NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembersihan di Istana Naga

Cahaya fajar yang sangat pucat menyusup malu-malu melalui celah jendela kaca patri di ruang kerja utama Istana Draken. Warna-warni kaca itu memantulkan siluet merah yang terlihat menyerupai genangan darah di atas karpet pualam.

Valerius van Draken duduk bersandar dengan sangat rileks di atas kursi kebesaran berlapis kulit monster bersisik hitam. Matanya yang segelap malam tanpa bintang menatap kosong ke arah deretan rak buku kuno dari kayu eboni.

Hawa dingin pagi berhembus masuk perlahan, namun tidak sebanding dengan aura kematian yang terus menguar dari tubuh pemuda itu. Jari-jarinya yang pucat mengetuk pelan meja kerja, menciptakan ritme konstan layaknya detak jantung yang perlahan melemah.

Semalam, ia telah berhasil meruntuhkan pilar utama keluarga bangsawan ini tanpa perlu meneteskan setitik pun darah di aula. Kemenangan psikologis itu terasa jauh lebih memabukkan dan memuaskan daripada sensasi merobek leher musuh di medan perang terbuka.

Pintu kayu berukir naga di depannya terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit pelan yang memecah keheningan absolut ruangan. Baron Kaelos melangkah masuk dengan langkah kaki yang sengaja diseret lambat, tubuh tambunnya bergetar hebat menahan teror tak kasatmata.

Pria gemuk itu segera menjatuhkan dirinya ke lantai, bersujud mencium karpet di depan meja kerja Valerius. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi Kaelos, menetes perlahan menodai serat kain karpet yang sangat mahal tersebut.

"S-Selamat pagi, Tuan Valerius yang sangat agung," sapa Kaelos dengan suara serak yang hampir pecah karena ketakutan. "Seluruh ksatria emas penjaga istana telah menyerahkan pedang mereka dan bersumpah setia di bawah telapak kaki Anda."

Valerius hanya tersenyum asimetris, sebuah lengkungan bibir tajam yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan seorang manusia fana. Ia sangat menikmati pemandangan komandan perbatasan yang dulu angkuh ini kini merangkak bagai anjing peliharaan yang sangat penurut.

"Kepatuhan yang lahir dari ketakutan yang absolut jauh lebih murni daripada kesetiaan yang dibeli dengan koin emas," bisik Valerius pelan. Suaranya bergema menakutkan di sudut-sudut ruangan, menyusup masuk meracuni gendang telinga Baron Kaelos tanpa ampun.

Kaelos mengangguk cepat berulang kali, wajah kasarnya semakin memucat pasi mendengar filosofi kejam sang majikan barunya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali, takut tatapan iblis Valerius akan menyedot sisa kewarasannya ke dalam neraka.

Tiba-tiba, sebuah bayangan abu-abu terlepas dari sudut tergelap langit-langit ruangan dan mendarat tanpa suara di samping Kaelos. Itu adalah Nyonya Karat, sang pemimpin pembunuh Gagak Besi yang kini telah menjadi budak bayangan paling setia milik Valerius.

Wanita jangkung itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik topeng besi berkarat yang selalu ia kenakan. Postur tubuhnya memancarkan kewaspadaan mematikan, layaknya seekor ular berbisa yang siap menerkam atas satu perintah tuannya.

"Laporanku untuk Anda, Tuanku," ucap Nyonya Karat dengan nada datar yang telah kehilangan seluruh sisa arogansi masa lalunya. "Para pelayan istana yang setia pada Tuan Aldrich telah kami bersihkan diam-diam selama malam yang panjang tadi."

Valerius memiringkan kepalanya sedikit, menatap pembunuh wanita itu dengan pandangan yang sulit ditebak maknanya. "Apakah kau meninggalkan jejak yang bisa mengarah pada keterlibatan kita dalam hilangnya para pelayan malang tersebut?"

"Sama sekali tidak, Tuanku yang agung," jawab Nyonya Karat sambil terus menunduk penuh kepatuhan. "Mayat mereka telah kami lebur menggunakan cairan asam ajaib, tidak menyisakan tulang maupun setetes pun genangan darah."

Valerius menghela napas panjang, merasa sangat puas dengan kinerja alat pembunuh barunya yang bekerja dalam diam. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mengitari meja eboni dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh keanggunan.

"Kalian berdua telah melaksanakan tugas malam pertama ini dengan sangat baik," puji Valerius dengan senyum tipis yang mematikan. "Namun, istana naga ini terlalu megah untuk sekadar dihiasi oleh kepatuhan diam-diam para ksatria yang ketakutan."

Valerius berjalan mendekati jendela besar, menatap ke arah halaman istana pualam yang kini dipenuhi oleh ratusan prajurit perbatasannya. Para prajurit berzirah kotor itu kini berjaga berdampingan dengan ksatria elit ibu kota yang terlihat sangat tegang dan pucat.

Hawa pagi yang menyegarkan di luar sana sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan psikologis yang menyelimuti seluruh area istana. Setiap prajurit sadar bahwa satu langkah yang salah akan membuat mereka berakhir di dasar jurang tanpa nama.

"Aku ingin melihat kondisi kakakku yang tercinta," ucap Valerius memecah keheningan ruangan kerja yang menyesakkan. "Bawa aku ke penjara bawah tanah tempat kalian mengurungnya semalam."

Kaelos seketika tersentak kaget mendengar perintah itu, tubuh gempalnya kembali bergetar merespons trauma yang belum sembuh. "B-Baik, Tuan Valerius, saya akan memandu jalan Anda menuju ruang bawah tanah yang paling dalam dan gelap," gagapnya.

Valerius melangkah keluar dari ruang kerja, diikuti oleh Kaelos yang berjalan merunduk dan Nyonya Karat yang menyelinap dalam bayangan. Lorong-lorong istana yang biasanya dipenuhi tawa para pelayan kini kosong melompong bagaikan lorong rumah hantu yang ditinggalkan.

Sepatu bot Valerius menciptakan suara langkah yang menggema keras memantul di dinding pualam putih yang sangat bersih. Setiap ksatria penjaga yang berpapasan dengannya langsung berlutut menjatuhkan perisai mereka, tak berani menatap mata sang tiran muda.

Mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu besi berkarat tebal yang dijaga oleh dua orang prajurit perbatasan berwajah kasar. Bau lembap dan aroma pesing yang sangat menyengat langsung menyambar indra penciuman begitu Valerius berdiri di depan pintu tersebut.

"Buka pintunya," perintah Kaelos kepada dua prajurit itu dengan suara yang dipaksakan terdengar tegas dan berwibawa.

Rantai besi raksasa berderit memekakkan telinga saat pintu tebal itu ditarik terbuka perlahan dengan susah payah. Kegelapan mutlak yang terasa seperti jurang tak berdasar menyambut mereka dari balik anak tangga batu yang menurun tajam.

Valerius menuruni anak tangga itu tanpa ragu sedikit pun, jubah hitamnya terseret di atas batu yang berlumut licin. Suhu udara merosot sangat drastis, membuat napas siapa pun yang berada di sana mengepulkan uap putih yang tebal.

Di ujung lorong bawah tanah itu, terdapat sebuah sel isolasi berdinding batu yang hanya diterangi oleh satu obor redup. Di sudut sel yang kotor dan dingin itulah, Aldrich van Draken meringkuk menyedihkan seperti seekor binatang yang terluka parah.

Mantan pewaris takhta yang dulu sangat arogan itu kini mengenakan kemeja compang-camping yang penuh noda kotoran. Rambut pirangnya yang biasa tersisir rapi kini kusut masai, dipenuhi oleh debu dan sisa jerami basah dari lantai sel.

Aldrich terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas maknanya, sambil sesekali mencakar dinding batu dengan kuku-kukunya yang patah dan berdarah. Matanya melotot lebar penuh urat merah, memancarkan kegilaan absolut yang telah menghancurkan seluruh kewarasan akal sehatnya.

Valerius berdiri di luar jeruji besi tebal, menatap kakak kandungnya itu dengan ekspresi datar yang tidak memancarkan emosi apa pun. Tidak ada secercah belas kasihan pun di dalam hati sang narapidana kejam melihat penderitaan orang yang pernah mencoba membunuhnya.

Ia mengaktifkan skill 'Mata Penilai Iblis' untuk memindai kondisi mental Aldrich yang kini berwarna abu-abu sangat pekat. Keputusasaan di dalam diri pria itu begitu tebal hingga nyaris menutupi seluruh sisa energi kehidupannya yang berkedip lemah.

"Lihatlah dirimu sekarang, Saudaraku," sapa Valerius dengan suara sangat pelan yang menusuk keheningan sel bawah tanah.

Mendengar suara itu, Aldrich seketika berhenti mencakar dinding batu dan menoleh patah-patah layaknya boneka kayu yang rusak. Begitu melihat wajah Valerius di balik jeruji, jeritan histeris yang sangat memilukan meledak dari tenggorokan sang mantan pewaris.

"Iblis! Pergi kau, iblis darah! Jangan bakar jiwaku lagi!" raung Aldrich kalap seraya merangkak mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu.

Tubuh Aldrich bergetar hebat, air kencing mengalir deras membasahi celananya yang sudah kumal karena teror murni yang menguasainya. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangan yang berdarah, mencoba mengusir halusinasi mengerikan dari dalam otaknya yang cacat.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!