Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Wanita Jahat
Kediaman Pak Hardi
Niana menangis tersedu-sedu di pojok kamarnya, ia memukul-mukul bantal yang di peluknya, dalam benaknya bantal itu adalah Susi.
Kebenciannya terhadap Susi semakin menjadi-jadi.
Sebelumnya,
Saat ia datang ke rumah bersama kakak iparnya, ibu dan bapaknya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat masam.
Pak Hardi tidak berbicara, tapi lain halnya dengan Bu Nasih.
Bu Nasih menarik rambut Niana ke kamar.
Setelah ada di kamar, Bu Nasih memukul betis Niana beberapa kali menggunakan sapu lidi.
"Dasar bodoh! Kau letakkan di mana akal dan pikiranmu? Kamu boleh aja ngerjain si Susi tapi bukan kaya gitu caranya! Ibu dan Bapak marah sama kamu bukan karena sayang sama si Susi" Ibu menarik napas di sela amarahnya yang memuncak.
"Ibu marah karena Ibu dan Bapak takut sama Bang Kojek, kamu tahu kan si Susi jadi jaminan Ibu dan Bapak untuk hutang-piutang kita sama Bang Kojek? Setelah Bang Kojek lihat foto si Susi dia langsung suka sama si Susi dan mau jadiin si Susi istri ketiganya." Ibu lalu pergi meninggalkan Niana.
Saat keluar kamar, Ibu melihat Liana berdiri menatapnya, matanya ibu hamil itu terlihat berkaca-kaca.
"Bu emang berapa biaya Rumah Sakit selama Susi di rawat di sana? Susi kan di rawatnya gak lama Bu, hanya 2 hari di ICU dan 1 hari di ruang perawatan kelas 3.
Ibu jujur saja sama Lia, Bu" kata Liana sambil mengusap air matanya.
Sejak awal pertemuannya dengan Susi, ia memang sudah jatuh hati pada adik palsunya itu.
"Ah sudahlah, kamu tak usah ikut campur! Kamu urus aja calon anakmu dan suamimu yang miskin itu?" Ibu memalingkan wajahnya lalu duduk di ruang tamu dan menyalakan TV.
Liana belum menyerah, ia menghampiri Ibu dan duduk di sampingnya.
"Bu, Lia hanya ingin mencoba membantu, Lia dan Bang Yana kan punya tabungan sedikit, kali aja bisa bantu untuk bayar hutang biaya Rumah Sakit, nanti bunganya kita cicil, Bu...?" Liana menggoyangkan bahu ibunya.
"Sudahlah, Ibu yakin uang kalian juga tidak akan cukup" Kata Ibu.
"Bu emang berapa semuanya Bu?" Liana bertanya lagi.
"150 juta! Puas kamu?" kata Ibu, matanya tetap fokus pada layar TV.
Mendengar besaran uangnya sontak saja Liana sangat terkejut.
"Ibu jujur sama Lia! Apa Ibu yakin sebesar itu biaya Rumah Sakit nya? Apalagi Susi di rawatnya di RSUD, saya yakin gak akan semahal itu, Ibu pasti menyembunyikan sesuatu dari Lia." Lia menatap ibunya.
"Huuupphh," Ibu menghela napas.
"Ya kamu benar, biaya si Susi cuma 15 juta, yang 135 juta lagi itu untuk beli lahan di dekat penggalian pasir tempat Bapak bekerja. Bang Kojek mau meminjami uang yang 135 juta itu karena udah lihat foto si Susi, dia suka sama si Susi dan mau dijadikan istrinya yang ke-3," jelas Ibu.
"Ibu...! Hikks, hikks,... " Liana menangis, ia bingung harus bicara apalagi pada ibunya. Liana tidak menyangka Susi yang malang benar-benar telah di manfaatkan oleh ibunya.
Di mana sekarang kamu Susi? Susi, aku memang tidak punya hubungan apapun sama kamu, tapi aku sayang sama kamu. Siapa kamu sebenarnya? Tuhanku segera kembalikan lagi ingatannya.
