Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak terasa begitu mencekam. Detik-detik berlalu bagai siksaan yang lambat. Layar tablet di tangan Asher masih menyala, menampilkan rekaman mutlak yang mengunci seluruh kebohongan Amora.
Dixon berdiri mematung di sisi ranjang. Sepasang mata elangnya yang tadi berkilat murka kini meredup, menyisakan kekosongan yang dingin sebelum perlahan berubah menjadi sorot kekecewaan yang teramat dalam. Perlahan, ia menolehkan kepalanya menatap sang putri tunggal.
"Amora..." desis Dixon dengan nada suara yang teramat rendah, berat, dan dingin. Nada bicaranya begitu tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling menakutkan di dalam diri seorang Dixon Luca Alessandro. "Kenapa kau melakukan tindakan sekeji ini?"
Mendengar suara bariton ayahnya yang bergetar menahan kecewa, pertahanan Amora runtuh seketika. Rasa panik dan ketakutan bahwa ia akan dibuang oleh ayahnya sendiri membuat air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. Ia langsung bersimpuh di atas kasur, merangkak mendekati Dixon dan mencengkeram erat ujung kemeja abu-abu pria itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
"Daddy... aku terpaksa! Aku terpaksa melakukan ini semua, Dad!" isak Amora histeris, menyembunyikan wajah pucatnya di lengan kekar ayahnya. "Aku tidak ingin melihat Daddy dimanfaatkan oleh perempuan itu! Aku tahu dia punya niat busuk pada keluarga kita! Dia sengaja mendekati Daddy, merayu Daddy, hanya untuk mengincar harta dan menghancurkan reputasi kita! Aku tidak tahan melihat Daddy ditipu oleh pelayan miskin sepertinya!"
Amora mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata, menatap Dixon dengan pandangan memohon yang teramat memelas. "Aku melakukan ini semua karena aku teramat menyayangimu, Dad. Aku hanya ingin melindungimu! Aku terpaksa bertindak ekstrem agar Daddy sadar seberapa berbahayanya perempuan itu! Maafkan aku, Dad... tolong maafkan aku..."
Mendengar tangisan histeris putrinya yang membawa-bawa alasan kasih sayang dan perlindungan, ketegasan di wajah matang Dixon perlahan-lahan mulai goyah.
Sebagai seorang ayah tunggal yang telah membesarkan Amora sejak kecil dengan limpahan kasih sayang, Dixon memiliki titik lemah yang teramat besar pada putri tunggalnya itu. Rasa bersalah karena sering meninggalkan Amora demi pekerjaan di masa lalu mendadak bangkit, mengaburkan rasionalitasnya sebagai seorang pemimpin Aethelgard Group.
Dixon mengembuskan napas panjang yang teramat berat dari hidungnya. Ketegangan di bahu tegapnya perlahan mengendur. Pria berusia 39 tahun itu berlutut di tepi kasur, lalu mengulurkan kedua tangan kekarnya untuk mendekap tubuh ramping Amora yang masih terguncang oleh tangis ketakutan.
"Sudahlah... jangan menangis lagi," ucap Dixon, suara baritonnya mendadak melunak, sarat akan pengampunan yang mutlak sebagai seorang ayah. Ia mengusap punggung Amora dengan lembut, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya. "Daddy memaafkanmu kali ini. Tapi ingat, Amora... jangan pernah sekali-kali kamu mengulangi kebodohan ekstrem yang bisa merenggut nyawamu sendiri seperti ini lagi. Mengerti?"
"I-Iya, Dad... aku berjanji... aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Amora di dalam pelukan hangat ayahnya, menyembunyikan senyuman kemenangan yang perlahan terukir di bibirnya yang pucat.
Sementara itu, di sudut ruangan yang remang-remang, Cia menyaksikan seluruh adegan rekonsiliasi hangat antara ayah dan anak itu dengan sepasang mata yang mendadak menggelap sempurna.
Sialan!
Dada Cia seketika bergemuruh hebat oleh rasa kesal, murka, dan muak yang luar biasa dahsyat. Amarahnya bergejolak bagai lahar dingin yang siap meledak. Pipi kirinya masih terasa berdenyut nyeri akibat tamparan keras Amora tadi pagi, lehernya masih menyisakan bekas kemerahan yang mencolok akibat cekikan brutal Dixon beberapa menit lalu, dan piring makanannya dihancurkan hingga ia dituduh sebagai pembunuh berdarah dingin.
Namun sekarang, hanya dengan alasan "terpaksa demi melindungi Daddy", Dixon memaafkan putri kesayangannya begitu saja? Tanpa hukuman? Tanpa kemarahan yang berarti?
“Kalian berdua benar-benar menjijikkan,” batin Cia berdesis kejam, kukunya meremas kain jubah satin hitamnya begitu kuat hingga telapak tangannya memutih tajam. “Kasih sayangmu benar-benar membuatmu buta, Mas Dixon. Putrimu baru saja melakukan percobaan bunuh diri dan fitnah kriminal, dan lo memaafkannya seolah dia hanya memecahkan mainan plastik?”
Rasa kesal yang teramat sangat membakar dada Cia, namun akal sehat dan insting predatornya dengan cepat mengambil alih kemudi emosinya. Ia tahu, jika ia mengamuk atau menunjukkan kemarahannya sekarang, posisinya sebagai korban yang teraniaya akan rusak seketika. Ia harus tetap mempertahankan topeng malaikat tak bersayap ini.
Cia menarik napas dalam-dalam secara perlahan, memaksa detak jantungnya kembali normal. Ia menekan seluruh amarah dan dendamnya sedalam mungkin ke dalam lubuk hatinya yang paling gelap, lalu memasang kembali ekspresi wajah yang teramat sendu, terluka, namun penuh keikhlasan yang agung.
Cia melangkah mundur beberapa tapak, menundukkan kepalanya dalam-dalam agar bayangan rambut hitamnya menyembunyikan kilat kebencian di matanya.
"Syukurlah... syukurlah jika Amora sudah dimaafkan, Mas," cicit Cia dengan suara yang teramat lirih, parau, dan bergetar halus, membiarkan setetes air mata palsu jatuh membasahi lantai marmer. "Yang terpenting sekarang... Amora sudah aman dan baik-baik saja. Aku... aku akan kembali ke kamar utama agar kalian berdua bisa berbicara dengan tenang."
Cia berbalik dengan langkah yang sengaja dibuat lemah dan terhuyung kecil, menunjukkan betapa terpukulnya ia secara fisik dan mental akibat kekerasan yang baru saja diterimanya dari Dixon dan Amora malam ini. Ia berjalan perlahan keluar dari kamar Amora, menutup pintu di belakangnya dengan sangat perlahan.
Begitu pintu tertutup rapat dan ia berdiri sendirian di koridor lantai dua yang sunyi, senyuman sendu di wajah Cia seketika menguap, digantikan oleh sebuah seringai iblis yang teramat dingin, tajam, dan mengerikan.
Cia menyentuh bekas cekikan merah di lehernya, lalu menatap lurus ke arah pintu kamar Amora. “Nikmatilah pelukan hangat ayahmu selagi bisa, Amora... dan teruslah abai pada lukaku, Mas Dixon,” batin Cia bersorak pekat dengan kepuasan yang teramat dahsyat di balik kegelapan malam. “Karena pengampunan buta yang lo berikan malam ini... justru akan menjadi bahan bakar terbaik bagi gue untuk merancang skenario kehancuran yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh hukum sekalipun. Perang ini... baru saja dimulai.”
Langkah kaki Dixon terasa sangat berat ketika ia akhirnya kembali masuk ke dalam kamar tidur utama. Setelah memastikan Amora benar-benar tenang dan tertidur di kamarnya di bawah pengawasan Dokter Radit, Dixon baru bisa melepas topeng ketegarannya sebagai seorang ayah. Pria berusia 39 tahun itu mengembuskan napas panjang, melonggarkan kemeja abu-abunya yang terasa mencekik lehernya sendiri sejak kekacauan tadi malam.
Ia menoleh ke arah ranjang king-size di tengah ruangan yang remang-remang.
Di sana, di bawah selimut bulu angsa yang tebal, Cia tampak sudah tertidur lelap. Tubuh rampingnya bergelung nyaman, tidur menyamping membelakangi sisi tempat tidur yang biasa ditempati Dixon. Napasnya terdengar begitu halus, teratur, dan sangat tenang. Perang psikologis yang menguras energi sepanjang hari tampaknya benar-benar telah memaksa kesadaran gadis itu tumbang ke alam bawah sadar dengan sangat nyenyak.
Dixon melangkah mendekat tanpa suara. Ia duduk perlahan di tepi kasur, membuat permukaan ranjang sedikit melesat turun di bawah beban tubuh raksasanya.
Dalam keheningan malam yang sunyi, Dixon menundukkan kepalanya, menatap lekat-lekat ke arah wajah Cia yang menghadap ke sisi luar. Sinar bulan temaram yang menerobos celah gorden menerangi sebagian wajah cantiknya.
Detik itu juga, rasa bersalah yang teramat pekat kembali menghantam dada bidang Dixon bagai palu godam.
Di pipi kiri Cia yang putih bersih, bekas tamparan keras Amora tadi pagi masih tercetak jelas—membengkak dan berwarna kemerahan yang kontras. Namun, yang paling membuat tenggorokan Dixon tercekat adalah leher ramping istrinya. Di sana, kulit mulus Cia tampak memar kebiruan, membentuk pola garis merah yang sangat jelas akibat cengkeraman tangannya sendiri saat ia mencekiknya dengan brutal tadi.
Tangan kekar Dixon perlahan terangkat di udara. Jemari kasarnya yang biasa memegang pena mahal dan dokumen miliaran rupiah kini bergetar halus. Ia ingin sekali menyentuh bekas luka itu, mengusap memar di leher Cia, atau sekadar membisikkan kata maaf yang tulus atas tindakan kasarnya yang dipicu oleh emosi buta.
Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kulit hangat Cia, gerakan tangan Dixon terhenti di udara.
Ego kaku dan harga dirinya yang setinggi langit sebagai seorang Dixon Luca Alessandro mendadak membentengi hatinya. Sebagai pria yang terbiasa memberi perintah, selalu ditakuti, dan tidak pernah tunduk pada siapa pun, mengucapkan kata maaf atau menunjukkan sisi rapuhnya terasa sangat asing dan mustahil baginya. Dixon meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya tadi adalah reaksi wajar seorang ayah yang ingin melindungi putrinya.
Dixon menarik kembali tangannya dengan perlahan. Rahang tegasnya mengatup rapat, mengunci seluruh gejolak rasa bersalah dan penyesalan itu rapat-rapat di dalam dadanya.
Ia memilih untuk berbalik, merebahkan tubuh tegapnya di sisi ranjang yang kosong dengan jarak yang cukup jauh dari Cia. Dixon menarik selimutnya, memejamkan mata elangnya kuat-kuat untuk mengusir rasa bersalah yang terus berdenyut di kepalanya, dan memilih untuk tidur dalam keheningan yang kaku membiarkan egonya tetap membatu di atas luka istrinya yang masih basah.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu