Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Malam mencekam itu dimulai dengan kesunyian yang menguliti ketenangan. Alyssa Carissa Pradipta menatap piring porselen di hadapannya, merasakan atmosfer rumah yang mendadak berubah menjadi medan pertempuran tanpa suara. Aroma masakan rumah yang biasanya menenangkan, kini terasa hambar, kalah oleh aura kecemasan yang pekat.
"Ayah... Ibu... ada apa?" Alyssa akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar jernih namun bergetar di tengah ruang keluarga yang seolah kehilangan udaranya.
Adrian Pradipta, sang kepala keluarga, perlahan mengangkat wajahnya. Pria yang biasanya berdiri tegak penuh wibawa itu kini tampak rapuh, seolah beban seluruh dunia baru saja dijatuhkan ke atas pundaknya dalam waktu semalam. Guratan-guratan lelah di wajahnya menegaskan kekalahan yang mendalam. Di sampingnya, Bianca Pradipta langsung memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang sembap dan merah akibat tangis yang tak kunjung usai.
"Perusahaan kita... Grup Pradipta," Adrian memulai dengan suara serak, setiap kata yang keluar terdengar seperti hantaman godam yang berat. "Kita berada di ambang kehancuran total, Alyssa. Semua aset, rumah ini, hingga nama baik yang kita bangun puluhan tahun... semuanya akan lenyap."
Deg.
Jantung Alyssa seolah berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Kabar tersebut menghantam kesadarannya bagaikan hantaman ombak badai di tengah laut lepas. Informasi mengenai utang yang menumpuk dan pengkhianatan mitra bisnis tersaji di depan matanya bagai runtuhnya menara tinggi yang selama ini melindunginya.
"Tidak ada jalan keluar?" tanya Alyssa, jemarinya mencengkeram pinggiran meja makan, mencoba mencari pegangan di saat dunianya mulai runtuh.
Adrian menggeleng lemah, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. "Hanya ada satu cara untuk menghentikan eksekusi kebangkrutan ini. Sebuah penawaran dari penguasa bisnis tertinggi negeri ini. Grup Maheswara."
Mendengar nama raksasa itu disebut, bulu kuduk Alyssa meremang. Otaknya langsung memproses reputasi mengerikan di balik nama besar tersebut, terutama tentang sang pewaris tunggal yang dikenal tanpa ampun.
"Mereka bersedia melunasi seluruh utang Pradipta," lanjut Adrian dengan suara yang semakin mengecil, "dengan satu syarat mutlak. Kamu... harus menikah dengan putra mereka, Alvaro Regantara Maheswara."
Malam itu, jam dinding terus berdetak, mengiringi awal dari mimpi buruk yang baru saja dimulai. Alyssa tahu, di luar sana, sang "Pewaris Berbahaya" sedang menunggu untuk mengurungnya dalam sangkar emas yang mematikan.
****************
Keheningan kembali menyergap, kali ini jauh lebih pekat dan mencekik. Kata-kata sang ayah terus terngiang di dalam kepala Alyssa, berputar-putar seperti badai yang siap menghancurkan sisa-sisa ketenangannya.
Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara?
Nama itu bukan sekadar nama asing. Di dunia bisnis dan berita finansial yang sering dibaca Alyssa, Alvaro adalah sosok predator. Pria berumur 28 tahun yang memimpin Grup Maheswara dengan tangan besi. Dingin, kejam, dan tidak pernah melepaskan mangsanya jika sudah berada di bawah kendalinya. Menikah dengan pria seperti itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam sarang serigala.
"Tidak! Aku tidak setuju!"
Suara Bianca memecah kesunyian dengan isak tangis yang kembali pecah. Ibu Alyssa itu menggelengkan kepala dengan histeris, menggenggam jemari Alyssa yang terasa sedingin es.
"Adrian, kita tidak bisa mengorbankan masa depan putri kita! Alvaro itu pria berbahaya. Dia tidak punya hati! Bagaimana bisa kau membiarkan Alyssa masuk ke dalam keluarga yang penuh intrik seperti mereka?" Bianca menatap suaminya dengan tatapan memohon, menuntut jawaban yang tak kunjung datang.
Adrian hanya bisa tertunduk dalam, menyembunyikan guncangan emosinya. "Lalu kita harus bagaimana, Bianca? Minggu depan, pengadilan akan menyita seluruh aset kita. Kita akan diusir dari rumah ini. Dan utang-utang itu... mereka tidak akan membiarkan kita hidup tenang jika kita tidak membayarnya!"
"Tapi bukan dengan cara menjual Alyssa!" tangis Bianca pecah seketika, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat sebagai seorang ibu.
Di ambang pintu ruang keluarga, siluet ramping Keira Pradipta berdiri terpaku. Adik Alyssa yang baru saja turun dari kamarnya itu menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar mendengar pertengkaran dan kenyataan pahit yang baru saja terungkap. Support system nomor satu Alyssa itu tampak gemetar, kehilangan kata-kata demi melihat kehancuran yang terpampang nyata di depan matanya.
Alyssa melepaskan genggaman ibunya secara perlahan. Ia berdiri, melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman rumah mereka. Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi, persis seperti suasana hatinya yang kini porak-poranda.
Grup Pradipta adalah jerih payah ayahnya dari nol. Rumah ini adalah tempat ia dan Keira tumbuh besar dengan penuh kehangatan. Jika ia menolak, semua ini akan lenyap dalam hitungan hari. Ayahnya mungkin akan berakhir di penjara, dan ibunya serta Keira akan hidup telantar di jalanan.
Tangan Alyssa mengepal kuat di sisi tubuhnya. Keberanian dan harga diri yang selama ini ia jaga bergolak di dalam dada. Ia tidak pernah mau ditindas oleh keadaan, dan ia menolak untuk menjadi korban yang hanya bisa meratapi nasib.
Alyssa membalikkan badannya, menatap ketiga anggota keluarganya yang kini sedang memandangnya dengan tatapan penuh kecemasan.
"Ayah," panggil Alyssa, suaranya kini terdengar datar namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Kapan mereka meminta jawaban kita?"
Adrian mendongak, matanya yang kemerahan menatap sang putri sulung dengan rasa bersalah yang mendalam. "Besok malam... Mahendra Maheswara mengundang kita makan malam di kediaman mereka. Untuk meresmikan perjanjian ini."
Alyssa menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan udara yang terasa membakar dadanya. Keputusan telah diambil di dalam benaknya. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarganya, maka ia akan menghadapi sang Pewaris Berbahaya itu dengan kepala tegak.
"Baik. Kita terima perjodohan itu," ucap Alyssa mantap, memutuskan rantai ketakutan yang sempat melumpuhkannya.
Malam itu, di bawah rintik hujan yang semakin deras, Alyssa tahu bahwa kehidupan remajanya yang tenang telah berakhir. Di balik kemegahan kota yang terlihat dari jendela, Alvaro Regantara Maheswara mungkin sedang menyusun rencana untuk mengikatnya dalam kontrak pernikahan yang mematikan. Dan Alyssa bersumpah, ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja di dalam sangkar emas tersebut.
****************
Keira langsung berlari memeluk Alyssa dari belakang, menyembunyikan wajahnya di pundak sang kakak dengan bahu yang berguncang hebat. "Kak... jangan lakukan ini. Pasti ada cara lain. Aku bisa berhenti kuliah, aku bisa bekerja untuk membantu Ayah," bisik Keira di sela tangisnya, mencoba menahan Alyssa agar tidak melangkah lebih jauh ke dalam jurang yang mengerikan itu.
Alyssa mengusap lembut punggung adiknya, memberikan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki saat ini. "Tidak, Keira. Kamu harus tetap kuliah. Biarkan ini menjadi urusan Kakak," jawab Alyssa, mencoba mempertahankan nada suaranya agar tetap stabil di hadapan sang adik.
Adrian Pradipta bangkit dari kursinya dengan langkah gontai. Pria paruh baya itu berjalan mendekati Alyssa, lalu tanpa diduga, ia menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan putri sulungnya.
"Ayah... apa yang Ayah lakukan? Berdirilah, Ayah!" Alyssa terkejut, mencoba menarik pundak ayahnya agar kembali berdiri, namun Adrian menolaknya.
"Maafkan Ayah, Alyssa... Maafkan kebodohan Ayah yang membuatmu harus menanggung beban ini," ucap Adrian dengan suara yang tercekik oleh rasa sesal dan kehancuran harga diri sebagai seorang kepala keluarga. "Mahendra Maheswara adalah pria yang licik. Dia tahu persis posisi kita yang terjepit, dan dia memanfaatkan situasi ini untuk mengikat keluarga kita demi kepentingannya."
Alyssa memejamkan mata sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke dalam otaknya. Jadi, ini bukan sekadar bantuan sukarela. Ini adalah sebuah transaksi bisnis yang dingin, di mana dirinya adalah komoditas utama yang dijadikan jaminan. Mahendra Maheswara, sang pendiri Grup Maheswara, dengan sengaja merancang perjodohan ini dengan memanfaatkan keterpurukan keluarga Pradipta.
"Ayah, berdirilah. Aku tidak ingin melihat Ayah seperti ini," tegas Alyssa lagi, kali ini dengan nada yang tidak menerima penolakan. Setelah Adrian perlahan bangkit dan duduk kembali di samping Bianca yang masih terisak, Alyssa merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan.
Otak cerdas Alyssa mulai berputar cepat, menganalisis situasi buruk yang menimpanya. Ia tidak boleh mendatangi kediaman Maheswara besok malam sebagai seorang domba yang siap disembelih. Jika Alvaro Regantara Maheswara adalah seorang predator yang kejam dan tak kenal ampun dalam bisnis, maka ia harus menyiapkan mental baja untuk berhadapan langsung dengan pria itu.
"Ibu, hapus air mata Ibu," ujar Alyssa sambil berjalan mendekati Bianca, berlutut di depan ibunya lalu menggenggam kedua tangannya yang gemetar. "Keluarga Pradipta mungkin sedang jatuh, tapi kita tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak harga diri kita. Aku menerima pernikahan ini sebagai sebuah kesepakatan bisnis, bukan sebagai budak."
Bianca menatap mata putrinya, menemukan kilatan keberanian yang begitu kuat di sana. Sifat Alyssa yang berani dan tidak mudah ditindas kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang dimiliki keluarga mereka.
Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata. Kamar Alyssa terasa lebih dingin dari biasanya ketika ia akhirnya merebahkan diri di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan hari esok yang akan mengubah statusnya selamanya.
Di tempat lain, di sebuah griya tawang mewah yang menghadap ke pusat kota, berkas-berkas mengenai latar belakang Alyssa Carissa Pradipta mungkin sudah berada di atas meja kerja Alvaro. Pertemuan besok malam bukan sekadar makan malam keluarga biasa, melainkan awal dari penandatanganan kontrak pernikahan yang akan mengikat dua jiwa dalam lingkaran kebencian dan ambisi. Alyssa menarik selimutnya erat-erat, bersiap menghadapi badai besar yang sudah menantinya di depan mata.
****************
Jam dinding terus berdetak, mengiringi malam yang perlahan bergeser menuju pagi. Setiap detiknya terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah eksekusi. Alyssa membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas kasur, namun matanya tetap enggan terpejam. Pikiran tentang makan malam besok di kediaman Maheswara terus berputar, meracuni benaknya dengan berbagai spekulasi.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan di pintu kamarnya memecah keheningan malam yang sunyi. Alyssa langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di tepi ranjang. "Masuk saja, pintu tidak dikunci," jawabnya dengan suara setengah berbisik, khawatir suaranya akan membangunkan seisi rumah yang mungkin baru saja terlelap setelah badai emosi tadi.
Pintu terbuka perlahan, memunculkan sosok Keira yang masih mengenakan piyama bermotif kotak-kotak. Wajah adiknya itu masih tampak sembap, dengan kedua mata yang bengkak akibat terlalu banyak menangis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Keira berjalan mendekat dan langsung menjatuhkan dirinya di samping Alyssa, memeluk lengan kakaknya dengan erat seolah takut Alyssa akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Kak... aku benar-benar takut," cicit Keira, suaranya parau dan bergetar di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur mini di sudut ruangan. "Bagaimana kalau mereka memperlakukan Kakak dengan buruk? Bagaimana kalau pernikahan ini justru membuat hidup Kakak menderita?"
Alyssa menghela napas panjang, mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Di tengah situasi genting ini, ia harus mengubur rapat-rapat ketakutannya sendiri demi menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi adiknya. "Dengar, Keira. Kakakmu ini bukan wanita lemah yang bisa ditindas begitu saja. Mereka mungkin punya uang dan kekuasaan, tapi mereka tidak bisa membeli harga diri Kakak."
"Tapi, Kak—"
"Tidak ada tapi-tapi," potong Alyssa dengan nada tegas namun lembut. "Ini adalah pilihan terbaik yang kita miliki sekarang. Setidaknya, dengan cara ini, Ayah tidak akan masuk penjara, dan kamu bisa menyelesaikan kuliahmu dengan tenang. Tugasmu sekarang hanya satu: tetap menjadi support system nomor satu untukku, apa pun yang terjadi nanti."
Keira menatap mata Alyssa, mencari celah keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang memancarkan tekad bulat yang tak tergoyahkan. Perlahan, Keira mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alyssa, mencari perlindungan di satu-satunya tempat yang paling ia percayai.
Malam itu, kedua bersaudara itu saling menguatkan dalam diam hingga kelopak mata mereka akhirnya menyerah pada rasa lelah yang teramat sangat. Mereka tertidur dalam posisi saling merangkul, bersiap menghadapi kenyataan pahit yang sudah menunggu di esok hari.
Ketika fajar menyingsing dan sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden, Alyssa adalah orang pertama yang membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar untuk beberapa saat, mengumpulkan kembali kesadarannya dan mempertebal dinding pertahanan di dalam hatinya. Hari yang baru telah tiba, dan malam nanti adalah penentu takdir hidupnya.
Sambil melangkah turun dari tempat tidur tanpa membangunkan Keira, Alyssa berjalan menuju kamar mandi. Sambil membasuh wajahnya dengan air dingin, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada lagi ruang untuk air mata. Mulai detik ini, Alyssa Carissa Pradipta siap menghadapi permainan catur politik bisnis yang sengaja dirancang oleh keluarga Maheswara untuk menjebak keluarganya.
****************
Setelah menyelesaikan rutinitas paginya, Alyssa melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di bahunya. Ia menatap Keira yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya dengan posisi meringkuk. Alyssa tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat untuk menyelimuti adiknya hingga sebatas dada sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dengan langkah yang sengaja diringankan.
Suasana lantai bawah terasa begitu asing pagi ini. Biasanya, aroma kopi seduhan sang ayah dan wangi nasi goreng buatan ibunya sudah menyeruak hingga ke tangga. Namun kali ini, yang ada hanyalah keheningan yang janggal.
Di dapur, Alyssa mendapati ibunya sedang berdiri mematung di depan meja konter, menatap kosong ke arah dinding tanpa melakukan apa pun. Bianca tampak sangat kuyu, guratan kesedihan masih tercetak jelas di wajah cantiknya yang mulai dimakan usia.
"Ibu," panggil Alyssa lembut, membuat Bianca sedikit tersentak dari lamunannya.
"Eh, Alyssa... Kamu sudah bangun, Sayang?" Bianca buru-buru menghapus sudut matanya yang ternyata kembali basah, mencoba memaksakan sebuah senyuman yang justru terlihat menyakitkan di mata Alyssa. "Maaf, Ibu belum menyiapkan sarapan. Ibu... Ibu agak kurang fokus pagi ini."
