Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi hari di desa tidak dimulai dengan kicau burung, tapi dengan keheningan yang aneh.
Raka membuka pintu gubuk. Udara pagi terasa lembap dan berat. Biasanya, pada jam segini, ibu-ibu sudah berkumpul di sumur umum, bergosip sambil mencuci pakaian. Anak-anak berlarian mengejar ayam. Suara tertawa terdengar dari warung Pak Darman.
Hari ini? Sunyi.
Sumur kosong. Jalan tanah berdebu tanpa jejak kaki baru. Warung Pak Darman tutup, meski pintunya terbuka lebar.
Raka melangkah keluar. Kakinya menginjak tanah dengan hati-hati. Instingnya yang telah diasah di Gunung Tidar berteriak: Ada yang salah.
[!] Terdeteksi peningkatan aktivitas visual: 12 individu.
[!] Sumber: Balik jendela rumah warga.
[!] Pola: Pengamatan pasif. Tidak ada interaksi langsung.]
Raka menoleh ke kiri. Ke kanan. Tidak ada siapa-siapa di jalan. Tapi dia merasa ditatap. Ribuan mata tak terlihat menembus dinding bambu, mengintip dari balik tirai, mengamati setiap gerakannya.
Dia bukan lagi Raka si pemulung yang lemah. Dia adalah anomali. Orang yang pergi ke gunung terlarang dan kembali utuh. Dan di desa kecil yang penuh prasangka, keutuhan itu dianggap sebagai ancaman.
Raka menarik napas. Dadanya masih nyeri sisa latihan semalam, tapi dia menegakkan punggungnya. Dia tidak akan memberi mereka kepuasan melihatnya takut.
Dia berjalan menuju sungai untuk mengambil air. Langkahnya tenang. Matanya lurus ke depan. Tidak menoleh ke jendela-jendela yang tertutup rapat.
Di tengah jalan, dia bertemu Bu Siti. Wanita tua yang dulu sering memberinya sisa nasi ketika orang tuanya masih hidup.
Bu Siti berdiri di depan pagarnya. Menyapu halaman dengan gerakan kaku. Saat Raka mendekat, sapunya berhenti.
Matanya menatap Raka. Bukan dengan kerinduan. Tapi dengan ketakutan. Dan sedikit jijik.
Raka mengangguk sopan. "Pagi, Bu."
Bu Siti tidak menjawab. Dia mengeratkan genggamannya pada gagang sapu. Matanya menyipit, meneliti wajah Raka, lalu turun ke baju kasarnya yang bersih tapi kusam.
"Kamu... masih hidup?" tanyanya. Suaranya serak. Rendah.
"Masih, Bu," jawab Raka datar.
Bu Siti menelan ludah. Dia melangkah mundur selangkah. Masuk lebih dalam ke balik pagar.
"Jangan dekat-dekat sini," gumamnya. Hampir tak terdengar. "Orang-orang bilang... kamu bawa sial dari gunung itu."
Lalu dia membalikkan badan. Masuk ke dalam rumah. Pintu ditutup. Kunci dikaitkan. Klik.
Raka diam sejenak. Menatap pintu kayu yang tertutup itu.
Dulu, Bu Siti adalah satu-satunya orang yang baik padanya. Sekarang, dia adalah cermin dari apa yang dipikirkan seluruh desa.
Sial.
Raka melanjutkan langkahnya. Wajahnya datar. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya mencatat fakta baru: Kepercayaan itu mudah hancur. Lebih cepat dari tulang rusuk.
Saat kembali ke gubuk dengan dua ember air, Laras sudah duduk di beranda. Dia sedang mengupas umbi-umbian dengan pisau kecil. Kulit umbi itu tebal, berwarna cokelat kotor.
Laras tidak menoleh saat Raka datang. Dia hanya terus mengupas. Sret. Sret. Sret.
"Mereka sudah mulai," kata Laras tiba-tiba. Suaranya datar. Tanpa emosi.
Raka meletakkan ember. Airnya bergoyang pelan. "Siapa?"
"Semua orang," jawab Laras. Dia melemparkan kulit umbi ke tanah. "Tadi pagi, anak buah Bima lewat. Mereka tidak masuk. Cuma berdiri di perempatan. Menatap gubuk kita."
Raka mengerutkan kening. "Bima?"
"Dia tahu kamu pulang," kata Laras. Akhirnya dia menoleh. Matanya tajam. "Dan dia tidak suka kalau mangsanya kabur dari cengkeramannya."
Raka menghela napas. Dia duduk di samping Laras. Mengambil satu umbi dan pisau cadangan. Mulai mengupas.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Raka.
Laras tertawa kecil. Tawa yang kering. Sinis.
"Bertahan hidup," katanya. "Seperti biasa."
Dia menunjuk ke arah hutan di belakang gubuk.
"Aku butuh lebih banyak akar obat. Stok kita habis. Kalau kamu sakit lagi karena latihan bodohmu malam tadi, aku nggak punya bahan buat nyembuhin kamu."
Raka menatap Laras. Gadis itu tidak bertanya apakah Raka takut. Tidak menawarkan pelukan. Tidak berkata "Aku di sisimu".
Dia hanya mengingatkan Raka bahwa stok obat habis. Itu caranya mengatakan: Jangan mati. Aku malas mengurus mayat.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Raka merasa lebih tenang daripada seribu kata-kata manis.
"Baik," kata Raka. "Aku akan ke hutan sore ini."
"Sendirian?" tanya Laras. Alisnya terangkat.
"Lebih aman," jawab Raka. "Kalau kita berdua, mereka akan kira kita mau kabur lagi."
Laras mendengus. Dia kembali mengupas umbi. Sret. Sret.
"Hati-hati," katanya pelan. Hampir tenggelam oleh suara pisau di kulit umbi. "Jangan sampai kakimu patah lagi. Aku capek nggendong kamu."
Raka tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya.
Dia menatap ke arah jendela tetangga di seberang jalan. Tirainya bergerak sedikit. Ada seseorang di sana. Mengintip.
Raka tidak menatap balik. Dia hanya melanjutkan mengupas umbi. Tenang. Sabar.
Biarkan mereka mengintip.
Biarkan mereka takut.
Karena semakin mereka takut, semakin mereka ceroboh.
Dan Raka membutuhkan kesalahan mereka.
Matahari naik lebih tinggi. Panas mulai terasa. Tapi udara di sekitar gubuk itu tetap dingin. Dingin seperti tatapan ratusan mata yang tidak pernah berkedip.
Bersambung.