"Dalam Tasbihku, ku langitkan doa atas namamu, meski aku tidak tahu apakah doaku yang akan pulang sebagai pemenangnya." ~ Hawaa
Hubungan persaudaraan tak sedarah yang sudah terjalin ternyata menumbuhkan cinta diantara Adam dan Hawaa, tapi semua itu harus terhalang, saat Adam memilih menganggap Hawaa hanya sebatas saudara.
Hawaa yang telah kecewa, kembali dibuat terluka saat Adam datang mengenalkan kekasihnya, Anissa yang ingin Adam ajak serius.
"Saat kamu melangitkan doa dengan nama orang lain, kamu harus siap menerima jawaban, dari doa itu." ~ Adam
Inikah jawaban, dari Doa yang Hawaa langitkan, ataukah ada jawaban lain yang belum kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Dua
Haikal terdiam mendengar jawaban dari istrinya. Dia tak percaya dengan pendengarannya.
"Apa Mas ingin ikut?" tanya Syifa akhirnya setelah mereka berdua terdiam beberapa saat.
"Kamu saja yang pergi. Aku nanti dengar kabar darimu saja," jawab Haikal.
Dalam hatinya ingin menjenguk sang putri, tapi egonya melarang. Syifa lalu pergi dengan supir setelah mendapat izin dari sang suami.
Syifa mampir membeli kue kesukaan sang anak sebelum ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan wanita itu tak berhenti menangis mengingat kejadian kemarin. Penyesalan menghantuinya.
Sampai di rumah sakit, Syifa langsung menuju kamar yang tadi Gafi katakan. Saat akan mengetuk pintu, dia mendengar suara yang asing. Namun, dia tetap mengetuk pintunya.
Setelah terdengar sahutan mempersilakan masuk, barulah dia membuka pintu. Mata Syifa langsung tertuju pada pria yang duduk dengan putranya Adam, dia adalah Harris, sang mantan suami.
Hawaa tampak terkejut melihat kehadiran sang bunda. Dia langsung memandangi Gafi. Yakin semua itu karena adiknya yang mengatakan.
Syifa langsung menuju tempat tidur dan memeluk tubuh putrinya. Tangisnya kembali pecah.
"Maafkan Bunda, Nak!" ucap Syifa di sela tangisnya.
"Aku juga minta maaf, Bunda," balas Hawaa.
Setelah cukup lama mereka berpelukan, Syifa melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang sang putri. Dia menggenggam tangan anaknya itu.
"Kamu sakit apa, Nak?" tanya Bunda Syifa.
Adam dan Hawaa baru saja membicarakan tentang penyakit yang gadis itu derita. Dia tak mungkin menutupi semuanya. Untuk menjalankan terapi nantinya.
"Di otakku ada tumor, Bunda!" jawab Hawaa dengan pelan.
Syifa langsung menutup mulutnya karena terkejut. Kembali air matanya tumpah membasahi pipi. Tak percaya dengan pendengarannya saat ini. Kembali wanita memeluk sang putri. Gafi lalu mendekati kedua wanita yang sangat dia cintai itu. Ikut berpelukan dengan mereka.
Adam yang melihat Bunda sangat sedih, mencoba menghibur dengan mengatakan sesuatu.
"Bunda, walau Hawaa saat ini sedang menderita tumor, tapi alhamdulilah kita mengetahui secepat ini sehingga bisa diatasi dengan metode Gamma knife, tak butuh operasi," ucap Adam mencoba menghibur.
"Apa itu metode Gamma knife?" tanya Bunda setelah melepaskan pelukannya.
"Gamma Knife itu adalah suatu metode pengobatan tumor otak tanpa tindakan pembedahan atau non-invasif. Tindakan ini merupakan metode minim risiko dengan sinar radiasi berakurasi tinggi untuk mencapai target operasi yang terletak jauh dalam otak dan bagian kepala," jawab Adam.
Mereka mencoba bicara tentang hal lainnya agar Hawaa tak kepikiran terus tentang penyakit yang dia derita saat ini. Syifa juga menyuapi makanan kesukaan sang putri.
***
Sementara itu di apartemen, Annisa tampak kebingungan. Dia ingin kembali ke rumah, tapi jika ibunya bertanya tentang hubungannya dengan Adam, dia harus menjawab apa.
Annisa pernah mengatakan tentang kecurigaannya mengenai hubungan Adam dan Hawaa pada ibunya. Bukannya pembelaan yang dia dapat, justru ibunya mengatakan jika dia terlalu cemburu. Wajar seorang saudara memiliki perhatian, karena mereka hidup bersama dari masih kecil.
Annisa memilih duduk di sofa. Memandangi ke sekeliling ruangan. Dirinya merasa sangat kesepian. Tak tahu harus mengadu pada siapa.
"Ya Allah. Wajarkah rasa cemburuku ini. Hawaa memiliki segalanya. Karir yang bagus. Kedua orang tua yang sangat menyayangi. Adik yang begitu mencintainya. Dia seperti gambaran impian setiap wanita. Dan sebentar lagi pasti akan menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Dan pasti akan meratukan dirinya," gumam Annisa dalam hatinya.
Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Dia meremas tangannya sendiri.
"Apa aku jahat jika berharap kedua orang tuanya tak akan pernah merestui hubungan Adam dan Hawaa. Aku ingin Adam merasakan sakit yang aku derita, mencintai tapi tak bisa memiliki," ucap Annisa dengan lirih.
Di ambilnya album foto pernikahan dirinya dengan Adam. Memandangi satu persatu.
"Ya Allah, aku mohon hilangkan segera perasaan cinta ini. Aku ingin segera bisa melupakannya. Selama ini aku saja yang mencintainya sendiri," kata Annisa dalam hatinya.
Annisa lalu masuk ke kamar. Dia mengambil tas dan dompetnya. Ingin menghibur hatinya dengan pergi ke mall. Uang yang diberikan Adam sebagai nafkah, masih cukup banyak tersimpan di rekeningnya.
***
Di kantin rumah sakit, tampak Syifa dan Harris sedang duduk berhadapan. Tadi mantan suaminya itu mengajak bicara. Awalnya dia ingin menolak, tapi setelah dipikir-pikir, dia akhirnya setuju. Takut apa yang akan dikatakan sangat penting.
"Syifa, aku minta izin padamu, mungkin aku akan mengajak Adam untuk bekerja denganku. Dia telah mengatakan semua yang terjadi kemarin. Aku sesali kemarahan Haikal yang tak pada tempatnya. Seharusnya dia bicarakan semua secara baik-baik jangan pakai kekerasan dan emosi. Bukankah Adam dan Hawaa tidak melanggar agama jika mereka bersatu!" ucap Haikal.
"Ini bukan saja tentang hubungan mereka berdua, Mas. Yang membuat Mas Haikal itu murka karena Adam yang menikahi Annisa hanya untuk pelarian. Sama saja dia mempermainkan pernikahan. Jika memang tak cinta jangan dinikahi," jawab Syifa.
"Apapun alasannya, aku hanya minta izin kamu. Adam akan tinggal denganku dan membantu mengurus perusahaan ku. Begitu juga dengan Hawaa. Adam sekalian ingin mengobati penyakit Hawaa. Dengan kebersamaan, Adam berharap Hawaa tidak terlalu banyak pikiran yang akan memperparah penyakitnya. Kami tadi sudah bicarakan ini. Bukankah Haikal telah mengusir putrinya. Aku mengatakan ini agar kamu tak kuatir kemana Adam pergi," ucap Harris.
"Aku akan bicarakan ini dulu pada Mas Haikal. Kamu tak bisa membawa Hawaa begitu saja, Mas. Jika kemarin Mas Haikal sempat mengusir anaknya itu cuma karena emosi," balas Syifa.
"Ini kemauan Hawaa, dia yang ingin ikut denganku!" jawab Harris.
"Mas, Hawaa itu masih gadis. Masih tanggung jawab orang tuanya. Tidak bisa Mas membawa anak orang begitu saja. Sekali lagi aku mohon, tunda dulu keinginan Mas. Aku akan bicarakan ini dulu dengan Mas Haikal," balas Syifa.
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya Syifa pamit. Dia ingin obrolkan ini dulu dengan suaminya Haikal. Harris mengantar Syifa hingga ke halaman rumah sakit. Supir keluarganya sedang ada urusan sehingga pulang dengan taksi.
Tanpa Syifa dan Harris sadari, Haikal melihat kebersamaan mereka. Dia tadi bermaksud menjemput sang istri. Namun, diurungkan setelah melihat kebersamaan kedua orang itu.
...----------------...
badai menerjang rmh tanggaku yg ada tiap hari ribut perang bratayuda.
srasa dunia hancur&lelah.
hanya kesalah paham man.
mertua yg sllu ikut campur.
drama&ikut campur.
tp alhmdulillah..q ttp bertahan demi ank2..& dlm setiap doa dlm sujud ku.
badai itu berlalu...
skrg mlah tmbah cinta&harmonis.
tdk ada mslah yg tak bs d selesaikn baik2..bicara dr ht k ht slg terbuka.
& sllu ttp mmperthankn cinta qt.
dh tw pusat dunia adam hawa
knp msh bertahan?
kl gk cinta mosok mokso?
kl cinta pst dy yg jd prioritas utamanya.