Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plak!
Pada suatu pagi Davis sedang berjalan sendiri di sebuah mal.
Ia baru saja menyelesaikan pertemuan dengan seseorang yang sudah lama dikenal dengan baik.
Tanpa diduga ada seorang yang belum dikenal menghampiri Davis dan mengajak bicara.
Rupanya datang sebuah tawaran untuk mengikuti audisi sebuah casting film.
"Rupamu tidak ada yang menyamai", katanya.
Karena Davis juga merupakan seorang penggemar berat film. Maka Davis mau melakukannya.
Tidak ada rugi dan salahnya mencoba.
Davis sendiri suka melihat film di rumah lewat handphone.
Beberapa kali nonton film di layar raksasa di teater selalu berakhir dengan mengantuk berat di pertengahan cerita.
Bukan karena alur dan kisahnya yang tidak menarik atau menjemukan.
Tapi karena Davis yang gampang ketiduran.
Dengan alasan ini Davis yang sedang tidak disibukkan dengan hal apa pun bersedia melakukan audisi sebuah casting untuk film layar lebar.
Itu adalah pengalaman yang sangat berharga bagi Davis beberapa hari yang lalu.
Pulang-pulang wajahnya berwarna merah karena kena gampar.
Bekasnya sampai sekarang masih belum sepenuhnya sembuh.
Pas casting adegan mesra. Davis diminta untuk menyingkap dengan pelan rambut lawan casting nya yang menutupi sebagian wajah sebelum berdialog.
Tapi entah kekuatan super apa yang merasuki Davis.
Bukan melakukan apa yang disuruh. Davis justru memperagakan improvisasi berbahaya yang berakibat fatal.
Davis mencium lawan casting nya tanpa rasa gentar.
Selanjutnya Davis mendapatkan lima bintang tamparan yang kerasnya bukan main.
"Plak!",
Satu tamparan dari lawan casting yang baru saja diciumnya sekonyong-konyong.
"Plak!",
"Plak!",
Dua tamparan dari kedua orang tua yang mengantarkan anak perempuannya yang masih sekolah ikut audisi casting.
"Plak!",
"Plak!",
Dua tamparan tambahan dari dua orang wanita muda yang juga ikut audisi casting yang sedang menunggu giliran.
Mereka merasa ikut dilecehkan.
Bukan siapa-siapa Davis sudah terpapar star syndrome duluan.
🎶
Bunyi panggilan masuk berupa melodi violin mendayu yang sangat populer.
Marco
Nama kontak Marco muncul di layar.
Davis sempat mengingat-ingat Marco siapa?
Marco anak sekolah pemilik rumah penginapan yang ia kenal beberapa waktu yang lalu.
Davis pun mengangkat panggilan sehabis magrib itu.
"Tolong aku pak",
"Tolong",
"Tolong",
Suara Marco di balik telpon itu terdengar benar-benar panik.
Davis segera berangkat ke rumah Marco yang ada di tengah kota.
Di tengah perjalanan Davis yang menaiki vespa tua dikejutkan dengan kemunculan seekor kucing putih di tengah jalan.
Hampir saja Davis menabrak kucing kurus yang tiba-tiba menyeberang itu.
Setelah kembali melaju dengan stabil. Ketika diingat-ingat Davis baru sadar.
Kalau kucing putih yang barusan menyapanya di tengah jalan memiliki mata yang berwarna merah.
"Apakah ini adalah sebuah pertanda?",
"Apakah baik atau buruk?",
Rumah Marco
Rumah Marco gampang ditemukan.
Letaknya yang paling luar sebelum masuk ke komplek perumahan.
"Kenapa Davis yang dihubungi?",
"Bukan orang lain atau siapa pun itu?",
"Pasti ada sesuatu yang tidak beres",
Begitu pikir Davis ketika sampai di rumah Marco yang sepi.
Tapi pintu depan sudah terbuka sedikit.
"Marco... ",
"Marco... ",
Sempat hening sambutan yang diterima oleh Davis.
Sampai suara seorang perempuan tua menjawabnya.
"Masuklah",
"Jadi kamu yang bernama Davis?",
Sapa nenek Marco yang untuk pertama kalinya berjumpa dengan Davis.
"Benar, aku yang bernama Davis Nek",
"Marco dimana Nek?",
Davis tidak merasakan keberadaan orang lain di rumah itu.
"Marco sedang pergi sebentar",
"Nah itu dia anaknya",
Marco yang baru beberapa malam kembali ke kota ini harus pergi jauh lagi.
Kali ini dia juga harus membawa sang nenek bersamanya.
Marco baru saja dari rental mobil untuk menyewa sebuah tunggangan yang siap tempur untuk perjalanan jarak jauh yang penuh rintangan.
"Tolong kami nak",
"Ikut kami",
"Kemana Nek?",
"Jalur baru",