Berawal dari hubungannya dengan seorang pria bernama Aldi, Rindu terlalu naif dan berfikir hanya Aldi lah satu satunya pria yang tulus mencintainya.
hingga suatu kejadian pahit membuat Rindu tersadar,jika Aldi bukanlah pria yang tepat untuknya. dan kisah Rindu pun bermula, kejadian demi kejadian pahit membawanya pada sosok seorang pria angkuh. siapa sangka pria itu akhirnya menjadi suaminya.
akankah Rindu menemukan kebahagiaan setelah pernikahan?
atau cobaan demi cobaan masih harus menguji Rindu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia Riadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.32#Undangan Makan Malam
Bima dan rindu telah bersiap utuk kunjungan ke perusaahaan milik vano. sementara aldebaran masih di sibukan dengan tugas kantornya.
sesampainya di sebuah parkiran, tampak gedung megah dan bertingkat.merekapun telah di sambut seorang sekretaris dari dalam lobi kantor tersebut.
"selamat siang pak bima.tuan vano sudah menunggu anda,silahkan ikut saya"
mereka berjalan menuju lantai sepuluh.
"selamat datang pak bima, nona rindu" sambut vano seraya mengulurkan tangan.
"terimakasih tuan vano sudah mengundang kami"
"tuan al apakah tidak ikut?"
"mohon maaf tuan al sedang banyak kesibukan,dan beliau mengutus saya sebagai perwakilan"
"baiklah, dan mari silahkan duduk"
"ada hal penting apa tuan vano mengundang kami kesini?"
"begini pak bima, untuk menjalin rasa saling percaya antar perusahaan kita,saya akan mengajak pak bima untuk melihat lihat proses percetakan dan segala kegiatan di perusahaan ini"
cih.. aku tahu kau cuma ingin bertemu rindu, bima menggerutu dalam hati.
"baiklah,kalau begitu mari saya antar berkeliling"
mereka pun menelusuri setiap bagian kantor tersebut.
pandangan vano tidak pernah terlepas dari rindu, jantungnya serasa berdebar tidak beraturan.
setelah kegiatan selesai,merekapun kembali masuk ke ruang kerja vano. dan jam memang sudah menunjunkan waktu makan siang.
"pak bima, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu" ajak vano.
"maaf tuan kami harus segera bergegas karena masih banyak kesibukan" bima menolak secara halus, padahal perutnya memang sudah terasa sangat lapar.
"baiklah kalau begitu, bagaimana jika nanti malam saya undang nona rindu untuk bersantap bersama? anggap saja sebagai ucapan terimakasih dari perusahaan kami"
sial!kenapa masih mengatas namakan perusahaan juga!
bima masih tetap menggerutu dalam hatinya. namun ia pun merasa dilema, bukankah tidak sopan jika menolak permintaan seseorang sampai dua kali, fikirnya.
tapi di sisi lain ia pun merasa takut jika harus menghadapi kemurkaan aldebaran .
bima pun melirik ke arah rindu, seakan memberi kode.
"sepertinya tuan al tidak akan keberatan pak bima"sambung vano.
"itu terserah nona rindu saja tuan vano" jawab bima mati kutu.
mata rindu melotot seketika ke arah bima.
"mm..itu anu tuan vano, gimana ya" rindu gugup, situasi ini sungguh tidak di duga sebelum nya.
"saya kira nona rindu tidak akan keberatan bukan?"
"baiklah tuan vano,saya terima ajakan anda" jawab rindu.
matilah!bima mengusap dada.
akhirnya mereka pun pamit pulang dan kembali ke perusahaan al.
sesampainya di sana, bima dan rindu tidak segera menemui al, mereka memutuskan istirahat di cafetaria.
"kenapa kau menerima ajakan vano?kau sama saja menumbalkan diriku pada aldebaran"
wajah bima pucat seketika.
rindu yang sedang menikmati secangkir kopi segera menghentikan aktivitasnya
"La-lalu saya harus bagaimana pak?"
