NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Kekacauan di Pagi Hari

Kaivan bukanlah pria yang mudah menunjukkan perasaannya. Selama ini, ia selalu menyimpan segalanya di balik sikap dingin dan ekspresi datarnya. Namun, di balik semua itu, Kaivan tetaplah manusia. Ketulusan dan perhatian Airin, meski awalnya ia pandang sebelah mata, perlahan menyentuh hatinya.

Ia bukan tipe orang yang mudah luluh, tapi bagaimana Airin merawatnya dengan sabar, menyuapinya tanpa keluhan, memandikannya dengan hati-hati, bahkan melindungi harga dirinya di depan orang lain, membuatnya mulai melihat istrinya dari sisi yang berbeda. Ia sadar, tindakan Airin bukanlah kewajiban semata, ada ketulusan di baliknya, sesuatu yang Kaivan pikir tidak pernah pantas ia dapatkan.

Meskipun begitu, Kaivan tetaplah Kaivan. Ia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan rasa terima kasihnya, apalagi mengakui bahwa ia mulai menikmati perhatian itu. Maka, ia memilih cara yang berbeda, memperpanjang momen ini. Biarlah Airin terus mengira ia belum pulih sepenuhnya.

Bukan karena ia ingin membohongi Airin, tapi karena ia ingin merasakan lebih lama bagaimana rasanya dimanjakan, diperhatikan tanpa syarat. Di balik sifat dinginnya, terselip sisi jail yang selama ini jarang ia tunjukkan.

Kaivan tahu, waktunya akan tiba untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati momen-momen kecil itu, tanpa beban dan tanpa keharusan menjelaskan perasaannya. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa betul-betul diterima, bukan karena siapa dirinya, tetapi karena ia adalah Kaivan.

Sibuk memandangi Airin yang masih terlelap, Kaivan tersentak ketika tubuh Airin mulai menggeliat. Tanpa pikir panjang, ia buru-buru memejamkan mata, lalu membukanya perlahan, berpura-pura baru terbangun.

Airin membuka mata perlahan, menoleh ke arahnya dengan senyum mengantuk. "Kak Ivan sudah bangun?" tanyanya lembut, sambil mengusap matanya.

Kaivan hanya mengangguk kecil, disertai dehem pelan, "Hm..." Ia pura-pura menyesuaikan posisi duduk, memastikan matanya tetap terlihat seperti belum pulih sepenuhnya.

"Oh tidak, aku kesiangan!" seru Airin dengan nada panik. Ia segera bangkit dari tempat tidur, menyibak selimut dengan tergesa-gesa. "Kak Ivan tunggu di kamar, ya. Aku akan siapkan sarapan dulu."

Kaivan mengangguk lagi, tetap mempertahankan ekspresi datar, meski hatinya hampir tertawa geli. "Jangan buru-buru," katanya pelan, namun Airin sudah melangkah cepat keluar kamar, tampak sibuk memikirkan tugas paginya.

Ketika pintu tertutup, senyum tipis muncul di bibir Kaivan. Ia bersandar di tempat tidur, menikmati momen itu sejenak. "Aku masih bisa menikmati ini sedikit lebih lama," gumamnya, sebelum perlahan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

***

Seperti biasa, setelah menyiapkan sarapan, Airin membantu Kaivan mandi. Dulu, awalnya Kaivan sempat menolak ketika Airin menawarkan bantuan, terutama saat pertama kali ia harus mandi setelah luka-lukanya mulai mengering. Namun, alasan Airin yang tulus, bahwa ia khawatir Kaivan akan melukai dirinya sendiri atau membuat lukanya kembali berdarah, membuatnya luluh.

Sejak saat itu, tepatnya sejak ia tinggal di rumah ini, Airin yang selalu dengan sabar membantu Kaivan mandi. Meski awalnya merasa canggung, Kaivan akhirnya terbiasa, dan diam-diam ia menikmati perhatian penuh kasih yang ditunjukkan istrinya dalam setiap gerakan kecilnya.

Kaivan memasuki kamar mandi dengan langkah yang tenang. Ia berpura-pura berjalan dengan bantuan Airin, padahal penglihatannya sudah pulih sepenuhnya. Ia duduk di kursi yang disiapkan Airin, bersikap seperti biasa meski hatinya tak sepenuhnya tenang.

Airin mulai mengambil air dengan gayung, namun tiba-tiba tubuhnya menegang. "Eh, apa ini?" gumamnya panik. Tangannya sibuk mengibas-ngibas bajunya. "Semut?" katanya lagi, suaranya terdengar sedikit kesal.

Kaivan, yang awalnya tenang, langsung terpaku. Mata yang sudah pulih sepenuhnya menyadari sesuatu, Airin dengan gerakan refleks melepas bajunya, hingga hanya tersisa bra dan celana pendek yang dikenakannya.

