Di bumi pertiwi yang penuh pergolakan, Senjaya mengemban takdir sebagai Pendekar Kelabang Dewa. Kekuatan mistis Kelabang Dewa mengalir dalam dirinya, menyatu dengan kelihaiannya memainkan Pedang Jagabodas. Dengan keberanian membara, ia menapaki kerasnya dunia persilatan, dari desa terpencil hingga pusat kekuasaan yang korup. Setiap langkahnya adalah tantangan bagi para penguasa lalim dan kaki tangan kejahatan. Senjaya hadir sebagai harapan, menebar keadilan dan menumpas angkara murka yang mencengkeram jagat raya, demi memulihkan kedamaian di tanah airnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ihsan halomoan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penempaan Diri Bag 3
Gurauan senjaya itu melepaskan ketegangan di hati ayuni. Walau senjaya sebenarnya ingin menolak. Tapi ia tahu itu tak akan ada gunanya. lalu senjaya berpikir, apakah ayahnya akan menerimanya?.
Lalu malam pun tiba. Padepokan itu kembali diliputi kegelapan. Tapi obor-obor di sekitarnya membuat cahaya yang temaram di tengah hutan itu. Ki darma dan kinasih yang belum tertidur di pendapa Masih menikmati cahaya gemerlap nya bintang di langit. Mereka pun memikirkan juga tentang senjaya dan ayuni. Sementara warok jangkrik sudah lelap di pembaringan. Ayuni telah kembali ke kamarnya dengan pengharapan agar ia bisa diterima sebagai murid ki darmala ke esokan harinya.
Sebagian jangkrik yang berjaga, tetap waspada di gerbang padepokan. Mereka sudah terbiasa dengan suara-suara liar di hutan. Entah harimau. Entah burung hantu, atau kadang mereka melihat babi hutan yang hilir mudik. Tapi malam itu mereka tak hanya melihat binatang. Mereka melihat sesuatu yang membuat bulu roma mereka bergidik.
Mereka melihat sesosok wanita berpakaian putih yang melayang-layang di atas pohon. Wajah wanita itu begitu pucat bagai mayat. tiga orang penjaga gerbang yang melihatnya langsung gemetar ketakutan ketika sosok itu tertawa meringkik ke arah mereka. Ada yang terkencing-kencing. Ada pula yang jatuh pingsan. Sementara yang masih sadar walau gemetar, berusaha untuk berlari ke arah pendapa. Penjaga itu menemui ki darma yang belum tidur.
"Ki darma...a..a..apa kau mendengarnya?".
"Ya aku mendengarnya juda. Marilah kita ke gerbang. Apa kau ikut kinasih?".
"Sudah tentu tidak kakang. aku akan ke kamar ayuni saja kang. Aku takut hiih".
Maka kinasih pun berlari kecil ke kamar ayuni. Sementara ki darma dan juda kembali ke gerbang. Ya sosok yang menakutkan itu masih melayang-layang di atas pohon. Ki darma yang melihatnya tak takut sedikitpun. Ia punya ketahanan bathin yang kuat. Bukan sekali ia melihat hal seperti ini.
"Hai kau demit, setan, atau kuntilanak, turun kau". Maka sosok itu pun turun mendekati ki darma. Lalu sosok itu bersuara dengan nada yang bergema bagai dalam gua.
"Kau hebat ki darma..tak sedikitpun hati mu gentar menghadapiku".
"Hmmmm...buat apa aku gentar? Kita sama-sama makhluk ciptaan tuhan. siapa kau makhluk ghaib. Dari mana kau mengenalku?". Sosok itu pun kembali tertawa.
"Hihihihi...tak perlu kau tahu ki darma...kedatanganku tak bermaksud mengganggu kalian. Tapi Aku hanya ingin meminta sesuatu padamu ki darma". Ki darma yang mendengar itu keheranan. Ia tak mengenal sosok itu.
"Baiklah...katakan yang kau inginkan".
"Hihhihi...aku ingin menitipkan ayuni padamu ki darma. aku tak bisa berlama-lama. selamat tinggal Ki darma". Lalu sosok itu tiba-tiba buyar bagaikan asap. Dan menghilang tanpa bekas.
Ki darma tertegun sejenak. Apa maksud makhluk itu. Banyak yang ingin ditanyakan, tapi ia tak sempat melakukan nya. Dirinya keheranan. Karena semenjak kemarin banyak sekali kejadian tak terduga. lalu sekarang tentang Ayuni pula. ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Lalu Ki darma melihat satu penjaga yang pingsan. Sementara juda dan teman nya yang terkencing-kencing, meringkuk duduk ketakutan.
"Hay juda. Bangunlah. makhluk itu telah pergi. kau tak usah takut lagi".
"benarkah Ki darma?".
"ya..ia telah pergi. Nah kau bantulah temanmu yang pingsan itu. aku akan kembali ke dalam".