"harusnya tadi kau tolak saja. bukankah kau
sudah tahu sifat aldebaran seperti apa"
kali ini rindu merasa tersudutkan.
"ma-maaf pak,aku tidak berfikir panjang"
perbincangan mereka terhentika ketika bima mendapat panggilan telepon dari aldebaran.
merekapun bergegas kembali ke kantor.
"bagimana hasilnya? apa aja yang kalian bicarakan"
"tuan vano cuma ngajak kita keliling buat meninjau proses percetakan, dia pun menjelaskan aset perusahaan yang dia punya"
"bagus" jawab al singkat.
bima dan rindu saling bertatapan, saling memberi kode.
"ta-tapi" bima ragu melanjutkan perkaraannya.
"ada apa?bicaralah"
"tuan vano mengundang rindu untuk perjamuan makan malam" bima tertunduk, tidak berani melihat reaksi al.
al menatap ke arah mereka berdua.
"baik, terima saja tawaran nya"
bima dan rindu kembali saling bertatapan.
"serius?" bima seolah tidak percaya dengan pendengaran nya.
bima pun bernafas lega, kali ini ia beruntung tidak menjadi sasaran aldebaran.
namun ada sesuatu yang aneh yang bima rasakan, merasa jika aldebaran akan
merencanakan sesuatu.
"gadis kecil, tolong pesankan makan siang untuk ku" rindu pun manggut dan berlalu.
"aku sudah mempunyai prediksi jika hal ini akan terjadi" al berkata sambil menatap serius ke arah bima.
"lalu apa yang akan kau rencanakan?"
"aku akan mengirimkan sopir untuk mengantar rindu, dan kau awasi mereka dari belakang"
"aku lagi?" bima membelalakan matanya.
"mau membantah?"air muka al seketika berubah garang.
bima langsung menggelengkan kepalanya.
"kita lihat sejauh apa alvano akan merebut apa yang menjadi milik ku"
sejurus kemudian,rindu kembali dengan membawakan makan siang untuk al.
"nanti malam kau di antar sopir"
rindu sedikit terheran,tidak seperti biasanya iblis ini tidak naik darah bisiknya dalam hati.
"setelah ini, pergilah untuk membeli beberapa pakaian yang pantas untukmu, jangan sampai kau terlihat tidak pantas saat bertemu vano, ini untuk melambangkan citra perusahaan kita" lanjut al.
"baik al"
al memberi kode pada bima untuk segera mengatar rindu.
***
Di sebuah pusat perbelanjaan, bima mengajak rindu ke sebuah outlet ternama.
rindu mengikuti langkah bima.
"al berpesan padaku, kau jangan memilih gaun yang terbuka, jangan ada belahan paha, jangan memperlihatkan dada, jangan memperlihatkan punggung Juga"
rindu cuma ternganga mendengar perkataan bima.
"lalu aku harus pilih yang mana pak?"
"kau minta bantuan kepada pelayan disi. nanti aku yang akan menilai pantes apa tidaknya dengan kemauan al"
sial! kenapa bukan iblis itu aja yang menerima undangan vano,berbisik dalam hati.
setelah mencoba beberapa gaun, dan mengirimkan foto setiap gaun yang rindu coba kepada al,akhirnya pilihanpun jatuh pada sebuah gaun berwarna hijau emerald.
memang sangat cocok di kenakan rindu,
tidak nampak sexy nampun tetap terlihat anggun sempurna di tubuhnya.
al menatap layar ponselnya, dia memandangi foto rindu mengenakan gaun tersebut.
"bagai mana aku bisa membiarkanmu dimiliki orang lain, kau terlalu mempesona" bisik al.
bima pun melajukan mobilnya menuju kediaman al,mengantarkan rindu.
namun al masih belum pulang.
segera rindu bersiap membersihkan diri karna memang waktu sudah beranjak senja.
***
silahkan tinggalkan jejak like&favoritnya.
dan terimakasih untuk yang sudah menyumbangkan vote poin untuk novel ini.
silahkan bergabung di grup chat untuk berbagi hal hal positif