NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Pintu tertutup. Elara sendirian.

Ia berdiri diam selama beberapa saat, mendengarkan suara langkah kaki Silas yang menjauh, lalu suara pintu utama menara yang ditutup di lantai bawah. Sekarang, satu-satunya suara adalah deru angin yang melolong di luar jendela, seperti serigala yang kelaparan.

Elara berjalan perlahan menuju tempat tidur. Ia menyentuh seprai yang terpasang di sana. Kainnya kasar, dingin, dan berbau apek. Jelas sudah berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun, tidak ada yang tidur di sini. Ia duduk di tepi tempat tidur, besi ranjang itu berdecit protes di bawah berat badannya.

Matanya menyapu ruangan yang suram itu. Inilah hidup barunya. Bukan sebagai nyonya rumah yang dihormati, melainkan sebagai tawanan yang diasingkan di menaranya sendiri.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar diketuk kasar. Bukan ketukan sopan Silas, melainkan ketukan cepat dan tidak sabar.

"Masuk," kata Elara.

Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan kayu besar. Ia bertubuh gemuk dengan wajah keras dan lengan yang kuat. Pakaian pelayannya berwarna abu-abu kusam, dan rambutnya diikat kencang ke belakang tanpa ada satu helai pun yang lolos.

Wanita itu tidak membungkuk. Ia berjalan masuk, meletakkan nampan itu dengan keras di atas meja tulis yang miring hingga air di dalam teko berguncang dan tumpah sedikit. Brak.

"Makan malam, Nyonya," katanya singkat, tanpa menatap mata Elara.

Elara menatap wanita itu. "Siapa namamu?"

Wanita itu berhenti sejenak, lalu berbalik dengan gerakan kaku. "Martha. Kepala pelayan dapur."

"Terima kasih, Martha," ucap Elara sopan.

Martha mendengus, suara yang kasar dan tidak bersahabat. "Jangan berterima kasih untuk makanan sisa, Nyonya. Di sini, kami tidak punya waktu untuk memasak menu khusus jam segini. Dapur sudah tutup." Ia menunjuk nampan itu dengan dagunya. "Itu rebusan daging rusa dari makan siang para prajurit. Dan roti keras. Makanlah selagi masih ada."

Kata-katanya tajam, penuh dengan ketidaksukaan yang tidak disembunyikan. Jelas bahwa para pelayan di sini setia pada Kaelen, dan bagi mereka, Elara adalah penyusup. Orang asing dari ibu kota yang manja.

"Dan satu lagi," tambah Martha saat mencapai ambang pintu, tangannya memegang gagang pintu besi. "Tuan Duke tidak suka suara gaduh. Jika Anda butuh sesuatu, tunggu sampai pagi. Jangan membunyikan lonceng pelayan di malam hari. Tidak akan ada yang datang ke menara ini."

Tanpa menunggu jawaban, Martha keluar dan membanting pintu. Suara kunci diputar dari luar terdengar—bukan dikunci, tapi kuncinya macet dan berbunyi keras.

Elara menatap pintu tertutup itu. Ia menarik napas panjang, menahan getaran di bibirnya. Ia berjalan menuju meja dan melihat nampan itu. Semangkuk sup kental yang sudah mulai dingin, sepotong roti gandum hitam yang keras seperti batu, dan segelas air putih. Di sebelahnya, ada baskom berisi air hangat—satu-satunya kebaikan yang mungkin dipaksakan oleh Silas.

Elara tidak menyentuh makanannya. Perutnya melilit karena lapar, tapi tenggorokannya terasa tercekik. Ia beralih ke baskom air.

Dengan gerakan lambat, Elara mulai melepaskan sarung tangannya. Jarinya merah dan bengkak karena dingin. Ia mencelupkan kain ke dalam air hangat dan mulai membersihkan wajahnya. Air hangat itu terasa seperti surga sesaat di kulitnya yang beku. Ia menggosok lehernya, lengannya, mencoba menghapus debu perjalanan dan jejak sentuhan dingin Kaelen dari ingatannya.

Ia melepaskan gaun pengantinnya yang berat. Tanpa bantuan pelayan, hal itu sangat sulit. Kancing-kancing di punggungnya rumit. Elara harus memutar tubuhnya, jari-jarinya yang kaku berjuang melawan lubang kancing yang sempit. Napasnya memburu karena frustrasi.

Aku tidak akan menangis, batinnya. Aku tidak akan menangis hanya karena sebuah kancing.

Setelah berjuang selama sepuluh menit yang menyiksa, gaun itu akhirnya jatuh ke lantai seperti kulit ular yang ditinggalkan. Elara berdiri hanya dengan pakaian dalamnya yang tipis, menggigil hebat saat udara dingin Menara Barat langsung menyerang kulitnya yang terbuka. Ia buru-buru membongkar kopernya, menarik keluar gaun tidur wol tebal yang ia bawa dari rumah—satu-satunya benda yang terasa familiar.

Ia mengenakan gaun itu berlapis-lapis, lalu membungkus dirinya dengan jubah perjalanan tebalnya. Ia tidak naik ke tempat tidur. Kasur itu terlalu dingin.

Sebaliknya, Elara menarik kursi kayu ke dekat jendela. Ia duduk di sana, memeluk lututnya di dada.

Dari jendela menara yang tinggi ini, ia bisa melihat ke seberang jurang, ke arah bangunan utama kastil. Di sana, jendela-jendela bercahaya kuning hangat. Asap mengepul nyaman dari cerobong-cerobong asap raksasa. Di salah satu jendela besar di lantai dua sayap timur, Elara melihat siluet seseorang berdiri.

Itu bayangan seorang pria. Tinggi, tegap, diam.

Kaelen.

Pria itu sedang berdiri di sana, di dalam kamarnya yang hangat, mungkin sedang menatap keluar jendela ke arah kegelapan malam, atau mungkin sedang membaca laporan perangnya. Apakah dia tahu istrinya sedang melihatnya dari menara yang gelap dan dingin ini? Apakah dia peduli?

Elara menempelkan tangannya ke kaca jendela yang sedingin es. Kondensasi napasnya membuat kaca itu buram sesaat.

"Kau pikir kau bisa mematahkan aku dengan dingin ini, Kaelen Draxos?" bisiknya pada kegelapan, suaranya kecil namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

Elara teringat kata-kata ayahnya saat menyerahkannya. 'Jadilah berguna, Elara. Atau kau akan dibuang.' Ayahnya sudah membuangnya. Dan sekarang, suaminya mencoba membuangnya juga.

Tapi Elara ingat sesuatu yang lain. Ibunya, sebelum meninggal, pernah berkata bahwa bunga yang tumbuh di musim dingin memiliki akar yang paling kuat.

Elara memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah mengambil alih. Ia tidak akan mati di sini. Ia tidak akan membiarkan Martha, atau Kaelen, atau kastil terkutuk ini melihatnya hancur. Besok pagi, ia akan bangun. Ia akan memakan roti keras itu. Dan ia akan mulai mencari cara untuk bertahan hidup di neraka beku ini.

Malam itu, di Menara Barat yang terisolasi, Duchess of Draxos tidur meringkuk di atas kursi kayu, ditemani oleh lolongan angin dan tekad yang mulai membara perlahan di balik kelopak matanya yang terpejam.

1
Op L
terus berjuang lady, cerita yang sangat bagua
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!