Alyssa berjalan mendekat, lalu mengambil alih pisau dapur yang dipegang ibunya secara perlahan. "Tidak apa-apa, Bu. Biar Alyssa saja yang masak hari ini. Ibu duduk saja dan temani Ayah, ya?"
Bianca menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa bersalah yang teramat dalam. Ia menggenggam kedua tangan Alyssa, meremasnya pelan. "Alyssa... Ibu benar-benar minta maaf. Ibu merasa menjadi orang tua yang gagal karena tidak bisa melindungimu dari semua kekacauan ini."
"Bu, tolong jangan bicara seperti itu," potong Alyssa dengan nada tenang namun sarat akan ketegasan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata ibunya. "Kita tidak sedang menyerah. Kita sedang menyusun strategi untuk bertahan hidup. Pernikahan ini hanya di atas kertas, sebuah transaksi bisnis. Begitu perusahaan Ayah kembali stabil, aku pasti akan menemukan jalan keluar."
Meskipun kata-kata itu diucapkan untuk menenangkan ibunya, di dalam hati terkecilnya, Alyssa tahu betul bahwa keluar dari cengkeraman keluarga Maheswara tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ia menolak untuk memperlihatkan setitik pun keraguan di depan keluarganya.
Setelah berhasil membujuk ibunya untuk beristirahat di ruang tengah, Alyssa mulai memotong beberapa sayuran dengan gerakan yang tegas dan cepat. Setiap ketukan pisau di atas talenan seolah menjadi penyalur emosinya yang tertahan sejak semalam. Ia sengaja menyibukkan diri agar otaknya tidak terus-menerus membayangkan apa yang akan terjadi pada jamuan makan malam nanti.
Tak berselang lama, Adrian Pradipta muncul di ambang pintu dapur. Langkah kakinya terdengar berat dan terseret. Pria itu tidak mengenakan setelan kerja rapi seperti biasanya, melainkan hanya kemeja santai yang tampak agak kusut, sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi seorang CEO yang selalu menjaga penampilannya.
"Alyssa," panggil Adrian dengan suara serak.
Alyssa menghentikan aktivitas memasaknya dan menoleh. "Iya, Ayah?"
Adrian berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam di atas meja makan. Wajahnya tampak semakin menua dalam hitungan jam. "Ini... berkas profil dan beberapa poin kesepakatan awal yang dikirimkan oleh sekretaris Mahendra Maheswara subuh tadi melalui surat elektronik. Ayah sudah mencetaknya untukmu."
Alyssa menatap map hitam itu seolah benda tersebut adalah kotak pandora yang menyimpan kutukan. Tangannya bergerak perlahan, mengelap sisa air di jemarinya dengan kain bersih sebelum akhirnya menarik map tersebut ke hadapannya.
"Bacalah dengan teliti, Sayang," ujar Adrian dengan nada yang bergetar menahan sesak di dada. "Jika ada satu saja poin yang menurutmu terlalu merendahkan harga dirimu, katakan pada Ayah. Ayah akan membatalkan semuanya, peduli setan dengan kebangkrutan atau penjara."
Mendengar ketulusan ayahnya, sudut hati Alyssa menghangat, namun justru hal itu yang semakin membulatkan tekadnya. Ia tidak akan membiarkan pria yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang ini hancur.
"Aku akan membacanya setelah selesai memasak, Ayah. Jangan khawatir," jawab Alyssa, melempar senyum menenangkan yang menyembunyikan badai di dalam dadanya.
Ketika Adrian kembali ke ruang tengah, Alyssa perlahan membuka lembar pertama dari dokumen di dalam map tersebut. Matanya langsung tertuju pada logo megah bertuliskan Maheswara Group yang tercetak tebal di bagian atas kertas. Babak baru kehidupannya kini benar-benar tertulis hitam di atas putih, dan malam nanti, tirai permainan yang sesungguhnya akan resmi dibuka.