Liana menangis meratapi Susi dan berdo'a agar Susi baik-baik saja.
Liana beranjak, ia tidak merespon saat Ibunya yang jahat itu memanggilnya.
Liana segera ke kamar dan menceritakan apa yang dikatakan Ibu pada suaminya.
.
.
"Sekarang kita harus bagaimana Bang? Aku kasihan sama Susi. Kasihan sekali dia Bang, dia hilang ingatan karena hanyut di sungai, keluarganya pasti sudah menyangka kalau dia hilang. Lalu dia amnesia dan kita jadi keluarga palsunya, terus dia malah di jual sama Ibu ke Bang Kojek untuk beli lahan, terus sekarang dia malah hilang, hikks...hikks, Bang sepertinya nasib kita lebih beruntung jika di bandingin sama Susi."
Liana tidak berhenti menangis, Yana tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa memeluk dan mengelus-elus rambut istrinya, sesekali ia juga mengusap perut Liana yang sudah mulai membulat.
"Sabar sayang, besok Abang mau ke sana lagi untuk cari info. Abang sudah lapor kok sama pihak keamanan di sana, semoga mereka segera menemukan Susi."
"Bang, nanti kalau Susi udah ketemu, terus Bang Kojek mau maksa dia untuk nikah, gimana Bang?" tanya Liana.
"Satu-satu cara ya kita harus maksa Ibu untuk menjual lagi lahan itu, uangnya nanti kita bisa kembalikan ke Bang Kojek, untuk bunga pinjamannya nanti kita pikirkan lagi, sekarang ayo kita tidur! Kasihan calon bayi kita."
Liana mengangguk.
.
.
Always Us Mall
Di lobi hotel pria berbadan tinggi, dengan tubuh yang atletis sedang menunggu seseatu, pria itu duduk sambil menyilangkan kakinya.
Ia memakai topi yang sengaja lebih di arahkan ke bagian bawah dan hampir menutupi wajahnya.
Pria itu juga menggunakan masker, sehingga raut wajahnya benar-benar tidak terlihat.
Namun dari arah samping kita bisa melihat bagian ujung alisnya yang nampak tegas, hitam dan rapi.
Ya Anda benar, pria itu adalah Deanka.
Tiba-tiba seorang pria dengan jaket berwarna terang menghampiri, dan menyapa "Apa ini dengan Pak Redi?" tanyanya.
"Ya benar," kata Deanka. Ia segera mengambil plastik yang di bawa pria tersebut.
Kok jadi Pak Redi sih? Pasti ada yang bertanya-tanya.
Jawabannya adalah Deanka mempunyai 3 telpon genggam dengan banyak akun dan foto akun yang berbeda-beda, tapi tidak ada satu akunpun yang benar-benar menunjukkan identitas aslinya.
Kenapa? Karena Deanka maunya begitu.
Saat Deanka hendak menaiki tangga darurat tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Pak tunggu!"
Ada apalagi sih? Aku kan sudah bayar.
Deanka membalikkan badan, seorang scurity segera menghampirinya dan memberikan selembar cetakan foto padanya.
"Mohon maaf mengganggu Pak! Saya hanya mau minta tolong, kalau Bapak menemukan atau melihat anak seperti yang ada di foto itu, segera lapor pada kami!"
"Oke," kata Deanka sambil memasukan foto tersebut ke saku jaketnya, lalu membalikan badan.
"Pak tunggu!" petugas itu memanggilnya lagi.
Ada apa lagi sih?
"Kenapa Bapak repot-repot lewat tangga darurat?"
"Karena aku mau," jawab Dean.
Deanka segera berlari ke arah tangga darurat, dan scurity tadi menatapnya sambil mengernyitkan alis.
.
.
Perlahan Deanka membuka pintu kantornya, napas pria itu masih terdengar belum stabil, mungkin ia sedikit kecapean setelah bulak-balik menaiki tangga darurat.
