Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bapak
"Dia masih ada di sini!" Pak Urip tambah membelalakkan matanya membuat aku pun ikut tegang.
Bola matanya terus bergerak memutar seolah mencari sesuatu di ruangan itu. kini bola matanya tertuju pada lemari pakaian milik Rere.
Ia kemudian membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu dan mencari sesuatu di balik tumpukan baju-baju milik adikku.
Aku tidak tahu apa yang ia cari, tapi aku bisa menduga jika sepertinya ia mencari sebuah benda klenik atau sebuah jimat yang disembunyikan di antara tumpukan baju-baju itu.
Seekor bangkai gagak di temukan di bawah tumpukan baju milik Rere membuat ku merinding.
"Siapa yang melakukan ini??" ucap Pak Urip
"Ini bukan kelakuan makhluk halus, tapi ini kelakuan manusia!" pekik Pak Urip
"Apa arti bangkai itu Pak Lik?" tanya kau penasaran
"Ada seseorang yang menaruh dendam kepada keluarga kalian, hingga ia mengirim sebuah santet untuk membunuh satu persatu anggota keluarga ini," jawab Pak Karim
Seketika mulutku langsung mengatup dan terkunci. Aku sudah menduga ada yang tidak beres dengan Rere. Sebenarnya aku tahu jika penyakitnya itu bukan karena karma pesugihan atau dia yang akan dijadikan sebagai tumbal berikutnya. Tapi aku tidak mau berburuk sangka. Apalagi aku ini cuma orang biasa yang tidak mengerti tentang dunia mistis. Namun dari beberapa kejadian yang aku alami beberapa hari ini, membuat aku yakin jika ada orang yang sengaja ingin melukai adikku dengan menggunakan ilmu hitam.
Walaupun aku tidak tahu tentang santet, teluh, atau guna-guna, tapi aku yakin itu adalah sebuah ilmu hitam yang bisa membuat orang mati dengan cara mengenaskan.
"Nang, apa kamu mengetahui sesuatu?"
Aku tersentak kita mendengar pertanyaan dari Pak Urip .
"Akh, tidak, aku tidak tahu apa-apa Pak Lik,"
"Tapi matamu mengatakan kalau kamu mengetahui sesuatu. Katakan saja sama Pak Lek, mungkin dengan keterangan darimu akan mempermudah Pak Lek untuk mencari tahu siapa orang yang sudah tega mencelakai adikmu dengan santet mematikan ini?" jawab Pak Urip
Lagi-lagi aku tak berani untuk memberitahu Pak Urip. Aku takut jika salah duga. Aku hanya ingin menunggu momen yang tepat untuk mengungkap semuanya.
"Baiklah kalau kamu tidak tahu,"
Pak Urip kemudian keluar dari ruangan itu sambil membawa bangkai gagak menuju ke halaman belakang.
Aku mengikutinya dari belakang, karena penasaran. Aku benar-benar ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Pak Hurip terhadap bangkai gagak itu.
Kulihat Pak Urip menggali tanah untuk mengubur bangkai gagak itu bersama dengan bunga yang sudah menghitam.
Ia kemudian kembali masuk setelah semuanya selesai. Pak Urip tersenyum saat melihat aku terus memperhatikannya.
"Kenapa, Apa kamu penasaran??" tanyanya dengan senyumannya yang mengembang
aku pun mengangguk. Pak Urip kemudian menepuk bundaku dan mengajakku untuk menuju ke halaman depan.
Ia mengambil sebuah tanaman kelor dan menanamnya di halaman. Ia bilang tanaman kelor bisa membersihkan dari sesuatu negatif agar kembali bersih lagi.
"Katakan padaku?" kembali Pak Urip kembali mendesak ku dengan pertanyaan yang sama. Aku tahu dia masih penasaran dengan apa yang hendak aku katakan.
Namun aku belum bisa mengatakannya, aku ingin memberitahunya suatu saat nanti jika waktunya tepat.
"Aku tahu kamu tak mau gegabah dalam bertindak Nang, akan tetapi aku hanya berpesan padamu untuk tidak terlalu lama memendam rahasia ini. Bukalah tabir itu agar kau tidak terlambat menyelamatkan adikmu,"
Pak Urip segera pergi setelah mengucapkan kata-kata tersebut.
Sebenarnya ada benarnya juga yang dikatakan olehnya. Namun aku tetap belum siap untuk memberitahukannya.
Aku harus mencari bukti-bukti dulu.
Aku segera keluar dari kamar Rere untuk melihat kondisi bapak.
Saat masuk ke kamar tiba-tiba ku lihat Bapak tidak ada ranjangnya.
"Kemana dia??"
"Bapak!" seruku sambil mencari ke ruangan lain. Ku lihat kursi roda bapak juga masih ada di dalam kamar, artinya bapak tidak pergi sendirian.
Karena bapak sekarang sedang lumpuh, aku yakin ada seseorang yang mengajaknya pergi.
"Tapi siapa, tidak mungkin Pak Urip??"
"Atau jangan-jangan???"
Aku segera bergegas keluar. Ku nyalakan sepeda motorku dan bergegas pergi menyusul bapak.
Kali ini tujuanku adalah kediaman Mas Aditya.
"Aku yakin dia yang membawa bapak pergi, dia begitu dendam kepada bapak hingga ingin membunuhnya dan Rere juga,"
Setalah setengah jam perjalanan aku akhirnya tiba juga di kediaman Aditya.
*Tok, tok, tok!!
Ku ketuk keras-keras pintu rumah Aditya. Aku tahu ia pasti tidak akan keluar jika melihat aku yang datang.
Karena Tak seorangpun yang keluar untuk membukakan pintu, akupun berinisiatif untuk mendobraknya.
"Brakkk!!"
Aku begitu terkejut saat melihat tubuh Aditya terlempar tepat di depan ku.
Kepalanya pecah dan kedua bola matanya nyaris keluar.
"Bunuh bapakmu jika kamu tidak mau mati seperti ku!"
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja