Selena kira hidupnya akan tenang setelah menyewa apartemen sendiri dan pergi dari rumah orang tuanya yang terus melarangnya menulis novel dewasa, tapi ternyata tidak. Dia justru diganggu oleh komentar negatif secara terus menerus di karyanya. Merasa jengkel, Selena melacak keberadaan pemilik komentar negatif itu dan ternyata berada di sebuah perusahaan film.
Selena berpura-pura menjadi cleaning service dan bekerja di perusahaan itu. Dia curiga pada Regan, CEO di perusahaan itu. Berniat mengganggu Regan tapi dia justru yang merasa kesal dengan tingkah Regan yang sangat menyebalkan.
Apakah memang Regan yang menulis komentar negatif di novel Selena?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Maksudnya apa?" tanya Selena tak mengerti. Klarifikasi dengan Regan di depan media? Selena menutup mulutnya sesaat, sepertinya dia mengerti apa maksud Regan.
"Bantu aku memulai kehidupan yang baru. Aku ingin menikah denganmu."
Selena tersenyum kaku. Dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya sambil membawa selimutnya. "Apa maksudnya? Tidak ada ungkapan cinta tiba-tiba mengajak menikah? Aku bukan pelarian, sudah jelas di dalam hatinya masih ada istrinya. Aku tidak mau menjadi yang kedua, meskipun yang pertama sudah tidak berwujud."
"Lena!" Regan menahan pintu kamar yang akan ditutup Selena. "Maaf, aku terlalu to the point, tapi kamu bukan pelarianku."
Perlahan Selena melepas tangannya dari pintu. Dia kini duduk di atas ranjang dan membiarkan Regan mendekatinya. "Pak Regan, aku tidak bisa menikah kalau tidak ada cinta untukku dan aku ingin cinta yang sepenuhnya bukan cinta yang terbagi dengan masa lalu. Iya, aku memang egois tapi aku realistis. Aku tidak mau di dalam pernikahan itu ada air mata jadi pikirkan baik-baik jika ingin menikah dan jangan skip urutannya. Tanpa mengungkapkan perasaan tiba-tiba mengajak menikah."
"Untuk melawan berita pernikahanku dengan Nadia, hanya dengan mengumumkan pernikahanku dengan kamu." Regan duduk di sebelah Selena. Ini saatnya dia berkata serius.
"Terus? Kenapa harus aku?" Selena memberanikan diri menatap Regan. Meskipun detak jantungnya masih saja berdebar tapi dia ingin melihat keseriusan Regan secara langsung.
"Karena kamu yang mengubah hidupku. Perlahan, kamu menghilangkan rasa traumaku. Oke, aku tidak akan skip urutan mendekati kamu karena aku tahu ungkapan perasaan itu sangat penting."
Regan terdiam beberapa saat. Dia beranikan diri menggenggam tangan Selena. "Saat kemarin kamu marah padaku, aku benar-benar takut tidak bisa melihat kamu lagi. Sebenarnya aku memang berniat menutup hatiku untuk wanita lain tapi aku tidak bisa mengabaikan kamu. Ya, meskipun sulit mengartikannya, tapi aku yakin yang aku rasakan ini berbeda. Aku cinta sama kamu. Aku tidak akan membagi cintaku dengan masa lalu dan tidak akan menjadikan kamu pelarian. Setelah kamu sembuh, bantu aku memberikan barang-barang Vira dan juga calon anakku pada orang yang membutuhkan karena aku ingin memulai kehidupan yang baru dengan kamu tanpa bayang-bayang masa lalu."
Selena semakin tertawa karena ternyata ungkapan perasaan pria yang sudah mapan itu sangat berbeda.
"Kenapa tertawa?" Regan mengerutkan alisnya menatap tawa Selena.
Selena hanya menggelengkan kepalanya. Dia meletakkan tangan kirinya di atas tangan Regan yang menggenggam tangan kanannya. "Aku tidak menyangka saja akan mempunyai hubungan dengan seorang duda yang membuat aku kesal sejak awal. Sebenarnya aku sudah tergoda dengan Pak Regan sejak pertama bertemu, tapi rasa kesalku mengalahkan rasa kagumku. Kali ini, kita saling mengenal lebih dekat dulu dan aku tidak meminta Pak Regan untuk melupakan istri Pak Regan sepenuhnya, hanya saja jika kita memang bersama nanti, aku ingin memiliki cinta itu sepenuhnya."
