NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kejadian Kecil yang Membawa Arti Besar

Tiga bulan sudah berlalu semenjak kerja sama berjalan mulus tanpa gangguan. Kalau ditanya orang luar, mungkin akan bilang ini masa yang membosankan — nggak ada masalah, nggak ada keributan, semuanya berjalan seperti jarum jam yang diputar teratur. Tapi bagi Faris Arjuna dan Viona, ketenangan ini justru jadi tanda paling baik bahwa semuanya berada di jalur yang benar.

Pagi itu hujan turun rintik-rintik membasahi jalanan, udara terasa sejuk dan bersih. Faris Arjuna datang dengan payung terlipat di tangan, kemejanya sedikit lembab di ujung lengan, tapi senyumnya tetap santai seperti biasa. Begitu masuk ruang kerja, dia melihat Viona sudah duduk sambil menatap satu lembar kertas di tangannya dengan ekspresi agak bingung.

Selamat pagi Bu Viona, ada apa hari ini? Wajahnya kelihatan seperti menemukan sesuatu yang ganjil ya?” tanya Faris Arjuna sambil meletakkan payung di sudut ruangan dan duduk di tempatnya.

Viona mengangkat lembar kertas itu dan memberikannya padanya. “Lihat saja ini Faris Arjuna. Tadi pagi dikirimkan oleh bagian penerima barang. Ada selisih sedikit lagi — kali ini lebih besar dari ujian yang kita buat dulu, sekitar dua puluh kotak barang lebih banyak dari yang tertera di surat jalan. Anehnya, Pak Dedi tidak menelepon atau memberitahu apa-apa sejak kemarin sore barang itu sampai.”

Faris Arjuna menerima kertas itu, melirik sekilas angkanya, lalu meletakkannya di meja sambil memutar-mutar batang rokok di jari. Matanya menyipit sedikit, bukan karena curiga, tapi sedang berpikir pelan-pelan. “Jangan buru-buru ambil kesimpulan dulu Bu Viona. Tunggu sebentar saja, nanti pasti ada jawabannya. Kita lihat saja bagaimana dia bertindak, jangan langsung menyamakan kejadian ini dengan masa lalu.”

Belum sampai satu jam kemudian, suara motor berhenti di depan pintu kantor. Tidak lama berselang, Pak Dedi masuk dengan napas sedikit terengah, jas hujannya masih meneteskan air dan sepatunya terlihat basah sampai ke mata kaki. Di tangannya memegang map tertutup rapat, wajahnya tampak cemas tapi tetap tenang dan sopan.

Selamat pagi Nona Viona, Mas Faris Arjuna, maaf datang tanpa janji dan dalam keadaan hujan begini,” ucapnya sambil membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. “Saya baru sadar ada kekeliruan di pihak kami kemarin malam. Sopir tergesa-gesa pulang karena hujan makin lebat, jadi saat menghitung barang terakhir terlewat dua puluh kotak tambahan yang seharusnya untuk kiriman lain. Dia sudah sampai di rumah baru ingat, dan saya langsung suruh dia istirahat, saya sendiri yang datang menjelaskan semuanya.”

Dia membuka map itu dan mengeluarkan surat keterangan serta catatan rinci, lalu meletakkannya di meja dengan rapi. “Ini bukti dari gudang kami, ada tanda terima dari pemesan lain yang barangnya tertunda, ada catatan timbang, dan juga tanda tangan petugas. Kami minta maaf sebesar-besarnya karena kelalaian ini, meskipun kelebihan barang itu tetap menjadi hak Anda, tapi saya harus jujur menyampaikan asal-usulnya supaya tidak ada kesalahpahaman nanti. Kalau Anda berkenan, saya bisa ambil kembali dan mengirimkan sesuai jumlah yang disepakati, atau Anda bisa menyimpannya dan kami sesuaikan pembayarannya nanti — semuanya terserah Anda saja.”

Faris Arjuna mendengarkan dengan saksama, senyum sengkleknya perlahan muncul kembali. Dia menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, menghirup sebentar lalu menjawab dengan nada santai tapi tegas. “Bagus sekali Pak Dedi, terima kasih sudah datang sendiri menjelaskan hal sekecil ini. Banyak orang yang kalau dapat kelebihan barang diam saja, menganggapnya rezeki tambahan yang datang tanpa diminta. Bahkan ada yang sengaja mengatur supaya selisihnya makin besar dan bisa diambil keuntungannya. Tapi Anda justru berani datang di tengah hujan hanya untuk menyampaikan kebenaran, padahal kami belum tahu apa-apa sama sekali.”

