NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Runtuhnya Topeng

Hujan mulai mengguyur kota, seolah langit pun enggan menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi di Gedung Serbaguna Adiwangsa. Naura terduduk di trotoar, basah kuyup, napasnya memburu. Di genggamannya, device kecil berisi ribuan data terlarang itu terasa panas, seolah membakar telapak tangannya. Ia tidak bisa menangis. Kesedihan yang hebat telah berubah menjadi determinasi dingin yang tajam seperti silet.

Ibu Citra muncul dari balik mobil dengan wajah yang nyaris tak bisa dikenali karena rasa panik. Ia segera menarik Naura masuk ke dalam kendaraan. "Kita harus pergi! Polisi mulai menyisir area ini, dan orang-orang Hartono tahu kamu berhasil lolos!"

"Kaelith dibawa pergi," suara Naura datar, nyaris seperti suara robot. "Mereka membawanya lewat pintu samping. Dia dikeroyok, Bu. Dia dipukuli habis-habisan."

Citra memacu mobil menjauh dari lokasi gala. "Kita tidak bisa mengejar mereka sekarang. Hartono punya jaringan keamanan yang bisa mengunci setengah kota dalam hitungan menit. Kita harus fokus pada satu hal: menyebarkan data ini. Jika data ini tersebar, Hartono akan kehilangan perlindungan hukumnya, dan saat itulah kita bisa menekan mereka untuk melepaskan Kaelith."

Naura menatap layar laptopnya yang sudah terhubung dengan sistem Ibu Citra. "Data ini sudah siap. Tapi, Bu Citra... kalau kita rilis sekarang, apa mereka nggak akan punya alasan untuk menghabisi Kaelith segera?"

"Jika kita tidak merilisnya, Kaelith akan dihabisi tanpa ada yang tahu alasannya," sahut Citra. "Ini pertaruhan besar. Tapi dengan data ini, kita akan membuat seluruh negeri menatap Hartono Adiwangsa. Tidak ada yang bisa dia sembunyikan lagi."

Naura mengangguk. Tangannya yang gemetar mulai mengetikkan perintah unggah massal ke seluruh portal berita independen, akun media sosial aktivis, dan server kepolisian pusat. Satu per satu, dokumen rahasia mulai terbuka ke publik. Foto-foto rapat gelap, catatan aliran dana ke rekening luar negeri, hingga bukti konspirasi pembangunan gedung yang tidak layak huni semuanya kini menjadi konsumsi publik.

___

Sementara itu, di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan dingin, Kaelith perlahan membuka matanya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Ia mencoba bergerak, namun tangannya terikat rantai besi ke dinding beton. Ruangan itu hanya diterangi satu bohlam kuning yang berkedip-kedip.

Langkah kaki terdengar mendekat. Sosok Hartono Adiwangsa muncul dari balik pintu besi, mengenakan setelan mahalnya yang masih tampak sangat rapi, sangat kontras dengan kekejaman yang baru saja ia perintahkan.

"Kamu punya keberanian yang mengagumkan, Kaelith," ucap Hartono sambil berjalan mengelilingi Kaelith. "Tapi keberanian tanpa perhitungan hanyalah bentuk lain dari bunuh diri."

"Data itu sudah tersebar, Hartono," suara Kaelith parau, bibirnya berdarah, namun ia masih sempat meludah ke lantai. "Keluarga lo, yayasan lo, semuanya habis. Orang-orang di luar sana sedang membaca semua kejahatan lo sekarang."

Hartono tertawa, sebuah tawa yang tenang dan tanpa emosi. "Kamu pikir internet adalah segalanya? Orang-orang akan membaca berita itu selama satu atau dua hari, lalu mereka akan lupa saat ada skandal baru muncul. Saya punya kendali atas narasi, Kaelith. Saya punya pengaruh untuk membuat berita itu dianggap sebagai hoaks yang dibuat oleh mahasiswa labil dan reporter magang yang terobsesi dengan sensasi."

"Kali ini lo salah," Kaelith menatap mata pria itu tajam. "Gue ketua BEM. Gue tahu gimana cara menggerakkan massa. Mahasiswa nggak akan diam. Mereka nggak akan lupa. Dan mereka bakal memastikan lo nggak punya tempat untuk bersembunyi."

"Oh, tentang itu..." Hartono mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah layar yang membuat jantung Kaelith seolah berhenti.

Di layar itu, tertulis sebuah pernyataan resmi dari akun BEM Universitas Nusantara akun yang dikelola oleh tim yang ia bangun sendiri. Isinya adalah surat pengunduran diri Kaelith, disertai pengakuan bahwa ia telah melakukan pencemaran nama baik terhadap Hartono Adiwangsa demi kepentingan pribadi.

"Mereka sudah menandatanganinya atas nama kamu," ujar Hartono. "Saya telah menekan pengurus BEM lainnya. Siapa yang mau mati konyol demi seorang ketua yang dianggap penjahat? Organisasimu sudah menyerah, Kaelith."

Kaelith terdiam. Ia tidak percaya. 'Keisha? Apakah Keisha melakukan ini?' Tapi ia sadar, mungkin mereka memang ditekan habis-habisan. Rasa bersalah menghantamnya lebih hebat daripada pukulan yang ia terima tadi.

Di kantor Ibu Citra, suasana berubah menjadi kekacauan total. Naura terpaku melihat layar. "Mereka meretas akun BEM! Mereka memalsukan surat pengunduran diri Kaelith!"

"Sial," umpat Citra. "Mereka menggunakan taktik smear campaign yang sangat keji. Mereka mencoba membunuh karakter Kaelith supaya saat dia ditemukan tewas atau menghilang, publik tidak akan peduli."

"Kita nggak bisa membiarkan ini," Naura meraih tasnya. "Dia butuh gue. Dia butuh seseorang yang bisa membuktikan kalau itu bukan tulisannya."

"Naura, tunggu! Kamu mau ke mana?"

" Saya mau ke kampus. Saya bakal temui pengurus BEM. Saya bakal buat pernyataan tandingan. Kalau mereka nggak berani, Saya yang bakal bicara langsung di depan mahasiswa!"

"Itu bunuh diri! Kampus sekarang pasti dijaga ketat oleh orang-orangnya Hartono!"

Naura berhenti di ambang pintu, menoleh dengan tatapan yang membuat Citra terdiam. "Kalaupun Saya harus mati untuk membuktikan kalau Kaelith nggak bersalah, maka itu jauh lebih baik daripada hidup dengan membiarkan orang yang Saya sayang difitnah sampai hancur."

Naura keluar dari gudang itu, menembus hujan yang masih lebat. Ia tahu ia sedang menuju ke arah badai. Kampus bukan lagi tempat belajar; itu adalah arena perang. Dan ia adalah satu-satunya jurnalis yang memegang kunci untuk memenangkan pertempuran ini.

Di dalam ruang bawah tanah, Hartono meninggalkan Kaelith sendirian. "Saya akan memberi kamu waktu untuk berpikir, Kaelith. Besok pagi, saya ingin kamu tampil di konferensi pers dan mengonfirmasi pernyataan pengunduran diri itu. Jika tidak, saya tidak bisa menjamin keselamatan Naura Adisty Reporter kesayangan kamu itu."

Kaelith menunduk. Ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri, tapi ancaman terhadap Naura adalah titik lemah yang paling ia takutkan. Namun di tengah keputusasaannya, ia mendengar suara samar dari balik dinding beton, suara gesekan logam. Seseorang sedang berusaha membuka pintu dari luar.

Apakah ada yang datang menyelamatkannya?Kaelith menajamkan pendengarannya. Ia tahu, permainannya belum berakhir. Jika Naura masih di luar sana, ia harus bertahan sampai gadis itu menemukan cara untuk menjatuhkan Hartono.

Malam itu, di tengah hujan yang menderu, kota terasa begitu dingin, namun api di hati Naura dan ketahanan Kaelith di balik jeruji besi sedang bersiap untuk menciptakan ledakan yang akan mengguncang pondasi kekuasaan Hartono Adiwangsa untuk selamanya.

Ini adalah malam di mana topeng mulai retak, dan kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang tidak bisa dibeli dengan uang sedang merangkak keluar dari kegelapan.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!