia tertutup, aman karena semua pintu dijaga, tetapi juga berbahaya karena seluruh udara di dalamnya milik Richard.
"Nona Tan kurang suka kamarnya?" tanya Jason.
"Terlalu lengkap."
"Itu keluhan yang jarang saya dengar."
Keira tersenyum. "Saya sedang menyesuaikan diri."
Dengan rumah baru.
Dengan pria yang membuatnya pindah sebelum ia sempat menolak.
Keira mendengarkan dengan wajah patuh.
Malam itu, setelah semua orang pergi, ia duduk di tepi ranjang kamar baru. Koper belum dibuka. Di luar jendela, lampu taman menyala lembut. Rumah ini asing, tetapi tidak dingin.
Pukul sebelas lewat, ia mendengar langkah kaki di koridor.
Langkah itu berhenti di depan pintu kamarnya.
Keira menahan napas.
Tidak ada ketukan.
Beberapa detik kemudian, langkah itu bergerak lagi, menjauh menuruni koridor.
Keira tersenyum dalam gelap.
Richard memeriksanya.
Tidak masuk. Tidak bertanya. Hanya berhenti sebentar.
Kadang, perhatian paling berbahaya justru yang tidak meminta izin untuk tinggal di kepala.