Dia menoleh ke Viona dan melanjutkan bicara dengan nada yang makin jelas maknanya: “Lihat ini Bu Viona, inilah ujian yang sesungguhnya. Kalau dulu kita yang membuat selisih untuk menguji dia, kali ini justru kelebihan yang datang tanpa rencana. Dan dia tetap bertindak sama — jujur, terbuka, dan tidak mengambil apa yang bukan haknya. Inilah bedanya orang yang membangun usahanya di atas dasar kepercayaan, bukan di atas keuntungan sesaat saja.”

Pak Dedi mengangguk dengan wajah lega mendengar penilaian itu. “Bagi saya Mas Faris Arjuna, barang itu bisa dihitung dengan angka, tapi kepercayaan tidak bisa dihitung dengan uang berapa pun. Kalau hari ini saya diam saja menyembunyikan kekeliruan ini, besok saya akan mulai terbiasa menyembunyikan hal lain yang lebih besar. Lama-lama saya sendiri tidak akan percaya pada ucapan dan perbuatan saya sendiri. Lebih baik datang dan meminta maaf, daripada hidup dalam rasa takut kalau suatu hari nanti ketahuan.”

Viona tersenyum puas, lalu menjawab dengan nada hangat: “Kami sangat menghargai sikap Anda, Pak Dedi. Barang kelebihan itu akan kami catat dan sesuaikan pembayarannya saja, tidak perlu diambil kembali. Yang paling berharga bagi kami bukan dua puluh kotak barang itu, tapi keyakinan bahwa kami sudah bekerja sama dengan orang yang tepat.”

Setelah Pak Dedi pergi kembali menerobos hujan, Faris Arjuna memandang keluar jendela melihat air hujan yang mulai reda perlahan. “Begitulah Bu Viona, kejadian kecil seperti ini justru yang paling membuktikan kualitas seseorang. Kesalahan bisa terjadi pada siapa saja, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi yang membedakan adalah cara dia menyikapi kesalahan itu — apakah ditutup rapat atau dibuka dengan jujur. Orang yang berani mengakui kekeliruannya justru menunjukkan bahwa dia punya prinsip yang kuat dan tidak takut pada kebenaran.”

Dia mematikan rokoknya di asbak, lalu menambahkan dengan gaya bicara santai tapi dalam: “Jadi kita makin yakin saja sekarang. Jalan yang kita pilih ini memang benar adanya. Tidak ada yang instan, tidak ada keuntungan yang datang dengan sendirinya tanpa kerja keras, tapi ketenangan dan kepastian yang didapat jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa dibeli dengan uang.”

Faris Arjuna kembali duduk dan menyandarkan punggungnya dengan tenang, matanya masih menatap ke luar jendela di mana hujan sudah berhenti menyisakan bau tanah basah yang segar.

Coba kita bandingkan lagi sama kejadian dulu ya Bu Viona,” lanjutnya sambil memutar-mutar korek api di telapak tangan. “Kalau ini terjadi sama Rusdi atau yang sejenisnya, pasti reaksinya beda jauh. Begitu sadar ada barang lebih, dia malah akan menganggap ini rezeki tak terduga. Nanti di kertasnya diubah pelan-pelan, dihitung ulang supaya selisihnya hilang, dan dalam hatinya malah merasa senang dapat untung tambahan tanpa perlu kerja keras. Bahkan kalau suatu hari ketahuan, dia akan cari seribu alasan buat membenarkan perbuatannya.”

Dia tersenyum miring gaya khasnya, lalu melanjutkan: “Tapi Pak Dedi justru sebaliknya. Dia datang menjelaskan meski tidak ada yang meminta, dia minta maaf meski kesalahan itu tidak merugikan kita sama sekali. Itu artinya prinsip itu sudah menancap kuat di hatinya, bukan cuma ditampakkan di depan mata saja saat diawasi. Dia tahu, rezeki yang datangnya tidak benar atau disembunyikan itu rasanya tidak enak di hati, selalu ada rasa was-was yang mengganggu tidur dan pikiran.”

Viona mengangguk setuju sambil menyusun berkas yang baru saja diterima itu. “Benar juga, kadang hal kecil begini justru jadi cermin yang paling jernih. Kalau urusan yang besar saja masih butuh pertimbangan, hal yang tidak diawasi dan tidak terlihat orang lain itulah yang menunjukkan siapa dia sebenarnya.”

Tepat sekali Bu Viona,” jawab Faris Arjuna cepat. Orang jujur itu jujur saat ada orang maupun saat sendirian. Kalau dia hanya baik saat diawasi, itu bukan kebaikan, itu cuma kepintaran bersandiwara saja. Hari ini kita dapat bukti lagi, bahwa bekerja sama dengan orang yang punya hati bersih itu rasanya seperti berjalan di jalan yang rata dan terang. Nggak perlu selalu menoleh ke belakang takut ada yang salah, nggak perlu memutar otak cari celah, cukup jalani saja apa adanya, semuanya terasa ringan dan damai.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!