Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak yang Berpacu
Jet pribadi Dirgantara Group memotong malam dengan kecepatan maksimal, membelah awan hitam di atas Selat Karimata menuju Jakarta. Di dalam kabin, suasana terasa mencekam. Adrian tidak duduk. Pria itu berdiri di depan meja peta digital, matanya yang memerah menatap tajam ke arah titik koordinat rumah aman Megamendung yang kini berkedip merah di layar.
Lengan kirinya yang terluka terasa berdenyut hebat akibat tekanan darahnya yang meningkat drastis, namun Adrian seolah kebas. Fokusnya hanya satu: Kirana.
Rendra menutup ponsel satelitnya dengan kasar, wajahnya dipenuhi keringat dingin meski pendingin kabin jet terasa sangat dingin. "Adrian, tim forensik di lapangan baru saja menemukan sesuatu. Para penculik tidak menggunakan kendaraan standar. Berdasarkan jejak ban dan rekaman CCTV dari gerbang tol terdekat yang sempat menangkap siluet kendaraan mereka, itu adalah truk boks medium dengan plat nomor palsu."
"Ke mana arahnya, Rendra?" tanya Adrian, suaranya sangat rendah, menyerupai geraman serigala yang siap menerkam.
"Mereka tidak masuk ke arah pusat kota Jakarta. Mereka memotong jalur lewat Jakarta Outer Ring Road (JORR) menuju ke arah timur... ke kawasan industri Cikarang," jawab Rendra, jemarinya dengan cepat mengetik di tablet untuk memunculkan peta kawasan tersebut. "Masalahnya, ada ratusan gudang di sana. Melacak satu truk boks di tengah ribuan kontainer seperti mencari jarum dalam jerami."
Adrian mengepalkan tangan kanannya hingga buku-kupunya memutih. "Rendy Baskoro tidak akan memilih gudang acak. Dia kehilangan semua aset resminya yang telah disita oleh kepolisian dan PPATK. Cari semua daftar properti mati, gudang terbengkalai, atau lahan sengketa yang pernah dimiliki oleh Baskoro Logistics atau keluarga besarnya dalam sepuluh tahun terakhir! Sekarang!"
Rendra langsung mengangguk dan menghubungkan panggilan ke tim IT pusat di Jakarta. Di bawah tekanan kemarahan Adrian, tim analis bekerja dengan kecepatan luar biasa.
Lima menit kemudian, sebuah titik kuning berkedip di layar tablet Rendra. "Ketemu! Sebuah gudang penyimpanan suku cadang tua di sektor tiga Cikarang Barat. Properti itu dihapus dari aset resmi perusahaan lima tahun lalu setelah kasus kebangkrutan salah satu anak perusahaan Baskoro, dan sekarang terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang di Panama yang tidak aktif. Itu pasti tempatnya, Adrian!"
Adrian menatap titik kuning itu. Jarak dari bandara Halim Perdanakusuma—tempat mereka akan mendarat—ke Cikarang Barat membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit jika jalanan lancar. Setiap detiknya adalah pertaruhan nyawa bagi Kirana.
"Hubungi Kombes sulaeman di Polda Metro," perintah Adrian, matanya berkilat penuh tekad yang mematikan. "Katankan padanya aku butuh tim taktis Brimob untuk mengepung lokasi itu. Tapi tegaskan... tidak ada yang boleh merangsek masuk sebelum aku tiba di sana. Rendy adalah seorang psikopat yang tidak stabil. Jika dia melihat lampu rotator polisi, dia akan langsung menghabisi Kirana."
"Mengerti, Adrian. Kita mendarat sepuluh menit lagi," sahut Rendra.
---
Sementara itu, di dalam gudang tua Cikarang yang pengap, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Kirana. Tubuhnya terasa lemas, pergelangan tangannya mulai lecet dan berdarah akibat gesekan rantai besi setiap kali ia mencoba bergerak.
Rendy Baskoro duduk di atas kursi kayu beberapa meter di depan Kirana. Di tangannya, sebuah kamera video digital portabel terpasang di atas tripod, lensanya membidik tepat ke arah wajah Kirana yang sembap dan ketakutan.
"Tersenyumlah sedikit, Kirana," ucap Rendy dengan nada santai yang mengerikan, menyalakan lampu sorot kamera yang menyilaukan mata Kirana. "Kita sedang membuat video kenang-kenangan untuk mantan suamimu yang terhormat. Aku ingin dia melihat betapa cantiknya istrinya saat berada di tempat yang semestinya... di bawah kakiku."
Rendy berjalan mendekati Kirana, memegang dagu wanita itu dengan kasar untuk memaksanya menghadap kamera. "Katakan sesuatu pada Adrian, Sayang. Katakan padanya jangan mencarimu lagi."
Kirana mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya, menatap langsung ke lensa kamera dengan mata yang berkilat penuh perlawanan. "Mas Adrian... jangan ke sini! Ini jebakan! Dia ingin membunuhmu! Tolong panggil polisi, jangan datang sendiri..."
*PLAKK!*
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kirana, membuat sudut bibirnya kembali pecah dan mengeluarkan darah segar. Tubuh ringkihnya terhempas ke lantai semen yang dingin, tertahan oleh rantai besi di tangannya yang bergemerincing nyaring.
"Wanita jalang tidak tahu diuntung!" bentak Rendy, napasnya memburu, topeng ketenangannya pecah seketika oleh pembangkangan Kirana. Pria itu mencengkeram rambut Kirana, menariknya ke atas dengan kejam. "Aku sudah memberikanmu segalanya! Kemewahan, status, rumah yang besar! Tapi kamu malah memilih merangkak kembali pada pria yang dulu mencampakkanmu!"
Kirana meringis kesakitan, namun di dalam matanya tidak ada lagi ketakutan yang melumpuhkan—hanya ada kebencian yang murni pada monster di depannya. "Kamu tidak pernah memberiku apa pun, Rendy... kamu hanya memberiku neraka. Mas Adrian setidaknya menganggapku manusia, sedangkan kamu... kamu hanyalah iblis!"
Rendy tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa melengking yang dipenuhi kegilaan. Ia melepaskan cengkeramannya pada rambut Kirana, lalu berjalan kembali ke arah meja kayu dan mengambil ponsel satelitnya yang mulai bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari Satria yang berjaga di luar kawasan industri.
*“Pak Rendy, jet pribadi Adrian baru saja mendarat di Halim. Mobilnya sedang melaju kencang ke arah Cikarang bersama iringan mobil hitam tanpa logo. Dia datang.”*
Rendy menatap layar ponsel itu, lalu perlahan beralih menatap Kirana dengan seringai asimetris yang paling mengerikan yang pernah Kirana lihat. Pria itu mengokang pistol hitamnya dengan satu gerakan mantap.
"Bagus... pahlawanmu sudah datang, Kirana," desis Rendy, matanya memancarkan kegelapan yang pekat. "Mari kita sambut dia dengan pesta sambutan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."
---
Bersambung ke Episode 18