NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ekstraksi

Angka kronometer digital berwarna hijau pudar berkedip konstan di sudut bawah retina Ren, menunjukkan angka 02.15. Di luar jendela kamar panti asuhan, kabut malam musim gugur menggantung tebal, menelan atap-atap kayu distrik sipil dalam lapisan warna kelabu yang dingin. Berdasarkan bank data kronobiologi yang tertanam di kepala Ren, ini adalah titik nadir bagi kesadaran biologis manusia—fase di mana gelombang otak berada di tingkat delta dan waktu reaksi motorik menurun hingga 40%. Jam mati yang sempurna untuk sebuah infiltrasi.

​Ren menggeser tubuhnya keluar dari bingkai jendela tanpa memicu derit sekecil pun pada engsel besi yang sengaja telah ia lumasi dengan lemak hewan siang tadi. Kedua kakinya menapak pada permukaan tanah tanpa suara, layaknya selembar bulu yang jatuh ditiup angin.

​[Protokol Biometric Masking: Aktif]

[Suhu Permukaan Kulit: Diturunkan Menjadi 24,2°C (Menyesuaikan Suhu Ambien Lingkungan)]

[Frekuensi Detak Jantung: 45 BPM]

[Emisi Elektromagnetik Tubuh: Reduksi Penuh]

​Dalam spektrum penglihatan ninja sensorik biasa, eksistensi fisik Ren saat ini telah lebur dengan malam. Dia bergerak merayap di bawah bayang-bayang dinding batu, memanfaatkan kegelapan pekat yang tercipta dari celah-celah rumah penduduk. Pengetatan keamanan desa akibat status Siaga Dua justru membuat rute patroli para ninja pengaman tambahan menjadi sangat kaku. Karena mereka bergerak dalam pola geometris yang repetitif untuk menutup celah perimeter, Sistem dengan mudah mengalkulasi transisi titik buta selama tiga puluh detik di setiap pergantian sektor patroli.

​Langkah kaki Ren membawanya mendekati pagar pembatas luar Rumah Kaca Botani Medis Akademi. Kabut yang semakin tebal menjadi tabir pelindung alami saat ia merunduk di balik rimbun vegetasi semak liar.

​Melalui lensa Indra Pelacak Tahap Tiga, pemandangan di depannya terbelah menjadi jalinan visualisasi data yang dingin. Dua siluet termal berwarna jingga pekat berdiri statis di dekat pintu masuk utama fasilitas. Mereka adalah dua orang Chunin divisi logistik medis. Meskipun bukan tipe petarung garis depan, sepasang mata mereka tetap awas mengunci area tanah lapang selebar lima belas meter yang memisahkan semak tempat Ren bersembunyi dengan dinding kaca buram bangunan.

​Menembus area terbuka itu secara linier adalah tindakan bunuh diri. Kerucut jarak pandang kedua Chunin tersebut saling tumpang-tindih. Ren membutuhkan sebuah diversi yang bersih—sebuah gangguan ganjil yang dinilai oleh insting mereka sebagai anomali alam, bukan infiltrasi manusia.

​Ren menurunkan pusat gravitasinya, jemari tangan kanannya meraba permukaan tanah liat yang basah sebelum menjepit sebutir kerikil padat berdiameter tidak lebih dari dua sentimeter.

​Seketika, seluruh bank data Shurikenjutsu Klan Uchiha (100%) di dalam otaknya teraktivasi. Jaringan saraf di lengan kanannya berdenyut memancarkan matriks kalkulasi balistik yang rumit langsung ke sudut retinanya. Garis-garis vektor hijau neon memproyeksikan lintasan trajektori di udara, menghitung variabel kecepatan angin malam, kelembapan kabut, koefisien hambat udara, hingga titik benturan optimal.

​Ren melakukan jentikan mikro menggunakan ujung jari tengah dan jempolnya. Gerakan itu begitu cepat dan senyap, digerakkan murni oleh impuls saraf otonom tanpa melibatkan ayunan lengan yang bisa memicu gesekan kain jaketnya.

​Wusss—

​Kerikil itu melesat membelah kabut malam, bukan dalam garis lurus, melainkan dalam lintasan melengkung membentuk sudut parabola eksentrik (curve trajectory). Kerikil tersebut melewati sela-sela dahan pohon pelindung tanpa menyentuh satu lembar daun pun, sebelum akhirnya menghantam lonceng angin tembaga kecil yang tergantung di pos penjagaan logistik sektor timur—berjarak empat puluh meter di sisi berlawanan dari posisi Ren.

​Tinggg!

​Bunyi resonansi tembaga yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian malam. Frekuensi benturannya sengaja disetel oleh kalkulasi Ren agar terdengar seolah-olah dipicu oleh lompatan tidak sengaja dari seekor musang pohon yang sedang berburu.

​Kedua Chunin penjaga tersentak secara instan. Namun, alih-alih langsung berbalik seperti robot tak berotak, salah satu Chunin yang bertubuh lebih jangkung justru memicingkan matanya curiga. Dia meletakkan tangan kanannya pada gagang kunai di pinggang, lalu melangkah tiga hitungan maju mendekati batas area kliring tanah lapang.

​"Tunggu di sini, aku akan memeriksa sektor timur," bisik Chunin jangkung itu, suaranya parau menembus kabut.

​Ren menahan napasnya secara total. Sesuai instruksi Sistem, dia menurunkan detak jantungnya hingga ke batas ekstrem 30 bpm. Tubuhnya membeku tegak di balik batang pohon, menyamar sempurna sebagai struktur kayu mati.

​Chunin itu menyapu pandangannya ke arah semak-semak dekat Ren selama lima detik yang terasa bagai siksaan abadi. Untungnya, kabut tebal dan bunyi derit dahan pohon yang bergesekan akibat embusan angin malam membuat rekannya di dekat pintu berteriak pelan, "Sudahlah, itu hanya hama tikus atau musang hutan. Jangan terlalu paranoia, cuaca malam ini terlalu dingin untuk membuat masalah."

​Chunin jangkung itu mendengus, mengendurkan pegangan kunainya, lalu berbalik berjalan ke arah pos timur untuk memastikan. Hambatan psikologis berupa rasa malas dan kelelahan akibat ronda panjang akhirnya mengalahkan kewaspadaan mereka.

​Ren tidak menyia-nyiakan jendela waktu yang sangat sempit itu. Dia melesat rendah bagai bayangan hitam yang meluncur di atas tanah liat yang basah. Dia tiba di sektor barat daya rumah kaca dalam waktu 3,2 detik tanpa meninggalkan jejak kaki yang dalam.

​Di hadapannya, akar raksasa dari pohon purba Akademi menembus fondasi batu bangunan, menciptakan celah retakan vertikal selebar tiga puluh sentimeter. Di celah inilah jalinan benang chakra dari segel alarm pelindung mengalami distorsi frekuensi akibat radiasi elemen tanah alami dari akar pohon.

​Ren memiringkan tubuhnya, menyelinap masuk menembus celah sempit tersebut dengan presisi militer. Kulit pakaiannya hanya berjarak beberapa milimeter dari jalinan benang energi alarm yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Begitu kedua kakinya menapak di dalam lantai ubin rumah kaca, atmosfer hangat dan lembap yang sarat akan aroma pekat zat klorofil langsung menyergap sistem pernapasannya.

​Suasana di dalam rumah kaca sangat kontras dengan dinginnya malam di luar. Ratusan spesimen tanaman herbal medis disusun dalam rak-rak hidroponik beraliran chakra buatan. Di zona inti, tumbuh mengular seikat tanaman dengan daun berbentuk sabit yang memancarkan pendaran cahaya hijau neon redup secara konstan: Tanaman Rambat Gekko-sō.

​Ren melangkah mendekat tanpa membuang waktu. Dia berlutut di depan kompartemen kaca pembibitan, membuka penutup atasnya dengan gerakan mekanis yang lambat agar tidak memicu perubahan tekanan udara internal yang bisa dideteksi oleh sensor tekanan ruangan.

​Dia melepas sarung tangan hitamnya, lalu menempelkan telapak tangan kanannya langsung pada batang utama Gekko-sō yang paling tebal. Jaringan pembuluh tanaman itu terasa hangat dan berdenyut lembut, sarat akan konsentrasi bio-chakra murni yang pekat.

​"Sistem, mulai ekstraksi seluler," perintah Ren dalam batinnya.

​[Protokol Dekonstruksi Seluler Aktif: Mengekstraksi Senyawa Bio-Chakra Cairan Klorofil Gekko-sō]

[Progres Transmisi Massa: 12%... 35%... 68%... 100%]

​Pendaran hijau neon pada daun-daun tanaman tersebut perlahan meredup, kehilangan saturasi warnanya secara drastis saat esensi energinya disedot paksa masuk menembus pori-pori kulit telapak tangan Ren. Cairan klorofil pekat berdaya bio-chakra itu langsung masuk ke dalam aliran darahnya, bertindak layaknya cairan hidrolik bertekanan tinggi yang dipompakan langsung ke dalam sistem sirkulasi energinya.

​Argh—

​Ren mengatupkan rahangnya dengan sangat rapat hingga giginya berkerit keras, menahan gelombang rasa sakit yang luar biasa ekstrem yang mendadak meledak di sepanjang lengan kanannya. Sensasinya tidak lagi seperti es, melainkan aliran logam cair yang mendidih yang dipaksa mengalir menyusuri jalur pembuluh chakra yang sempit. Dinding-dinding jalur meridiannya dipaksa merenggang, melebar, dan robek secara mikro sebelum dijalin kembali oleh Sistem dalam hitungan milidetik menggunakan bahan baku bio-chakra yang baru saja diserap.

​Keringat dingin bercampur sisa darah kotor berbau anyir mulai merembes keluar dari pori-pori lengan kulitnya, menetes lambat ke ubin tanah. Namun, ekspresi wajah Ren tetap statis. Dia mengunci total sistem vokal tenggorokannya agar tidak mengeluarkan suara erangan sekecil pun.

​Dua menit proses pemintalan ulang sirkuit saraf itu terasa bagai siksaan abadi, hingga akhirnya rentetan teks hijau di sudut pandang visualnya bergulir dengan kecepatan tinggi, membawa kelegaan yang dingin.

​[Proses Pelebaran Paksa Jalur Meridian: Selesai]

[Ambang Batas Toleransi Jaringan Organik Lengan: Meningkat 152%]

[Melanjutkan Sinkronisasi Mekanisme Arus Chakra Jūken...]

[Integrasi Gaya Bertarung Jūken (Hyuga): 100% (Selesai)]

​[Notifikasi Sistem: Seluruh Titik Tenketsu pada Lengan Dan Jemari Subjek Telah Dikalibrasi Sempurna. Subjek Kini Memiliki Kemampuan Memadatkan dan Menembakkan Chakra Mikro Menembus Jaringan Internal Tanpa Membutuhkan Struktur Okular Byakugan]

​Tepat saat Ren hendak menarik telapak tangannya kembali, sebuah gerakan tiba-tiba memicu getaran mikro di dalam pot tanah liat dasar Gekko-sō.

​Dari balik gumpalan tanah hitam yang kering akibat kehilangan energi, mencuat seekor makhluk sepanjang tiga puluh sentimeter dengan puluhan kaki beruas tajam. Itu adalah Kelabang Chakra Buta—hama organik berbahaya yang sengaja dilepas oleh divisi medis untuk memakan jamur parasit pada tanaman herbal langka.

​Makhluk tersebut terbangun dalam kondisi agresif karena pasokan energi dari tanaman inangnya habis disedot secara paksa. Sepasang taring berbisa di kepalanya bergetar, mengeluarkan suara desisan halus yang berpotensi memicu sensor akustik ruangan. Tanpa peringatan, kelabang itu melompat dari tanah, melesat lurus ke arah urat nadi pergelangan tangan Ren yang terbuka.

​Dalam ruang sempit di antara rak hidroponik, Ren tidak punya ruang untuk menghindar tanpa menabrak pot kaca lain.

​Insting bertarung hibrida yang baru saja menyatu 100% di dalam kepalanya mengambil alih dalam hitungan milidetik. Mata spektrum Ren langsung mengunci struktur anatomi si kelabang, mendeteksi satu titik simpul saraf pusat yang bercahaya kuning pudar di balik karapas tebalnya.

​Tanpa membuang waktu untuk mengayunkan tangan, Ren merentangkan jari tengah tangan kanannya ke depan. Impuls saraf otonom memadatkan seberkas chakra murni berdiameter jarum mikro tepat di ujung tenketsu jarinya, lalu menembakkannya secara linier.

​Sret.

​Tembakan Jūken Mikro itu melesat tanpa suara, menembus karapas luar kelabang tepat pada koordinat simpul saraf pusatnya. Efek gelombang kejut chakra internal langsung menghancurkan seluruh jaringan organ dalam makhluk tersebut dari dalam ke luar, tanpa merusak kulit luarnya sedikit pun.

​Kelabang chakra itu seketika membeku di udara, kehilangan seluruh daya geraknya, dan jatuh mati di atas telapak tangan kiri Ren dalam kondisi kering kerontang tanpa sempat mengeluarkan suara desisan kedua. Sebuah demonstrasi instan yang membuktikan kehebatan teknik Jūken baru milik Ren tanpa perlu mengaktifkan sepasang mata Byakugan.

​Ren mengembuskan napas perlahan melalui hidung. Dia menjatuhkan bangkai kelabang itu kembali ke dalam tanah, lalu mengambil selembar kain kecil dari sakunya untuk menyeka tetesan keringat darah di lantai ubin hingga bersih tanpa menyisakan satu pun material genetik miliknya di tempat kejadian perkara.

​Dengan gerakan yang sama senyapnya, Ren merayap mundur keluar menembus celah retakan batu sektor barat daya, menghilang kembali ke dalam pelukan kabut malam sebelum kedua Chunin penjaga menyadari bahwa salah satu aset medis paling berharga di sekolah telah dijarah dari dalam.

​Ketika kabut musim gugur mulai menipis tersapu oleh embus angin menjelang subuh, Ren telah kembali berada di dalam kamarnya. Suasana panti asuhan masih diselimuti oleh keheningan yang monoton, tidak tersentuh oleh badai evolusi yang baru saja terjadi pada sirkuit tubuh salah satu penghuninya.

​Ren berdiri di tengah ruangan yang gelap, mengangkat tangan kanannya, lalu melakukan gerakan dorongan telapak tangan lurus (straight palm thrust) ke arah udara kosong di depannya. Tidak ada suara ledakan udara yang bising, namun melalui mata spektrumnya, Ren bisa melihat seberkas radiasi chakra mikro melesat keluar dari ujung jarinya, memotong molekul udara dengan tingkat kerapatan yang ekstrem sebelum membentur dinding kamar dalam keheningan absolut.

​Cetak biru taktis dari dua klan terkuat di Konoha kini telah menyatu sempurna di dalam anatomi tubuh seorang anak sipil biasa. Dia memiliki kalkulasi balistik presisi tinggi dari Uchiha, sekaligus kemampuan merusak jaringan internal dari Hyuga. Sebuah kombinasi hibrida ganjil yang tidak pernah tercatat dalam sejarah dunia ninja.

​Ren menurunkan tangannya, membiarkan tubuhnya kembali rileks saat kelopak matanya perlahan menutup. Di luar, fajar baru mulai mengintip dari balik garis cakrawala Konoha yang sedang dicekam ketakutan akibat hantu yang dia ciptakan sendiri, sementara sang Hantu yang asli kini telah bersiap untuk melangkah ke rantai makanan yang lebih tinggi.

1
Akbar Rifqi
typo
Axel
seringkih bubur itu apa thor?
Axel
dan kesaduran itu apa thor?
Akbar Rifqi: typo k
total 1 replies
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!