"Jadi, kamu setuju?" tanya Regan. Dia semakin mendekati Selena.
"Setuju?" Selena hanya tersenyum. Dia meraih tubuh Regan dan memeluknya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, benar atau tidak, yang jelas, dia merasa bahagia mendengar semua pengakuan Regan. "Tapi Mama Pak Regan pasti tidak akan setuju."
Regan mengeratkan pelukannya dan mengusap rambut Selena. "Aku yang menjalani hidup ini. Aku sudah 35 tahun, umur yang sudah sangat matang untuk memutuskan pilihan hidupku sendiri. Aku juga yakin kamu bisa melawan Mama." Regan tersenyum kecil mengingat perkataan Selena yang berani menentang mamanya.
"Pak Regan, aku tidak mau jadi anak durhaka."
"Tidak." Regan meregangkan pelukannya dan memegang kedua bahu Selena. "Mama sering berkata keterlaluan dan menyakiti perasaan orang lain. Justru aku sekarang yang berpikir, apa keluarga kamu setuju? Aku seorang duda dan umur kita selisih 11 tahun."
Selena mengalihkan pandangannya sambil tersenyum. "Semua itu tergantung usaha Pak Regan."
"Usahaku?" Regan menekan punggung Selena agar kembali mendekat. Dia menatap wajah Selena dengan jarak yang sangat dekat. "Tentu, aku akan berusaha."
Selena terdiam. Dia kini memikirkan bagaimana caranya jujur pada Regan. Saat konferensi pers nanti aku akan mengaku saja kalau aku putrinya Tuan Shaka. Kira-kira jantungan tidak ya Pak Regan dan mamanya.
"Mikirin apa? Lapar? Aku buatkan makanan ya?"
Selena menggelengkan kepalanya. Dia menahan pinggang Regan. "Mulai sekarang, aku panggil Pak Regan apa? Mas atau Kak tapi jarak umur kita terlalu jauh. Apa Om saja?"
Regan mencubit kecil hidung Selena. "Om?"
"Daddy?"
"Daddy?" Regan menangkup kedua pipi Selena. Sebenarnya tidak masalah Selena memanggilnya dengan sebutan apapun. "Kalau begitu, aku panggil kamu Baby."
Selena hanya terdiam. Kedua matanya kini fokus pada bibir Regan yang menggodanya. Setiap kali dekat dengan Regan, hormon di tubuhnya seperti bergejolak tak karuan. Rasanya dia ingin mendekat dan merasakan bibir itu.
Regan justru melepas tangannya dan turun dari ranjang Selena. "Aku buatkan makanan, kamu pasti sudah lapar."
Selena menyentuh pipinya yang terasa panas dan memerah. "The real sugar daddy."
...***...
Setelah berganti pakaian, Selena keluar dari kamarnya dan mendekati Regan yang masih sibuk di dapurnya.
"Kalau masih pusing, di kamar saja. Nanti makanannya aku antar ke kamar kamu."
Selena justru berdiri di dekat Regan yang sedang menumis sayuran. "Tanpa cabai ya?"
"Iya. Kamu tidak boleh makan pedas dulu. Kemarin aku hanya beli beberapa bahan makanan. Nanti aku belikan lagi. Mulai sekarang jangan order makanan di luar, apalagi makan mie instant. Tidak baik untuk pencernaan kamu."
Selena hanya tersenyum menatap Regan. Akhirnya, cerita khayalannya tentang CEO tampan, duda panas, maupun sugar daddy kini menjadi nyata.
"Kenapa melihatku seperti itu? Jadi ingat salah satu tokoh di novel kamu?" Regan mematikan kompor lalu mengangkat tubuh Selena dan dia dudukkan di meja dapur. "Aku sangat hafal, apa yang dilakukan tokoh di novel kamu saat di dapur."
Selena mengalihkan pandangannya. Tidak mungkin kan Regan akan mempraktekannya sekarang?
Regan menahan pipi Selena agar menatapnya. "Jangan takut, aku tidak akan melakukannya sekarang, tapi ...." Perlahan Regan mendekat. Bibir merah ranum itu menjadi fokus utamanya.
Selena memejamkan kedua matanya. Dia memegang pinggang Regan dan bersiap menerima kecupan itu. Tapi baru saja menempel, ada suara yang membuat mereka berdua terkejut.
Selena mendorong Regan dengan kasar lalu turun dari meja dapur itu.
"Ngapain kalian berdua?"
semangat kakak/Good//Good//Good/