Pandangan Kaivan seketika terfokus. Ia tak bisa menghindari lekuk tubuh istrinya yang kini terlihat jelas di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang. Kaivan menggerakkan pandangan matanya dengan hati-hati, berusaha tetap bersikap normal, tetapi sulit baginya untuk mengalihkan perhatian dari pemandangan yang membuat napasnya tertahan.

Sementara itu, Airin menggerutu sambil mengibaskan bajunya yang penuh semut. "Kenapa semut ini banyak sekali, sih?" katanya kesal, tak menyadari tatapan yang diberikan Kaivan. "Mungkin tadi aku bersandar di dinding yang penuh semut..." lanjutnya sambil meletakkan bajunya di sudut kamar mandi.

Kaivan segera menyadarkan dirinya. Ia menegakkan posisi tubuhnya sedikit, mengalihkan perhatian dengan bertanya, "Apa yang terjadi?" Suaranya terdengar datar, seperti biasa, meski di dalam hatinya terjadi kekacauan besar.

Airin menggeleng sambil tetap menggerutu. "Ada semut di bajuku, mungkin karena tadi aku berdiri terlalu dekat dengan dinding luar." Ia lalu kembali menyiapkan air untuk memandikan Kaivan, sama sekali tak menyadari apa yang telah dilihat suaminya.

Saat Airin mendekat untuk membasahi rambutnya, Kaivan mendapati dirinya semakin sulit mengendalikan hati. Wajah Airin yang penuh senyum dan tatapannya yang kini jelas terpancar menambah kegugupan Kaivan. Ia menangkap kilatan kekaguman di mata Airin yang tanpa sadar memerhatikan bentuk tubuh atletisnya.

Dan yang membuatnya benar-benar tegang adalah ketika Airin mulai menggosok dadanya dengan lembut. Posisi Airin yang berdiri di depannya, sedikit menunduk, membuat Kaivan tanpa sengaja menangkap pemandangan yang membuatnya kehilangan fokus. Dadanya yang hanya berbalut bra terlihat jelas di sudut pandangnya.

"Tenang, Kaivan... tenang," gumamnya dalam hati, berusaha mengatur napasnya yang terasa mulai berat. Ia mati-matian mempertahankan ekspresi datarnya, tidak ingin Airin menyadari kegelisahan yang tengah ia rasakan.

Namun, rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya semakin sulit ditepis. Belahan dada istrinya yang tak sengaja tertangkap pandangannya membuat tubuhnya berdesir, tenggorokannya mendadak terasa kering, dan ia pun kesulitan menelan ludah.

Kaivan memejamkan mata sesaat, mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain. Tapi bayangan itu justru semakin jelas, membuatnya semakin frustasi. "Astaga, apa yang terjadi padaku?" batinnya kacau, merasa dirinya mulai goyah di hadapan ketulusan dan pesona Airin yang selama ini ia abaikan.

Selesai memandikan Kaivan, Airin dengan santai mengenakan bajunya kembali, seolah tak ada yang terjadi. "Sudah selesai, Kak Ivan. Kamu pasti merasa segar sekarang," katanya dengan nada ceria.

Kaivan hanya mengangguk singkat. Di dalam hatinya, ia tahu momen itu akan terpatri lama dalam ingatannya, sebuah pengalaman yang diam-diam membuatnya merasa lebih dekat dengan istrinya.

***

Setelah mandi dan berganti pakaian, Kaivan duduk di kursi meja makan, sementara Airin sibuk menyiapkan makanan. Wajahnya terlihat ceria seperti biasa, namun Kaivan kini memandangnya dengan cara berbeda. Pandangannya yang sudah pulih perlahan mulai menangkap setiap detail di wajah istrinya, senyum lembut yang tulus, mata yang penuh perhatian, dan gerakan tangannya yang terampil saat menyajikan makanan.

Airin duduk di sebelahnya, mengambil sendok, dan mulai menyuapinya seperti biasa. Matanya memerhatikan wajah Airin saat perempuan itu sibuk meniup makanan di sendok agar tak terlalu panas. Ia baru sadar, sejak pertama kali mereka bertemu, ia tak pernah benar-benar mandi dan makan dengan tangannya sendiri. "Selama ini, aku selalu bergantung padanya," gumam Kaivan dalam hati. Kaivan menerima suapan pertama dengan tenang, tetapi dalam hati, ia merasa ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Setiap hari... dia menyuapiku," pikirnya.

Airin tersenyum setelah suapan pertama. "Bagaimana rasanya, Kak? Apa terlalu asin?" tanyanya.

Kaivan menggeleng pelan, menjaga ekspresi dinginnya. "Tidak, rasanya pas," jawabnya singkat. Namun, di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, apa yang membuat Airin begitu tulus merawatnya?

Namun, yang membuat Kaivan benar-benar terkejut adalah saat menyadari bahwa Airin ternyata makan dengan piring dan sendok yang sama dengannya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!