Ia menyimpan makanan yang di pesan di atas meja, lalu pergi ke ruangan di mana tadi ia berganti pakaian.
Pria itu keluar dari ruangan tersebut dengan tergesa-gesa, ia sudah mengganti pakaiannya.
Sekarang ia memakai baju lengan pendek yang memperlihatkan sedikit otot tangannya.
Deanka memutar bola matanya mencari keberadaan gadis itu.
Di mana dia? Gumamnya.
Pandagannya terhenti saat ia melihat gadis itu berjongkok di pojokan, cairan infusnya sudah habis dan tegeletak di lantai.
Gadis itu menunduk menyembunyikan kepalanya diantara lututnya.
Deanka segera mendekatinya.
"Kau kenapa? Ayo kita makan!"
Susi mengangkat kepalanya, seluruh wajahnya nampak memerah, ia menggigit bibir bawahnya sambil memasukkan kedua tangannya ke bagian perutnya, keringat halus di daerah sekitar pelipisnya terlihat sangat jelas.
"Kau sakit?" tanya Dean.
"Iya aku sedang sakit lahir dan batin," jawab Susi.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, ayo berdiri kalau tidak bisa aku akan membantumu berdiri, ayo kita makan!"
"Kak maaf aku tidak bisa makan, kondisiku saat ini sedang benar-benar genting, aku juga tidak bisa mengatakannya padamu, aku malu."
Susi menundukkan lagi kepalanya seperti semula, dan iapun menangis.
Deanka tentu saja semakin kebingungan.
Hatinya semakin yakin jika wanita itu memang sangat rumit.
Pria itu merasa, gadis yang ada di hadapannya tidak menghargainya dan menolak makanan darinya, padahal ia sudah rela mengambil sendiri makanan tersebut ke lobi dan itu adalah hal yang baru pertama kali ia lakukan.
Seketika wajah rupawan yang dimilikinya berubah menjadi wajah yang sangat dingin dan sulit untuk dipahami.
Dean menghampiri gadis itu, ia menarik tangan Susi dengan sangat kasar.
Tangan yang lainnya menarik kunciran rambut Susi.
Selamat tinggal rambut Sailor Moon.
"Ahh sakiit Kak! Ku mohon jangan sakiti aku! Perutku sakit." Susi merintih ia masih mempertahankan tubuhnya agar jangan terseret oleh pria itu.
"Siapa kau beraninya kau merepotkanku seperti ini, aku menyesal telah menolong dan menyekapmu di sini, kau mengotori pikiranku dan mengotori ruangan ini, kau juga telah lancang menolak makan bersama denganku, memangnya kau siapa, hahh?"
Deanka menarik tangan gadis malang itu, tenaganya tentu saja sangat kuat, sehingga Susi tidak bisa lagi menahannya.
Pria yang tiba-tiba jadi gila itu menyeret tubuh Susi dan mendorongnya ke sofa.
Tubuh lemah Susi kini terlentang di sofa, rambut panjang Susi menutupi wajahnya sendiri.
Di balik rambutnya Susi melihat pria yang sebelumnya terlihat sangat manis itu matanya memerah.
"Benar kan? Semua wanita sama saja, kau telah mempermainkan perasaanku, itu artinya kau sama saja dengan mamaku."
Pria itu berbicara sambil berteriak.
Deanka mencengkram dagu Susi lalu menyingkap rambut gadis itu, hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu sangat ketakutan.
Deanka melihat wajah mamanya ada dihadapannya.
Deanka tiba-tiba mencekik leher Susi.
"Seperti ini kan dulu kau membunuh papaku?
Tega sekali kau membunuh papaku setelah papaku memberikan semuanya untukmu!"
"Le-lepaaskan! Tolooong! Aku bukan wanita jahat, aku bukan mamamu," dengan suara tersengal-sengal, Susi berusaha menyadarkan pria itu.
Tuhanku cobaan apalagi yang ingin Kau berikan padaku?
Sebesar apa kebencian dia pada mamanya?
Air mata Susi terus menetes.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah