"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabir yang Mulai Terkoyak
Tiga hari telah berlalu sejak Jonathan dan tim intelijen faksi Smith dikirim ke wilayah perbatasan Crimson Raven. Selama tiga hari itu pula, atmosfer di dalam mansion terpencil berubah drastis.
Malam itu, badai hujan melanda sudut kota, menciptakan suara gemuruh yang berisik di luar mansion. Di tengah keheningan ruang kerja Reymond, pintu kayu diketuk dengan pola khusus.
Jonathan telah kembali.
Pakaian kepala intelijen itu tampak basah kuyup, namun ekspresi wajahnya yang tegang mengalahkan rasa dingin malam itu. Ia melangkah mendekati meja kerja Reymond dan meletakkan sebuah berkas tebal yang dibungkus kulit kedap air, lengkap dengan beberapa gulungan dokumen tua.
"Tuan Smith, penyelidikan kami di wilayah Raven telah selesai," ujar Jonathan, suaranya terdengar berat dan tertahan. "Dan apa yang kami temukan... sepenuhnya menjungkirbalikkan semua dokumen resmi yang disebarkan oleh faksi Raven kepada publik selama ini."
Reymond menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras. "Katakan padaku semuanya, Jonathan. Tanpa ada yang dikurangi."
Jonathan menarik napas pendek sebelum membuka lembar pertama berkas tersebut. "Reputasi Claudia Crimson Raven sebagai wanita glamor, angkuh, dan gemar menggoda para pria berkuasa adalah sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi oleh Frans Raven sendiri. Kami berhasil menemukan pelayan yang melayani nona saat masih bayi dan mantan kepala pelayan kastil Raven yang dipecat secara sepihak enam bulan sebelum perang pecah."
Jonathan menggeser sebuah surat pernyataan tertulis ke hadapan Reymond.
"Saksi mata menyatakan bahwa sejak usia tujuh tahun, setelah kematian mendadak kerabat dekat ibunya, Claudia mengalami penyiksaan fisik yang mengerikan secara berkala oleh ayahnya sendiri. Kamar bawah tanah kastil Raven adalah saksi bisu di mana wanita itu sering dicambuk dan dikurung tanpa makanan selama berhari-hari jika tidak menuruti perintah faksi."
Mendengar kata 'dicambuk' dan 'kamar bawah tanah', ingatan Reymond langsung terkunci pada igauan histeris Claudia saat demam tinggi di ruang bawah tanah tempo hari. Detak jantung Reymond mendadak berpacu lebih cepat, ada rasa sesak yang mulai menghimpit dadanya.
"Lalu bagaimana dengan rumor tentang banyaknya lamaran dari pewaris takhta yang ia tolak dengan angkuh?" tanya Reymond, suaranya terdengar dingin namun bergetar samar.
"Claudia tidak pernah tertarik ataupun menolak mereka, Tuan," jawab Jonathan dengan nada getir. "Frans Raven-lah yang menawarkan Claudia kepada para pria itu demi mendapatkan suntikan dana segar saat keuangan faksi mereka mulai melemah. Setiap kali lamaran dibatalkan, itu karena nilai timbal balik atau keuntungan politik yang ditawarkan dirasa kurang menguntungkan bagi Frans. Namun, demi menjaga nama baik sang patriark, mereka menyebarkan rumor kepada publik bahwa Claudialah yang tabiatnya buruk dan menolak para pria itu. Claudia dipaksa menjadi tameng hitam demi menutupi ketamakan keluarganya."
Reymond memandangi lembaran dokumen di depannya dengan tatapan nanar. Jari-jarinya yang kekar mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. Kebenaran ini menghantamnya seperti godam yang menghancurkan seluruh dinding pembenaran yang selama ini ia bangun di atas rasa benci.
"Dan tentang surat rahasia yang kita cegat kemarin..." Jonathan melanjutkan, menurunkan suaranya hingga ke titik terendah.
"Kami menemukan bukti bahwa kurir yang membawa surat itu sengaja dibayar oleh orang kepercayaan Frans Raven untuk berjalan melewati rute patroli garis depan kita. Surat itu adalah jebakan murni. Frans Raven tahu betul. Dia sengaja memfitnah anaknya sendiri sebagai mata-mata agar Anda mengeksekusinya, sehingga Raven memiliki alasan sah di mata hukum antar-faksi untuk melanggar perjanjian damai dan memulai perang baru."
Ruang kerja itu seketika hening, hanya menyisakan suara hantaman air hujan pada kaca jendela.
Reymond perlahan bangkit dari kursinya, tubuhnya bergetar oleh kombinasi rasa amarah yang luar biasa kepada Frans Raven, dan rasa bersalah yang teramat dalam kepada Claudia.
Ia teringat bagaimana ia telah mencekik leher wanita itu, memakinya sebagai barang rampasan yang kotor, dan menjebloskannya ke dalam kegelapan ruang bawah tanah—tempat yang ternyata merupakan sumber trauma terbesarnya sejak kecil.
Tanpa memedulikan Jonathan yang masih berdiri di dalam ruangan, Reymond membalikkan badan dan melangkah lebar keluar dari ruang kerja, menuju ke kamar utama lantai dua dengan langkah yang dipenuhi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Namun
"Masih ada lagi tuan." cegah Jonathan.