“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Seumur hidupnya, tidak ada yang pernah benar-benar peduli dengan perasaannya. Entah dia marah, atau tidak menyukai sesuatu.
Begitulah kehidupan Elowen ketika berada di tengah-tengah keluarga Whitmore.
Elowen tidak pernah marah pada seseorang, tapi di depan Cassian dia memperlihatkan sisi dirinya yang lain. Dia seorang wanita yang bisa marah juga.
Apa ini karena pria itu berlaku tidak sopan padaku? Elowen menggeleng.
Bahkan saat Bastian mengejek dirinya bisu di depan banyak teman-temannya. Elowen hanya diam dan pergi tanpa merasa harus memprotes Bastian. Seorang kakak seharusnya melindungi sang adik, kan?
Elowen tidak begitu peduli pada Bastian. Ataupun marah pada pria itu.
Tapi, kenapa dia sangat marah pada Cassian yang sudah meminta maaf padanya.
Apa ini karena ciuman itu? Atau soal malam pertama menyakitkan itu?
Bagaimanapun dia sudah menjadi istri Cassian. Menyakitkan atau terpaksa itu seharusnya tidak menjadi alasan Elowen marah besar.
Tidak!
Elowen menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran menyesatkan itu.
Dia marah karena Cassian tidak menghargainya.
Tapi saat suara-suara pembelaan itu muncul. Bayangan lain tentang perlakuan saudara-saudaranya juga ikut datang.
Sejak kapan Elowen peduli apakah dia dihargai atau tidak? Selama ini dia tidak pernah mendapatkan penghargaan sedikitpun.
Elowen memejamkan matanya di depan cermin. Dia sedang duduk merenung di meja rias miliknya.
Merasa bersalah telah mengabaikan sang duke begitu saja ketika selesai makan malam.
“Itu salahnya sendiri,” umpat Elowen dalam hati. “Dia sendiri yang memilih alkohol daripada aku, istrinya.”
Tangan Elowen mengepal lalu menghantam keras permukaan meja.
Bunyi ‘duk’ yang sangat keras memancing daun pintu kamar Elowen yang tiba-tiba dibuka dengan kasar.
Elowen sampai terlonjak kaget.
Jantungnya hampir lepas dari tempatnya sekarang. Lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa yang mendorong pintu kamarnya.
Cassian?
Ya, itu Cassian yang masih memegang gagang pintu. Wajahnya terlihat gelisah dan cemas. Ada rona ketakutan dan kelegaan yang bercampur ketika mereka saling bertemu tatap.
“Elowen.”
Cassian melepaskan tangannya dari pegangan pintu, matanya memindai Elowen dari atas sampai bawah. Seolah dia sedang memastikan sesuatu. “Aku tadi mendengar bunyi aneh dari dalam. Kukira kamu terjatuh,” katanya.
Elowen mengerjapkan matanya.
Cassian sedang mengkhawatirkan dirinya? Apa dia berdiri di depan pintu dari tadi? Setelah apa yang dilakukan Elowen padanya, pria itu berada di depan pintu.
Elowen menarik sudut bibirnya ke atas, menunduk sejenak untuk menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa seolah memanas. Bukan karena marah.
Sesaat kemudian dia mencari buku catatannya. Menuliskan kata untuk Cassian.
Pria itu menunggu dengan sabar apa yang ditulis Elowen.
Wanita itu mengangkat catatannya, dan spontan Cassian mencondongkan kepalanya untuk membaca setiap goresan kata dari Elowen.
“Apa yang kamu lakukan di luar kamar? Ada yang mau kamu sampaikan padaku, Cassian.”
Cassian menghembuskan napasnya pelan sambil menegakkan posisinya.
“Aku… ingin minta maaf.”
Elowen menulis lagi.
“Kamu sudah mengatakannya di kereta, dan juga tadi di depan ruang makan.”
Cassian maju satu langkah. “Aku tahu, tapi aku juga butuh dimaafkan. Kamu belum menerima permintaan maafku, Elowen.”
Elowen memiringkan kepalanya, matanya terbuka lebar.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat orang seperti Cassian. Biasanya orang yang meminta maaf tidak peduli apakah yang dimintai maaf sudah menerimanya atau tidak.
Elowen sering mendapatkan permintaan maaf oleh orang lain. Maaf karena menyebutnya bisu, itu yang diucapkan Bastian, kakak kedua Elowen.
Saat Adrian menumpahkan susu coklatnya di atas buku yang diberikan Nyonya Hester pada Elowen. Adrian hanya bilang, “Maaf karena sudah merusak bukumu,” lalu pergi begitu saja. Tanpa peduli itu adalah buku satu-satunya yang diberikan oleh mantan pengasuh Elowen sebagai kenang-kenangan.
Atau kalimat maaf dari Cleona, “Maaf karena memaksa ayah untuk tidak mengajakmu ke pesta dansa.”
Elowen sangat tahu kalau sebenarnya Cleona malu membawanya. Cleona malu memiliki saudara perempuan yang bisu.
Tapi, yang membuat Elowen kecewa adalah ayahnya hanya diam saja dan tak berusaha menjelaskan apapun. Hanya tatapan datar yang selalu Tuan Whitmore berikan pada putri bungsunya. Apa itu termasuk permintaan maaf juga?
Elowen tidak akan membahas soal Dylan. Karena kakak laki-lakinya itu jarang sekali berada di rumah. Dia memiliki orang tua angkat yang sangat menyayanginya, keluarga Featherington yang tinggal di selatan Arvendale.
Saat keluarganya memperlakukannya seperti itu. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan Elowen sekarang?
Seorang Duke Cassian sudah meminta maaf padanya sebanyak tiga kali dan mungkin akan berlanjut karena pria itu bilang butuh penerimaan dari Elowen.
Apa ini?
Rasanya sangat aneh sekali.
Perasaan ini tidak pernah Elowen rasakan. Cassian hanya meminta maaf. Kalimat yang sudah ratusan, ribuan, atau mungkin jutaan kali Elowen dengar.
Tapi, menunggunya memberikan maaf. Itu sesuatu yang baru baginya. Seseorang menunggu pemberian maaf darinya.
Tanpa sadar air mata Elowen jatuh ke pipinya.
“Hei, ada apa? Kenapa kamu menangis?” ujar Cassian panik. Pria itu langsung berjongkok di depan Elowen. “Apa aku melakukan kesalahan lagi? Ya Tuhan, untuk semua yang kulakukan, aku sungguh minta maaf.”
Cassian berlutut di depan Elowen, tangannya mengusap air mata sang duchess. Entahlah, apa ide memohon dari Harry kembali gagal. Cassian benar-benar tidak mengerti wanita.
Elowen menggeleng.
Lalu, sesaat kemudian menuliskan sesuatu di catatannya.
“Aku sudah menerima permintaan maafkanmu, Cassian.”
Elowen memperlihatkannya pada Cassian. Pria itu langsung mendongak menatap ke wajah Elowen.
“Terus kenapa kamu menangis?”
Elowen menunduk, kemudian tangannya kembali menulis.
“Ini pertama kalinya ada yang menunggu pemberian maaf dariku.”
Cassian mengerutkan wajahnya. Apa maksudnya dengan pertama kali? Dia mengangkat pandangannya lagi ke arah Elowen. Wanita itu benar-benar tenggelam oleh air matanya, bukan karena sedih. Lebih kepada terharu.
Apa memberi maaf seseorang bisa menjadi momen mengharukan? Cassian tidak mengerti.
Cassian menarik kursi yang ada di sudut kamar, dan duduk di depan Elowen. “Karena kamu sudah memberikan maafmu. Ada yang ingin kusampaikan.”
“Soal apa?” tulis Elowen.
“Sebenarnya, kalau aku tidak mendapatkan maaf darimu sekarang. Aku berencana meminta maaf di depan semua orang minggu ini di pesta dansa.”
“Pesta dansa?” Elowen cukup terkejut dengan pesta dansa. Dia dengan semangat menulis di catatannya. “Pesta dansa siapa? Apa itu pesta dansa keluarga kerajaan?”
Cassian memundurkan tubuhnya. Lalu menggeleng.
“Sayangnya itu bukan pesta dansa kerajaan. Tapi itu pesta dansa milikmu, Elowen.”
Elowen mengangkat sebelah alisnya. Apa dia salah mendengar?
Tangannya sibuk menulis pertanyaan yang muncul di benaknya. Akan tetapi Cassian menghentikan tangan Elowen. Seolah pria itu tahu yang akan ditulis oleh duchess.
“Aku membuat pesta dansa untukmu minggu ini di Kastil Clyvedon. Dan, kamu akan menjadi tuan rumah pesta ini.”
Elowen tidak lagi bisa berpikir apapun.
Menjadi tuan rumah sebuah pesta dansa? Ini suatu kebanggaan baginya, mendekor pesta sesuai dengan keinginannya.
Ya Tuhan, apa ini sungguhan?
Elowen menatap mata Cassian. Pria ini… pria ini sungguh membuatnya jatuh cinta dalam versi yang memukau.
Tapi, takdir tidak ada yang tahu. Karena di pesta itu akan ada seseorang yang datang, dan mulai mengacaukan kebahagiaan pasangan yang sedang berusaha saling mengenal itu.
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer